
Sinar matahari pagi menembus jendela. Menyentuh kulit wajah Alexa. Perlahan Alexa mulai membuka matanya. Dia mengerjap beberapa kali dan menggeliat. Saat Julian sudah membuka matanya, dia terkejut dirinya sudah berada di atas ranjang. Alexa mengerutkan keningnya mengingat kemarin sore dirinya menonton film drama kesukaannya hingga ketiduran di sofa. Tapi bagaimana mungkin dia bisa berada di ranjang. Alexa mengerutkan keningnya. Mengingat kemarin sore dirinya menonton film drama kesukaannya hingga ketiduran di sofa. Tapi bagaimana mungkin dirinya lupa. Itulah yang dia pikir.
Kini Alexa mengikat asal rambutnya dan berjalan menuju ke arah kamar mandi dengan melangkah pelan - pelan. Tertidur lama membuat Alexa lapar. Lebih baik dia segera mandi dan sarapan. Beruntung kakinya sudah sedikit membaik. Dia tidak perlu lagi memakai kursi roda. Meski jika berjalan belum sepenuhnya sempurna, tapi tidak masalah. Tidak akan lama lagi kaki dan tangannya akan segera pulih.
Lima belas menit kemudian, setelah Alexa mandi dan mengganti pakaiannya dengan celana yang pendek dan juga tube top. Dia langsung berjalan menuju ke arah ruang makan.
"Julian? Kau belum berangkat?" baru saja Alexa keluar kamar, dia juga berpapasan dengan Julian yang juga baru keluar dari kamar.
Julian tidak menjawab. Dia hanya melihat kaki Alexa "Kau sudah bisa berjalan?" tanyanya dengan nada dingin dan datar.
Alexa menggangguk dan berkata "Sudah sedikit lebih baik."
Ya, Alexa sudah memutuskan untuk menekan rasa ketakutannya saat berhadapan dengan Julian dan bersikap patuh pada Julian. Karena dia tidak ingin memancing amarah Julian lagi.
"Kita sarapan bersama," balas Julian yang hendak berjalan lebih dulu. Namun, langkah kaki Julian terhenti saat melihat cara Alexa yang masih pincang. Tanpa berkata, Julian berbalik, dia langsung membopong tubuh Alexa membantunya menuju ke arah ruang makan.
"Julian, kenapa kamu menggedongku?" Alexa terkejut, kala tiba - tiba Julian membopong tubuhnya.
"Menunggu ke ruang makan akan membutuhkan waktu selama berjam-jam dengan caramu jalan yang seperti itu." jawab Julian datar.
Alexa mendengus. "Kakiku belum sepenuhnya pulih Julian! Kau pikir, aku mau berjalan seperti ini?"
Julian tidak menjawab. Dia memilih untuk terus melangkah menuju ke arah ruang makan. Setibanya mereka tiba di ruang makan, Julian mendudukkan Alexa di kursi meja makan. Kemudian, dia menarik kursi dan duduk tepat di samping Julian.
"Terima kasih sudah membantuku," ucap Alexa sambil menatap Julian.
Julian mengangguk singkat. "Makanlah..."
"Ya," Alexa mengambil sandwich tuna yang sudah tersedia di atas meja dan menikmati sarapannya.
"Alexa," Alexa mengalihkan pandangannya, menatap Julian serius.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Alexa seraya mengunyah sandwich yang masih berada di dalam mulutnya.
"Satu minggu lagi, aku memiliki undangan makan malam perusahaan. Persiapkan dirimu karena ini pertama kalinya aku membawamu ke hadapan publik. Akan banyak media yang menghadiri jamuan makan malam itu." ujar Julian dengan nada datar.
"Kau mengajakku? Kenapa kau tidak pergi sendiri saja?" Alexa balik bertanya dengan tatapan bingung pada Julian.
"Tidak mungkin acara seperti ini aku hanya sendiri. Apa kau ingin media membicarakan yang tidak-tidak tentang pernikahan kita? Ingat ya Alexa. Kau hanya perlu menurutiku. Aku tidak ingin kau membuatku marah lagi. Hingga berkahir menyakitimu lagi." kini Julian menatap Alexa dingin.
