Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Kedatangan Samudera


__ADS_3

Julian tersenyum kecil, ia kembali memeluk tubuh Alexa mengingat semalam Alexa memeluk dirinya dengan begitu erat.


"Apa sudah tidak sakit lagi? Kau benar - benar masih tidur, sayang?" bisik Julian sambil menggigit kecil pipi chubby Alexa.


Tidak ada respon atau protes apapun dari Alexa, gadis itu masih tertidur dengan pulas.


Alexa yang tengkurap memeluk Julian, perlahan membuka kedua matanya dan keningnya yang sedikit mengerut.


"Dingin," cicitnya.


"Kau memberikan isyarat padaku untuk memelukmu, sayang?" tanya Julian yang menatapnya lekat.


Alexa mengangguk kecil, sebelum Julian mendekatinya dan memeluknya dengan hangat.


Alexa menghembuskan nafasnya pelan pada leher Julian. Alexa sepertinya masih belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.


"Apa perutmu sudah tidak sakit, sayang?" tanya Julian.


"Sudah sedikit lebih baik, tapi tidak sakit seperti semalam." jawabnya.


Kemudian Julian mengecup bibir tipis Alexa saat istrinya itu kembali terdiam hingga kemudian membuka matanya karena kaget Julian tiba-tiba saja menciumnya.


"Kau ini!" Ucap Alexa kesal.


"Apa benar perutmu benar - benar sudah baikan?" tanya Julian memastikan.


"Sudah lebih baik, dokter semalam memang hebat." jawab Alexa.


"Bukan dokter itu yang hebat. Tapi karena aku yang memelukmu semalaman." ujar Julian yang mengatakannya dengan penuh percaya diri.


Alexa hanya berdecih saja sebelum ia menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Baiklah, lebih baik sekarang kau bangun, sayang. Aku akan meminta pada Desi untuk mengantarkan sarapan untukmu kesini," ujar Julian.


"Tidak, nanti kita sarapan bersama saja." ucap Alexa. Kemudian terdengar suara dering ponsel.


"CK! Siapa pagi - pagi yang sudah mengganguku!" Umpatnya kemudian beringsut duduk.


Bukannya menjawab telepon itu Julian malah menatap Alexa yang kini sedang menatapnya juga.


"Julian, kenapa kamu mematikan ponselmu?" tanya Alexa.

__ADS_1


"Karena aku tidak ingin ada yang menganggu saat kita sedang berdua, sayang."


"Kau ini!" Kemudian Alexa mendekatkan dirinya ke tubuh Julian, lalu dia membenamkan wajahnya kedalam pelukan Julian dan berkata. "Julian, hari ini aku ingin pergi berbelanja kau akan mengizinkanku pergi kan?"


Julian mengangguk - anggukan kepalanya, lalu dia mencubit pelan hidung Alexa "Allright, kau boleh belanja sepuasnya karena aku akan menemanimu berbelanja. Hari ini aku akan menuruti semua permintaanmu. Karena aku tidak ingin melihat Istriku sakit lagi."


Senyum di bibir Alexa terukir mendengar perkataan dari Julian, yang begitu memperhatikannya. "Baiklah, aku juga lebih suka jika belanja ditemani olehmu. Tapi kau harus bersiap-siap Julian...."


"Bersiap - siapa untuk apa?" kening Julian berkerut.


Alexa mengulum senyumannya, lalu dia mendongakkan kepalanya dari dalam pelukan Julian. "Bersiap - siap, tagihan kartu kreditmu pasti akan sangat banyak. Karena nanti aku akan berbelanja sangat banyak sekali."


"Kau bisa belanja sepuasnya, karena aku tidak akan pernah bangkrut hanya karena menuruti setiap permintaan Istriku."


Alexa mencebikkan bibirnya dan berkata "CK! Kau ini sombong sekali! Lihat saja nanti aku pasti akan membuatmu sakit kepala, ketika melihat tagihan kartu kreditmu itu"


Julian mengulum senyumannya. Dia menangkup kedua pipi Alexa dan memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir istrinya itu. "Ya sudah, lebih baik kau mandi sekarang dan selesai sarapan nanti kita akan pergi ke mall."


Alexa mengangguk patuh. "Iya Julian." Alexa kemudian melangkah ke arah kamar mandi dan beberapa menit kemudian Alexa sudah keluar dari kamar dan menuju ke arah walk in closet.


"Alexa, apa kau sudah siap?" Julian melangkah masuk kedalam walk in closet milik Alexa.


"Sudah," Alexa mengalihkan pandangannya, menatap Julian yang mulai mendekat ke arahnya.


