
Kini tatapan Demian teralih pada Julian yang sedang berdiri di samping Alexa. Dan Demian pun langsung memeluk suami dari keponakannya itu. Julian pun membalas pelukan dari Pamannya Alexa. Kini bergantian dengan Liora yang memeluk Julian.
"Apa kabar, Julian?" tanya Demian, Paman Alexa.
Julian tersenyum tipis. "Aku baik Paman. Bagaimana denganmu?" Julian balik bertanya.
"Aku juga baik. Selamat, sebentar lagi kau akan menjadi seorang Ayah." ucap Demian memberikan selamat pada Julian.
"Terima kasih, Paman."
"Julian, kamu harus menjaga dengan baik keponakanku tersayang ini." sambung Liora sambil mengelus dengan lembut rambut Alexa.
Julian pun menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, Tante. Aku akan pastikan akan selalu menjaganya."
"Maaf, aku datang terlambat." suara bariton memasuki mansion milik Demian Jhonson. Dan semua orang yang ada di sana langsung mengalihkan pandangan mereka pada sumber suara itu.
"Kau siapa?" tanya Demian sambil menatap lekat sosok pria yang ada di hadapannya.
"Perkenalkan saya Devan Anggara." jawab Devan sambil mengulurkan tangannya ke arah Demian. Awalnya Demian masih ragu, saat melihat tangan Julian yang terarah padanya. Dan pada akhirnya Demian pun menerima uluran tangan dari Devan.
"Siapa kau anak muda?" Demian kembali bertanya pada Devan.
"Tujuanku di sini karena ingin memperkenalkan diriku. Aku adalah teman baik sekaligus rekan bisnis Julian." jawab Devan dengan suara tegasnya.
"Ah, jadi kau teman dekat Julian." Demian mengangguk paham.
Senyum di bibir Alexa terukir, saat Devan memperkenalkan diri. Dan harus di akui jika pria itu memilki keberanian yang luar biasa hebat. Kini Alexa memeluk lengan Demian dan berkata. "Paman, Kak Devan ini memang teman baik dari Julian. Kak Devan juga mengenal Adel. Dan tujuan Kak Devan datang kesini untuk mengenal Paman dan Bibi."
"Ah, benarkah?" ucap Demian sambil mengalihkan pandangannya menatap ke arah Alexa.
Alexa mengangguk. "Iya, Paman."
__ADS_1
"Ya, Tuan Demian. Memang kedatangan saya kesini, sebenarnya ingin mengenal anda lebih dekat," sambung Devan.
"Ya sudah, kalau begitu kita ke ruang makan sekarang. Karena hari ini aku memasak banyak sekali masakan." ujar Liora dengan senyuman yang ada di wajahnya.
Semua mengangguk setuju. Alexa mengeratkan pelukannya di lengan Pamannya, Demian. Seraya menyandarkan kepalanya di lengan kekar Pamannya itu. Dan Liora yang berada di samping Demian pun tersenyum, melihat Alexa yang begitu manja pada Demian. Sedangkan Julian serta Devan mengikuti langkah Alexa, Demian dan juga Liora. Terlihat wajah dingin dan tanpa ekspresi Julian saat mengikuti istri dan keluarga sang istri. Kemudian, Devan yang berdiri di samping Julian, hendak mengajak sahabatnya itu untuk berbicara. Namun, Devan mengurungkan niatnya, saat melihat Julian tidak melihat ke arahnya. Dan tentu saja melihat Julian yang seperti itu membuat Devan mengumpat di dalam hati. Ya, karena dia sudah tidak terkejut lagi dengan melihat sikap dingin dan seolah tidak peduli lagi pada sahabatnya itu.
Saat tiba di ruang makan itu. Terlihat berbagai menu macam makanan. Ya, ternyata Bibinya itu sudah menyediakan berbagai macam makanan yang berasal dari negara A.
"Bibi, terima kasih. Karena kau sudah menyajikan makanan dari negara A juga. Aku sungguh sangat merindukannya, Bibi." ujar Alexa dengan senyuman di wajahnya.
"Iya, sayang. Bibi tahu, kau pasti sangat menyukainya." jawab Liora hangat.
"Devan, ini untukmu. Aku tahu, kau pasti tidak menyukai makanan yang pedas. Tetapi jika kau ingin mencobanya tidak apa - apa. Tapi, di sini juga ada opor ayam, itu makanan yang tidak pedas. Kau pasti akan menyukainya." ucap Liora sambil memberikan makanan pada Devan.
