
"Raymond?" Erlangga mengalihkan pandangannya, dia sedikit terkejut melihat kedatangan Raymond. Dan di sana juga ada Arabella, istri Raymond dan Vanya.
"Aku ingin berbicara dengan putramu," tukas Raymond dingin dengan kilat mata yang begitu tajam pada Julian.
Erlangga membuang napas kasar. Kemudian dia menganggukkan kepalanya dan berjalan meninggalkan Raymond dan putranya. Dia membiarkan Raymond berbicara, karena dia tahu ini adalah kesalahan putranya.
Kini di ruangan itu hanya ada Raymond, Julian, Vanya dan Arabella. Sesaat Julian melihat wajah Vanya yang tampak begitu gelisah.
"Vanya!" Seru Raymond. Tatapannya menatap tajam ke arah Vanya yang sedang duduk di sofa.
"Pah," Vanya menundukkan kepalanya tidak berani menatap Ayahnya.
"Apa kau tahu apa salahmu?" seru Raymond meninggikan suaranya.
"Maafkan aku, Pah. Tapi aku tidak mungkin menikah dengan pria yang tidak aku cintai. Julian juga tidak pernah mencintaiku. Kami tidak saling mencintai, Pah." jawab Vanya dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya.
"Raymond, kasihan Vanya jangan membentaknya seperti itu. Sekarang Julian sudah menikah dengan Alexa. Mungkin Tuhan menakdirkan Julian berjodoh dengan Alexa bukan Vanya." Arabella berusaha menenangkan kemarahan sang suami.
"Jangan ikut campur, Arabella!" Desis Raymond memperingatkan.
"Vanya! Jawab aku. Apa benar kau dan Julian tidak saling mencintai? Kau dan Julian telah bertunangan dua tahun yang lalu. Jika kau memang tidak saling mencintai, kenapa kalian tidak pernah berbicara padaku!" Seru Raymond.
"Karena kau tidak mungkin mendengarkan Vanya, Pah." suara bariton memasuki ruangan khusus itu, membuat semua orang yang ada di sana mengalihkan pandangannya pada sosok pria yang memakai jas semi formal berwarna silver melangkah mendekat.
"Kak Samudera?" Vanya menyapa Samudera dengan suara yang pelan. Samudera tersenyum pada Vanya yang menyapanya. Kini Samudera melangkah mendekat pada sang Ayah.
"Pah, kau tidak bisa memaksakan anak - anakmu menjadi sepertimu dan Mama. Kalian di jodohkan dan saling mencintai. Tapi tidak semua orang akan merasakan hal yang sama. Aku rasa kau sudah mendengar saat Vanya menjelaskan dia tidak bisa bersama dengan seorang pria yang tidak mencintainya. Begitupun dia tidak bisa bersama dengan pria yang tidak dia cintai. Aku yakin, bukan hanya Vanya, tapi Alexa juga merasakan hal yang sama. Alexa terpaksa menikah dengan Julian. Aku tidak akan lagi membuat Alexa tersiksa lagi. Setelah Alexa sadar dari masa kritisnya aku akan membawa adikku pergi dari negara M." seru Samudera dengan tegas.
"Jaga bicaramu Samudera!" Julian bersuara dengan begitu dingin dan menusuk. "Alexa adalah istriku tidak ada yang bisa mengambilnya dariku!"
"Tapi aku tidak peduli, karena aku tahu adikku itu tidak mencintaimu!" Jawab Samudera dengan nada yang cukup meninggi.
__ADS_1
Julian tersenyum sinis, "Jika kau tidak tahu apa-apa lebih baik kau diam!"
"Hentikan!" Bentak Raymond keras. Perdebatan Samudera dan Julian berakhir. Saat Raymond membentak mereka.
"Vanya, jawab aku. Kenapa kau melarikan diri dari pernikahan?" tanya Raymond dingin dan tatapan yang begitu tajam pada putrinya.
Vanya terdiam sesaat. Kemudian dia melihat ke arah Julian dan menjawab dengan suara yang tenang. "Aku dan Julian tidak saling mencintai. Aku memilih pergi karena aku tidak bisa menikah dengan pria yang tidak pernah aku cintai. Aku minta maaf Pah,"
Ya, Vanya memilih untuk tidak mengatakan sepenuhnya pada Ayahnya. Termasuk pria yang dia sukai, lebih baik baginya untuk tidak menceritakannya.
Setelah mendengar alasan dari putrinya. Amarah Raymond pun sedikit mereda. Dia meminta Samudera untuk membawa Vanya dan Ibunya untuk keluar dari ruangan. Ya, semua alasan kepergian Vanya telah terjawab. Meski Raymond ingin marah besar pada putrinya, tapi semua percuma semuanya telah terjadi.
