
"Alexa, apa kau sakit? Apa kau ingin aku panggilkan dokter?" tanya Julian dengan nada suara yang sedikit khawatir namun tetap menunjukkan sikap dinginnya.
"Tidak, aku tidak apa-apa, aku hanya butuh istirahat sebentar." jawab Alexa seraya memaksakan senyuman di wajahnya.
"Ya sudah, aku berangkat sekarang. Jika kau ingin memanggil dokter, kau minta pelayan saja untuk menghubunginya." tukas Julian dingin.
"Ya, terima kasih." balas Alexa datar.
Tanpa lagi menjawab Julian langsung berjalan meninggalkan kamar. Ingin rasanya Alexa mengajukan banyak pertanyaan yang muncul di benaknya pada Julian. Hanya saja dia tidak ingin mendengar sebuah jawaban yang nantinya akan membuatnya kembali terluka, dia membutuhkan tempat yang membuat pikirannya jauh lebih tenang.
Suara dering ponsel terdengar. Alexa yang tadinya sedang ingin memutar musik untuk menenangkan pikirannya, dia sedikit terkejut saat ponselnya berdering, Awalnya Alexa ingin mengabaikan panggilan itu, namun dering ponselnya tak kunjung berhenti. Dengan raut wajah malas, Alexa melihat ke layar dia mendesah pelan saat melihat nomor Mateo muncul di layar ponselnya. Tidak ada pilihan lain dia pun segera menjawab.
"Ya, Mateo?" Alexa menjawab saat panggilan terhubung.
"Alexa, apa kau ada di rumah?" tanya Mateo dari sebrang telepon.
"Iya, kenapa Mateo?"
"Kalau kau sedang tidak sibuk, aku ingin mengajakmu makan siang? Bagaimana?"
"Baiklah. Lagian aku sedang bosan di rumah."
"Kalau begitu, aku akan langsung ke mansionmu, Alexa? See you, Alexa"
"See you, Mateo."
Panggilan tertutup. Alexa langsung meletakkan kembali ponselnya di atas nakas dan dia langsung berjalan ke arah walk in closet untuk mengganti bajunya
Beberapa menit kemudian...
Kini Alexa dan Mateo akhirnya sudah sampai di restoran yang tidak jauh dari mansion milik Julian.
"Mateo, kau tahu restoran ini darimana? Atau kau sering mengunjungi restoran ini?" tanya Alexa yang merasa nyaman di restoran yang terbilang kecil itu.
"Aku pernah beberapa kali ke restoran ini, Alexa." jelas Mateo sambil menatap Alexa. Terlihat dia tersenyum saat melihat Alexa sedang melahap makanannya. "Bolehkah aku tahu, kau berapa bersaudara, Alexa?" sambungnya ingin tahu.
__ADS_1
"Aku empat bersaudara. Kakak tertuaku, Kak Samudera yang memegang kendali pada perusahaan keluargaku. Hingga detik ini, Ayahku masih bekerja, tapi dia tidak lagi seperti dulu. Sekarang sudah ada Kak Samudera yang membantunya. Dan aku memiliki adik laki-laki yang sekarang masih berusia 18 tahun, dia sedang menyelesaikan pendidikannya di Harvard," jawab Alexa yang sedikit menceritakan tentang keluarganya.
"Aku yakin, kalian pasti sangat harmonis." balas Mateo. "Hm, Alexa. Bagaimana dengan Vanya? Maaf jika aku bertanya seperti ini."
Alexa menghela nafas dalam. Saat mendengar pertanyaan dari Mateo. "Hingga detik ini orang tuaku belum menemukan Kak Vanya. Tapi kami masih mencari keberadaannya. Aku dan Ibuku yakin, Kakakku Vanya pasti baik - baik saja." Jawab Alexa, dia terpaksa menjawab seperti itu, dan tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya jika dirinya sudah bertemu dengan Kakak perempuannya.
"Ya, aku juga yakin dia baik - baik saja. Semoga dia cepat kembali dan berkumpul dengan keluargamu," ujar Mateo yang memberi semangat.
Alexa mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih, Mateo."
"Alexa, boleh aku bertanya secara pribadi tentangmu?" tanya Julian dengan nada suara yang terdengar begitu serius.
"Dulu saat kau menggantikan Kakakmu, Vanya. Apa kau tidak berpikir bagaimana kehidupanmu selanjutnya? Maksudku kau belum pernah menjadi kekasih Julian. Tapi kau langsung menikah dengannya." ujar Mateo yang memberanikan diri untuk bertanya tentang ini.