Julian mengangguk kemudian dia dan Alexa melangkah keluar kamar menuju ke ruang makan. Terlihat wajah riang Alexa saat dirinya sudah pulih. Wanita itu bahkan tampak segar dan fresh.


Tiba - tiba saat mereka hendak menuju ke ruang makan, langkah mereka terhenti saat melihat sosok pria tampan yang sudah berdiri di hadapan mereka. Senyum di bibir Alexa merekah ketika melihat sosok pria tampan itu. Ya, di hadapan Alexa sudah ada Samudera, Kakak pertamanya.


"Kak Samudera!" Alexa berseru dengan wajah yang bahagia. Dia langsung berlari ke arah Samudera dan menghamburkan pelukan pada Kakaknya itu. Samudera pun menagkap tubuh sang adik dan menggendongnya. Terlihat sikap Alexa yang terlihat begitu manja pada Kakaknya. Sedangkan Julian yang melihat keakraban di antara Alexa dan Samudera hanya diam dan terus memperhatikan interaksi di antara mereka.


"Kak Samudera, aku sangat merindukanmu?" Alexa memeluk leher Samudera dengan begitu erat.


"Kau ini sudah dewasa, tapi tetap tidak berubah." Samudera menurunkan tubuh Alexa kemudian mencubit pelan pipi chubby Alexa.


Alexa mencebikkan bibirnya seraya melipat tangannya di depan dada. "Rasanya aku tidak ingin menjadi orang yang dewasa ketika ada di depanmu. Aku ingin tetap menjadi adik kecilmu saja, Kak."


Samudera tersenyum, dia mengusap pelan kepala Alexa. "Bagaimana kabarmu? Aku dengar kau berkali - kali masuk ke rumah sakit? Apa kau itu sebenarnya tidak nyaman jika tinggal di sini?" tanya Samudera sambil melirik ke arah Julian dengan tajam.


Julian membuang napas kasar, saat mendengar pertanyaan yang terlontar dari Samudera. Dia pun kini menatap dingin Kakak dari istrinya itu.


"Kakak, aku memang terkadang sangat bosan saat tinggal di sini. Tapi lama kelamaan aku sudah mulai terbiasa. Kau tidak perlu mencemaskanku, Kak. Aku sering masuk rumah sakit karena kesalahanku sendiri. Waktu itu aku jatuh dari tangga dan aku sakit karena aku sedang kelelahan." Alexa menjawab seraya memeluk lengan Kakaknya. Ya, Alexa lebih memilih untuk menutupi tindakan kasar yang sudah Julian lakukan padanya. Karena dia sudah mulai merasakan jika Julian sepertinya sudah mulai berubah.

__ADS_1


"Tapi kau itu memiliki suami, harusnya suamimu itu bisa menjagamu dengan baik." tukas Samudera dingin.


"Iya Kak. Ketika aku sakit, Julian juga menjagaku. Kau tenang saja, Kak." jawab Alexa sambil tersenyum. "Kak, ayo kita sarapan bersama."


Samudera pun mengangguk dan Alexa semakin mengeratkan pelukannya di lengan Kakaknya. Kemudian, membawanya masuk kedalam ruang makan.


"Ka Samudera sampai kapan akan berada di negara M?" tanya Alexa saat sudah duduk di depan meja makan.


"Aku masih belum tahu, karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di sini." jawab Samudera datar.


"Aku harap kau di negara M, bisa lama, Kak." Alexa menjawab sambil menikmati sarapannya.


Samudera tersenyum tipis. "Aku akan usahakan, tapi besok aku harus pergi ke negara C. Ada kerjasama baru yang harus aku tangani."


"Besok kau akan pergi ke negara C?" tanya Alexa memastikan.


"Ya, hanya untuk tiga hari setelah itu mungkin aku akan kembali kesini." jawab Samudera.


"Ah, begitu." Alexa menganguk - anggukan kepalanya. "Aku sangat senang, kalau kau ada di sini, Kak."


...***...


"Alexa aku berangkat. Dan jaga dirimu baik-baik. Kalau ada yang berani melukaimu kau harus mengatakannya padaku." ucap Samudera melangkah mendekat ke arah Alexa dan mencium kening Alexa.


Alexa mengangguk, "Iya, Kak Samudera."


Kemudian tatapan Samudera beralih kearah Julian yang berdiri di hadapannya. Terlihat tatapannya dingin dan tidak bersahabat. "Jaga adikku, jika aku tahu kau melukainya meski hanya sedikit maka kau akan tahu akibatnya, Dominic!" Tukasnya dengan penuh peringatan.


"Aku tahu. Kau tidak perlu mencemaskannya." jawab Julian tegas.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2