
"Tenangkan dirimu, Julian!" Tukas Devan tegas. Kemudian tatapannya teralih pada adiknya sendiri. "Mateo, kau jangan mencari masalah!"
"Aku tidak mencari masalah!" Bantah Mateo yang tak terima jika di salahkan.
"Kau diamlah! Jangan terus membela dirimu!" Devan menatap tajam adiknya dan memberikan peringatan yang tegas.
"Julian, maafkan adikku." Ucap Devan yang akhirnya lebih memilih untuk mengalah. Dia tidak ingin bertengkar dengan Julian hanya karena masalah yang seperti ini.
"Kau jaga adikmu baik - baik, Devan. Ini peringatan terakhir dariku, jika sampai aku melihat adikmu kembali mendekati istriku, dia akan tahu akibatnya!" Desis Julian penuh dengan ancaman.
Tanpa lagi berkata, Julian langsung menarik paksa tangan Alexa dari tempat itu. Alexa akhirnya memilih untuk mengikuti Julian tanpa berontak, dia tidak ingin berontak ketika di hadapan publik seperti ini. Terlihat Mateo yang ingin mengejar Julian, namun dengan cepat Devan langsung menahan tangan Mateo, adiknya untuk tidak ikut campur lagi dalam urusan Julian dan Alexa.
...***...
Brakkk...
Julian langsung mendorong tubuh Alexa masuk kedalam kamar. Terlihat tatapannya yang begitu tajam pada Alexa yang kini sedang terduduk di sofa. Julian menggeram. Kilat kemarahan di wajahnya begitu terlihat.
"Kenapa kau itu tidak pernah mendengarkan perkataanku, Alexa! Aku sudah katakan padamu, bukan? Jangan pernah dekat dengan Mateo! Jauhi dia!" Seru Julian meninggikan suaranya.
Alexa beranjak berdiri, dia menatap tajam ke arah Julian. Kini amarah di dalam diri Alexa sudah tidak bisa lagi tertahan. "Kenapa kau selalu melarangku untuk dekat dengan Mateo! Aku dan dia hanya berteman!" Jawabnya menekankan.
"Berteman apa? Dia jelas - jelas sudah mengatakan kalau dia itu menyukaimu! Kenapa kau itu sulit sekali untuk mendengarkanku?" Julian semakin menghunuskan tatapan tajamnya. Rahangnya mengetat dan tangannya terkepal dengan begitu kuat.
"Kau itu terlalu berlebihan Julian! Kau tidak bisa membatasi dengan siapa aku berteman! Menyukai adalah hak bebas setiap orang! Meski dia menyukai aku sekalipun, itu tidak akan pernah ada yang menjadi perubahan!" Alexa menjawab dengan tegas. Kini dia mulai lelah dengan hal - hal yang selalu di larang oleh Julian. Cukup, kesabaran setiap wanita memiliki batasnya. Dan kali ini Alexa tidak mampu lagi untuk bersabar.
__ADS_1
"Aku suamimu. Aku berhak mengaturmu, Alexa!" Bentak Julian keras.
Alexa tersenyum penuh arti. Dia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Julian seraya berkata sarkas. "Kau sekarang mengatakan kau adalah suamiku. Kau berhak mengaturku, tapi kenapa aku tidak bisa mengaturmu? Kau sendiri telah membohongiku Julian. Sekarang, kau menyebut dirimu berhak atas diriku, apa itu adil?"
"Apa maksudmu kalau aku itu sudah membohongimu?" Julian menjawab dengan raut wajah yang tak suka.
"Kau tidak tahu maksudku?" Alexa nyaris tertawa saat Julian mengatakan hal itu. "Sekarang, aku bertanya padamu. Apa pernah kau berbohong padaku, Julian?"
"Aku tidak pernah berbohong padamu!Jangan memutar balikkan masalah, Alexa!" Seru Julian meninggikan suaranya.
"Aku tidak pernah memutar balikkan masalah, sialan!" Bentak Alexa keras. Napasnya memburu, tatapannya kian tajam dan penuh dengan kemarahan. "Jangan pernah kau berpura-pura tidak tahu! Kau jelas tahu kau sudah berbohong padaku! Kau mengatakan kau meeting, tapi sebenarnya kau mengunjungi makam mantan kekasihmu itu, bukan?"
