
Pagi hari, Alexa sudah lebih dulu bangun. Kini dia tidak lagi terlambat bangun. Bahkan dirinya sudah menyiapkan segala keperluan yang akan di butuhkan oleh sang suami. Jujur saja, Alexa sudah mulai terbiasa dengan aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga. Jika dulu Alexa terobsesi dengan karir yang cemerlang seperti Ayah dan Ibunya yang hingga detik ini, masih memiliki peran aktif di perusahaan mereka. Namun kini berbeda dengan Alexa, sekarang Alexa sedang menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga. Bukannya Alexa tidak mau bekerja lagi, tentu saja Alexa akan tetap bekerja. Tetapi setelah melahirkan nanti, dan anaknya sudah sedikit besar, Alexa pun akan memutuskan untuk bekerja kembali. Walaupun ia masih belum tahu, apakah di akan bekerja di perusahaan Ayahnya atau pun suaminya.
"Alexa, hari ini aku harus pergi ke perkebunan anggur untuk melihat produksi wine yang akan di kirim ke Asia. Kemungkinan aku akan pulang terlambat nanti. Jadi, kau jangan menungguku,dan tidurlah duluan." Julian melangkah keluar dari arah walk in closet.Kini tubuhnya telah terbalut oleh jas formal yang tadi di siapkan oleh Alexa.
"Kau akan pulang terlambat?" Alexa bertanya memastikan. Kemudian Alexa mendekat dan merapikan dasi milik Julian yang masih terlihat sedikit berantakan.
"Maaf, sayang." Julian menarik dagu Alexa, dan mencium bibir Alexa. "Hari ini aku tidak bisa mengajakmu ikut ke perkebunan, karena setelah dari pabrik anggur aku akan pergi ke tempat lainnya bersama dengan Devan untuk menyelesaikan pekerjaan yang masih tertunda."
Alexa menghela nafas dalam. Ya, kalau boleh jujur sebenarnya Alexa tidak suka jika Julian harus pulang larut malam. Tapi apa boleh buat, Alexa tidak mungkin juga melarang sang suami. Mengingat mereka memiliki janji untuk pergi babymoon ke negara A, mau tidak mau Alexa pun akhirnya membiarkan suaminya itu untuk menyelesaikan segala pekerjaannya terlebih dulu.
"Baiklah, tapi jaga kesehatanmu dengan baik dan ingat, jangan terlalu banyak merokok." ucap Alexa mengingatkan suaminya.
Mendengar ucapan dari Alexa. Julian hanya tersenyum samar karena selama ini belum ada yang berani mengatakan hal seperti itu padanya. "Aku jadi teringat saat aku masih kuliah dulu, aku sering mendengar jika temanku sering di larang oleh para kekasihnya agar berhenti untuk merokok. Dan aku satu - satunya orang yang mengatakan pada temanku bahwa mereka itu sangat lemah pada wanita." ucap Julian kemudian memeluk pinggang Alexa dan berbisik pada sang istri. "Tapi sekarang, aku juga mengatakan diriku ikutan lemah. Karena aku tidak mungkin menentang apa yang di inginkan oleh istriku."
Alexa mengulum senyumannya dia mengaitkan tangannya ke leherku Julian dan berkata, "Ini masih pagi, sayang. Tapi kamu sudah merayuku. Lebih baik kau cepat berangkat kerja dan carilah uang yang banyak. Kau tahu kan, jika menikah dengan putri keluarga Jhonson biayanya kebutuhanku tidak murah. Pasti aku banyak menginginkan sesuatu. Dan aku juga tidak bisa meminta pada Ayahku lagi ketika aku sudah menikah denganmu, bukan?"
Julian mencubit pelan hidung Alexa. "Jangan khawatir, sayang. Karena aku itu sangat mampu untuk menuruti apapun yang kau inginkan. Tidak perlu mengantarku sampai kedepan. Kau bersantai saja di kamar. Aku juga tidak ingin kau kelelahan." ujar Julian dan mengecup bibir Alexa.
Alexa menganggukkan kepalanya dan menjawab dengan senyuman di wajahnya "Hati - hati, sayang."
