
Satu Minggu kemudian....
Di pagi hari ini, Julian dan Alexa sedang berada di ruang makan. Dan setelah acara sarapannya selesai. Alexa meminta izin untuk keluar pada Julian karena dia akan bertemu dengan sahabatnya.
Alexa kini sedang mengatur napasnya dan berusaha untuk bersikap tenang di hadapan Julian. "Julian, hari ini aku ingin meminta izin keluar sebentar, karena teman kuliahku yang dari negara R datang kesini ingin menemuiku? Dan temanku sekarang sedang menungguku di restoran milik Adel." ucap Alexa yang memilih berbohong demi bisa bertemu dengan Kakaknya Vanya. Karena tadi malam saudara perempuannya itu sudah mengirimkan alamat dimana mereka akan bertemu hari ini.
"Siapa yang datang?" alis Julian terangkat menatap penuh selidik.
"Hmm, namanya Jovana ." jawab Alexa cepat. Beruntung, nama teman kuliahnya langsung muncul di benaknya.
"Apa dia datang kesini khusus untuk menemuimu?" tanya Julian
"Iya Julian. Itu kenapa aku harus segera menemuinya. Maaf aku harus meninggalkanmu." ucap Alexa yang merasa tidak enak karena harus terpaksa berbohong pada Julian.
"Baiklah, kalau begitu biar aku yang akan mengantarmu." tukas Julian dengan nada suara yang terdengar tidak ingin di bantah sekalipun.
"Tidak perlu, Julian. Aku akan membawa mobil sendiri. Lagian pula ini masih pagi. Kau boleh mengantarku jika aku berpergian di malam hari." Alexa berjinjit dan langsung mengecup rahang Julian. "Aku berangkat sekarang, nanti aku akan menghubungimu, kalau aku sudah tiba."
"Oke, kali ini aku akan mengijinkanmu keluar, untuk bertemu dengan temanmu itu. Karena kebetulan aku juga akan ada meeting pagi ini. Tapi kau juga harus hati-hati saat mengenderai mobil sendirian, Alexa." ucap Julian.
"Aku tahu, Julian."
Kini Alexa mengambil kunci mobilnya dan berjalan cepat meninggalkan mansion milik Julian. Sesaat Julian menatap Alexa yang terlihat terburu - buru. Sebenarnya dia tidak ingin mengizinkan jika Alexa mengemudikan mobil sendiri. Namun, Julian sadar, dirinya memang sudah beberapa hari selalu banyak melarang Alexa. Dia tidak ingin membuat Alexa merasa tidak nyaman ataupun stres hingga nantinya akan membuat Alexa di rawat di rumah sakit lagi.
...***...
Satu jam kemudian....
__ADS_1
Alexa kini sudah tiba di lokasi restoran yang di kirimkan oleh Kakak perempuannya untuk mereka bertemu yang letaknya memang cukup jauh dari pusat kota. Saat ini Alexa sudah memasuki restoran yang terlihat begitu sepi dan tidak banyak pengunjung di sana. Alexa pun kemudian memilih duduk di ujung dekat dengan jendela. Dia mengedarkan pandangannya, namun dia belum menemukan keberadaan Vanya, Kakaknya.
Beberapa menit kemudian Alexa melihat sosok wanita yang menutupi kepalanya dengan memakai selendang dengan rambut panjang pirang yang indah melangkah mendekat ke arahnya.
"Apa kau Kak Vanya?" tanya Alexa yang masih ragu saat perempuan yang memakai selendang itu mendekat ke arahnya.
"Apa kabar, Alexa? Maafkan aku harus membuatmu menemuiku di tempat yang seperti ini," jawab wanita itu dengan suara yang begitu lembut.
"K-Kak Vanya? Ini benar kamu, kan?" tanya Alexa dengan menatap tak percaya sosok wanita cantik yang berdiri di hadapannya.
"Ya, ini aku Alexa." wanita itu tersenyum lalu membuka selendang yang menutupi wajahnya. Tatapannya menghangat menatap Alexa. Sedangkan Alexa yang melihat Vanya berada di hadapannya, dengan cepat dia langsung memeluk erat tubuh saudara perempuannya itu. Vanya pun membalas pelukan dari Alexa, dia mengusap pelan punggung sang adik. Mereka begitu saling merindukan. Bahkan air mata Alexa kini mulai menetes karena akhirnya bisa bertemu dengan saudara perempuannya lagi.
"Kakak Vanya apa kabar?" tanya Alexa sambil terisak.
