Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Alexa Sakit


__ADS_3

Julian mengumpat kasar saat ponsel Alexa tidak aktif. Dia berkali - kali menghubungi istrinya sejak kemarin tapi tetap tidak ada jawaban. Julian memejamkan matanya sesaat. Pikirannya tampak begitu kacau. Ya, baru empat hari Alexa meninggalkannya tapi dia tidak bisa tenang. Dia terus memikirkan cara agar bisa bertemu dengan Alexa. Hal yang begitu rumit adalah penjagaan di rumah mertuanya yang semakin bertambah ketat. Mungkin mertuanya sudah mengetahui jika dia pernah menerobos masuk ke mansion miliknya. Jika dia memaksa untuk masuk lagi itu artinya dengan terpaksa dia harus melumpuhkan keamanan rumah mertuanya sendiri.


"Tuan Julian," Kenzo melangkah masuk kedalam ruang kerja pribadi Julian yang berada di mansionnya.


"Ada apa?" tanya Julian dingin.


"Maaf Tuan, saya ingin kembali ke kantor. Apa ada yang anda butuhkan, Tuan?" tanya Kenzo sopan.


Julian menghembuskan nafasnya kasar. Dia menyandarkan punggungnya dan menjawab, "Aku ingin meminta pendapatmu?"


"Pendapat apa yang anda butuhkan, Tuan?" Kenzo kembali bertanya dengan hati - hati.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Jika aku mendatangi rumah mertuaku dalam keadaan yang seperti ini, maka mau tidak mau aku harus melumpuhkan keamanan mereka. Tapi aku tidak mungkin menunggu hingga situasinya tenang. Aku tidak bisa berlama-lama berdiam diri!" Seru Julian dengan tangan yang terkepal kuat.


"Tuan, menurut saya tidak ada salahnya anda langsung mendatangi kediaman keluarga Jhonson, jika memang anda tidak bisa lagi menunggu," jawab Kenzo memberikan pendapatnya.


Julian membuang napas kasar, "Kau pergilah, sebelum pulang pastikan tidak banyak pemberitaan di media. Satu lagi, kau harus pastikan tidak ada wartawan yang menunggu di depan perusahaan."


"Baik Tuan," jawab Kenzo patuh. Kemudian dia pamit undur diri dari hadapan Julian.


Julian menyambar gelas sloki di hadapannya yang berisikan wine dan menegaknya hingga tandas. Pikirannya benar - benar kacau. Ya, kali ini dia tidak memilki pilihan yang lain. Dia akan menggunakan apapun cara agar Alexa kembali menjadi miliknya. Meski dia harus melawan keluarga dari istrinya sendiri, dia tidak memperdulikan itu.


...***...


Setelah selesai melukis, Alexa memilih untuk duduk di sofa dan mengambil susu kacang serta sandwich yang terhidangkan di atas meja, lalu menikmatinya. Namun, saat Alexa tengah menikmati sarapannya, dia merasakan rasa mual yang luar biasa. Dengan cepat Alexa meletakkan kembali sarapannya di atas meja, dia berlari menuju ke arah kamar mandi.


"Ueeee.... " Alexa mengeluarkan semua isi perutnya, dia berpegangan pada pinggiran wastafel. Kepalanya kini mulai memberat, matanya mulai berat dan berkunang-kunang, tubuhnya terasa begitu lemas dan lemah hingga rasanya tidak mampu lagi untuk berdiri. Tepat di saat tubuh Alexa hampir ambruk, dia merasakan sebuah tangan kokoh merengkuh pinggangnya dan Alexa pun langsung menoleh dia sedikit terkejut melihat Kakaknya, Samudera yang merengkuhnya.


"Kak Samudera, kau di sini?" Alexa membenarkan posisinya, dia menatap Kakaknya. "Kenapa aku tidak menyadari Kakak masuk ke kamarku? Kapan Kakak masuk?"

__ADS_1


"Kau masih mual?" Samudera mengelus lembut pipi Alexa. "Aku akan memanggilkan dokter untukmu. Sejak kemarin kau itu terus mual?"


"Tidak usah, Kak Samudera." Alexa terus menggelengkan kepalanya. "Aku baik - baik saja."


Samudera membuang napas kasar. "Baik - baik saja, bagaimana Alexa? Sejak kemarin kau itu terus mual - mual seperti ini?" tukasnya kesal.


