Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Sakit Kepala


__ADS_3

Alexa sedang duduk di lantai di samping tempat tidur dengan rantai panjang yang mengikat kakinya. Dia menyandarkan punggungnya pada tempat tidurnya dan tatapannya lurus ke arah jendela kaca besar yang memperlihatkan langit biru yang cerah, tapi langit biru yang indah itu tidak bisa menyerahkan hatinya yang saat ini terasa gelap.


Saat Alexa memandangi langit itu, dia kembali mengingat perkataan Ibunya tentang takdir seseorang, Ibunya pernah mengatakan, bahwa garis takdir seseorang telah tertulis di telapak tangannya. Tidak ada yang bisa merubah garis takdir yang sudah tertulis. Sebagai manusia, kita hanya bisa menerima takdir. Apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita.


Alexa kemudian membuka kedua telapak tangannya, di memperlihatkan garis takdir yang terbentuk di telapak tangannya. Air matanya kembali menetes dan jatuh ke telapak tangannya sendiri. "Ma, apakah ini garis takdir Alexa. Apakah ini takdir yang Tuhan berikan untuk Alexa. Apa Tuhan sangat membenci Alexa, sampai Tuhan memberikan takdir yang seperti ini untuk Alexa. Sebesar apa kesalahan Alexa pada Tuhan, Ma. Apakah sangat besar. Apakah Tuhan marah, karena dulu Alexa hidup bahagia bersama kalian. Kenapa Tuhan sangat kejam, Ma. Kenapa hiks...hiks.


...***...


Di Perusahaan...


"Tuan Julian," Kenzo melangkah masuk kedalam ruang kerja Julian seraya menundukkan kepalanya saat tiba di hadapan Julian.


"Ada apa?" tanya Julian dingin. Saat Kenzo berada di hadapannya.


"Tuan, kemarin anda mengatakan hari ini ingin menemui Nona Berlian. Apa hari ini anda jadi menemuinya atau anda ingin menundanya?" tanya Kenzo hati - hati.


"Aku akan menemuinya. Kosongkan jadwalku hari ini. Jika Ayahku datang, bilang pada sekertaris Rita, kalau aku sedang memiliki meeting di luar. Dan suruh OB untuk merapihkan ruanganku yang kacau ini!" Julian berdiri seraya mengambil kunci mobil dan ponselnya yang terletak di atas meja. Kemudian melangkah meninggalkan ruangan kerjanya. Kenzo yang melihat Julian pergi, dia langsung berjalan menyusul Julian.


...***...


Julian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang memasuki halaman parkir sebuah tempat pemakaman yang jauh dari pusat kota. Kini Julian turun dari mobil bersama dengan Kenzo yang sejak tadi terus mengikuti Julian. Julian melangkahkan kakinya menujunya ke arah pemakaman pada sosok wanita yang sejak lama dia rindukan.


"Tuan Julian, sepertinya ada yang mengunjungi Nona Berlian," ujar Kenzo saat melihat satu buket bunga mawar merah berada di pusaran.


"Siapa yang datang?" Julian mengerutkan keningnya. Dia mendekat dan mengambil bunga itu. Bunga yang masih segar dan harum. Ini menandakan ada pengunjung baru yang datang ke pemakaman Berlian.


"Apa mungkin teman dari Nona Berlian?" Jawab Kenzo yang menebak.


"Mungkin." jawab Julian dingin. Kini dia mengambil bunga yang di pegang oleh Kenzo. Sebelumnya Julian sudah menyiapkan bunga untuk Berlian. Kemudian dia meletakkannya di pusaran Berlian.


Julian terdiam saat melihat nama Berliana Adelia Haddes di batu nisan. Sudah dua tahun dia kehilangan Berlian, hingga detik ini dia masih belum bisa menerima sepenuhnya. Ada rasa penyesalan dan bersalah yang begitu mengganjal di hatinya. Namun, dia tidak bisa melakukan apapun. Karena semuanya telah terjadi. Dua tahun yang lalu hidupnya hanya bagaikan mayat hidup. Dia bahkan tidak pernah lagi memilki niat untuk terus melanjutkan kehidupannya. Hingga setelah dia menikah, semuanya telah berubah. Perlahan ada rasa keinginannya yang muncul untuk melanjutkan hidupnya.


"Maaf, baru menjengukmu, Berlian." Julian membawa tangannya, mengusap pelan pusara Berlian. Terlihat tatapannya tersirat penuh dengan kepedihan dan kerinduan yang mendalam. "Aku merindukanmu." ucapnya yang tak sanggup lagi menahan.


Julian memejamkan matanya sesaat, seraya menundukkan kepalanya saat mengatakan itu. Jika dulu Julian mudah mengatakan aku merindukanmu. Entah kenapa, saat ini hatinya begitu berat seperti melakukan sebuah kesalahan yang besar saat mengatakan hal itu.


Julian membuang napas kasar. Dia memilih beranjak dan segera meninggalkan pemakaman Berlian. Kenzo yang melihat Julian pergi, dia sedikit terkejut karena Julian biasanya akan berlama - lama di pemakaman Berlian. Sedangkan sekarang? Julian bahkan tidak sampai sepuluh menit. Dia hanya meletakkan bunga dan langsung pergi.


...***...


Alexa membuka matanya saat ia merasakan wajahnya di hujami oleh kecupan hangat di wajahnya.


Alexa langsung terlonjak kaget, saat ia kini bertatapan langsung dengan sorot mata tajam laki - laki yang tadi malam sudah menyiksanya. Tatapan itu bagaikan mata panah yang bisa menancap dan membunuhnya hanya dengan sekali pandang.


