
"Tapi kau bisa belajar mencintai Julian. Lagi pula Julian adalah pria yang hebat dan sangat tampan. Tapi banyak wanita yang mengejarnya." ujar Adel seraya menggigit apel yang baru saja dia ambil.
"Belajar mencintai?" Alexa mengalihkan pandangannya, menatap Adel dingin. "Kau sangat tahu, Adel. Aku tidak ingin mempelajari sesuatu yang terlibat dalam perasaan. Aku tidak ingin terluka, dikemudian harinya hanya karena aku yang terjebak dengan perasaan yang lemah."
Adel mendengus tak suka. "Alexa, bahkan kau belum pernah menjalin hubungan dengan pria manapun. Apa kau tidak ingin membuka hatimu untuk Julian? Aku melihat Julian adalah pria yang sangat tepat untukmu. Sejak awal, ketika aku melihat Julian, aku sudah tahu dia adalah pria yang baik.
"Aku tidak ingin membahasnya Adel," jawab Alexa yang mulai jengah. Ya, pasalnya Alexa tidak suka membahas tentang cinta ataupun pria. Alexa tidak ingin dirinya terlibat dalam perasaan yang begitu rumit yang nantinya akan membuatnya terluka. Seperti saat dia mendengar Julian tidak pernah mencintai saudara perempuannya, jujur membuat Alexa sangat terluka. Karena selama ini Alexa berpikir, saudaranya perempuanya itu telah hidup bahagia. Namun, kenyataannya semua salah.
"Baiklah, aku tidak akan membahasnya lagi," balas Adel. "Tapi aku harap kau pikirkan baik-baik perkataanku. Aku hanya menginginkan kau mendapatkan yang terbaik."
Alexa hanya tersenyum samar. Dia tidak tahu harus seperti apa. Hanya sebuah senyuman penuh dengan arti yang dia berikan pada Adel. Mencintai Julian? Astaga, Alexa tidak pernah memikirkan hal itu muncul dalam benaknya. Setidaknya, saat ini Alexa hanya menjalani semuanya. Tepatnya menjalani segala kesialan yang terjadi dalam hidupnya.
...***...
Suara musik berdentum dengan keras. Lampu disko berkelap - kelip seiring dengan lincahnya tubuh orang - orang yang menari di tengah ramainya sebuah klub. Para wanita dengan pakaian yang seksi bergelimang di klub itu. Ramainya keadaan di tengah ruangan klub itu, tak seperti keadaan salah satu ruangan yang tak seramai di luar.
Di ruangan itu terlihat empat pria tampan yang tengah menikmati minuman di depan mereka. Ketiga pria itu terlihat bersama dengan wanita yang mereka sewa. Namun, berbeda dengan seorang pria yang terlihat hanya sendirian saja.
"Tumben Tuan muda Dominic tidak mau di temani," sindir seorang pria dengan rambut blondenya, Reiner.
"Hei Reiner. Jangan gitu dong. Tuan muda ini sudah menikah. Makanya dia tidak ingin bermain dengan wanita lain selain istrinya sendiri." celetuk seorang pria dengan mata kucingnya, Suga.
"Kalian berdua, sudahlah jangan mengganggu Julian terus," sela Devan.
Sedangkan yang di bicarakan hanya diam saja menyesap minuman di tangannya. Ketiga sahabatnya itu memandang ke arah dirinya dengan bingung.
"Kau memikirkan istrimu?" tanya Devan tiba - tiba.
Sontak saja Julian melebarkan matanya, saat mendengar pertanyaan yang di lontarkan padanya.
__ADS_1
"Apa?! Jangan ngaco, Devan. Kamu bilang aku memikirkannya? Cih, sedetikpun aku tidak memikirkan wanita itu," sanggah Julian.
Julian lalu bangkit dari duduknya. Membuat ketiga pria itu langsung memandang ke arahnya.
"Kau mau kemana, Julian?" tanya Reiner.
