
Salah satu alis Julian menukik, ia menarik lengan Alexa hingga gadis itu semakin mendekatinya.
Julian masih duduk dan melingkarkan kedua tangannya mendekap pinggang Alexa hingga gadis itu semakin mendekatinya.
"Kau mengajakku makan malam? Apa kepalamu baru saja terbentur, sampai kau punya niatan baik dan...."
"Baiklah, kalau kau tidak mau makan malam masakanku juga tidak apa-apa. Aku bisa mengajak Kenzo dan....."
"Suamimu itu aku, Alexa." suara Julian yang rendah, terdengar sangat lain dari biasanya.
Alexa merasakan hal yang bergelanyar di dalam hatinya saat ini. Ia langsung menepis tangan Julian saat itu juga.
Perlahan Alexa mundur perlahan, dan ia menatap wajah tanpan yang ada di depannya itu dengan takut.
"Kenapa? Jadi tidak? Kalau tidak, aku akan melanjutkan kerjaku," ujar Julian.
Satu tangan Alexa menarik tangan Julian saat itu juga. Laki - laki itu hanya ikut saja dengannya saat ini.
Sesampainya di lantai satu, semua maid yang ada di sana tampak keheranan. Melihat Alexa yang sukses membujuk Julian.
Padahal mereka mengira, kalau Tuan mudanya itu akan marah pada Alexa. Paling tidak mengusirnya keluar dari ruangannya.
"Apa yang kalian lihat!" Bentak Julian pada semua maid yang ada di sana, yang sedang menatap dirinya dan juga Alexa.
Mereka langsung pergi. Alexa juga langsung menuju ke arah meja makan.
Ia tersenyum pada Julian saat itu, laki-laki itu kini duduk di depan Alexa dan menatap menu masakan yang Alexa masak sedari tadi.
"Kenapa? Kau tidak suka,ya?" tanya Alexa dengan nada sedikit mengejek.
Salah satu sudut bibir Julian terangkat. Laki - laki itu berdehem dan ia langsung mengangguk - anggukan kepalanya.
"Alexa, tolong ambilkan." perintah Julian menyerahkan piringnya pada Alexa saat itu juga.
Kedua mata Alexa mengerjap seketika, ia masih diam kikuk di sana. Dan dengan berat hati Alexa mengambilkan makanan untuk Julian.
"Hei Alexa! Kau ingin memberikan makan orang se- palazzo dengan nasi yang sebanyak itu, hah?!" Sentak Julian keras.
Alexa tersentak seketika. Ia langsung menundukkan kepalanya dan menatap banyaknya nasi yang ia bawa.
__ADS_1
"Oh maaf, aku tidak tahu selera makanmu, kan?" cicitnya.
"Ya, mulai sekarang belajarlah jadi istri yang becus!"
Alexa menghembuskan napasnya pelan. Ia mengangguk - anggukan kepalanya pasrah saja.
Alexa menyerahkan sepiring makanan tadi pada Julian. Ia memperhatikan laki - laki yang ada di depannya itu yang sama sekali tidak keberatan dengan makanan itu.
"Muntahkan saja kalau itu tidak sesuai dengan seleramu, Julian." ujar Alexa.
"Tidak. Masakanmu sangat enak," jawab Julian dengan lahapnya memakan makanan itu.
"Kalau begitu kau tidak akan menghukumku, kan?"
"Tidak."
...***...
Setelah acara malam selesai Alexa menghampiri Julian yang kini ada di ruang kerjanya.
"Julian?" panggil Alexa. Kemudian Alexa melangkah menghampiri Julian dan duduk di hadapannya.
"Maaf, kalau aku sudah menggangumu." Alexa menundukkan kepalanya merasa tidak enak saat Julian sedang serius bekerja.
"Ada apalagi, Alexa?" tanya Julian ingin tahu.
"Bisakah aku meminta sesuatu di luar perjanjian kita?" tanya Alexa pelan.
"Katakan."
"Aku ingin lepas dari sangkar yang selama ini
mengurungku. Aku juga ingin kembali ke negara R?"
Entah kenapa Alexa menaruh harapan besar pada laki - laki yang jelas-jelas tidak ingin terikat dengannya.
"Untuk apa kau pergi ke negara R? Kau ingin melarikan diri seperti saudara perempuanmu itu?" Julian balik bertanya dengan sarkas.
