Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Luka Di Hati


__ADS_3

Alexa masih tetap diam mendengar perkataan Samudera. Raut wajah yang terlihat kecewa begitu mendalam. Luka di hatinya memang tidak bisa terobati begitu mudah. Karena luka yang di berikan Julian begitu dalam. Bahkan dirinya bisa memaafkannya atau tidak. Kemarin, saat Julian berada di hadapannya, dia benar-benar tidak sanggup. Setiap dia melihatnya hatinya begitu perih dan terluka. Ingatan Alexa tidak henti memikirkan tentang kejadian waktu itu. Kejadian dimana Julian lebih memilih Berlian, tidak memilih dirinya. Itu kenapa dia memilih menghindar. Seperti tadi pagi saat Julian datang menjenguknya, dirinya lebih memilih untuk berpura-pura tertidur. Dia pun mendengar perkataan Julian yang terus meminta maaf padanya. Namun, entah kenapa meski berkali-kali sang suami mengatakan mencintainya dan meminta maaf tetap hatinya masih sangat sakit.


"Alexaaaaa..." suara wanita memasuki ruangan rawat Alexa dengan keras membuat Samudera dan Alexa langsung mengalihkan pandangannya pada sumber suara itu.


Seketika Samudera menghembuskan nafas kasar, melihat Adel berlari masuk kedalam. Dia sudah tidak lagi terkejut dengan suara berisik sepupunya itu. Samudera beranjak dari tempat duduknya, dia sedikit menjauh membiarkan Adel yang kini memeluk erat Alexa.


"Alexa, kau lama sekali bangunnya. Aku pikir kau akan mati. Aku tidak bisa kau pergi, Alexa. Aku menyayangimu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu." Adel terisak keras sambil memeluk erat tubuh Alexa lagi.


"Mungkin jika kau memelukku terlalu erat seperti ini, sudah di pastikan besok pagi kau tidak bisa lagi melihatku. Aku akan mati karena sesak nafas, Adel." Alexa berucap dengan suara kesal.


"Maafkan aku sudah memelukmu terlalu erat." Adel mengurai pelukannya. Dia meringis tidak enak. "Maaf, itu karena aku terlalu bahagia melihat kau yang sudah sadar. Aku takut terjadi sesuatu padamu. Padahal aku belum menikah. Setidaknya kau tidak bisa mati sebelum kau melihat aku menikah."


"Awwwww..." Adel meringis kesakitan, saat Samudera tiba - tiba menyentil keras kening sepupunya.


"Kak Samudera, sakit!" Adel mencebikkan bibirnya menatap Samudera.


"Makanya, kau ini kalau bicara itu jangan sembarangan." tukas Samudera dengan tatapan penuh peringatan.


Adel tersenyum memperlihatkan gigi putihnya. "Kak Samudera, tenanglah. Aku tadi hanya bercanda. Kau jangan marah ya."


Alexa menggelengkan kepalanya. Meski kedatangan Adel membuat kepalanya pusing. Tapi dia sedikit terhibur dengan kedatangan sepupunya itu.


"Oh iya. Aku ingin memberitahumu. Aku sudah memesan tempat tidur untuk bayi untuk anakmu. Kau tenang saja, aku membelinya dengan harga yang tidak murah. Aku memesan khusus untuk calon keponakanku. Kau harus memakai tempat tidur bayi yang aku pesan ya. Tidak boleh tidak memakainya. Awas saja kalau kau tidak memakainya. Aku membeli itu dengan sangat mahal."


Raut wajah Alexa langsung berubah mendengar apa yang di katakan oleh Adel. Kilat mata Alexa menatap Adel dengan lekat. Sedangkan Samudera dia mengumpat di dalam hati mendengar ucapan dari Adel.


"Apa maksudmu, Adel? Bayi siapa yang kau maksud?" tanya Alexa dengan nada yang menuntut agar Adel menjelaskan padanya.


"Eh?" Adel langsung menutup mulutnya. Dia beranjak berdiri menjauh dari Alexa. Tatapannya teralih menatap Samudera yang sejak tadi sudah menatap tajam dirinya. Wajah Adel berubah menjadi takut saat Samudera kian menatap tajam dirinya.

__ADS_1


"Adel, kau pergilah dulu." tukas Samudera dingin.


Adel langsung mengangguk cepat. "Alexa aku harus pergi dulu. Aku baru ingat hari ini aku ada janji temu dengan temanku. Nanti aku akan datang lagi."


"Adel tunggu-"


Adel langsung berlari meninggalkan ruang rawat Alexa. Bahkan dia tidak memperdulikan sepupunya itu yang terus berteriak memanggilnya.