Julian mengangguk. Kemudian dia melangkah keluar meninggalkan Alexa dari kamar, tepat di saat Julian sudah pergi, Alexa tetap tersenyum mengingat kembali ucapan dari Julian yang mengatakan jika dia itu mampu menuruti apa yang di inginkannya. Ya, karena jujur saja selama ini Alexa kadangkala masih berbelanja menggunakan kartu kredit pribadinya. Dan itu, sudah otomatis di bayarkan oleh sang Ayah. Tetapi, untuk kebutuhan berbelanja yang banyak, tentu saja Alexa harus menggunakan kartu kredit yang di berikan oleh sang suami. Alexa pun tidak ingin mendapatkan masalah dari Julian, karena tidak menggunakan kartu kredit yang diberikan oleh Julian untuknya.
"Nyonya, Alexa." seorang pelayan menghampiri Alexa dan membuat Alexa menghentikan lamunannya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyanya
"Di depan ada Nyonya besar, Bella." jawab sang pelayan dan sontak saja membuat Alexa terkejut.
"Apa? Di depan ada Mamah Bella?" tanya Alexa memastikan.
"Benar, Nyonya."jawab pelayan itu lagi dengan sopan.
"Aku akan kesana." ucap Alexa, dan tanpa menunggu lama Alexa langsung berjalan keluar meninggalkan kamar dan bersamaan dengan pelayan yang mengikutinya keluar dari kamar.
***
"Mamah..." Alexa menyapa dengan lembut, saat melihat Bella, ibu mertuanya itu tengah duduk di ruang keluarga.
"Maaf, Mah. Aku dan Julian belum sempat untuk mengunjungimu." ucap Alexa dengan penuh penyesalan saat pelukannya terlepas.
"Tidak apa - apa, sayang. Karena Mamah juga sibuk menemani suami Mama melakukan perjalanan bisnis." ucap Bella sambil menarik tangan Alexa, dan mengajak menantunya itu untuk duduk .
Alexa dan Ibu mertuanya kini sedang duduk di sofa sambil menikmati teh hangat yang baru saja di antarkan oleh sang pelayan.
"Bagaimana dengan kandunganmu, sayang?" tanya Bella lembut dengan menatap Alexa penuh dengan kasih sayang.
"Kandunganku baik, Mah. Dan dalam waktu dekat ini, rencananya aku akan pergi Babymoon dengan Julian ke negara A. Tetapi aku juga masih harus menunggu sampai Julian menyelesaikan segala pekerjaannya." ucap Alexa dengan gembira.
__ADS_1
Bella berdecak pelan. "CK! Anak nakal itu, kenapa tidak bisa melepaskan sebentar saja tanggung jawabnya di perusahaan. Dia kan, bisa meminta Papahnya untuk menggantikan sebentar urusan di perusahaan."
"Mah..." Alexa menjeda. Dia membawa tangannya menyentuh tangan Ibu mertuanya itu. "Bukannya Julian tidak ingin melepas tanggung jawabnya di perusahaan. Tapi karena Julian juga begitu menghormati kedua orang tuanya yang telah membesarkan perusahaan hingga menjadi sebesar seperti sekarang ini. Aku juga tidak pernah mempermasalahkan jika Julian sibuk, karena aku pun tau, sesibuk apapun Julian, dia akan selalu mengutamakan diriku, Mah."
Senyum di bibir Bella terukir saat mendengar ucapan dari menantunya. Dan raut wajahnya pun tampak bahagia. "Julian sangat beruntung memilikimu, sayang. Dan Mama berharap, Julian tidak akan pernah menyakitimu lagi."
"Aku juga sangat beruntung memiliki Julian di dalam hidupku, Mah." jawab Alexa sambil tersenyum. " Mamah tidak usah khawatir, karena sekarang Julian selalu memberikan kebahagiaan untukku, Mah." sambungnya, dan tanpa sengaja tatapan Alexa beralih pada paper bag yang berada di samping Ibu mertuanya. "Mamah membeli sesuatu?" tanyanya.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.
__ADS_1
.