Alexa mendengus tidak suka. Dia tidak langsung menjawab. Kini dia mengambil gelas sloki yang berisikan wine yang ada di meja Julian. "Aku baru tahu seorang Julian Dominic bisa berpikir begitu cerdas. Jika aku melarikan diri aku tidak mengatakan aku akan kembali ke negara R. Tujuanku ke negara R karena aku ingin mengambil barang-barang pribadiku yang ada di sana. Lagi pula jarak Negara M ke negara R tidak terlalu jauh."
__ADS_1
Julian menyeringai mendengar perkataan yang terlontar dari Alexa. Sesaat dia melihat Alexa dengan begitu lekat. Ya, Alexa dan Vanya bak langit dan bumi. Keduanya memiliki paras yang sangat cantik. Meski Kakak beradik tapi sifat mereka berdua tidak sama. Vanya terkenal begitu anggun. Bahkan cara bicara Vanya sangat lembut. Berbeda dengan Alexa yang keras dan cenderung berani. Harus dia akui Alexa adalah wanita yang berbeda.
"Alexa..." Julian beranjak dari tempat duduknya, dia mendekat ke arah Julian dan menarik dagu wanita itu dengan jemarinya. "Apa kau tidak bertanya pada Dimitri, asistenmu itu yang berada di negara R?" bisiknya dengan nada yang begitu menusuk di telinga Alexa.
"Bertanya?" Kening Alexa berkerut menatap bingung Julian. "Bertanya? Apa maksudmu, Julian?" tanyanya lagi dengan tatapan yang tak mengerti.
"Well, aku sudah meminta asistenmu untuk memindahkan barang-barangmu yang ada di negara R. Jadi kau tidak perlu kembali ke sana," ujar Julian yang begitu santai. Sontak membuat Alexa terkejut.
"Kau memindahkan barang-barangku? Apa hakmu memindahkan semua barang - barangku di negara R tanpa persetujuan dariku?" suara Alexa berseru dan tatapan yang kian menajam. Rahangnya mengetat sedangkan Julian hanya memilih duduk di kursi kerjanya seraya menghisap rokoknya dan mengabaikan perkataan Alexa.
"Kenapa kau harus marah? Apa yang aku lakukan adalah hal yang benar. Aku membantumu memindahkan barang-barangmu. So, it's not a big deal." Julian menghembuskan asap rokok ke udara. Kemudian, dia mengambil botol wine yang ada di hadapannya dan menuangkan ke gelas sloki di tangannya dan menyesapnya perlahan.
Alexa menggeram. Tatapan matanya kian menajam pada Julian yang tampak begitu santai dan tidak bersalah. Dia terus mengumpat kasar dalam hatinya. Dia sudah menduga, pasti Ayahnya yang meminta Julian untuk memindahkan barang-barangnya. Meski sudah menduga ini akan terjadi, tapi Alexa tidak menyangka akan secepat ini. Sial, kali ini Alexa kalah cepat. Padahal jika dia kembali ke rumah, dia akan segera menenangkan pikirannya. Menikah adalah hal yang tidak pernah Alexa sangka dalam hidupnya. Di tambah lagi setelah mengetahui sikap Julian yang terkadang terlalu posesif dan kasar padanya. Itu kenapa dia ingin sekali menenangkan pikirannya. Tapi, jika sudah seperti ini dia bisa apa? Kini Alexa mengatur napasnya, dia berusaha meredakan amarah di dalam dirinya. Percuma saja kalaupun dia marah karena semuanya sudah terjadi.
" Tapi aku ingin kebebasan, Julian."
"Kamu akan segera mendapatkan kebebasan."
Mendengar kata kebebasan yang baru saja di ucapkan oleh Alexa. Julian langsung saja memahami situasi yang mungkin saja di alami oleh Alexa selama ini. Ada sebuah perasaan aneh yang Julian rasakan dan Julian ingin sekali mewujudkan keinginan Alexa itu.
Keinginan sederhana namun penuh dengan makna. Yang tanpa mereka sadari perlahan namun pasti memaksa keduanya untuk selalu bersama.
"Terima kasih, Julian. Kalau begitu aku akan pergi studio lukisku yang baru."
Sedangkan Julian hanya menganggukkan kepalanya.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1