Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Cara Licik Devan


__ADS_3

Adel langsung terdiam saat mendengar ucapan dari Devan dan entah kenapa hati Adel berubah menjadi hangat dan tatapannya yang tajam langsung berubah menjadi teduh.


"Pergilah Devan, aku ingin mandi." ucap Adel dengan nada suara yang pelan, namun tersirat dengan ketegasan.


"Tidak. Aku tidak akan pergi. Berhenti menghindar dariku Adel!" Tukas Devan menekankan.


Adel mendesah pelan. "Dengarkan aku. Menikah bukanlah hal yang mudah, Devan. Jangan main-main dengan pernikahan."


"Apa? Main - main kau bilang? Berapa kali aku selalu mengejar mu dan kau bilang aku masih main - main?" Devan berseru dengan tatapan yang begitu tajam pada Adel.


Adel bungkam saat mendengar Devan tampak marah padanya. Ya, jujur saja, Adel tidak tahu harus bagaimana.


"Devan, aku harap kau mengerti. Pernikahan tidaklah mudah. Aku tidak ingin menikah hanya karena kita sudah pernah tidur bersama." Adel berucap dengan helaan nafas berat.


"Adel..." Devan menjeda ucapannya, dia berusaha untuk meredakan amarahnya. Kemudian, Devan membawa tangannya mengelus dengan lembut pipi wanita itu. "Aku tahu menikah itu tidaklah mudah. Tapi aku mohon, berikanlah aku kesempatan dan aku tidak pernah main-main dengan perasaanku. Aku memang mencintaimu, Adel. Dan aku menikah denganmu bukan karena kita pernah tidur bersama. Tapi aku menikah denganmu karena aku menginginkanmu. Hanya kau satu - satunya wanita yang aku inginkan menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku."


Seketika Adel tidak mampu lagi untuk berkata - kata saat mendengar perkataan dari Devan yang memang tulus padanya. Ya, seumur hidup Adel tidak pernah mendengar sebuah perkataan seperti Devan yang berikan padanya.


"Tapi Devan, aku-"


"Kau tidak bisa menolakku lagi, Adel. Jika kau menolakku, maka aku sendiri yang akan mendatangi Ayahmu dan mengatakan kepadanya kalau kau sudah tidur denganku," tukas Devan dengan nada penuh dengan ancaman.


"Apa sekarang kau sedang mengancam ku?" tanya Adel yang terkejut dengan apa yang di katakan oleh Devan.


Dan Devan pun langsung mengangguk. "Ya, aku tidak ada pilihan yang lain lagi. Dan jika kau masih menolakku aku akan melakukan jalan yang lain agar kau tidak bisa lagi menolakku."


Adel mengumpat di dalam hati. Ya, jika terus menerus seperti ini dirinya itu tidak bisa melakukan apapun. Sial, Adel tidak menyangka, jika Devan akan menggunakan cara yang licik.


"Aku ingin mandi, menyingkirlah!" Ucap Adel dengan dingin sambil mendorong tubuh Devan.


"Tapi kau belum menjawab ku, Adel!" Balas Devan menekankan.

__ADS_1


Adel menghembuskan nafas kesal. "Memangnya kau masih membutuhkan jawabanku? Bukannya aku tidak memiliki pilihan yang lain?"


Mendengar jawaban dari Adel. Devan pun tersenyum dengan pey kemenangan saat mendengar apa yang di katakan oleh Adel tadi. Kini Devan langsung menyingkirkan tubuhnya yang berada di atas Adel. Tepat di saat Devan sudah menjauh. Adel langsung bangkit berdiri sambil mengambil asal kemeja milik Devan yang berada di lantai dan memakainya.


Devan pun menaikkan sebelah alisnya, dia menyunggingkan seringai di wajahnya saat melihat Adel yang memakai kemejanya. Well,wanita itu kini mulai berani. Mungkin karena Adel tidak memilki pilihan apapun hingga membuatnya pasrah. Ya, Devan pun sebenarnya terpaksa melakukan cara licik agar bisa mendapatkan cinta dari Adel.


