Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Alexa Sakit


__ADS_3

Pukul sepuluh malam Julian baru pulang dari kantornya, dan langkahnya tiba - tiba terhenti saja. Tatapan Julian lurus ke depan. Tepatnya ke arah seorang wanita yang tengah terbaring dengan lelap di atas sofa ruang tamu.


Julian masih terdiam dari tempatnya. Ia berjalan mendekati sosok wanita yang tengah tertidur di sofa ruang tamu. Ia menundukkan wajahnya dan menyibakkan rambut wanita itu. Maka terlihatlah wajah cantik dari Alexa yang tengah tertidur.


"Mau apalagi, jangan menakutiku. Kepalaku sedang pusing Julian." ujar Alexa saat merasakan ada yang menyentuh pipinya dan Julian malah terkekeh.


"Kamu berani melawanku, Alexa!"


"Ti-Tidak!"


Julian mengangguk. "Baiklah, kalau begitu berikan aku ciuman," pintanya membuat Alexa melotot.


Alexa hanya mengerjapkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Julian memang sedikit tidak waras, pikirnya.


Alexa menggelengkan sedikit kepalanya dan tangannya langsung menutupi bibir laki - laki itu dengan berani.


"Tidak mau," tolaknya.


Entah dari segi apa yang membuat Julian makin gemas dengan menatap Alexa saat ini.


Julian langsung mendekap Alexa dan menggendongnya membawanya kedalam kamar pribadinya.


"Lepas, turunkan aku, Julian!" Pekik Alexa memukuli Julian.


"Diam! Mau aku jatuhkan kamu dari lantai dua, huh?" ancamnya, seketika Alexa terdiam


dan ia beringsut bersembunyi di balik dada bidang laki - laki itu.


Julian membuka pintu kamarnya dan merebahkan Alexa di atas ranjangnya.


"Jangan kemana-mana! Jika kau tidak ingin aku rantai lagi!" Ancamanya lagi dengan tatapan yang sangat marah.


Alexa mencebik kesal dan dia meraih guling untuk di pangkuannya, sementara laki - laki itu masih berada di dalam kamar mandi.


Entah seberapa lama Julian berada di dalam kamar mandi, hingga kemudian ia keluar dan sudah melihat Alexa yang sudah tertidur nyenyak.


"CK! Payah sekali kau Alexa." ujar Julian membenarkan posisi tidur gadis itu.


Julian niat hati ingin lembur hari ini, namun saat melihat Alexa tertidur nyenyak. Ia pun ikut mengantuk dan memeluk Alexa hangat.


Julian mengecup pelipis Alexa dan ia menempatkan kepalanya di ceruk leher Alexa.


...***...


"Sakit..."


"Ya Tuhan..."


Julian terbangun saat ia mendengar suara rintihan dari Alexa yang ada di pelukannya. Julian dengan cepat mengurai pelukannya dan ia menatap Alexa lekat - lekat.


"Kenapa? Apa yang sakit?" tanya Julian bingung.


"Kepalaku. Aduh, sakit sekali Julian!" Pekiknya, Alexa mencengkram erat pundak Julian tanpa sadar dan menangis kuat.


"Kita ke rumah sakit sekarang dan jangan menangis lagi."

__ADS_1


...***...


Julian mondar-mandir di depan pintu ruangan IGD dimana Alexa sedang di rawat, dan Alexa sedang ada di dalam di periksa oleh dokter. Demi apapun Julian sangat menyesal selama ini sudah bersikap kasar dengan Alexa. Saat ia baru pertama kali melihat Alexa yang menangis kuat - kuat karena kesaktian.


Julian merasa kesal bukan main, ia sampai mengacak rambutnya frustasi.


"Apa yang sudah aku lakukan selama ini, bagaimana kalau dia mati. Oh tidak Julian, kau tidak akan kehilangan Alexa." gumam Julian bingung sendiri.


Pintu ruangan itu terbuka dan nampak dokter yang keluar dari sana. Dokter itu menatap Julian sekilas.


"Anda..."


"Saya suaminya..." jawabnya dengan cepat.


Dokter langsung mengangguk - anggukkan kepalanya.


"Baiklah, mari ikuti saya sebentar." ajak dokter itu dan Julian mengikutinya.


Kini Julian dan dokter itu masuk kedalam sebuah ruangan.


"Silahkan duduk Tuan." ujar dokter itu dan Julian segera duduk.


Dokter itu menghela nafasnya berat.


"Perihal pasien, apa ini pertama kalinya atau pasien sering mengalami sakit kepala seperti ini?" tanya Dokter bernama Frans itu.