"Aku berjanji Kak Samudera, kalau lebih dari tiga hari aku masih terus mual, kau boleh memanggilkan dokter."


"Baiklah, sekarang kau istirahatlah." Samudera langsung merengkuh bahu Alexa, membawa adiknya menuju ke arah ranjang. Kemudian Alexa membaringkan tubuhnya di ranjang. Samudera menarik selimut, menutupi tubuh adiknya dengan selimut yang tebal.


"Kau ingin makan apa?" Samudera merapihkan rambut Alexa yang menutupi wajahnya. "Apa kau mau aku meminta pelayan untuk membawakan soup cream untukmu?" tawarnya dengan nada yang cemas dan khawatir


Alexa mengangguk pelan. "Ya, aku mau soup cream, Kak." tanpa menunggu lama, Samudera langsung mengeluarkan ponselnya, dia menghubungi pelayan agar segera membawakan teh hangat dan soup cream untuk adiknya itu."


"Kak Samudera, bukannya hari ini Kakak ada meeting dengan rekan bisnis Kakak? Karena Ayah sedang tidak ada di sini, dan kau harus menggantikannya." ujar Alexa mengingatkan Kakaknya. "Sungguh aku tidak apa-apa jika aku di tinggal sendiri, nanti pasti aku membaik."


Samudera membuang napas kasar "Bagaimana aku meninggalkanmu yang sedang sakit seperti ini, Alexa? Sedangkan Mamah dan Vanya sedang menjemput Kaylan di bandara? Dan aku tidak mungkin bisa melihat dirimu yang terbaring sakit, dan aku tidak menemanimu."


"Baiklah," Samudera mengelus pipi Alexa. "Aku akan pergi ke kantor, tapi nanti dan tidak sekarang. Aku harus memastikan kau makan lebih dulu dan langsung beristirahat. Setelah itu aku bisa tenang." ujarnya dengan tatapan yang begitu tenang.


Alexa tersenyum, "Nanti, setelah Kakak berada di kantor aku akan menghubungimu."


Terdengar suara ketukan pintu, Samudera mengalihkan pandangannya dan langsung menginterupsi untuk masuk. Tidak lama kemudian, sang pelayan melangkah masuk sembari membawa nampan yang berisikan soup cream dan teh hangat.


"Tuan Samudera.... ini pesanan anda," ucap sang pelayan sambil menghidangkan soup cream dan teh hangat di atas meja.


"Ya," tukas Samudera dingin.


"Kalau begitu saya permisi," pelayan itu menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari hadapan Samudera dan Alexa.

__ADS_1


Kemudian, Samudera mengambil soup cream yang berisikan cream soup yang tadi di antar oleh pelayan, lalu dia menyuapkan pada adiknya, Alexa pun menurut dan membuka mulutnya memakan perlahan cream soup yang di berikan oleh Kakaknya itu.


"Jika dalam waktu tiga hari kau masih sakit, kau harus segera di periksa." tukas Samudera mengingatkan. "Aku tidak mau sesuatu terjadi padamu lagi."


Alexa tersenyum, "Iya Kak Samudera. Aku akan menurutimu jika dalam tiga hari kondisiku belum juga membaik."


Samudera mengulum senyumannya, dia menangkup kedua pipi Alexa "Aku harus berangkat sekarang, hubungi aku jika terjadi sesuatu. Dan jangan kemana-mana, lebih baik kau beristirahat. Aku tidak ingin melihatmu sakit."


Alexa menganggukkan kepalanya patuh.


"Jaga kesehatanmu juga, Kak." tukas Alexa mengingatkan. "Aku juga tidak ingin kau sakit karena terlalu banyak bekerja."


"Ya, kau tenang saja. Aku akan menjaga diriku dengan baik," Samudera beranjak dari tempat duduknya, lalu dia mengecup kening adiknya. "Jaga dirimu baik-baik. Hubungi aku jika terjadi sesuatu."


"Iya, Kak Samudera." balas Alexa. "Hati - hati dan kabari aku jika sudah sampai di kantor,Kak."


Samudera mengangguk singkat. Kemudian dia mengambil jasnya yang ada di sofa bersama dengan kunci mobil yang ada di atas meja. Kini Samudera berjalan meninggalkan kamar Alexa. Tepat di saat Kakaknya sudah pergi, Alexa lebih memilih untuk membaringkan tubuhnya dan kembali untuk beristirahat, memulihkan kesehatannya.


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2