"Terima kasih, Nyonya Jhonson." balas Devan sambil menerima makanan yang di berikan oleh Liora.
"Julian? Apa kau juga ingin mencoba opor ayam juga, itu tidak pedas?" ucap Alexa menawarkan makanan kepada suaminya.Karena Julian memang tidak menyukai makanan yang pedas.
"Kenapa? Bukankah kau juga menyukai masakan opor ayam?" tanya Alexa bingung.
Devan pun tertawa kecil. "Kau payah sekali, Julian. Masa untuk makan opor ayam saja kau gengsi. Tidak baik loh, menolak tawaran dari Istri tercinta." ledek Devan yang sontak membuat Julian menatap tajam ke arahnya.
Mendengar ucapan dari Devan Alexa pun mengulum senyumannya. Dia langsung mengambil opor ayam dan menuangkannya di atas piring kemudian memberikannya pada Julian. "Sayang, kau cobalah sedikit. Kalau kau tidak suka tidak apa-apa, biar aku yang habiskan."
Julian menghembuskan nafas kasar, dan dia pun melirik ke arah Devan dengan tatapan yang tajam dan langsung menerima piring yang berisikan opor ayam itu. Kini, Julian mulai memakan masakan opor ayam itu.
"Bagaimana? Masakan Bibiku itu sangat enak kan, sayang?" tanya Alexa sambil menatap Julian dengan menopang tangannya di dagu untuk memastikan jika makanan yang di masak oleh Bibinya itu memang rasanya sangat enak.
"Ya," jawab Julian dengan raut wajah datar dan raut wajah yang dingin.
Demian dan juga Liora mereka mengulum senyumannya, menatap ke arah Julian yang sedang menikmati makanannya. Sedangkan Devan hanya menggelengkan kepalanya sambil memberikan senyuman yang mengejek.
__ADS_1
"Bibi, kalau boleh tau dimana Adel?Kenapa dia belum bergabung untuk makan siang bersama dengan kita." tanya Alexa yang menyadari jika dia belum melihat keberadaan sepupunya masuk kedalam ruang makan.
"Astaga! Bibi sampai lupa, sayang." ucap Liora sambil menepuk pelan keningnya. "Tadi pagi Bibi sudah mengabari Adel. Tetapi Adel bilang, dia akan datang sedikit terlambat karena dia bangun kesiangan. Dan mungkin saja, Adel sedang dalam perjalanan menuju kesini."
Demian menghembuskan nafas kasar dan berkata, "Apa anak itu masih sering bekerja sampai larut malam? Kenapa anak itu susah sekali untuk di beritahu nya. Padahal, aku sudah sering mengatakan agar dia tidak perlu bekerja sampai larut malam."
"Sayang, sudahlah jangan terlalu keras pada Adel. Bukankah dia mirip denganmu yang selalu mengutamakan pekerjaan." ucap Liora sambil membawa tangannya mengelus lengan kekar sang suami.
"Tuan Jhonson.... Nyonya Jhonson... saya rasa Adel seperti itu karena dia masih sendiri. Mungkin saja, jika Adel sudah menikah nanti, dia akan lebih teratur mengenai waktu," sambung Devan.
Demian pun mengangguk setuju mendengar ucapan dari Devan dan berkata, "Ya, kau benar. Tapi dia itu sulit. Dan dia juga tidak mau jika di jodohkan. Saat aku mencoba untuk mengenalkannya pada anak dari rekan bisnisku, dia yang pertama kali langsung mengancam akan pergi jauh, jika kami masih memaksanya untuk melakukan perjodohan. Adel juga pernah bilang, jika dia yang akan menemukan pria yang akan di cintainya tanpa campur tangan dari kedua orang tuanya."
"Ah, pasti rasanya akan menyenangkan sekali. Seharusnya aku juga bisa seperti Adel. Tapi sayangannya, aku terlalu patuh dan tidak pernah berani membantah Ayahku." sambung Alexa yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Julian.
Mendapatkan tatapan tajam dari sang suami, Alexa hanya terkekeh pelan, dan dia pun langsung memeluk lengan Julian dan berkata, "Aku hanya bercanda, sayang. Karena bisa bersama denganmu adalah hal terindah yang terjadi di dalam hidupku."
********
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.
__ADS_1