
Pagi kembali di sambut Alexa yang baru saja habis membersihkan tubuhnya. Bisa di bilang, ia sudah bangun pagi - pagi sekali. Entah kenapa dia jadi antusias karena tadi malam Julian mengirimkan pesan untuk membuatkan sarapan pagi ini. Untuk itu ia bersiap - siap membuatkan sarapan yang sepesial. Bahkan, ia sudah melihat banyak di Internet mengenai sarapan yang bagus.
"Makanan sudah siap?" kata Alexa berusaha untuk bersikap biasa saja saat melihat Julian hendak bersiap pergi ke kantor.
"Aku mau ke kantor kamu makan sendiri saja." jawab Julian menghindari Alexa.
"Bukankah tadi malam kamu bilang ingin aku masakin." kata Alexa sedikit kecewa.
"Aku berubah pikiran." jawab Julian dingin lalu pergi meninggalkan Alexa
Padahal Alexa mengira kalau hubungan mereka akan lebih berkembang lagi, tapi ternyata itu adalah angan - angan Alexa sendiri. Julian kembali dengan sikap dinginnya, namun Alexa hanya diam saja ketika melihat Julian pergi.
Alexa pun memilih untuk makan. Karena sayang, kalau di biarkan tidak di makan, kemudian Alexa memaksakan dirinya untuk menghabiskan makanan ini sendiri dan berharap dengan makan akan mengurangi kesedihan hatinya, setelah selesai Alexa memilih untuk bersiap pergi untuk menemui Adel sepupunya.
...***...
Kini Alexa sudah berada di kafe tempat dia ingin bertemu dengan Adel.
"Alexa, apa kamu sedang ada masalah dengan Julian sehingga memintaku untuk bertemu?" tanya Adel.
"Tidak," jawab Alexa berbohong.
"Lalu?"
"Aku hanya ingin mengobrol saja denganmu, Adel."
Adel tahu, pasti ada sesuatu yang membuat Alexa berbohong. Itu sudah terlihat dari raut wajahnya. Alexa memang sudah berusaha keras untuk tersenyum dan terlihat baik - baik saja, tapi tetap saja semua bisa terlihat dari mata Adel meski Alexa berusaha untuk menutupinya.
"Apa kamu bahagia menikah dengan Julian, Alexa?" tanya Adel tiba - tiba.
"Aku bahagia."
"Bagaimana perkembangan hubungan kalian?"
"Masih biasa tidak ada yang berubah sedikitpun."
"Apa yang kamu lakukan selama ini?"
__ADS_1
Alexa hanya menceritakan semua perlakuan Julian yang baik padanya. Lalu untuk urusan kontrak Alexa tidak akan berbicara pada siapapun tentang hal itu. Alexa juga mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang wanita yang kemarin ia foto pada Adel.
"Kamu sudah tidur dengan, Julian?"
"Kalau hanya tidur dalam satu kamar iya. Tapi tidak lebih dari itu."
Adel menepuk dahinya mendengar ucapan polos dari Alexa. Kemudian membisikkan sesuatu pada Alexa dan langsung membuatnya melotot.
"Kamu gila! Aku nggak mau. Bagaimana kalau dia menganggapku sebagai wanita penggoda."
"Nggak ada yang salah jika menggoda suami sendiri. Kalau menggoda suami orang siap - siap aja kamu masuk kandang macan. Di cakar - cakar dan di jambak - di jambak sama istrinya."
Alexa malah tertawa saat Adel berkata seperti itu. Dia samping itu Adel pun tidak ingin memaksa Alexa untuk bercerita yang sebenarnya padanya, mungkin yang di butuhkan Alexa adalah hiburan saja. Jadi Adel berusaha untuk membuat Alexa kembali ceria.
...***...
Alexa kemudian pulang setelah bertemu dengan sepupunya Adel, dalam perjalanan pulang Alexa berpikir kenapa Julian tidak memberitahukan mengenai foto wanita yang ada di kamar itu. Alexa pun kembali berfikir, tapi untuk apa juga Julian memberitahunya? Karena Alexa sadar, dirinya bukanlah siapa - siapa bagi Julian, di hanyalah istri pengganti baginya. Alexa juga tidak harus tahu apa yang sudah dilakukan oleh Julian selama ini, lagi pula mereka juga tidak saling mencintai.
