Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Laporan Dari Kenzo


__ADS_3

Perkataan Julian terpotong saat mendengar ponsel miliknya tiba - tiba saja berdering. Dan tertera di layar ponselnya ada nama Asistennya, Kenzo. Julian pun menghembuskan nafas kesal setelah mengetahui siapa yang sudah menghubungi dirinya. Padahal, Julian itu sebelumnya sudah memberitahu pada asistennya jika dia akan datang terlambat ke perusahaan karena di pagi hari ini di ingin menemani istrinya. Kemudian Julian menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan teleponnya. Dan sedikit menjauh dari Alexa untuk menerima panggilan tersebut.


"Kenzo! Bukankah aku sudah katakan padamu kalau aku akan datang ke perusahaan agak siang? Lalu kenapa di pagi hari begini kau sudah menggangguku, Hah?!" Seru Julian dari sebrang telepon saat panggilannya terhubung.


"Maafkan saya, Tuan. Tapi, perusahaan kita sedang mendapatkan masalah yang sangat serius?" jawabnya dengan nada yang terdengar begitu panik dan cemas.


"Memang ada masalah apa lagi dengan perusahaan? Kenapa kau terdengar panik seperti itu?" tanya Julian sedikit kesal dari sebrang telepon.


"Saya mau melaporkan, jika pabrik wine dan perkebunan anggur kita terbakar, Tuan. Dan banyak sekali karyawan dari pabrik anggur kita yang tidak selamat akibat kebakaran yang terjadi secara tiba-tiba itu. Jika ada yang selamat pun mereka mengalami luka bakar yang sangat serius." lapor Kenzo dari sebrang telepon mengenai kejadian kebakaran di pabrik anggur dan wine milik Julian.


Mendengar laporan dari Kenzo tentang kondisi pabrik wine dan anggur miliknya yang terbakar dan juga banyak para karyawan yang tidak selamat dan terluka parah. Julian pun sangat terkejut, amarah di dalam dirinya membendung seolah siap untuk meledak.


"Kau jangan bercanda Kenzo?! Mana mungkin pabrik wine dan anggur bisa terbakar!" Bentak Julian dari sebrang telepon.


"Bagaimana jika Tuan Julian langsung datang saja ke pabrik anggur untuk melihat situasinya." Kenzo memberikan saran dengan nada yang sedikit ketakutan dari sebrang telepon.


"Aku akan langsung ke sana." kemudian Julian langsung menutup panggilan teleponnya. Sedangkan Alexa yang kini sudah berdiri di hadapan Julian pun dia begitu khawatir saat melihat wajah suaminya yang di penuhi dengan amarah setelah selesai bertelepon dengan asistennya.


"Sayang, ada apa? Kenapa kau terlihat marah sekali?" tanya Alexa ingin tahu.


"Alexa, mungkin malam ini aku akan pulang terlambat. Kau juga tidak usah menungguku. Ada masalah yang terjadi di perusahaanku. Aku pergi dulu ya." jawab Julian, lalu langsung menyambar jaket dan kunci mobilnya kemudian berjalan dengan cepat meninggalkan ruangan makan.


Melihat kepergian sang suami yang terburu-buru Alexa hanya bisa mengerutkan keningnya dia juga tidak tahu sebenarnya ada masalah apa hingga membuat suaminya itu terlihat sangat marah setelah menerima panggilan telepon dari asistennya itu dan Alexa hanya bisa menatap kepergian sang suami dengan wajah yang cemas dan khawatir.

__ADS_1


***


Setelah sampai di halaman parkir, Julian langsung masuk kedalam mobil dia langsung menginjak gas dan menambah kecepatan mobilnya. Dan sepanjang perjalanan menuju ke pabrik anggur dan wine itu Julian tidak berhenti mengumpat kasar saat mengingat kembali apa yang sudah di laporkan oleh asistennya.


