
Senyum di bibir Alexa terukir mendengar perkataan dari Julian. Dia tidak membalas perkataan Julian. Namun, dia pun tidak menolaknya. Dia hanya diam, dan membiarkan suaminya itu terus memeluk erat tubuhnya.
"Kau masih sakit, Julian. Lebih baik kau beristirahat." Hanya itu jawaban yang di berikan oleh Alexa. Meski tidak di pungkiri hati Alexa begitu bahagia dengan apa yang di katakan oleh suaminya tapi Alexa tidak ingin Julian terlambat beristirahat.
"Obatku hanya dirimu, Alexa. Kau selalu berada di sampingku. Maka tidak akan ada yang perlu aku khawatirkan. Aku akan baik - baik saja." Julian berbisik di telinga Alexa seraya menggigit pelan telinga istrinya. "Kelemahanku hanya dirimu. Jika kau tidak ada, maka aku tidak akan pernah baik - baik saja."
Wajah Alexa merona malu. Pipinya memerah mendengar perkataan Julian.Jantungnya berdegup dengan kencang saat jarak keduanya begitu dekat.
"Siapa yang mengajarimu merayuku, Julian?" cebik Alexa dengan bibirnya yang berkerut.
Julian terkekeh.Dia menarik dagu Alexa dan mencium dengan lembut bibir Istrinya seraya berbisik dengan rendah "Tidak perlu ada yang mengajariku, sayang. Karena itu adalah kenyataan."
Pipi Alexa pun semakin merona dan jantungnya pun nyaris keluar dari tempatnya. Berkali-kali Alexa menahan dirinya, tapi kenyataannya memang tidak bisa. Julian selalu mampu membuat hatinya berdesir.
"Aku sangat menyukai pipimu yang sedang merona seperti ini." Julian membawa tangannya mengusap dengan lembut pipi Alexa. "Kau terlihat seperti gadis remaja yang sedang jatuh cinta."
"Julian jangan meledekku!" Seru Alexa mengerutkan bibirnya sebal.
"Sudah sejak tadi aku menahannya." Julian membuka kancing baju Alexa dengan mudah.
"Akh-" ******* dan erangan lolos di bibir Alexa saat Julian sedang bermain di dadanya.
"****, aku menginginkanmu, Alexa." Julian menggeram, dia tidak sanggup untuk menahannya lagi. Dia menangkup pipi Alexa menyambar dengan cepat bibir Alexa seraya berbisik, "Berikan aku Alexa.Aku sangat merindukanmu dan menginginkanmu."
Alexa pun mengangguk pasrah. Dia pun tidak ingin munafik karena dia pun begitu menginginkannya. Dan Julian pun tersenyum samar melihat dari jawaban Alexa yang sudah mengizinkannya.
Dan kini yang terdengar hanya suara ******* dan erangan yang memenuhi kamar. Nyatanya mereka tidak mampu lagi untuk menahannya. Mereka meluapkan kerinduan mereka, melebur menjadi satu.
__ADS_1
***
Julian menatap Alexa yang sedang tertidur pulas dalam dekapannya. Wajah polos istrinya benar - benar membuatnya tidak henti untuk mengaguminya. Dirinya tersenyum saat mengingat percintaan panas mereka berdua. Bahkan sudah tidak lagi terhitung percintaan panas mereka berdua. Lagi dan lagi, mereka terus melakukannya.
Julian pun membawa tangannya mengelus dengan lembut pipi istrinya. Dia sungguh bahagia karena saat ini istrinya sudah berada di sisinya. Dan kebahagiaan mereka telah lengkap karena sekarang Alexa tengah mengandung buah cinta mereka. Kini Julian menarik pelan dagu Alexa, dia mengecup bibir istrinya itu.
"Hmmm...." Alexa menggeliat saat merasakan ada yang menyentuh wajahnya, seketika Alexa mulai membuka matanya, dia langsung mengulas senyuman saat Julian berada di hadapannya.
"Maaf, sudah membangunkanmu, sayang." Julian mengecup lembut pipi Alexa.
"Tidak apa-apa," Alexa membenamkan wajahnya di dada Julian, menghirup aroma parfum yang kini sudah menjadi candu baginya.