"Kak, bisa jelaskan apa maksud dari ucapan Adel tadi?" seru Alexa menatap dingin Samudera.


"Alexa-"


"Jawab aku, Kak! Aku akan membencimu jika sampai kau menyembunyikan sesuatu dariku!"Mata Alexa mulai berkaca-kaca. Terlihat wajahnya begitu kecewa.


Samudera membuang napas kasar. Dia terdiam sejenak. Hingga kemudian, menjawab " Ya, kau memang hamil. Dan usia kandunganmu saat ini menginjak tiga minggu. Sungguh, aku tidak bermaksud untuk menutupi ini. Tapi aku ingin memberitahumu ketika keadaanmu sudah pulih."


"Alexa..." Samudera mendekat, dan dia memeluk erat adiknya. Tangis Alexa pecah dalam pelukan Samudera. Samudera mengecupi puncak kepala adiknya, mencoba untuk menenangkan adik perempuannya itu.


"Kenapa aku harus hamil di saat seperti ini, Kak."Alexa terisak keras. Hatinya begitu sesak dan terluka. Itu artinya, saat Julian tidak memilihnya, dia tengah mengandung buah cinta mereka.


"Kakak di sini, Alexa. Jangan pikirkan apapun." Samudera mengecupi puncak kepala Alexa.


Alexa terus terisak dalam pelukan Samudera. Nyatanya kenyataan ini, membuatnya semakin terluka. Meski di sisi lain dia juga bahagia, tetapi hatinya tetap terluka.


Tanpa Samudera dan Alexa sadari, sudah sejak tadi Julian berdiri melihat mereka dari balik kaca. Julian hendak masuk kedalam. Namun dia mengurungkan niatnya saat melihat Alexa menangis. Bukaannya tidak ingin, tapi dia tahu dirinya akan bertengkar dengan Samudera jika dia memaksa masuk kedalam ruang rawat istrinya.


...***...


Keadaan Alexa sudah pulih. Hari ini dokter sudah memperbolehkan Alexa untuk pulang. Selama empat hari belakangan, Alexa lebih banyak melamun. Sejak mengetahui dirinya sedang hamil, Alexa tidak mau berbicara dengan siapapun. Berkali - kali seluruh keluarganya mencoba untuk mengajaknya berbicara tapi Alexa hanya menjawab seadanya. Dan jika Julian datang, Alexa tetap mengabaikannya. Julian tidak menjelaskan apapun selama ini, karena dokter mengatakan Alexa tidak boleh memikirkan beban berat demi janin yang ada di kandungannya.

__ADS_1


Kini Alexa tengah duduk seraya melihat keluar jendela. Dia menatap tanpa ekspresi. Dengan raut wajah yang sulit di artikan. Beberapa hari ini Alexa tidak makan apapun, tapi karena dia mengingat dirinya tengah mengandung, dia tetap memaksakan diri untuk makan.


"Alexa..." Julian berdiri di ambang pintu melangkah mendekat ke arah istrinya yang tengah melamun.


"Biarkan aku sendiri." Alexa tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun. Dia tidak ingin mendengar penjelasan dari Julian. Entah kenapa hatinya masih begitu terluka. Bagi Alexa, Julian memohon padanya saat ini hanya karena dirinya tengah hamil. Ya, tentu saja Alexa masih mengingat jika Julian menginginkan keturunan darinya. Pria itu tidak pernah benar - benar mencintainya. Hingga detik ini, luka di hati Alexa masih begitu dalam. Setiap kali Julian mengajaknya bicara, Alexa langsung menghindar darinya.


Julian menghembuskan nafas pelan. Dia duduk di samping istrinya seraya berkata, "Apa yang sudah kau pikirkan selama ini salah, sayang. Dengarkan penjelasanku dulu."


"Julian," Alexa menjeda dengan mata yang berkaca-kaca dia menatap suaminya, "Aku lelah dengan semua ini. Aku harap kau mengerti. Tidak perlu kau menjelaskan apapun padaku, karena apa yang aku dengar sudah membuktikan semuanya."


"Alexa-"


"Untuk apa kau kesini!" Suara bariton berseru dengan keras memasuki ruang rawat Alexa.


Julian mengalihkan pandangannya, menatap dingin Samudera yang berdiri di hadapannya. Sesaat tatapannya begitu tajam. Dia tidak ingin meladeni Samudera, tapi kali ini tidak mungkin. Karena Samudera adalah Kakak dari istrinya. Mau tidak mau dia harus berurusan dengan pria itu.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2