"Jangan menangis seperti ini Alexa. Kakak baik - baik saja." jawab Vanya sambil mengurai pelukannya, dan menatap lembut ke arah Alexa.
"Alexa..." Vanya mengajak Alexa untuk kembali duduk di ujung kursi meja makan dekat jendela itu. "Alexa, sebelumnya aku mau minta maaf padamu. Ini semua terjadi karena kesalahanku. Sungguh aku tidak menyangka jika Ayah akan memintamu untuk menggantikanku. Aku sungguh benar-benar minta maaf karena telah menyusahkanmu, Alexa." lanjutnya dengan nada yang begitu bersalah.
Alexa terdiam sesaat setelah mendengar permintaan maaf dari Vanya. Terlebih dia melihat dengan jelas jika Kakaknya itu benar - benar merasa bersalah. "Bisakah kak Vanya menceritakannya padaku? Kenapa Ka Vanya memutuskan untuk meninggalkan acara pernikahanmu itu? Dan siapa yang membantumu? Aku yakin pasti sudah ada yang membantu Kakak hingga membuatmu bisa melarikan diri seperti ini?"
"Aku di bantu oleh teman dekatku, Alexa." jawab Vanya dengan nada suara yang terdengar tenang. "Sehari menjelang pernikahan, aku itu masih benar - benar ragu untuk melarikan diri. Karena aku tahu, itu pasti akan membuat malu keluarga kita. Tapi saat itu aku tidak memiliki pilihan yang lain. Aku tidak mungkin menikah dengan
seorang pria yang tidak pernah mencintaiku. Julian itu hanya mencintai satu wanita, dan itu memang bukan diriku. Selama ini aku sudah cukup untuk menahan diri ketika Julian mengganggap ku tidak pernah ada. Jujur, aku tidak mencintai Julian. Tapi perlahan perasaan suka itu memang mulai tumbuh. Dan aku lebih memilih untuk melarikan diri dari Julian karena aku tahu, lebih baik aku itu menyerah di awal daripada aku harus jatuh dalam pesonanya yang semakin dalam."
"Dan kau tidak perlu khawatir Alexa, perasaan sukaku pada Julian sudah lama mulai hilang ketika aku sudah jatuh cinta pada seorang pria. Beberapa hari ini aku melihatmu dari kejauhan, Alexa. Aku melihat wajahmu yang terlihat bahagia ketika sedang bersama dengan Julian. Dulu, saat aku bersama dengan Julian, dia tidak pernah tersenyum seperti itu. Sangat berbeda dengan dia ketika bersama denganmu, Alexa."
Alexa kembali terdiam, dia tidak tahu harus mengatakan apa ketika mendengar perkataan dari Vanya. Kini ada rasa bersalah di hatinya karena sudah mulai mencintai Julian. Tapi, perasaan ini telah muncul dan tidak mungkin menghilang.
__ADS_1
"Alexa...." Vanya membawa tangannya menyentuh tangan Alexa, dia terus menatap Alexa yang hanya diam dan tidak merespon dirinya.
"Kak, sebenarnya aku yang harus meminta maaf padamu. Aku yakin, kau pasti sangat terluka melihatku dengan Julian. Aku sendiri tidak mengerti, Kak. Jujur aku berpikir, suatu saat kau akan kembali dan nanti saat kau kembali, kau bisa menikah dengan Julian. Tapi sekarang-"
"Alexa, aku sudah mengatakan padamu, bukan? Aku hanya menyukai Julian, bukan mencintainya. Aku pergi melarikan diri karena aku mulai jatuh cinta pada seorang pria." ujar Vanya.
"Jadi kau tidak apa-apa, dengan aku yang kini sudah mulai mencintai Julian?" mata Alexa terlihat begitu bahagia saat mendengar hal itu.
"Ternyata adikku sudah dewasa. Karena untuk pertama kalinya kau mengatakan jika kau mencintai seorang pria. Aku sangat senang mendengarnya, Alexa." ucap Vanya yang selalu tersenyum hangat.
"Aku adalah orang pertama yang bahagia melihatmu mendapatkan pria yang terbaik. Selama ini aku selalu menunggumu, jika kau akan menceritakan padaku bahwa kau telah jatuh hati pada seorang pria."
"Alexa tersenyum, terima kasih, Kak. Aku benar-benar menyayangimu.
"Aku juga sangat menyayangimu, Alexa." jawab Vanya yang masih terus tersenyum.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.