"Baik Julian. Dan nanti aku akan meminta Novi agar menghubungi asistennku untuk menyiapkan gaun."
"Tidak perlu, aku akan menyiapkannya untukmu," tukas Julian dingin.
Alexa menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Tidak ada pilihan lain, bukan? Dia memang sudah menjadi seorang istri. Mau tidak mau dia harus menemani Julian yang memiliki undangan dari rekan bisnisnya.
"Dan Alexa, mulai besok. Akan ada pengawal yang akan menjagamu!" Ucap Julian lagi
Alexa menghentikan aktivitasnya memakan sandwich. Alexa mendesah, ini adalah suapan pertamanya sejak tadi pagi. Tapi Julian sukses menghancurkan nafsu makannya. Membuat perutnya merasa kenyang seketika.
"Itu karena aku tidak bisa mengawasimu selama aku bekerja, Kau tahu itu."
Alexa berdecak keras mendengar jawaban yang sama sekali yang tidak membantu. Firasatnya benar, Julian memang hendak memenjarakan seluruh kehidupannya.
"Sudah banyak pelayan yang berada di rumahmu, apa itu tidak cukup bagimu untuk mengawasiku seorang?" sahut Alexa tidak mau kalah.
"Mereka tidak selalu bisa mengawasimu Alexa. Aku membayar mereka untuk merawat rumah ini, bukan mengurus semua hal tentangmu."
"Aku tidak perlu pengawal, Julian. Kau juga sudah memberikan hukuman beberapa hari kemarin. Aku cukup tahu diri untuk tidak mengulanginya."
Julian bergeming tidak suka. "Aku tidak ingin berdebat denganmu lagi, Alexa!"
"Kau sudah keterlaluan Julian. Kau mengatur seluruh hidupku bahkan kau juga tidak memperbolehkan untuk pulang kerumah orang tuaku. Aku terkekang!" Pekik Alexa kesal. Ia menatap Julian nyalang, membiarkan amarahnya meledak hari ini. Ia sudah tidak tahan.
__ADS_1
Braak!!
Mata Alexa mengerjap saat Julian menggebrak meja dengan kuat, ia segera mengunci mulutnya saat tatapan Julian berubah menjadi bengis kembali.
"Dengar Alexa. Aku hanya ingin kita makan tenang hari ini. Aku tidak meminta persetujuamu untuk segala keputusan yang aku buat. Kau telah di serahkan oleh orang tuamu untuk tinggal di sini dan kau harus harus menuruti segala perintahku,"
Alexa hanya bungkam, ia tidak ingin mengulangi kesalahannya beberapa hari kemarin. Rasa nyeri di dalam sana masih belum sepenuhnya sirna. Ia belum sepenuhnya siap jika Julian akan menyiksanya lagi hari ini. Julian bahkan lebih buruk dari Ayahnya yang seorang diktator.
"Makan! Atau tidak sama sekali!" Perintah Julian tegas.
Alexa menurut lalu kemudian melanjutkan kembali memakan sandwich itu ke mulutnya. Ia mengunyah makanan itu dengan susah payah lalu menelannya. Alexa mengutuk Julian berkali - kali di dalam hatinya. Lama kelamaan ia sendiri juga bisa ikut gila. Alexa menggeleng kuat. Beberapa kali ia mengucapkan mantra kepada dirinya sendiri agar selalu menjaga kewarasannya jika tengah berada bersama dengan Julian.
Julian tersenyum lebar melihat Alexa kembali menurut dan makan dengan tenang. Ia mengambaikan ekspresi muak yang Alexa tujukkan lalu kembali melanjutkan makanan mereka yang sempat tertunda.
"Kalau kau selalu menurut seperti ini, mungkin aku tidak akan pernah menghukummu lagi dan akan memberikanmu hadiah."
Alexa hanya menunduk tanpa menjawab pertanyaan dari Julian. Begitulah kehidupan Alexa sekarang, dia di berikan seluruh harta oleh suaminya, tapi Julian pula yang mengunci dunia untuknya.
...*********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1