Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Percakapan Alexa Dan Vanya


__ADS_3

Vanya terdiam sesaat. Raut wajahnya tampak begitu muram. "Sebenarnya, aku pernah beberapa kali kencan dengannya saat aku masih bertunangan dengan Julian.Tapi hubungan kami hanya sebatas teman saja. Karena dia tidak pernah menganggapku lebih dari itu. Dan kepindahanku ke negara L, karena aku ingin menenangkan hatiku."


Alexa menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. "Aku akan selalu mendukungmu. Cinta itu rumit, aku pun merasakannya ketika aku mencintai Julian.Aku tidak bisa hidup tanpanya. Meski dia pernah melukai hatiku, aku akan tetap memiliki ribuan maaf untuknya. Mungkin orang lain bilang aku ini naif dan bodoh. Tapi aku mencintai Julian. Dan aku yakin, Julian tidak akan lagi melukai hati ku."


Senyuman tulus di bibir Vanya terukir. Dia membawa tangannya menyentuh tangan Alexa seraya menepuknya pelan. "Kau benar, dan aku sangat yakin, jika Julian tidak akan pernah melukaimu.Aku senang kau telah menemukan kebahagiaanmu, Alexa."


Alexa tersenyum "Akan ada saatnya kau menemukan kebahagiaanmu juga, Kak. Percayalah, Kak."


"Ehm?"


Suara berdehem, membuat Alexa dan Vanya mengalihkan pandangan mereka. Seketika Alexa terkejut melihat Julian yang berdiri di ambang pintu. Ya, sudah sejak tadi, Julian berdiri di ambang pintu. Mendengar percakapan Alexa dan juga Vanya. Bahkan, Julian mendengar ungkapan hati Alexa yang begitu tulus. Hati Julian tersentuh saat Alexa mengatakan akan selalu memberikannya ribuan maaf meski dirinya telah melukai istrinya itu.


"Julian, kau sudah pulang?" Alexa beranjak berdiri, menyambut kedatangan sang suami.


"Iya, maaf. Tadi aku harus berangkat terlebih dulu." ucap Julian sambil menangkup kedua pipi Alexa dan memberikan kecupan yang bertubi-tubi di bibir sang istri. "Aku merindukanmu." bisiknya tepat di depan bibir Alexa.


Alexa tersenyum, dia memeluk erat tubuh Julian, menghirup aroma parfum yang sudah menjadi candu baginya, "Aku juga merindukanmu."


"Apa kau sudah makan?"


"Sudah, tentu saja aku sudah makan. Anakmu ini bisa marah kalau aku terlambat makan."


"Bagaimana kabarnya?" Julian membawa tangannya mengusap lembut perut Alexa yang masih rata.


"Dia sehat Daddy." jawab Alexa. "Tenang saja, anakmu ini banyak sekali makanannya. Jadi pasti dia tumbuh dengan sehat?"


"Anaknya atau Mommynya yang makan banyak?" ledek Julian.


Alexa mendengus kesal. "Kau ini bagaimana?! Aku ini makan banyak juga karena anakmu!"


Julian tertawa pelan, dia menangkup pipi Alexa dan memberikan kecupan di bibir istrinya. "Alright, sekarang kau mulai membawa anakku, kau menang?"


Alexa tersenyum penuh kemenangan "Aku itu memang berbicara kenyataan."

__ADS_1


Sedangkan Vanya masih terdiam saat melihat Julian tampak begitu mencintai Alexa. Dua tahun dirinya bertunangan dengan Julian, mereka tidak pernah sekalipun melakukan kontak fisik seperti yang di lakukan Alexa itu. Julian hanya pernah mencium pipinya di hadapan para media, tapi itu dilakukan hanya untuk berpura-pura agar media percaya bahwa mereka adalah pasangan yang sempurna. Nyatanya Vanya pun mengakui jika adiknya itu sudah mampu meluluhkan hati pria yang sejak dulu sulit tersentuh itu.


"Julian, kau di sini sebentar.Aku ingin ke toilet. Lebih baik kau temani Kak Vanya dulu, ya." pinta Alexa seraya menatap Julian.


Julian mengangguk dia mencium hidung Alexa. "Apa kau tidak mau aku temani?"


"Disini masih ada Kak Vanya, Julian!" Cebik Alexa dengan bibir yang berkerut.


