Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Kecelakaan


__ADS_3

"Astaga!" Seru Adel.


"Julian?" Alexa tampak terkejut saat melihat sosok pria yang membuat para penjaga Adel tergelatak di lantai adalah Julian. "Hentikan Julian!" Teriaknya keras.


Julian mengalihkan pandangannya, melihat Alexa yang berdiri di depan pintu. Dia langsung melangkah mendekat ke arah Alexa. Tepat di saat Julian mendekat, penjaga dari Adel kembali menghadang. Namun, dengan cepat Adel menggerakkan kepalanya. Meminta para penjaga untuk menyingkir dan tidak menghalangi Julian.


"Alexa..." Julian semakin mendekat, namun dengan cepat Alexa melangkah mundur dan menghindar dari Julian.


"Kenapa kau di sini? Pulanglah, jangan membuat masalah!" Seru Alexa dengan suara yang bergetar. Dia menatap Julian dengan mata yang nyaris berkaca - kaca.


"Aku datang kesini karena ingin menjemput Istriku." Julian menjawab menurunkan nadanya. Tatapannya menatap Alexa sedikit lembut tidak seperti biasanya.


Alexa tersenyum patah. "Untuk apa kau menjemput istrimu? Hanya untuk memberitahunya bahwa kau lebih memilih mantan kekasihmu itu?"


"Pulanglah denganku, Alexa. Aku mohon padamu." untuk pertama kalinya Alexa mendengar Julian memohon padanya. Dia nyaris tidak percaya itu.


"Alexa pulanglah. Kalian bisa selesaikan masalah kalian." Adel berusaha untuk menjadi penengah. Dia tidak ingin sepupunya memiliki masalah yang berlarut-larut.


Alexa terdiam sesaat. Dia tidak mengatakan apapun. Hanya melangkahkan kakinya masuk kedalam mobil Julian. Senyum samar di bibir Julian terukir ketika Alexa masuk kedalam mobilnya. Tanpa menunggu Julian berjalan menyusul kedalam mobil.


...***...


Sepanjang perjalanan Julian dan Alexa tidak mengatakan sepatah katapun. Sesaat Julian hanya melihat Alexa yang terus menatap keluar jendela. Ya, Julian memilih untuk tidak berbicara dengan Alexa disini.


Saat mobil Julian mulai memasuki halaman parkir mansion mereka, Alexa sudah lebih dulu turun dan melangkah masuk kedalam rumah dan segera ke kamar. Julian yang melihat Alexa masuk lebih dulu, dia segera turun dari mobil dan menyusulnya.


"Alexa, tunggu." Julian menahan lengan Alexa ketika masuk kedalam kamar mereka.


"Sekarang katakan, apa yang ingin kau katakan?" Alexa berseru dengan nada tegas.


"Satu Minggu sudah cukup kau menyiksaku, Alexa." ujar Julian menurunkan suaranya.

__ADS_1


"Menyiksamu?" ulang Alexa seraya tersenyum miris. "Aku yang menyiksamu atau kau yang menyiksaku?"


Julian terdiam sesaat hingga dia berkata. "Aku dan Berlian sudah pernah merencanakan pernikahan kami. Tapi semua itu hancur. Ketika orang tuaku menjodohkanku dengan saudara perempuanmu. Setelah kecelakaan yang merenggut nyawa Berlian, aku sangat membenci diriku yang lemah. Ya, kau benar. Aku tidak bisa lepas dari bayang-bayang rasa bersalahku. Jika saja aku melawan kedua orang tuaku, maka Berlian pasti saat ini masih berada di sisiku. Itu yang menjadi penyesalan di hidupku." ucap Julian menjeda ucapannya. "Dan saat kecelakaan terjadi aku tidak tahu ternyata Berlian sedang mengandung. Rasa bersalahku semakin dalam saat mengetahuinya, Alexa. Hingga detik ini aku masih merasa bersalah pada Berlian, itulah salah satu alasan aku tidak bisa membuang semua kenangan tentang Berlian."


Mata Alexa berkaca-kaca mendengar pengakuan dari Julian. Bagai sebilah pisau yang tertancap di hatinya, rasanya begitu menyakitkan. Bahkan rasanya Alexa tidak mampu lagi menahan lagi air matanya. "Jadi, kau menjemputku hanya ingin mengatakan kau lebih memilih Berlian? Itu maksudmu, kan?" tanyanya dengan bulir air mata yang mulai menetes membasahi pipinya.


"Alexa dengarkan aku." Julian hendak melangkah mendekat ke arah Alexa, namun Alexa langsung mundur menghindar darinya.


"Jangan mendekat!" Alexa mulai terisak. Dia mati - matian menahan tangisnya, tapi nyatanya dia tetap lemah.


"Bisakah kau mendengarkan aku lebih dulu?" Julian berseru dengan nada yang sedikit tinggi dan tersirat penuh dengan ketegasan.


