Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Biarkan Seperti Ini


__ADS_3

Suara dering ponsel terdengar, membuat Alexa yang sedang tertidur pulas harus terbangun. Perlahan Alexa mulai membuka matanya. Sesaat Alexa menyipitkan matanya ketika silau matahari menembus jendela kamarnya. Alexa hendak mengabaikan dering ponsel itu. Namun nyatanya dering ponselnya kini tak kunjung berhenti. Alexa berdecak kesal. Kini dia mengambil ponselnya, menatap ke layar nomor Adel yang muncul di sana. Tanpa menunggu, Alexa langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan sebelum kemudian meletakkan kembali ke telinganya.


"Ada apa, Adel?" jawab Alexa dengan nada dingin dan ketus saat panggilannya terhubung.


"Alexa, aku di rumah Paman Raymond. Tapi Vanya bilang kau sekarang sudah di rumahmu. Kemarin suamimu datang menjemputmu?" ujar Adel dari sebrang telepon.


"Ya, dia menjemputku." Alexa menjawab lagi dengan nada yang malas.


Adel mendesah pelan, "Baguslah, aku juga senang mendengarnya. Tadi aku juga sudah mendengar jika Kak Samudera berkelahi dengan Julian. Aku harus bilang padamu suamimu itu hebat. Karena selama ini tidak ada orang yang bisa melawan Kak Samudera. Ya, kecuali Paman Raymond. Paman Raymond masih sangat tampan dan gagah. Aku sering melihat Paman Raymond dan Kak Samudera berlatih. Dan kau sangat beruntung mendapatkan Julian. Kau bisa mendapatkan Julian seperti mendapatkan Kak Samudera.Suamimu itu tampan hebat dan memiliki segalanya. Ah, jika saja Julian memiliki seorang adik, aku rasa aku mau menjadi kekasih adiknya." ucap Adel dengan riang.


"Hentikan omong kosongmu, Adel. Aku ingin mandi." ucap Alexa kesal.


"Alexa, tunggu..."


Belum sempat Adel menyelesaikan ucapannya. Alexa sudah lebih dulu mematikan sambungan teleponnya. Dia malas jika Adel membahas tentang Julian.


Alexa beranjak dari ranjang. Namun, tatapannya teralih ke samping, dia menghembuskan nafas pelan melihat ranjang di sampingnya sudah kosong. Itu artinya Julian berangkat ke kantor lebih awal. Alexa menoleh ke atas nakas. Biasanya Julian sudah meninggalkan note di sana. Namun, dia tidak meninggalkan apapun. Meski kesal, tapi Alexa memilih mengabaikannya. Kini Alexa melanjutkan langkahnya, menuju ke arah kamar mandi.


***


"Kau di sini?" Alexa yang baru saja selesai mandi, dia menatap Julian yang sedang duduk di sofa kamar seraya fokus pada iPad yang ada di tangannya.


"Tadi aku mendapatkan telepon dari Ibuku," ucap Julian mengalihkan pandangannya, menatap istrinya yang baru saja selesai mandi. Seketika di bibir Julian terukir melihat tubuh istrinya yang hanya di lilit oleh handuk. Dalam keadaan apapun istrinya itu selalu cantik.


Alexa yang melihat Julian terus menatap tubuhnya. Dia langsung berjalan terburu-buru ke arah walk in closetnya. Sedangkan Julian mengulum senyumannya melihat wajah Alexa yang merona karena dia terus menatap istrinya itu.


Tak berselang lama, Alexa sudah mengganti pakaiannya dengan dress yang sederhana. Sejak hamil Alexa sudah tidak bisa lagi menggunakan short pants. Dia merasakan perutnya yang tidak nyaman. Jadi mau tidak mau Alexa selalu memakai dress yang sederhana.


"Kenapa kau tidak ke kantor?" Alexa bertanya dengan nada yang dingin dan raut wajah yang datar.


"Hari ini aku tidak ingin ke kantor," jawab Julian.

__ADS_1


"Kenapa?" Alexa kembali bertanya. Pasalnya dia tahu, Julian selalu mengutamakan pekerjaannya. Di tambah banyaknya masalah mereka, tentu pekerjaan Julian terbengkalai.


