Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Tidak Mau Menjadi Janda


__ADS_3

"Tuan Julian.... Nyonya Alexa." Erlangga yang berada di ambang pintu menyapa Alexa dengan sopan.


"Erlangga, dimana data yang gagal ekspor di negara T?" tanya Julian dingin.


"Ini Tuan. Bukan hanya negara T tapi ada kendala juga di negara A." ucap Erlangga yang menyerahkan sebuah berkas yang ada di tangannya dan memberikannya pada Julian.


Julian menerima berkas itu dan membuka setiap lembar berkas itu. Raut wajah dinginnya yang begitu terlihat saat membaca berkas yang ada di hadapannya.


"Julian, kalau begitu aku akan pergi kesana sebentar." ucap Alexa yang menunjuk ke arah satu tempat yang tidak jauh dari Julian.


Julian mengangguk. "Jangan pergi jauh-jauh."


"Iya," kemudian Alexa melangkah melihat produksi wine. Mulai dari pengolahan anggur hingga menjadi wine. Untuk wine sendiri akan bernilai mahal jika umur wine yang semakin tua. Jujur saja Alexa tidak pernah menyangka, perusahaan sebesar Dominic Group ternyata memilki perkebunan anggur juga. Namun, tidak bisa di pungkiri perkebunan anggur di bawah naungan Dominic Group menjadi salah satu produksi wine terbesar yang ada di negara M. Dan hasil produksinya, di kirim ke seluruh negara.


Namun, saat Alexa sedang berjalan-jalan melihat hasil produksi wine, tiba-tiba....


"Nyonya Alexa awaasss....!" Suara Erlangga berteriak dengan begitu kencang, hingga membuat Alexa langsung berbalik.


Julian terkejut. Raut wajahnya pun menegang dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Alexa. Sebuah benda dari atas yang sedikit lagi terjatuh, membuat Julian langsung melempar berkas yang ada di tangannya. Dia langsung berlari ke arah Alexa dan langsung mendorong tubuh istrinya itu.


Braakkk.


Tubuh Alexa terjatuh bersamaan dengan sang suami. Tatapan Alexa berubah. Raut wajahnya menegang, dan mata yang berkaca-kaca. Dia menatap sebuah benda mengenai kepala Julian. Darah mengalir deras membasahi lantai. Suara teriakan semua orang membuat Alexa terpaku.


"J- Julian...."


Suara Alexa rasanya tercekat. Dia melihat darah keluar dari kepala Julian. Air matanya tidak berhenti berlinang membasahi pipinya

__ADS_1


Dia langsung memeluk kepala Julian, menekan luka yang ada di kepala sang suami agar pendarahan itu bisa berhenti.


"Jangan menangis, sayang. Aku tidak apa-apa." ucap Julian yang masih sadar. Dia membawa tangannya mengusap air mata istrinya itu.


"Harusnya kau tidak melakukan semua ini!" Isak Alexa keras. Dia terus menekan luka yang ada di kepala Julian.


Sedangkan Julian hanya tersenyum. Di detik selanjutnya kesadaran Julian mulai melemah dan tidak sadarkan diri. Dan Alexa semakin menangis kencang saat Julian sudah kehilangan kesadarannya.


Kini Erlangga bersama dengan para karyawan yang lainnya membawa Julian ke ruang kesehatan. Alexa terus menangis, dia langsung mengikuti suaminya. Rasa takut kini mulai menyelimuti dirinya. Dia menyesal, harusnya dia melihat - lihat kedalam. Seandainya saja dia tidak ceroboh kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi.


***


"Bagaimana dengan keadaan suamiku?" Alexa bertanya seraya terisak pelan melihat dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Julian.


"Nyonya, tidak ada yang terjadi serius pada luka Tuan Julian. Hanya mendapatkan beberapa jahitan saja di kepalanya. Dan sebentar lagi Tuan Julian pasti akan segera sadar." ujar sang dokter yang sedikit membuat hati Alexa menjadi tenang.


"Apa aku bisa melihat suamiku?" tanya Alexa dengan suara yang pelan dan mata yang masih memerah.