"Apalagi yang ingin kau katakan? Bukankah sudah jelas bahwa kau tidak bisa hidup dalam bayang - bayang mantan kekasihmu itu? Mau sampai kapan kau harus di bayang - bayangi rasa bersalahmu, Julian? Sampai kapan! " Jawab Alexa dengan nada yang bergetar. Menahan Isak tangisnya. Napasnya memburu. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Hatinya begitu sesak dan begitu hancur mendengar semua pengakuan dari Julian. Julian masih terus merasa bersalah. Jika seperti ini, Alexa tidak tahu bagaimana dia harus menjalani kehidupannya dengan Julian, jika masih ada bayang - bayang Berlian di tengah - tengah mereka.


"Tapi aku tidak bisa kehilanganmu. Dan berhenti membahas tentang Berlian!" Balas Julian menegaskan.


"Bagaimana mungkin aku bisa berhenti ketika yang ada dalam pikiran dan hatimu hanya wanita itu!" Alexa nyaris berteriak saat mengatakan hal itu.


Alexa tersenyum miris. "Cemburu? Kau cemburu pada pria yang jelas - jelas mereka tidak memiliki hubungan apapun denganku. Bagaimana dengan diriku? Kau masih menyimpan banyak kenangan dengan mantan kekasihmu. Bahkan yang ada di pikiranmu hanya Berlian!"


"Demi Tuhan kau salah, Alexa!" Seru Julian. "Setiap kali aku ingin memikirkan tentang Berlian, semua itu terhalang ketika kau yang muncul pertama kali dalam pikiranku! Bahkan ketika aku mengunjungi makamnya aku merasa bersalah karena telah berbohong padamu. Tapi percayalah, aku berbohong karena aku tidak ingin menyakitimu."


Alexa menggelengkan kepalanya dengan tegas. Air matanya terus berlinang membasahi pipinya. "Kenyataannya dengan kau berbohong kau telah melukai hatiku!"


"Alexa..." Julian melangkah mendekat. Dia menatap Alexa penuh dengan permohonan. "Aku minta maaf telah membohongimu. Aku tidak pernah berniat melukai hatimu."


"Tidak berniat tapi kenyataannya kau telah melukai hatiku!" Bentak Alexa keras dengan Isak tangisnya. Dan hendak pergi keluar dari kamar.


"Alexa, kau mau kemana?!" Julian menahan pergelangan tangan Alexa dengan kuat.


Alexa membuang napas kasar. Dia menggeram dan menahan marah dalam dirinya. "Aku lelah Julian. Banyak hal yang membebani pikiranku. Biarkan aku sendiri. I need space. Please." Alexa melepaskan tangannya yang berada di genggaman tangan Julian. Perlahan Julian menurut, dia melepaskan tangan Alexa dan membiarkan Alexa untuk menenangkan dirinya.

__ADS_1


Kini Alexa melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan mengambil kunci mobil yang berada di atas meja dan meninggalkan Julian yang masih tidak bergeming.


Saat masuk kedalam mobil, tangis Alexa pecah hatinya begitu sakit dan sesak. Alexa berusaha melupakan semuanya tapi kenyataannya sangat sulit. Alexa pun kini mulai mengendarai mobilnya dengan meninggalkan mansion Julian dengan kecepatan penuh. Dia tidak mempedulikan lagi keselamatannya. Dia terus menangis sepanjang jalan. Mengingat semua yang Julian lakukan padanya terlalu menyakiti hatinya. Kemudian Alexa teringat dengan ucapan Kakaknya dan mulai menghubungi Samudera, Kakaknya agar mau membantunya.


...***...


Suara dering ponsel Samudera kembali terdengar hingga membuat langkah Samudera terhenti. Dia membalikkan tubuhnya, lalu mengambil ponselnya. Samudera tersenyum ketika melihat nomor Alexa, adiknya yang muncul di layar ponselnya. Tanpa menunggu lama, Samudera langsung menggeser tombol hijau sebelum kemudian, meletakkan ke telinganya.


"Ya Alexa?" Samudera menjawab saat panggilan terhubung.


"Kakak tolong bawa aku pergi dari negara ini. Aku tidak mau berada di sini. Tolong, bawa aku pergi, Kak." ucap Alexa dari sebrang telepon dengan isak tangisnya.


Samudera tersentak. "Alexa? Katakan padaku ada apa sebenarnya?Kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu?"


"Ini semua karena Julian, Ak-" ucapan Alexa terhenti ketika mobilnya tiba - tiba di tabrak dari arah yang berlawanan.


"Aaaaaaaaaa....." suara teriakan Alexa begitu keras, hingga membuat Samudera terkejut. Samudera meremas kuat ponselnya ketika mendengar suara ledakan.


"Alexa? Alexa?" Samudera memanggil dengan keras nama adiknya ketika tidak ada jawaban dari Alexa hingga membuat Samudera semakin panik dan cemas.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2