"Ka- Kau mau apa?! Pekik Alexa menahan dada bidang Julian yang sangat dekat dengannya.

__ADS_1


"Kau sudah bangun Alexaku, tersayang." ucap Julian mengecup lembut bibir Alexa dan itu membuat Alexa menggelengkan kepalanya.


"Aku khawatir padamu, aku rasa kamu pantas mati, tapi kamu belum pantas mati, tapi aku rasa kamu memang pantas mendapatkannya," ujar Julian tersenyum miring dan ia melirik sinis pada Alexa.


"Dasar Gila l! Aku mau pulang! Lepaskan, aku mau pulang!" Pekik Alexa memukul dada bidang Julian.


Julian tertawa mendengarnya. Ia menggelengkan kepalanya. " Pulang? Jangan gila Alexa ku sayang, Ini rumahmu. Aku tidak akan melepaskan dirimu, ayo bercinta....."


Plak....


Tangan Alexa bergetar saat ini. Laki - laki di hadapannya ini sangat membuat Alexa menangis kuat - kuat.


"Kau membuatku semakin percuma hidup di dunia ini, Julian!" Pekik Alexa memukuli dada bidang Julian dengan sangat brutal.


Julian terdiam, antara rasa marah yang tak bisa keluar dan juga rasa berat untuk semakin hari ia susah untuk membuat Alexa bersedih lagi.


"Kenapa kau protes, Hem? Bukannya tugasmu hanya itu. Hanya sebagai pemuasku, lakukan dengan benar sesuai dengan tugasmu."


"Tidak mau! Jangan berani kau menyentuh aku lagi." Ucap Alexa lirih saat ini.


"Kau membuat kesabaranku menipis bodoh!" Ucap Julian.


"Tidak. Lepaskan! Apa yang kau lakukan!" Pekik Alexa.


"Jahat! Kau bukan manusia, Julian! Lepaskan aku!" Teriak Alexa di setiap napasnya yang tersengal.


"Terlambat! Kau membangunkan singa yang tertidur!" Desis Julian


Julian tersenyum menyeringai, pandangannya turun ke bawah menatap tubuh mulus seputih salju.


Menatap tubuh Alexa selama beberapa detik membuat kepala Julian tiba - tiba berdenyut.


"Akh.... kepalaku." lirihnya memegang kepalanya yang sakit.


Alexa terdiam menatapnya. "Julian lepas!"


"Diam kau! Kau gadis sialan!" Teriak Julian kesakitan memegangi kepalanya dan memukulnya pelan.


Alexa bergetar mendengar bentakkan Julian. Laki - laki itu beranjak dari atas tubuh Alexa. Kedua mata Alexa mengerjap dan napasnya naik turun. Sedangkan Julian berjalan tertatih memegangi kepalanya dan mengerang kesakitan. Laki - laki itu keluar dari dalam kamar Alexa.


"Dia kenapa? Padahal aku tidak menyentuh kepalanya sama sekali," lirih Alexa sebelumnya ia pasrah kedua tangannya yang terikat belum di lepaskan.


...***...


Di kamarnya, Julian tengah bersama dengan dua orang dokter yang memeriksanya. Ia kembali merasakan sakit di kepalanya karena tekanan emosinya yang tidak stabil.

__ADS_1


"Mohon, Tuan muda untuk tidak berpikir yang berat, apalagi tidak mengontrol emosi." ujar Dokter Ben yang kini berdiri di sampingnya.


"Aku sudah menahan untuk tidak marah, kau tahu itu hah?!" Sentak Julian sebelum ia kembali memegangi kepalanya


"Apa Nyonya Alexa yang membuat Tuan Julian sampai kambuh?" tanya Arsen, dokter yang baru saja menyuntikkan sesuatu pada lengan Julian.


"Bukan urusanmu! Pergilah!" Usir Julian pada mereka berdua


Mereka berdua segera keluar dari dalam kamar Julian, sedangkan Julian sendiri masih merasakan denyutan di kepalanya.


Ingatannya kembali pada Alexa, Julian meninggalkan Alexa di kamar sebelah dengan kedua tangan gadis itu masih di ikat kuat dan tidak ada selimut yang menutupinya.


"Alexa.... Ck! Argggghhh! Semua karena dia!" Teriak Julian beranjak perlahan


"Tuan, jangan nekat!" Pekik Kenzo mendekati Julian dan melarangnya untuk bangun.


"CK! Kau jangan ikut campur! Aku ingin memberikan pelajaran untuk gadis bodoh itu, Kenzo!" Seru Julian berapi-api.


"Nyonya Alexa juga sakit, Tuan jangan terlalu memaksanya. Kondisi Tuan juga tidak baik - baik saja," ujar Kenzo.


Julian kembali duduk, laki - laki itu memegangi kepalanya sebelum Kenzo menatapnya lekat.


"Tuan, ada hal penting yang harus kita lakukan sekarang." ujar Kenzo menjelaskan.


Julian menganggukkan kepalanya. "Ya, aku mengerti apa yang kau pikirkan, Ken. Keluarga Alexa, kan. Jangan sampai mereka tahu kalau aku sudah mengurung Alexa di mansionku ini. Kau juga harus pastikan tidak akan ada informasi yang bocor di mansion ini tentang keadaan Alexa. Terlebih lagi jika Samudera mengetahui keadaan adiknya, aku takut pria itu akan merebutnya dariku."


"Benar Tuan. Saya juga berpendapat demikian."


"Pergilah, dan pastikan seluruh pelayan di mansion ini tidak akan pernah membuka mulutnya tentang perilakuku pada Alexa."


"Baik Tuan,"


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2