"Mateo.." Alexa menjeda ucapannya,seraya menghela nafas dalam. "Aku tidak memiliki pilihan lain saat itu. Jika aku tidak menggantikan saudara perempuanku, keluargaku pasti akan menanggung malu. Di awal - awal pernikahan ku dengan Julian, aku memang terasa tidak nyaman. Menikah dengan pria yang tidak aku temui sebelumnya adalah hal yang tidak pernah aku sangka dalam hidupku. Aku bersekolah di negara R dan tinggal berjauhan dengan keluargaku yang tinggal di negara A. Aku pernah mendengar berita tentang Julian, tapi itu hanya di berita saja. Waktu Julian bertunangan dengan saudara perempuanku, aku tidak bisa datang, karena saat itu aku sedang di sibukkan dengan kuliahku." ucap Alexa
Mateo terus terdiam sesaat saat mendengar perkataan Alexa dan kemudian mengangguk paham "Dan apa kau sudah mulai mencintai Julian?" tanyanya lagi yang kembali membuat Alexa terdiam.
"Aku-" belum sempat Alexa menyelesaikan ucapannya, dia merasakan sebuah tangan kokoh menarik kasar lengannya dan dengan cepat dia menatap sosok pria yang tiba-tiba saja menarik tangannya itu. "Julian? Kau di sini?" ucapnya yang terkejut melihat Julian.
"Julian sakit. Lepaskan tanganku!" Ucap Alexa sambil berbisik dengan menahan kesalnya. Dia berusaha melepas cengkraman tangan Julian, tapi pria itu tak kunjung melepasnya.
"Julian! Apa - apaan kau ini! Lepaskan tanganmu! Kau itu sudah menyakiti, Alexa!" Mateo beranjak berdiri. Dia hendak menyentuh tangan Alexa. Namun dengan cepat Julian menarik tangan Alexa, ke belakang tubuhnya. Kini tatapan Julian terarah pada Mateo yang berdiri di hadapannya.
"Berhenti menganggu istriku! Jika kau masih mengganggunya, maka kau akan tahu akibatnya." tukas Julian dengan penuh peringatan.
"Apa salahnya? Aku hanya mengajaknya makan siang saja! Kenapa kau begitu berlebihan sekali Julian!" Jawab Mateo tidak terima.
Julian mendekat ke arah Mateo menarik kasar kerah baju Mateo seraya berdesis tajam, "Kau pikir aku tidak tahu, kalau kau itu menyukai istriku?"
"Julian, lepaskan Mateo!" Alexa berusaha menarik lengan Julian. Tapi tetap saja, lengan Julian begitu kuat.
Mateo membuang napas kasar. "Jika aku menyukai istrimu, lalu kenapa? Bukankah setiap orang berhak memiliki perasaan dengan siapapun! Tetapi, meskipun aku menyukai Alexa, aku tidak pernah ingin merebut istrimu!" Serunya menegaskan.
Bugh.
__ADS_1
Julian melayangkan pukulan di pelipis Mateo, hinggap membuat Mateo tersungkur di lantai.
"Julian!" Alexa langsung menarik kasar tangan Julian saat suaminya itu hendak kembali menyerang Mateo.
"Sialan! Beraninya kau!" Bentak Julian menatap tajam Mateo.
"Apa salahnya, jika aku memang menyukainya?" jawab Mateo yang tidak terima di salahkan. Dia beranjak berdiri menyerang Julian. Tepat di saat Mateo hendak melayangkan pukulan. Julian langsung menepisnya. Tidak hanya diam, Julian pun kembali memukul Mateo.
"Sudah hentikan Julian!" Alexa berusaha memisahkan Julian dengan Mateo.
"Julian! Mateo!" Devan yang baru saja tiba, dia langsung menarik Mateo, agar tidak langsung menyerang Julian. Dan tepat di saat Devan datang, Alexa menarik kasar tangan Julian.
"Apa kalian berdua ini sudah kehilangan akal sehat kalian, Hah!" Seru Devan, meninggikan suaranya pada Julian dan Mateo.
"Aku tidak akan mungkin diam jika ada yang berani menyerangku, Kak!" Jawab Mateo dengan nada suara yang tinggi juga.
"Dan apa kau pikir, aku hanya akan diam saja, ketika ada seorang pria yang menyukai istriku!" Bentak Julian keras.
Devan membuang napas kasar. "Sebenarnya ada apa ini, Mateo? Kenapa Julian sampai mengatakan kalau kau itu menyukai Alexa?"
"Menyukai seseorang adalah hakku, Kak. Aku hanya menyukai Alexa dan tidak pernah sekalipun berniat untuk mengambilnya. Karena sudah sejak awal saat aku bertemu dengan Alexa, aku itu sudah menyukainya! Tetapi, aku rasa itu bukanlah masalah! Karena aku berhak menyukai siapapun!" Mateo menjawab dengan tegas. Tatapannya menatap tajam ke arah Julian.
"Kau!" Julian ingin kembali menyerang Mateo. Namun dengan cepat Alexa langsung menarik tangan Julian sedangkan Devan, langsung berdiri di hadapannya Julian untuk menghalangi agar sahabatnya itu tidak lagi menyerang adiknya.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.