Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Kedatangan Sepupu


__ADS_3

Suara dering ponsel terdengar, Alexa yang tengah tidur pulas harus terbangun karena suara dering ponselnya yang tidak berhenti. Alexa mengumpat kasar, saat ponselnya menganggu tidurnya. Padahal, dia masih ingin beristirahat. Dengan wajah kesal Alexa menyambar ponselnya yang sudah menganggu tidurnya. Padahal dia masih ingin beristirahat. Dengan wajah kesal, Alexa menyambar ponselnya dan langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan. Tanpa melihat dulu ke arah layar.


"Hallo?' jawab Alexa, dengan nada yang begitu kesal saat panggilan terhubung.


"Alexa! Katakan pada penjagamu, biarkan aku masuk kedalam rumahmu! Kurang ajar sekali penjagamu itu tidak memberikan akses untuk masuk! Cepat, aku tidak tahan menunggu lama seperti ini!" Suara seorang wanita begitu nyaring dari sebrang telepon yang sontak membuat Alexa terkejut.


Alexa langsung menjauhkan ponsel dari telinganya. Lalu, menatap ke layar ponselnya itu. Seketika dia menghembuskan napas kasar, saat nama Adel, sepupunya muncul di layar ponselnya. Pantas saja dia begitu mengenali suara nyaring itu. Kini Alexa kembali meletakkan ponsel di telinganya.


"Adel, bagaimana kamu tahu mansion Julian? Untuk apa kau kesini? Kau mengganguku! Aku ingin beristirahat!" Jawab Alexa dengan ketus.


"Sialan kau Alexa! Aku akan mengadukanmu pada Paman Raymond! Jika kau tidak memberikan aku akses untuk masuk!" Seru Adel dari sebrang telepon dengan nada ancaman.


Alexa mendengus tidak suka. "Kau itu menyebalkan sekali! Tunggu di situ, aku akan meminta penjaga untuk memberikanmu akses untuk masuk."


Alexa menutup panggilan itu. Dia langsung menghubungi penjaga agar memberikan akses masuk untuk Adel, sepupunya. Ya, Alexa sudah menduga tidak akan mudah untuk masuk kedalam mansion milik Julian.


Kini Alexa beranjak dari ranjang, rasa nyeri di kakinya mulai sedikit berkurang. Setidaknya dia tidak terlalu merasakan sakit seperti kemarin.


Perlahan Alexa melangkahkan kakinya keluar kamar. Namun, saat Alexa melangkah keluar dia sedikit terkejut karena berpapasan dengan Julian.


"Dimana pelayan? Kenapa pelayan tidak membantumu?" tanya Julian dingin. Tatapannya terus teralih pada Kedua kaki Alexa yang masih di perban.


"Tadi aku minta Novi untuk keluar karena aku tidur. Lagi pula, aku bisa berjalan sendiri. Tidak memerlukan bantuan dari pelayan." jawab Alexa.


"Akh-" Alexa memekik terkejut, saat Julian tiba - tiba membopong tubuhnya. Reflek Alexa langsung mengaitkan tangannya memeluk leher Julian.


"Julian, kenapa kau menggedongku?" seru Alexa.


"Aku tidak mungkin melihatmu dengan berjalan lama dengan kaki pincang mu itu. Sepupumu itu sedang menunggumu, bukan?" Julian balik bertanya dengan raut wajah dingin dan datar.


"Kau tahu, Adel datang?" kening Alexa berkerut.

__ADS_1


"Tidak mungkin, penjagaku tidak melaporkan padaku jika ada yang datang," jawab Julian dengan nada yang datar.


Alexa mendesah pelan. Benar saja, pasti penjaga rumah tidak mungkin mengatakan padanya. Hingga kemudian, dia menjawab "Ya sudah, antar aku bertemu dengan sepupuku."


"Tapi kau harus ingat, Alexa! Jangan pernah sekalipun kau mengatakan pada sepupumu itu, jika aku sudah menyiksamu hingga membuat kakimu menjadi terluka seperti ini."


Julian menatap dingin Alexa. Karena Alexa tidak menjawab perkataan Julian, dan langsung membawa Alexa menuju ke ruang keluarga, tempat dimana Julian menunggu.