***


Alexa kini sedang menatap layar di ponselnya, karena biasanya Adel selalu menghubunginya, tapi kini sepupunya itu belum menghubungi dirinya dan jujur saja Alexa masih sangat khawatir. Dan Alexa juga takut, jika nantinya Adel akan memiliki trauma dengan apa yang menimpa sepupunya itu tadi malam.


Alexa pun menghela nafas dalam dan Alexa memilih untuk menghubungi nomor sepupunya lebih dulu. Namun, satu, dua hingga enam kali dia pun masih mencoba untuk menghubungi Adel, namun masih tidak ada jawaban juga dari sepupunya itu. Kemudian Alexa beralih menghubungi Devan.


"Halo, Kak Devan?" sapa Alexa saat panggilannya sudah terhubung.


"Iya, Alexa. Apa kau sedang mencari Adel?" jawab Devan dari sebrang telepon.


"Benar, Kak. Apa Adel masih bersama denganmu?" tanya Alexa memastikan keberadaan sepupunya itu dari sebrang telepon.


"Apa? Mandi? Apa semalam Adel menginap di tempatmu, Kak?" tanyanya lagi ingin tahu.


"Iya Alexa.Tadi malam sepupumu itu menginap di tempatku."


Mendengar ucapan dari Devan. Kening Alexa pun mulai berkerut. Ya, bagaimana mungkin sepupunya itu mau menginap di tempat Devan? Dan banyak sekali pertanyaan yang muncul di pikiran Alexa saat ini. Namun, Alexa memilih untuk menepis semua pikirannya. Mungkin, ini semua adalah awal berjalannya hubungan Devan dengan sepupunya itu.


"Ya sudah, Kak. Kalau begitu, aku titip sepupuku ya. Dan katakan padanya tadi aku menghubunginya karena mengkhawatirkannya." pinta Alexa pada Devan dari sambungan teleponnya.


"Ya sudah. Kalau begitu nanti aku akan sampaikan padanya."


Dan panggilan telepon pun tertutup. Kemudian Alexa meletakkan kembali ponselnya ke atas meja.


"Sayang, siapa yang sedang kau hubungi tadi?" tanya Julian, yang sedang melangkah masuk kedalam kamar, kemudian tatapannya menatap sang istri yang baru saja mengakhiri panggilan telepon.

__ADS_1


Alexa pun berbalik. Dan dia mengulas senyuman di wajahnya saat Julian mulai mendekat ke arahnya. "Tadi pagi, aku mulai menghubungi nomor ponsel milik Adel beberapa kali tapi tidak di


Jawab olehnya.Jadi aku langsung menghubungi Kak Devan. Dan Kak Devan menjawab kalau Adel sedang mandi."


Mendengar ucapan dari sang istri. Julian pun mengangguk paham. Dia kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Alexa dan bertanya."Sayang, tapi kenapa wajahmu itu terlihat sedang memikirkan sesuatu, hm?"


"Entahlah. Aku hanya sedang bingung saja." jawab Alexa sambil merapatkan tubuhnya pada dada bidang sang suami yang bergelanjut manja seperti biasa.


"Memangnya kau sedang bingung kenapa?" tanya Julian lagi sambil mencium dengan gemas hidung Alexa.


"Aku itu sedang bingung, kenapa Adel mau menginap di rumahnya Kak Devan? Ah, ataukah mungkin sepupuku itu sudah mulai membuka hatinya untuk Kak Devan?" Alexa bergumam dengan raut wajah tampak sedang berpikir.


"Tidak perlu kau pikirkan, bukankah itu bagus. Kalau mereka sudah saling dekat?" Julian mendekatkan hidungnya ke hidung Alexa, dan menggeseknya. "Sayang, lebih baik kau pikirkan tentang kandunganmu saja. Apa kau masih suka mual?" tanyanya lagi.


"Aku sudah tidak lagi mual, Julian. Hanya saja, sejak kemarin aku ingin makan sesuatu." gumam Alexa dengan bibir yang tertekuk.


"Memangnya kau ingin makan apa, sayang? Kenapa kau tidak langsung bilang padaku?"tanya Julian cepat


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2