Julian diam, ia tidak tahu apakah ini yang pertama, kedua atau kesekianpun Julian tidak tau.


"Ini kali pertama saya melihat istri saya sakit kepala seperti itu." jawab Julian.


Dokter Frans menganguk - anggukan kepalanya. "Pasien mengalami sakit kepala karena pikirannya berat dan ia stres. Ia merasa tertekan dan pikirannya tidak bebas," jelas dokter itu dengan wajah yang sangat lesu.


"Tergantung perawatan anda dan keluarga, anda harus bisa menghiburnya dan memberikannya sedikit kebebasan," ujar Dokter Frans membuat Julian terdiam dan ia sangat bimbang saat ini.


"Kebebasan....?"


"Iya Tuan kebebasan untuk berfikir?"


...***...


Alexa mengerjapkan matanya dan ia menoleh ke sekitarnya yang terasa sepi dengan ruangan yang serba putih itu.


Alexa sangat lemas, bahkan ia hanya bisa menatap langit - langit kamar itu, tidak ada apapun yang bisa ia dengar kecuali suara dari tabung oksigen di sebelahnya.


Alexa mendengar pintu terbuka, ia ingin sekali mengintipnya namun bergerak saja rasanya sangat susah untuknya.


"Kau sudah bangun?"


Alexa sedikit gemetar mendengar suara itu, namun dia tidak menjawab.


"Jangan bicara dulu. Aku tidak akan kemana - mana. Aku akan tetap di sini menjagamu, sampai kamu sembuh." ucap Julian.


Julian meraih tangan Alexa dan ia mengelus lembut tangan itu.


"Lupakan semua yang telah terjadi hari ini, aku pastikan kalau kamu akan baik - baik saja," ucap Julian sambil mengecup punggung tangan Alexa.

__ADS_1


Alexa menatap laki - laki itu dan tangannya berusaha untuk melepaskan alat bantu nafas yang menutupi hidungnya.


"Jangan di lepas, nanti kau sesak atau kau ingin mati, huh?!" Desis Julian.


Mengeyel dan keras kepala itulah Alexa. Ia masih tidak betah dengan alat itu.


"Kenapa kau sangat suka sekali kalau aku siksa? Katakan?" desis Julian.


Alexa melepaskan alat itu dan ia kini menoleh menatap Julian dengan tatapan yang kesal.


"Kapan kau akan melepaskan aku? Kenapa sekarang kau jahat sekali, Julian?" tanya Alexa menatapnya dan ia sampai hendak menangis.


Julian menggeleng - gelengkan kepalanya. "Tidak akan Alexa. Jangan pernah kau bermimpi aku akan melepaskanmu," ujar Julian.


Alexa menangis dan Julian mengusap air matanya dengan sabar. Jujur saja Julian ingin sekali membentak dan memarahinya kali ini.


"Jangan menangis lagi, aku ingin bersikap sabar padamu kali ini, Alexa." ucap Julian mendekatkan wajahnya pada Alexa.


Alexa mencoba menjauh saat kulit pipinya bersentuhan dengan hidung laki - laki itu.


"Jangan begini Julian, aku mau pulang," rengeknya.


"Kau harus sembuh baru aku membawamu pulang, atau kau akan mati." ujar Julian.


"Tidak. Aku mau pulang kerumahku sendiri. Aku mau kembali ke negara R."


Julian menatapnya nyalang dan penuh emosi.


"Jangan macam-macam, Alexa. Aku tidak akan pernah melepaskanmu! Sampai kau berani lari dariku aku pastikan akan mengurungmu!" Ujar Julian.


Alexa menggengam tangan Julian dan menangis menatapnya.


"Aku tidak suka bau obat. Aku mau pulang. Aku mohon...." tangis Alexa. Ia memang membenci aroma obat - obatan yang ada di rumah sakit.


"Kau harus sembuh Alexa, jangan membuat aku marah padamu, Alexa!" Bentak Julian.


Alexa menggeleng - gelengkan kepalanya dan ia menarik paksa jarum infus jarum yang di tangannya hingga darah berceceran kemana - kemana dan ia langsung lompat dari brankar.


"Alexa!!" Teriak Julian mengejarnya.


"Jangan! Kalau aku bilang jangan ya jangan!" Seru Julian merangkul dan menahan tubuh Alexa dari belakang saat Alexa hendak membuka pintu yang ada di hadapannya itu.


Alexa menatap Julian. Mungkin saat ini adalah saat dimana Julian akan mengalah hanya demi gadisnya.


"Aku mau pulang! Aku tidak suka di sini! Aku mau pulang!" Sentak Alexa memukuli dada Julian.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2