...***...


"Astaga, Alexa! Apa yang terjadi padamu? Kau kenapa?" Adel, sepupu Alexa yang menghampiri Julian kala melihat Alexa di bopong Julian dengan kaki yang di perban.


"Pelankan suaramu, Adel. Kepalaku sakit mendengar suaramu itu." ucapan Alexa ketus.


"Cepat katakan padaku, ada apa denganmu?" Adel mendekat ke arah Alexa. Raut wajahnya berubah menjadi panik. "Apa ada yang melukaimu? Atau kau kecelakaan? Katakan padaku Alexa!"


Alexa membuang napas kasar. "Aku jatuh dari tangga."


"Sudahlah, jangan lagi bertanya." balas Alexa yang menanggapi ucapan sepupunya itu.


Adel mendesah pelan. Kemudian dia memilih untuk diam dan tidak lagi bertanya. Sesaat Adel menatap Julian yang hanya sejak tadi hanya memasang wajah datar dan dingin. Bahkan Adel berusaha menyapanya saja, raut wajah Julian masih tetap sama.


Kini Julian mendudukkan Alexa di sofa. Seketika senyum di bibir Alexa terukir melihat Julian yang tampak begitu romantis pada Alexa. Tidak hanya itu, tapi pria itu tampak begitu menjaga Alexa.


"Alexa, aku akan ke perusahaan. Ada hal yang harus aku selesaikan. Nanti, pelayan yang akan menemani dirimu," ucap Julian sambil menatap Alexa.


"Kau ingin pergi semalam ini?" kening Alexa berkerut menatap bingung Julian.


"Ya, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawab Julian dingin.


Alexa mengangguk, " Hati - hati,"

__ADS_1


Sebelum pergi, Julian membenarkan posisi duduk Alexa agar lebih nyaman. Serta mengambil bantal dan meletakkannya di bawah kaki Alexa. Kini Julian berjalan meninggalkan Alexa dan juga Adel yang berada di ruang keluarga. Sebenarnya Alexa ingin bertanya kemana Julian akan pergi, tapi ingatannya kembali mengingat kesepakatan yang di buat oleh Julian.


"Oh astaga, Alexa. Kau membuatku iri. Suamimu terlihat begitu mencintai dirimu. Astaga, betapa beruntungnya dirimu." seru Adel dengan raut wajah yang tampak begitu bahagia. "Julian ternyata memperlakukanmu dengan sangat baik. Aku bisa melihatnya. Dia sangat mencintaimu."


Alexa menghembuskan napas kasar. Lidah Alexa terasa begitu keluh. Ingin rasanya Alexa memberitahu sifat asli Julian tidaklah sebaik yang Adel pikir. Tapi dia terlalu malas untuk menceritakan masalah pribadinya meskipun itu dengan sepupunya sendiri.


"Kau sungguh berlebihan, Adel." jawab Alexa dengan nada malas.


"Aku tidak berlebihan. Tapi Julian benar - benar memperlakukanmu dengan sangat baik." seru Adel dengan riang. "Jujur saja, meski aku terkejut ketika kau yang menggantikan pernikahan Vanya, tapi setidaknya aku sangat yakin Julian sedang belajar melupakan Vanya dan berusaha untuk mencintaimu."


"Diamlah Adel! Aku sedang tidak ingin membahas pernikahanku!" Tukas Alexa dingin.


"Tapi bisakah kau jelaskan padaku. Kenapa kau bisa menerima menggantikan Vanya? Kenapa kau tidak berontak saja saat itu?" tanya Adel ingin tahu.


"Saat itu, aku tidak bisa menolak. Karena jika aku menolaknya, keluargaku harus menanggung malu akibat ulah Vanya yang melarikan diri dari pernikahan." jawab Alexa dengan helaan nafas berat. "Sudahlah, aku juga sudah menerima takdirku yang harus menikah dengan Julian."


"Lalu bagaimana denganmu sekarang? Apa kau juga sudah mulai mencintai Julian?" tanya Adel dengan tatapan yang serius.


"Tidak mungkin ada cinta untuk pasangan yang tidak pernah saling mengenal sebelumnya," jawab Alexa dengan datar dan dingin.


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2