Julian mengulum senyumannya. "Iya, sayang...."


Alexa pun tersenyum dia pun berpamitan pada Vanya, untuk meninggalkan sebentar Kakaknya itu. Kini Alexa melangkah keluar ruang makan, meninggalkan Vanya berdua dengan Julian.


"Apa kabar Julian?" Vanya lebih dulu menyapa Julian saat Alexa sedang pergi untuk ke toilet.


"Aku baik. Bagaimana denganmu? Aku lupa meminta maaf untuk kejadian yang terjadi waktu itu. Maafkan aku, Vanya." ucap Julian dengan nada yang dingin dan raut wajah yang tanpa ekspresi.


"Ya aku mengerti. Tidak perlu meminta maaf. Aku sudah melupakannya." Vanya mengulas senyuman di wajahnya. "Aku senang, bisa melihatmu dan juga adikku. Kalian adalah pasangan serasi."


Julian mengangguk singkat, "Thanks."


"Hm? Ada apa?" Julian mengalihkan pandangannya.


"Apa kau merasa aneh?" tanya Vanya.


"Aneh? Apa maksudmu?" tanya Julian balik sambil menatap bingung ke arah Vanya.


"Maksudku itu, Mantan tunanganmu sekarang sudah menjadi Kakak Iparmu?"


Vanya mengulum senyumannya dan Julian pun tersenyum samar.


"Tidak ada yang aneh. Mungkin takdirku memang adalah Alexa." Julian menjawab dengan suara yang penuh dengan keyakinan dalam dirinya.


Sedangkan Vanya mengukir senyuman yang begitu tulus di wajah cantiknya. "Ya, kau memang benar, takdirmu adalah Alexa."

__ADS_1


******


Di sisi lainnya, sebuah mobil yang berwarna silver, berada tidak jauh dari penthouse milik Julian dan Alexa. Dua pria yang ada di mobil itu memakai kacamata hitam, mereka menatap Vanya yang berjalan meninggalkan penthouse milik Julian.


"Apa kau mengenal Vanya Jhonson?" tanya salah satu pria yang ada di dalam mobil.


"Ya, Vanya Jhonson adalah Kakak Ipar Julian. Dan tentu saja aku mengenalnya karena sebelum menikah dengan Alexa, Vanya sebelumnya pernah ber tunangan dengan Julian." jawab pria yang lain dengan seringai di wajahnya.


"Apa kau tahu, sepertinya Julian dan Devan sudah mulai mencurigai ini semua?"seru pria itu dengan tatapan yang menghunus tajam.


"Maksudmu Devan Anggara?" tanya pria yang lainnya.


Pria itu membuang napas kasar, dan tatapannya penuh dengan kemarahan. "Dia mencurigai ada orang dalam yang terlibat ini semua!Kau gila! Aku tidak mau sampai Julian tahu jika aku terlibat! Jika dia mengetahuinya, dia pasti akan langsung menghancurkanku!"


Pria yang lainnya tertawa, dia menatap mengejek pada lawan bicaranya itu. "Kau begitu takut rupanya pada Julian? Kau tenang saja, aku tidak akan membawamu kedalam masalahku."


"Sebenarnya apa masalahmu jika kau berpikir kau bisa menghancurkan Julian, kau salah!" Seru pria itu penuh dengan kemarahan.


"Aku tidak ingin hanya menghancurkan kesombongan Julian. Tapi aku ingin menghancurkan kekuasaannya, aku akan membuat dia tidak memilki apapun!" Desis pria yang lain.


"Dan harus kau tahu, Julian itu bukan orang yang mudah kau hancurkan! Kau tidak tahu siapa istrinya, Julian? Dia itu putri dari Raymond Jhonson, sekarang Jhonson group sudah mulai menguasai perusahaan di negara M juga. Kau pasti akan kalah! Lebih baik kau tidak mencari masalah!" Pria itu kembali mengingatkan lawan bicaranya, yang ada di sampingnya itu.


"Aku sudah memiliki rencana, nanti kau akan melihatnya. Kali ini, aku pastikan jika Julian akan kalah. Dia tidak akan mampu melawanku." balas pria lain dengan penuh percaya diri. Dia tersenyum sinis dan tatapan menghunus tajam melihat kearah penthouse milik Julian.


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2