Di ruangan itu hanya tersisa Julian dan Raymond saling menatap satu sama lain. Sebuah tatapan dingin dan tidak bersahabat Raymond pada menantunya itu. Sudah sejak tadi Raymond menahan dirinya untuk menghajar pria yang ada di hadapannya ini.
"Pah," Julian menyapa Raymond. Dia sudah menduga ini akan terjadi. Tidak ada pilihan lain, selain menghadapi apa yang telah dia perbuat.
"Kau tahu apa kesalahan terbesarmu, Julian Dominic!" Seru Raymond dengan tatapan yang kian menajam.
Tanpa berkata, Raymond langsung menarik kerah baju Julian, dia menghajar Julian, hingga membuat darah keluar dari pelipis Julian. Tubuh tegap dan kokoh Julian masih diam ketika Raymond menghajarnya. Julian tidak melakukan perlawanan sedikitpun dan membiarkan Ayah mertuanya meluapkan amarahnya.
"Aku sudah pernah bilang padamu untuk menjaga putriku, tapi kenapa kau melukainya!!" Bentak Raymond keras.
"Aku minta maaf, Pah." Julian tidak memiliki pilihan yang lain selain mengucapkan kata maaf pada Ayah mertuanya itu. Dia menyentuh ujung pelipisnya saat darah tidak henti keluar dari sana.
"Maaf, kau bilang? Kau hampir saja membunuh putriku, sialan! Aku mempercayakan Alexa padamu karena aku yakin, kau adalah pria yang tepat di hidup putriku! Tapi setelah semua yang terjadi, kau pikir aku akan membiarkan putriku tetap bersama denganmu!" Seru Raymond dengan wajah yang di penuhi dengan amarah.
"Aku mencintai Alexa. Tidak mungkin aku membiarkan Alexa terluka. Aku tahu ini semua salahku karena sudah melukainya. Aku akan menebus semuanya, Pah." jawab Julian menurunkan suaranya. Dia memilih mengalah dan tidak melawan mertuanya.
"Ya, kau harus menebusnya. Setelah putriku sadar, aku akan meminta anak buahku untuk mengurus surat perceraian kalian. Jangan pernah temui putriku dan jangan pernah kau menggangunya," ucap Raymond, sontak membuat Julian terkejut.
"Aku dan Alexa tidak akan pernah bercerai! Alexa tengah hamil anakku!" Seru Julian menggeram menahan amarah yang meledak dalam dirinya.
__ADS_1
"Aku tidak peduli Alexa hamil atau tidak. Kau dan putriku akan tetap bercerai!" Tegas Raymond dengan tatapan tajam pada Julian.
"Dan kau tidak mungkin lupa, jika pengadilan akan menolak perceraian jika Alexa tengah hamil." jawab Julian dengan kilat mata yang di penuhi dengan amarah.
Raymond tersenyum sinis, "Tidak ada di dunia ini yang tidak bisa aku lakukan. Jika aku mengatakan kau dan putriku akan bercerai, maka kalian akan bercerai. Lagi pula kau juga tidak mencintai putriku, bukan?"
Tanpa lagi berkata, Raymond berbalik dan hendak berjalan meninggalkan Julian. Namun tiba-tiba...
"Aku tidak akan pernah bercerai dari Alexa! Dan aku katakan sekali lagi padamu bahwa aku sangat mencintai putrimu!" Seru Julian meninggikan suaranya dan langsung membuat Raymond menghentikan langkahnya.
Raymond masih pada tempatnya. Dia memunggungi Julian dan tidak membalikkan tubuhnya. Kini Raymond menatap Julian dengan sudut matanya dan berucap tegas. "Alexa akan menuruti perkataanku. Banyak luka yang kau berikan padanya. Tidak mungkin dia masih tetap bertahan ketika mengingat perlakuan kasar mu padanya."
Kini Raymond melanjutkan langkahnya, berjalan meninggalkan Julian yang masih tidak bergeming dari tempatnya. Julian mengumpat kasar. Dia bisa saja menggunakan kekuasaannya untuk bertarung dengan Ayah mertuanya. Tapi Julian tidak mungkin melakukan hal itu. Bagaimana pun Julian tetap menghargai dan menghormati mertuanya.
Praaaannng.
Julian membanting vas bunga yang ada di hadapannya. Dia terus mengumpat kasar. Rahangnya mengetat. Tangannya terkepal begitu kuat. Kemarahan dalam dirinya tidak bisa lagi tertahan mengingat perkataan Ayah mertuanya yang memintanya untuk bercerai dengan Alexa.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dariku, Alexa." geram Julian dengan tatapan yang begitu tajam.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.