Julian seketika bungkam ketika Alexa mengatakan hal itu. Wajahnya tampak terkejut saat Alexa mengetahui hal itu. Ya, dia menyadari itu adalah kesalahannya karena sudah menutupi hal itu dari Alexa. Hingga kemudian Julian menjawab menegaskan, "Aku tidak lama di makam Berlian. Aku hanya mengunjungi makamnya. Dan aku itu bukannya sedang berkencan dengan wanita lain."
Alexa tertawa mendengar Julian membela dirinya. "Apa aku harus menghancurkan makam Berlianmu itu, agar kau tidak lagi mengujungi mantan kekasihmu itu!"
"Apa?" tantang Alexa, seraya mengangkat wajahnya. "Kau saja melarangku untuk berteman dengan Mateo. Dan kau juga marah jika ada pria lain yang mendekatiku! Lalu? Apakah aku harus diam saja, ketika suamiku masih hidup dalam bayang - bayang mantan kekasihnya yang sudah mati?" jawabnya dengan sarkas.
"Jaga bicaramu, Alexa!" Julian kembali membentak Alexa dengan kencang. Tangannya terkepal begitu kuat.
"Memangnya apa yang harus aku jaga? Aku hanya mengatakan sesuai dengan keadaan!Kau itu masih tidak bisa melupakan bayang - bayang mantan kekasihmu! Lalu untuk apa kau mengatakan kau berhak atas diriku sedangkan aku tidak pernah berhak atas dirimu?" seru Alexa dengan berani.
"Kau tidak bisa menyamakan aku denganmu, sialan! Berlian sudah tidak ada! Sedangkan pria - pria yang ada di dekatmu mencoba untuk mendekatimu! Apa kau pikir aku hanya diam, ketika istriku di dekati oleh pria lain?" Julian menggeram. Dia berusaha untuk meredakan amarah dalam dirinya yang sulit untuk di tahan.
"Dan kau pikir aku hanya diam saja, ketika suamiku yang masih hidup harus selalu hidup dalam bayang - bayangan mantan kekasihnya?" Alexa kembali nyaris tertawa saat mengatakan itu. "Tidak, Julian! Aku tidak akan pernah tinggal diam! Kau bahkan masih menjaga kamar yang selalu di pakai oleh mantan kekasihmu itu! Apa kau masih bisa memikirkan sedikit saja bagaimana dengan perasaanku? Bagaimana jika kau berada di posisiku, ketika aku masih menyimpan semua kenangan mantan kekasihku? Apa kau akan menerimanya? Aku sangat yakin, jawabanmu tentu tidak bisa! Jadi? Jangan bersikap tidak adil, Julian! Kalau kau berhak atas diriku, maka aku juga berhak atas dirimu!"
__ADS_1
"Alexa, apa kau masih juga tidak mengerti! Kenapa kau terus saja membahas tentang masalah ini?!" Bentak Julian.
"Iya! Aku tidak mengerti! Bukankah aku berhak menolaknya juga, ketika kau juga selalu melarangku!" Alexa balik membentak ke arah Julian.
Julian menggeram, dia berusaha mati - matian, untuk mengendalikan amarahnya agar tidak kembali menyakiti Alexa. "Apa yang aku putuskan tidak akan pernah berubah, Alexa!"
Alexa tersenyum sinis dan menjawab, "Sama halnya denganmu. Apa yang sudah aku putuskan itu tidak akan pernah berubah! Jika kau menjadi pria yang egois, kenapa aku juga tidak bisa menjadi wanita yang egois?!"
Kini Alexa menyambar tas serta mengambil kunci mobilnya hendak meninggalkan kamar, sontak Julian terkejut saat melihat Alexa ingin pergi. Dengan cepat Julian langsung mencengkam kuat tangan Alexa,menghalangi wanita itu yang ingin pergi.
"Kau mau kemana!" Seru Julian dengan tatapan yang tajam.
"Lepas!" Alexa berontak ketika Julian mencengkram lengannya begitu kuat.
"Aku tidak akan mungkin membiarkanmu pergi, Alexa!" Desis Julian penuh dengan kemarahan.
...***...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.