
"Adel...." ucap Devan pelan dan dia berusaha untuk mendekat. Namun, tangis Adel kembali kencang, membuat Devan terdiam sejenak dan membiarkan Adel menangis dengan keras.
"Pergi Devan! Aku itu sudah kotor! Dan kamu jangan dekati aku lagi!" Seru Adel sambil menjerit histeris.
"Adelia Jhonson! Dengarkan aku!" Seru Devan sambil mencengkram erat bahu Adel dan menatap ke arah mata Adel yang terlihat bengkak. "Tidak terjadi apapun padamu. Kau sekarang sudah baik - baik saja, Adel."
"T- tapi aku sudah kotor, Devan. Karena dia sudah menyentuhku." Isak Adel masih dengan keras.
Mendengar ucapan dari Adel. Devan pun menggeram. Iris mata coklat pun ikut menggelap mendengar apa yang sudah di katakan oleh Adel. Rahangnya mengetat dan kemarahan terlihat begitu jelas di sana. Sesaat Devan pun menghembuskan nafas kasar, dan dalam hati dia tidak berhenti mengumpat dan merutuki kebodohannya karena sudah datang terlambat ke gudang tersebut. Andaikan saja dia bisa datang lebih awal mungkin saja Adel tidak akan mengalami trauma seperti ini.
"Dengarkan aku, Adel." ucap Devan kemudian menurunkan nada suaranya dan menangkup kedua pipi Adel. "Dimana pria kurang ajar itu sudah menyentuh tubuhmu?"
Mendengar ucapan dari Devan. Isak tangis Adel pun mulai mereda. Tatapannya, bagaikan tersihir oleh iris mata teduh dari Devan. Namun, Adel masih terdiam dan tidak mau menjawab pertanyaan dari Devan.
"Apa dia sudah menciummu juga?" tanya Devan langsung dan kali ini Adel hanya bisa memberikan anggukan lemah.
"Sialan!" Umpat Devan, saat melihat respon yang di berikan oleh Adel.
"Dimana pria brengsek itu sudah menciummu? Apa dia mencium bibirmu?" tanya Devan lagi dengan kilat matanya yang tajam.
Adel kembali diam. Namun, tangannya menunjuk ke arah lehernya yang memerah akibat ulah Kenan. Saat melihat ke arah leher Adel yang memerah kemarahan di dalam diri Devan pun langsung meledak.
"Sialan! Harusnya tadi aku langsung habisi saja dia!" Geram Devan, pada dirinya sendiri. Jika saja dia tau lebih awal apa yang dilakukan oleh Kenan pada Adel, sudah di pastikan Devan akan langsung membunuh Kenan dengan tangannya sendiri.
"Dan bagian mana yang dia sudah sentuh lagi?" seru Devan dengan geraman yang tertahan.
__ADS_1
Adel masih terisak lagi mendengar pertanyaan dari Devan. Hingga di detik selanjutnya, Adel akhirnya menunjuk ke area dadanya, yang telah Kenan sentuh.
"Sialann!!" Devan terus mengumpat kasar. Amarah di dalam dirinya tidak mampu lagi tertahan dan Devan pun memejamkan matanya sesaat. Ingin sekali rasanya dia kembali menemui pria sialan itu dan membunuhnya dengan tangannya sendiri. Tapi Devan juga tidak mungkin meninggalkan Adel yang saat ini tengah rapuh dan membutuhkan dirinya.
Devan pun berusaha untuk menenangkan amarah yang ada di dalam dirinya. Kini tangannya menangkup dengan lembut pipi Adel dan iris matanya bertemu dengan iris mata Devan dan jantungnya mulai berdegup dengan kencang. Tatapannya yang Devan berikan padanya penuh dengan ketenangan.
"Maksudmu?" tanya Adel pelan.
"Seperti ini." ucap Devan, kemudian langsung membenamkan bibirnya ke bibir Adel, awalnya Adel pun terkejut. Namun, saat bibir lembut Devan menyentuh bibirnya benar - benar menghipnotis Adel. Di detik selanjutnya, Adel pun memejamkan matanya membiarkan bibir Devan menjelajah kedalam mulutnya.