"Sialan!" Umpat Julian sambil memukul-mukul stir mobil.


Ya, meski Julian tahu mengalami kerugian yang sangat besar. Dia tidak terlalu memperdulikannya. Kini, Julian sedang memikirkan nasib para karyawannya yang menjadi korban akibat kebakaran pabrik miliknya yang sudah di jalankan secara turun temurun itu.


Kemudian, terdengar suara dering ponsel yang berbunyi. Namun, saat Julian melihat ke layar tertera nama Devan yang menghubunginya. Julian pun mengabaikan nya.Ya, kali ini Julian tidak mengangkat telepon dari Devan. Di karenakan Julian yang sedang tidak ingin di ganggu dan masih banyak hal yang sedang di pikirkan tentang nasib para nyawa karyawan yang sudah menjadi korban kebakaran itu.


Selama hampir satu jam perjalanan, akhirnya Julian sudah sampai di kawasan pabrik anggur dan wine. Dan langsung turun dari mobilnya.


Kini Julian bisa melihat dengan jelas kondisi dari pabrik anggur dan wine yang di milikinya yang sudah terbakar sangat parah. Dan amarah yang ada di dalam dirinya sudah tidak mampu lagi di tahan.


"Julian." panggil Devan, yang ternyata sudah lebih dulu tiba di tempat ke bakaran pabrik tersebut.


"Sepertinya ada yang sedang bermain-main denganku." jawab Julian sambil mengepalkan tangannya.


"Tuan Julian... Tuan Devan. Syukurlah kalian berdua sudah datang." ucap Kenzo sambil berlari menghampiri Julian dan juga Devan.


"Kenzo, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa kebakaran pabrik ini bisa separah ini?" tanya Julian meminta penjelasan dari asistennya itu.


"Saya baru saja mendapatkan laporan jika terjadi korsleting listrik. Dan saya juga masih menyelidikinya untuk memastikan apakah benar pabrik kebakaran karena korsleting listrik atau ada unsur yang di sengaja dari pihak luar, Tuan." jawab Kenzo.

__ADS_1


"Kau pikir aku akan percaya itu, Kenzo! Aku sangat yakin kebakaran yang terjadi di pabrik tidak mungkin karena korsleting listrik. Pasti ada seseorang yang dengan sengaja membakar pabrik milikku ini. Lihatlah Ken, lahan hingga tujuh puluh persen tidak mungkin hanya karena korsleting listrik bisa mengakibatkan kebakaran yang begitu besar yang seperti itu." Ucap Julian dengan nada yang sedikit marah.


"Saya juga sependapat dengan anda, Tuan Julian. Sepertinya kebakaran yang terjadi di pabrik karena ada unsur kesengajaan dari pihak luar. Tetapi saya juga harus memastikannya lagi setelah melihat hasil penyelidikan nanti."


"Baiklah. Setelah kau sudah mendapatkan hasilnya, segera kabari aku. Dan untuk karyawan yang tidak selamat dan karyawan yang mengalami luka serius. Kau harus segera mengurus asuransinya. Jika ada yang membutuhkan operasi kau juga harus membantunya hingga pulih dan jangan lupa berikan santunan pendidikan untuk anak - anak mereka." perintah Julian tegas.


"Baik, Tuan. Saya akan segera mengurus semuanya. Kalau begitu saya permisi Tuan Julian dan Tuan Devan." pamit Kenzo.


"Julian, aku sungguh salut padamu. Di saat kau sedang mengalami masalah dan kerugian yang begitu besar, tapi kau masih saja memikirkan nasib karyawanmu." ucap Devan yang memuji sifat Julian dan menatap kagum ke arah Julian.


Mendengar pujian dari Devan, Julian hanya diam karena Julian sama sekali tidak menyukai kata pujian.


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini, Julian? Mungkinkah kau mencurigai sesuatu?" tanya Devan seraya menatap Julian dengan serius.


*****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2