Tanpa lagi berkata, Alexa langsung berjalan cepat masuk kedalam ruang rawat Julian. Dan hatinya begitu lega dengan penjelasan dari sang Dokter. Namun, dia tetap saja tidak sepenuhnya bisa tenang. Pikirannya terus memikirkan hal yang buruk terjadi pada suaminya.


Alexa terdiam saat dirinya sudah berada diruang rawat Julian. Tatapannya teralih melihat kepala sang suami yang terbalut dengan perban. Kini Alexa mendekat, dia duduk di tepi ranjang seraya menatap wajah pucat sang suami.


"Kenapa kau melakukan ini! Aku membencimu!" Alexa memukul pelan dada bidang sang suami. Dia pun langsung membenamkan wajahnya ke dada Julian dengan isak tangisnya yang kencang. "Kau harus bagun, Julian. Aku tidak mau jadi janda, Julian!" Rancaunya di dalam dekapan Julian.


Uhukk...


Suara terbatuk membuat Alexa langsung menjauhkan wajahnya. Menatap ke arah Julian yang ternyata sudah membuka matanya.

__ADS_1


"Kau sudah sadar?" Alexa kembali terisak. Dia terus memukuli dada Julian. Kali ini dia memukul sedikit keras dan tangisnya semakin kencang karena Julian sudah membuka matanya. Dan ketakutannya pun langsung menghilang. Dia masih bisa melihat sang suami.


"Sayang, apa kau mau membunuhku?" Julian yang masih merasakan sakit di kepalanya. Dia menangkap tangan Alexa dengan satu tangannya.


Perkataan Julian langsung membuat Alexa menghentikan pukulannya. Dia menyadari dirinya telah memukul Julian terlalu keras. Senang takut, marah, membuat dirinya kelepasan hingga memukul suaminya sendiri.


"Kenapa kau baru sadar sekarang! Aku tidak mau menjadi janda! Meskipun aku tau, aku akan menjadi janda yang sangat kaya raya sekalipun aku tetap tidak mau! Apa kau tidak ingin melihat anakmu tumbuh besar! Kenapa kau melakukan itu?!" Seru Alexa dengan Isak tangisnya yang keras.


Julian tersenyum mendengar perkataan konyol istrinya. Kini dia menarik tangan Alexa, membawanya masuk kedalam dekapannya. Tangis Alexa pecah dalam pelukan Julian. Dia langsung mengecupi puncak kepala istrinya seraya mengusap lembut punggung Alexa.


"Aku tidak mungkin semudah itu mati, sayang. Aku juga tidak akan pernah membiarkanmu menjadi janda." Julian menarik dagu, Alexa. Dia mengecup bibir istrinya sambil menghapus sisa air mata istrinya itu. "Apa yang kau takutkan, sama seperti dulu yang pernah aku takutkan. Di saat aku melihatmu terbaring di rumah sakit. Membuat hidupku berhenti, Alexa. Aku akan tetap berjuang hidup karena dirimu dan anak kita. Aku akan melakukan semampuku, untuk selalu tetap bersama dengan kalian."


Air mata Alexa kembali berlinang mendengar perkataan Julian. Hatinya tersentuh. Ya, Alexa merasakan rasa takut yang dulu pernah Julian rasakan. Meski tidak bisa di pungkiri luka di hati Alexa masih ada, tapi semua itu terkalahkan dengan rasa cinta dan ketakutannya kehilangan Julian. Dia pun tidak membayangkan bagaimana kehidupannya jika Julian tidak ada di sisinya.


"Aku membencimu! Aku semakin membencimu karena kau tadi mengorbankan dirimu! Aku sangat membencimu Julian!" Alexa kembali memukul dada bidang Julian.


Senyum di bibir Julian pun terukir. Dia langsung menangkap tangan Alexa dengan tangan kirinya dan tangan kanannya membungkam bibir Alexa dengan bibirnya. Isak tangis Alexa mengecil saat merasakan bibir lembut Julian menyapu bibirnya. Pertahanan Alexa pun runtuh, perlahan dia memejamkan matanya. Awalnya Alexa tidak membalas namun di detik selanjutnya Alexa mulai membalas pagutan Julian dengan lembut. Alexa membawa tangannya meremas kemeja Julian. Suara decapan pun terdengar. Bibir mereka saling berpagutan, lidah mereka saling membelit satu sama lain.


********


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2