"Keluar," jawab Julian dingin seraya keluar dari ruangan itu.
Ketiga pria itu langsung saling berpandangan, terutama Suga dan Reiner yang cukup terkejut. Detik kemudian keduanya bertepuk tangan dengan keras. Mereka tahu yang di maksud keluar oleh Julian adalah dia ingin menyewa perempuan dan membawanya ke ranjang.
"Wah, itu namanya Tuan muda Julian." ujar Suga.
"Kau benar. Aku sempat mengira jika Julian lagi terkena penyakit, makanya takut di dekati oleh wanita," timpal Reiner.
Sedangkan Devan hanya diam saja. Ia sangat tahu, jika Julian saat ini hanya ingin menghindari pertanyaan darinya tadi. Dari ketiga sahabat Julian, Devan lah yang paling mengenal Julian. Karena dia dan Julian sudah mengenal sejak mereka kecil.
Di luar ruangan, Julian tengah berjalan menuju ke sebuah kamar yang telah dia pesan. Dia membuka kamar itu dan melihat wanita yang sudah dia sewa. Wanita itu cukup cantik, apalagi tubuhnya yang sintal tampak jelas dengan lingerie yang di kenakan olehnya. Lingerie itu terlihat sangat transparan hingga memperlihatkan pakaian dalamnya.
"Saya tidak pernah menyangka akan di gunakan oleh Tuan muda Dominic. Bahkan, tidak di bayar pun saya akan tetap mau. Tuan muda Dominic adalah impian saya," ucapnya sambil mengelus dengan sensual dada Julian.
Sayangnya hal itu tidak bisa membuat seorang Julian Dominic terangsang. Bahkan saat wanita itu sudah bertelanjang bulat di depannya pun tidak bisa membangkitkan nafsu birahi dari seorang Julian.
Entah kenapa dia melihat wanita yang ada di depannya seperti Alexa. Hal itu membuat Julian bingung. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tuan muda, anda kenapa?"
Wanita itu memegang dada Julian kembali. Julian membuka matanya. Tatapan terkejut ia perlihatkan, saat di depannya itu seperti melihat Alexa.
"Alexa?" panggil Julian.
__ADS_1
Wanita itu memandang bingung pada Julian. Kenapa tiba-tiba malah menyebutkan nama wanita lain? Pikirnya.
Julian berjalan mendekati wanita itu. Saat dia ingin menciumnya, sontak wajah Alexa yang kembali muncul di hadapannya. Dia langsung saja mendorong tubuh wanita itu dan langsung beranjak pergi.
"Tuan muda! Anda mau kemana?!"
Julian tidak menggubrisnya. Ia hanya melemparkan uang yang begitu banyak pada wanita itu dan keluar dari sana.
Julian berjalan masuk kedalam mobilnya. Pikirannya jadi kacau saat ini. Bagaimana bisa ia melihat wajah Alexa tadi? Lebih herannya lagi kenapa dia merasa terangsang saat melihat wajah Alexa?
"Akh! It is crazy! Really really crazy! Aku sepertinya tidak waras saat ini. Apa mungkin karena aku banyak minum? Bagaimana bisa aku melihat wajah gadis pengganti itu di depanku?" gumam Julian dengan wajah yang penuh amarah.
Ia menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya. Padahal, niatnya dia tidak ingin pulang ke mansionnya saat ini. Karena dia tidak ingin bertemu dengan Alexa. Entahlah, perasaannya jadi tidak karuan saat bertemu dengan Alexa. Dia kadang sangat marah melihat wanita itu. Tapi entah mengapa, ia juga ingin melihat wajahnya. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Saat ini Julian sedang mengendarai mobilnya menuju ke arah mansionnya.
Julian memarkirkan mobilnya dan segera masuk ke dalam mansionnya. Saat sampai di kamarnya, tatapannya lurus kedepan. Tepatnya ke arah seorang wanita yang tengah terbaring dengan lelap di atas ranjang.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.