Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Mulai Banyak Bicara Dan Manja


__ADS_3

Saat Julian sudah pergi, Alexa lebih memilih untuk memainkan ponselnya yang sudah cukup lama di sita oleh Julian. Kini dia sedang membuka sosial medianya. Tiba - tiba pikiran Alexa kembali mengingat tentang Vanya, Kakak perempuanya yang hingga detik ini masih belum di temukan. Asistennya dan seluruh anak buah Ayahnya juga mencarinya tapi masih juga belum ada yang bisa menemukan keberadaan Vanya. Namun, Alexa berusaha untuk berpikir positif. Dia yakin, Vanya Kakaknya itu berada di tempat yang aman. Dan tentu, keadaan saudara perempuannya itu mungkin baik - baik saja.


Suara dering ponsel tiba - tiba berbunyi dan dari nomor yang tidak di kenal. Alexa mengerutkan keningnya melihat nomor yang tidak kenal menghubunginya. Meski awalnya ragu, tapi Alexa memilih untuk langsung menjawabnya. Dia langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan sebelum kemudian meletakkan ke telinganya.


"Hallo?" jawab Alexa saat panggilannya terhubung


"Kau siapa?" tanya Alexa dengan raut wajah yang terlihat begitu bingung. Ketika tidak ada suara yang berbicara.


"Alexa, ini aku. Tapi aku mohon, jika kau sedang bersama dengan seseorang menjauhlah. Jagan sampai ada orang yang tahu kalau aku menghubungimu." suara seorang wanita terdengar begitu jelas dari sebrang telepon.


"K- Kau-" Alexa menghentikan ucapannya untuk memastikan tidak ada orang yang akan masuk ke ruangannya.


"Hallo?" Alexa menjawab telepon itu lagi saat dirinya sudah memastikan tidak ada yang akan masuk ke ruangannya.


"Alexa? Maafkan aku..." suara seorang wanita dari sebrang telepon terdengar begitu menyesal.


"K- Kau Kak Vanya?" Alexa menyebutkan nama saudara perempuannya terbata - bata. Jantungnya berdegup dengan kencang saat menyebut nama Kakak perempuannya.


"Iya, ini aku. Maafkan aku, Alexa. Ini semua salahku," jawab Vanya dari sebrang telepon dengan suara yang lemah.


Alexa terdiam ketikan mendengar itu. Entah kenapa ada yang mengganjal dari hatinya mendengar Kakak perempuannya yang menghubunginya. Namun, tidak di pungkiri ada kebahagiaan dalam hatinya mendengar suara Vanya. Setidaknya dia tahu, saudara perempuannya itu baik - baik saja.


"Kak Vanya, ini sungguh benar dirimu? Kau dimana?" Alexa kembali bertanya memastikan.


"Alexa, aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Beberapa hari lagi aku akan menemuimu. Tapi aku mohon, jangan katakan pada siapapun kalau aku sudah menghubungimu. Termasuk pada Kak Samudera. Aku mohon padamu, Alexa."


"Ada apa Kak? Kenapa aku tidak boleh menceritakanmu pada yang lainnya? Apa kau mengalami masalah? Katakan padaku, aku pasti akan membantumu."


"Alexa, banyak hal yang aku sulit menjelaskan padamu. Tapi aku berjanji akan segera memberitahumu. Beberapa hari lagi, nanti temui aku di kafe yang aku kirim alamatnya"


Tut.... Tuttt....


"Ka Van-" belum selesai Alexa berbicara, Vanya sudah menutup sambungan teleponnya itu secara sepihak. Alexa kembali menghubungi nomor Vanya. Namun, nomor itu langsung tidak aktif. Raut wajah Alexa semakin cemas dan tidak mengerti. Dia tidak tahu harus apa saat ini. Sejak dulu, Vanya tidak pernah merahasiakan sesuatu dari dirinya ataupun keluarganya. Terlebih Vanya juga meminta merahasiakannya dari Samudera, Kakak Laki-laki pertama mereka.


Alexa menepis segala hal yang muncul di benaknya. Dia harus tetap berpikir positif. Paling tidak, Vanya Kakaknya itu, akan menceritakan padanya apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" suara Julian sontak membuat Alexa menghentikan lamunannya.


"Ti- Tidak ada,"


"Alexa! Kenapa kau masih belum meminum obatmu!" Seru Julian, saat melihat obat yang ada samping meja Alexa yang tadi pagi di siapkannya hingga siang hari masih belum di minum oleh Alexa.


"Julian, aku tidak bisa meminum obat yang sebesar ini. Pasti sangat pahit rasanya. Aku tidak mau!" Tolak Alexa cepat.

__ADS_1


"Alexa, kau bukan lagi anak kecil. Cepat habiskan obatmu." tukas Julian dengan nada yang sedikit memaksa.


"Aku tidak bisa meminum obatnya, Julian. Ibuku selalu menyiapkan pisang untuk membantuku menelan obat." Alexa memasang wajah cemberut.


Julian membuang napas kasar. "Tapi tidak ada pisang di sini, Alexa." jawabnya yang mulai kesal.


"Ya sudah, besok saja meminumnya. Nanti aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan pisang." balas Alexa yang sontak membuat Julian menghunuskan tatapan tajam.


"Tidak ada besok, kau harus meminumnya sekarang." jawab Julian menekankan. "Kau akan pakai cara lain untuk meminum obat."


"Cara lain," kening Alexa berkerut. Menatap bingung Julian. "Maksudmu apa?"


Kini Julian mengambil obat yang ada di tangan Alexa dan memasukannya dalam mulutnya dan berucap. "Ambil dari mulutku, telan dan langsung minum air putih."