Tapi Alexa juga sedang cemas dan takut tentang perubahan sikap Julian saat pagi tadi yang kembali dingin. Mungkinkah Julian sudah melihat rekaman CCTV yang ada di kamar itu? Pikirnya.
Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan rumah yang begitu besar. Tak lama kemudian, sosok Alexa keluar dari dalam mobil dan dia melihat mobil Julian yang sudah terparkir di depan mansion.
Alexa kemudian masuk kedalam mansion dan mencari Julian tapi tidak ada dimana - mana. Padahal Alexa sudah mencari di kamarnya dan ruang kerjanya juga kosong. Alexa kemudian langsung pergi ke belakang rumahnya. Tetapi dari arah belakang tiba - tiba ada yang membekap mulutnya pandangan Alexa pun menjadi kabur dan tak sadarkan diri.
...***...
Alexa merasakan berat pada kepalanya. Gadis itu membuka matanya. Alexa kaget saat ia melihat tangannya yang sudah di ikat kuat dan kedua kakinya di rantai juga di ikat pada sebuah kursi yang lebih menyakitkan adalah mulutnya di plester.
Hanya suara tangisan yang menemani Alexa saat ini.
Dalam hati ia berteriak, ruangan itu sangat gelap dan menakutkan.
"Kenapa istri cantikku ini sangat nakal, dan suka sekali berulah."
Alexa menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar. Samar - samar ia melihat seorang laki-laki dengan kemeja putih dan juga jas hitam yang saat ini nampak berjalan ke arahnya dengan tegas. Wajah tampan dan dinginnya sangat menakutkan.
"Alexa, jadi kau mau bermain - main denganku, Hem? Kau pikir aku ini main - main dengan ucapanku? Sekarang aku akan menghukummu, Alexa..." tanya Julian dengan nada lirih dan ia membungkukkan badannya mendekati Alexa.
__ADS_1
Alexa menangis ketakutan, ia bahkan merasakan sesak di dadanya.
"Kenapa menangis? takut? Kamu takut, huh?!" Teriak Julian pada Alexa.
"Seharusnya kau tahu, apapun yang kau lakukan di rumah ini aku mengetahui semuanya, Alexa. Begitupun saat kau masuk kedalam ruangan kamar itu? Bukankah aku sudah melarangmu, Alexa! Tapi kenapa kau suka suka sekali melihatku bertindak kasar padamu, Hah!"
Alexa menangis kuat, ia tidak bisa menjawab apapun pertanyaan dari Julian karena mulutnya yang tertutup.
Julian kemudian mengeluarkan pisau lipatnya dan mengarahkan pisaunya tepat pada ujung kancing teratas pada kemeja putih yang sedang Alexa pakai.
"Kamu memang mengundangku untuk di puaskan, Hem?" tanya Julian tersenyum devil sembari menatap tubuh Alexa dengan kemeja putih yang sudah terbuka.
Alexa menggelengkan kepalanya dan ia berusaha untuk memberontak hingga terasa sesak di dadanya. Kemudian Julian melepaskan plaster yang menutup mulut Alexa.
"Kenapa tangan dan kakiku di ikat lagi seperti ini, Julian? Lepaskan, lepaskan aku!" Teriak Alexa histeris .
"Kau tidak bisa diam, Alexa!"
"Kau...Kau penjahat!" Teriak Alexa memaki Julian dengan berani tepat ada di hadapan wajah Julian.
"Diamlah, Alexa," lirih Julian. Jemarinya menyapu pipi putih Alexa yang terasa lembut di tangannya. "Patuhlah sedikit, sebelum aku memasung kedua kaki sialanmu itu!" Julian melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Alexa. Alexa masih enggan untuk beranjak, rasa nyeri perih di kedua tangan kakinya membuatnya kesulitan untuk bangkit.
"Sekarang kau bisa bangun? Bahkan bisa berlari dari sini?" tanya Julian berbisik dengan nada yang dingin dan pelan.
Alexa mendorong Julian. Alexa sangat membenci tiap kata dan tatapan yang Julian berikan kepadanya.
"Apa maumu?!" Tanya Alexa.
...*********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.