Meski Devan pun terkejut saat tidak ada penolakkan dari Adel. Ia pun mulai menurunkan ciumannya ke arah leher Adel, untuk menghapus jejak dari pria sialan yang sudah menyentuh Adel. Kemudian, Devan meninggalkan jejak kepemilikannya di leher Adel. Dan ******* dan erangannya langsung lolos di bibir Adel saat Devan bermain di leher Adel, hingga tanpa sadar, Devan juga langsung menarik pengait bra yang di kenakan oleh Adel. Harusnya Adel marah, saat Devan melakukan hal itu padanya. Tapi tidak, Adel tidak melakukan apapun. Bahkan Adel terus menatap ke arah Devan yang sedang melihat ke arah dadanya.
"Adel, maaf atas tindakanku yang sudah terlalu jauh. Lebih baik aku hentikan sampai di sini. Aku takut jika nantinya tidak bisa berhenti." ucap Devan, dia pun hendak meninggalkan Adel saat dia menyadari telah melewati batasnya. Namun Adel menahan tangannya dan melarang Devan untuk pergi.
"Aku mohon, jangan pergi. Aku juga sangat menginginkannya." ucap Adel sambil menggigit bibir bawahnya dan jantungnya seolah akan melompat dari tempatnya. Sungguh Adel pun tidak mengerti dengan apa yang dikatakan orang ini. Kenapa dia tidak marah sama sekali ketika Devan menyentuhnya?
Mendengar respon dari Adel, Devan pun langsung tersenyum. "Baiklah, aku akan melakukannya dengan perlahan dan pelan."
Kini Devan pun langsung membenamkan bibirnya ke bibir Adel. "Aku tanya sekali lagi padamu, Adel? Apa kau benar - benar sudah yakin dengan keputusanmu?" tanya Devan saat tautan bibirnya terlepas dan menatap manik mata coklat Adel dengan lembut.
Adel pun mengangguk pelan. "Lakukanlah..."
"Aku berjanji akan menjagamu seumur hidupku." ucap Devan sambil tersenyum dan kembali mengecup bibir Adel.
Adel pun mengigit bibir bawahnya, saat Devan kembali mencium setiap inci dari tubuhnya dan Adel pun mulai menjerit pelan saat Devan memasukkan miliknya kedalam miliknya.
__ADS_1
"Sial. Ternyata kau masih Virgin?" raut wajah Devan pun langsung berubah.
"Tidak apa, Devan dan jangan berhenti. Aku ingin kau meneruskannya." ucap Adel sambil menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit.
Devan pun mengecup sudut mata Adel yang mengeluarkan air mata. Dia berusaha untuk menenangkan wanita itu. Kemudian, Devan pun kembali mendesak untuk masuk. Ada penghalang keras di dalam sana. Tapi Devan tidak menyerah, dia pun terus mendesak.
"Akh-" Adel menjerit dengan keras saat milik Devan berada di dalam miliknya dan kuku Adel pun menancap di punggung Devan demi menahan rasa sakit.
Devan pun terdiam sejenak, untuk membiarkan Adel agar terbiasa. Hingga Devan mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo pelan dan keras.
"Devannn...." ucap Adel, sambil mendongakkan kepalanya. Karena rasa sakit itu telah berganti dengan kenikmatan.
"Ya, panggil aku Adel." ucap Devan, sambil berbisik di telinga Adel dan Devan pun tidak menghentikan hentakannya sedikit pun.
Dan di dalam kamar itu hanya terdengar suara ******* dan erangan yang saling bersahutan. Dinginnya suhu AC di ruangan itu pun tidak terasa akibat dua insan yang melakukan percintaan panas mereka. Dan setelah malam ini, entah apa yang terjadi di antara mereka. Namun bagi Devan, Adel sudah menjadi miliknya seutuhnya.
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.