"B- bagaimana bisa seperti itu?" terlihat wajah Alexa yang kembali gugup. Astaga, bagaimana meminum obat dengan cara yang seperti itu? Ah, sial. Itu sama saja dengan dia mencium bibir Julian terlebih dulu.


"Cepat, Alexa." tukas Julian yang sudah hilang kesabarannya.


"T- Tapi-"


Belum sempat Alexa menyelesaikan ucapannya. Julian langsung menarik tengkuk leher Alexa. Dan dari mulutnya dia memberikan obat ke mulut Alexa. Sebelum melepas bibir Alexa, Julian ******* kecil bibir Alexa. Sungguh jantung Alexa seakan ingin berdetak. Dia dengan mudahnya menelan obat. Bahkan dia tidak merasa pahit sedikit pun.


"Minumlah, kau minum obat belum minum air putih," Julian memberikan gelas pada Alexa. Alexa menjadi canggung saat menerima gelas itu. Dia berusaha untuk tenang, dan memilih untuk meminum air putih yang di berikan oleh Julian perlahan.


"Lebih baik kau beristirahat di rumah sakit. Besok, jika keadaanmu sudah jauh lebih membaik, aku akan membawamu pulang." jawab Julian.


Bibir Alexa berkerut, dia sedikit mendongak menatap iris mata cokelat Julian. "Aku sudah lebih baik. Lihat saja aku sudah sadar dan tanganku juga bisa di gerakkan dengan baik."


"Tidak bisa. Jangan membuatku marah lagi Alexa!" Seru Julian.


"Tapi Julian....."


"Kenapa kau sangat cerewet sekali hari ini, huh?! Kenapa kau sangat banyak bicara, Alexa!"


...***...


Keesokan harinya saat pagi hari menyapa, Alexa tersenyum ketika dia baru saja mendapat kabar dari pelayan bahwa Julian sudah mengizinkannya keluar dari rumah sakit. Jujur saja, Alexa tidak betah tinggal terlalu lama di rumah sakit. Jika hanya kelelahan, dia lebih baik beristirahat di rumah. Sebenarnya Julian memang belum mengizinkan Alexa untuk keluar dari rumah sakit. Namun, karena Alexa yang terus merajuk meminta agar bisa keluar dari rumah sakit, akhirnya Julian pun mengizinkannya saat dokter memungkinkan Alexa untuk pulang ke rumah.


"Nyonya Alexa." pelayan Novi melangkah masuk menghampiri Alexa.


"Ya ada apa?" Alexa mengalihkan pandangannya, menatap Novi yang berdiri di hadapannya.


"Nyonya Alexa apa anda ingin makan sesuatu?" tanya Novi dengan sopan.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak lapar. Terima kasih" jawab Alexa. "Oh ya, apa kamu melihat Julian? Tadi aku hanya melihatnya sebentar, dia bilang ingin bertemu dengan dokter, tapi kenapa belum kembali?"


"Tuan Julian sedang ada meeting sebentar, Nyonya," balas Novi memberitahu.


Alexa menganggukkan kepalanya. "Ya sudah,"


"Alexa?!" suara wanita memasukinya ruang rawat Alexa.


Sontak Alexa dan Novi melempar pandangan pada sosok wanita paruh baya yang merupakan mertua Alexa.


"Mama datang kesini? Kenapa tidak bilang dulu," ucap Alexa.


Bella menggelengkan kepalanya pelan. Ia mengambil tangan Alexa yang terluka. "Ini kenapa sayang? Kenapa tanganmu bisa sampai di perban begini?" tanya Bella dengan tatapan yang begitu khawatir.


"Itu Nyonya...."


"Tanganku tak sengaja terkena pecahan kaca, Mah. Beberapa hari yang lalu aku tidak sengaja menjatuhkannya karena tanganku yang licin. Tapi ini sudah tidak apa-apa kok. Dokter sudah mengobatinya. Mama jangan khawatir yah..."


Sedangkan Novi hanya bisa menghela nafas pelan, saat Alexa yang malah menyembunyikan kebenaran yang ada. Padahal ia mau memberitahukan pada majikannya itu. Tapi, jika Alexa sepertinya tidak memberitahukan yang sebenarnya, sebaiknya dia ikuti saja.


"Aduh sayang, kenapa kamu nggak hati - hati sih? Lalu apakah tanganmu sudah di tangani dengan baik oleh dokter? Mama takut ada yang infeksi nanti." timpal Bella yang memasang raut kekhawatirannya.


Alexa langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku yakin, para dokter yang ada di sini sudah memberikan perawatan yang terbaik untuk Alexa, Ma. Lagian Alexa juga hari ini sudah di perbolehkan untuk pulang, Ma. Jadi Mama tidak perlu khawatir."


Bella menghela nafas pelan. "Ya sudah deh, kalau emang nggak apa-apa. Tapi jika masih sakit harus kasih tahu Mama yah. Mama nggak mau kalau menantu kesayangan Mama ini menjadi sakit. Dan Novi, setelah Alexa pulang nanti kamu harus membersihkan lukanya dengan sebaik-baiknya dan jangan sampai menimbulkan infeksi." jelas Bella.


"Baik Nyonya..."


Kini Alexa dan Ibu mertuanya sedang duduk saling berhadapan. Bella segera menggenggam tangan Alexa. "Alexa, apakah kamu baik - baik saja saat tinggal di mansion Julian? Apa Julian ada membuatmu susah? Atau Julian sudah menyakitimu? Mama juga akan memarahi anak nakal itu. Kalau saja tadi Mama tidak kerumah kalian Mama pasti tidak akan pernah tahu kondisi kamu sayang?" tanya Bella dengan sedikit kesal mengingat putranya tidak memberitahu kondisi Alexa yang sedang di rawat di rumah sakit.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2