Alexa mendongakkan kepalanya, menatap iris mata coklat Julian "Aku ingin kita babymoon"
Perkataan dari Alexa membuat Julian sedikit terkejut. Dia menaikkan sebelah alisnya dan berkata, "Jadi sebelumnya kau itu masih marah karena aku tidak mengajakmu babymoon."
Julian tertawa pelan mendengar ucapan dari istrinya itu yang sedang mengancamnya.Kini Julian menangkup kedua pipi Alexa, dia memagut lembut bibir Istrinya itu. "Alright. Kita akan pergi babymoon. Kemana kau ingin pergi? Apakah kita akan ke Negara P atau Negara L?"
"Tidak aku tidak mau." Alexa menggelengkan kepalanya pelan. "Aku ingin babymoon ke Negara A."
Julian pun terkejut dengan permintaan istrinya. "Sayang, negara A itu cukup jauh. Dan kehamilanmu juga masih terlalu muda.Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu."
"Jangan berlebihan Julian, nanti sebelum kita pergi aku akan periksa kandunganku ke dokter." jawab Alexa mencebikkan bibirnya.
Julian menghembuskan nafas pelan. Dia sebenarnya tidak setuju dengan permintaan istrinya mengingat jarak negara A cukup jauh itu yang membuat Julian mencemaskan istrinya terlebih lagi istrinya itu sedang hamil muda.
"Baiklah, tapi aku harus memastikan jika kau dan kandunganmu itu baik - baik saja." akhirnya Julian menyetujui permintaan istrinya. Walaupun sebenarnya dia masih ragu. Tapi dia akan memastikan jika istrinya itu dalam keadaan baik.
__ADS_1
Alexa pun tersenyum senang. Dia mencium rahang Julian seraya berkata, " Sekarang, aku mencintaimu. Tapi aku masih sedikit membencimu karena kau menyebalkan."
Julian pun mengulum senyumannya mendengar ucapan dari Alexa. Kini dia menarik dagu Alexa, mencium bibir istrinya itu dengan lembut. "Tidak masalah, karena aku tahu sebesar apapun kau membenciku. Tapi perasaan cintamu itu jauh lebih besar dari rasa cemburumu."
Alexa kini sedang berada di depan cermin, dia mengusap lembut perutnya yang masih rata. Dia pun masih tidak menyangka, jika ada sesuatu yang hidup di dalam perutnya. Ya, buah cintanya dengan Julian adalah hadiah yang terindah yang pernah di dapatkan oleh Alexa. Seketika senyum di bibir Alexa pun terukir membayangkan perutnya yang akan semakin membuncit, sungguh Alexa sudah tidak sabar untuk menantikan momen itu
"Ah, apa nanti aku akan sangat gemuk?" gumam Alexa seraya mengukur pinggangnya.
Tidak bisa di pungkiri Alexa memiliki tubuh layaknya seperti seorang model. Tinggi dan berat badan yang ideal. Bahkan Alexa jauh lebih tinggi dari Vanya, Kakak perempuannya. Jika Vanya lebih mirip ibunya yang bertubuh mungil, berbeda dengan Alexa yang memilki tubuh yang tinggi seperti Ayah dan kedua saudara laki-lakinya. Ya, harusnya Alexa bisa menjadi seorang model. Namun, tentu saja kedua orangtuanya tidak pernah memberikan izin dirinya masuk kedalam dunia entertainment. Lepas dari itu, Alexa pun kurang tertarik jika harus menjadi seorang model ataupun aktris.Bisa di bilang Alexa tidak suka jika kehidupan pribadinya di usik oleh media.
Tanpa Alexa sadari Julian sudah sedari tadi berdiri di ambang pintu menatap istrinya yang tengah berbicara sendiri. Hal utama yang membuat Julian tersenyum adalah ketika mendengar Alexa berkata 'Apa nanti akan sangat gemuk?' sebuah kalimat yang membuat Julian begitu gemas. Kini Julian mendekat dan langsung memeluk Alexa dari belakang.
"Julian, kau mengejutkanku!" Alexa memukul pelan tangan suaminya. Dia tersenyum menatap Julian dari pantulan cermin yang sedang memeluknya dari belakang.
"Kau akan selalu sangat cantik," Ucap Julian sambil berbisik seraya mengecupi leher jenjang dan putih istrinya.
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.