"Aku ingin di sini. Menemanimu lagi hari ini." Julian langsung menarik pelan tangan Alexa. Membuat Alexa duduk di pangkuannya. Sontak membuat Alexa terkejut, saat dirinya berada di pangkuan Julian. Alexa hendak bangun, namun tangan kokoh Julian melingkar di pinggang Alexa, membuat wanita itu tidak bisa berpindah sedikitpun.


"Lepaskan aku, Julian." Alexa berucap dengan nada kesal. Dia tidak berontak. Tentu saja akan percuma jika dirinya berontak karena tidak mungkin jika dirinya bisa menang dari suaminya itu.


"Biarkan seperti ini." Julian membenamkan wajahnya di ceruk leher Alexa, mencium aroma parfum vanilla yang begitu lembut. Aroma khas istrinya yang selalu menjadi candu baginya. Ya, Julian begitu merindukan Alexa.


Alexa terdiam saat Julian mencium lehernya. Bahkan pria itu kini semakin mengeratkan pelukannya. Harusnya Alexa kembali berontak. Tapi entah karena Alexa merasa kasihan. Meski hatinya masih terluka, tidak di pungkiri dia pun merindukan suaminya.


"Aku sangat menyukai aroma tubuhmu." Julian berbisik pelan di telinga Alexa. Sedangkan Alexa memilih untuk diam dan membiarkan Julian mencium lehernya.


Suara ketukan pintu terdengar membuat Julian langsung mengumpat di dalam hati karena ada yang menggangunya. Alexa hendak beranjak dari pangkuan Julian. Namun Julian mencegahnya, dia tidak membiarkan sedikitpun Alexa berpindah. Alexa pun berdecak kesal karena Julian terus memaksanya. Kini Julian menginterupsi orang yang mengetuk pintu kamarnya untuk masuk.


"Tuan Julian," Kenzo melangkah masuk seraya menundukkan kepalanya di hadapan Julian dan Alexa.


"Ada apa kau kesini?" tanya Julian dingin saat Kenzo berdiri di hadapannya.


Julian membuang napas kasar. "Apa tidak bisa di wakilkan?" tukasnya kesal.


"Tidak bisa, Tuan. Karena ini menyangkut tentang ekspor wine ke negara T yang gagal tempo hari. Anda harus memeriksa berkasnya." jawab Kenzo.


Julian mengumpat dalam hati. Padahal dia ingin beberapa hari ini bersama dengan Alexa. Tapi tetap saja ada gangguan yang membuat dirinya mau tidak mau harus meninggalkan Alexa.


"Aku ingin kesana," ucap Alexa dingin sontak membuat Julian terkejut.


"Alexa kau sedang hamil. Aku tidak mengizinkanmu pergi kesana." tukas Julian menekankan.


"Aku tidak meminta izin darimu. Aku ingin pergi kesana karena aku sangat menyukai suasana perkebunan anggur," ucap Alexa ketus.


"Tapi Alexa-"

__ADS_1


"Jika kau terus melarangku. Aku tidak peduli. Aku akan tetap pergi kesana," jawab Alexa seraya membuang wajahnya.


Julian membuang napas kasar. Bukannya melarang, tapi jarak perkebunan anggur cukup jauh. Julian tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya. Terlebih Alexa sedang hamil muda seperti ini.


"Baiklah, kita akan pergi kesana." ucap Julian yang akhirnya mengalah dan menyetujui permintaan dari Alexa. Tidak ada pilihan lain, jika dia tidak menuruti istrinya sudah pasti istrinya itu akan semakin marah padanya.


Alexa tidak menjawab. Dia tetap membuang wajahnya, tidak mau menatap Julian.


"Kau pergilah, Kenzo. Dan hari ini kau jangan menggangguku lagi." tukas Julian dingin


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi Tuan dan Nyonya..." ucap Kenzo, menundukkan kepalanya lalu pamit undur diri dari hadapan Julian dan Alexa.


"Aku ingin makan," Alexa hendak beranjak dari pangkuan Julian. Namun, Julian kembali mencegah istrinya itu beranjak dari pangkuannya.


"Biarkan pelayan yang membawakan makanan. Kau ingin makan apa?" tanya Julian seraya mengelus lembut pipi Alexa.


"Rendang," jawab Alexa sontak membuat Julian kembali terkejut.


"Apa?"


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2