Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Ke Perkebunan


__ADS_3

"Alexa, siapa yang tadi kau hubungi?" Julian berdiri di ambang pintu, dia menatap Alexa yang baru saja mengakhiri panggilan. Kemudian dia mendekat dan duduk di samping istrinya.


"Julian? Kau sudah selesai telepon?" Alexa mengalihkan pandangannya menatap Julian yang sedang duduk di sampingnya.


"Ya, tadi Kenzo menghubungiku. Membahas beberapa pekerjaan," Julian membawa tangannya, mengelus lembut pipi Alexa "Kau menghubungi siapa?" tanyanya lagi


"Kaylan. Tadi aku meminta Kaylan untuk melukis kita." jawab Alexa memberitahu.


"Begitu. Ya sudah, kita berangkat sekarang. Barang - barang sudah di pindahkan ke penthouse," Julian beranjak berdiri, dia mengulurkan tangannya membantu Alexa untuk berdiri. Meski masih kesal, namun Alexa lebih memilih menyambut uluran tangan sang suaminya.


Alexa mengambil tas dan ponselnya yang ada di atas meja. Kemudian Julian langsung merengkuh bahu Alexa, meninggalkan kamar menuju ke arah mobil yang sudah di siapkan. Sesaat ketika Alexa sedang meninggalkan kamar dia menoleh ke arah kamarnya dan Julian. Ya, dalam hati Alexa berdoa setelah ini dia akan membuka lembaran baru dengan Julian dan setelah ini semoga ada kebahagiaan yang akan selalu hadir di tengah-tengah mereka.


***


Suara kicauan burung menandakan bahwa pagi telah menyapa. Kini dirinya dan Julian telah pindah di penthouse yang dia pilih. Dan Alexa tengah mematut cermin, memoles wajahnya dengan makeup tipis. Semenjak hamil Alexa benar - benar malas untuk bermake-up. Jika biasanya Alexa cenderung menggunakan make up bold, sekarang Alexa lebih menggunakan make up polos. Seperti saat ini, Alexa lebih memilih memakai moisturizer khusus untuk wanita hamil yang sudah dia pesan pada dokter kulitnya serta bedak dan juga lip blam.


"Selesai," ucap Alexa setelah selesai berias. Tubuhnya terbalut oleh mini dress lengan pendek berwarna biru dengan motif printed flower.


Setelah selesai berias, tatapan Alexa beralih pada jam dinding. Dan waktu menunjukkan jam sembilan pagi. Ya, hari ini Alexa dan Julian akan pergi ke perkebunan anggur. Entah kenapa Alexa ingin pergi kesana. Mungkin karena cuacanya yang sejuk dan pemandangan yang indah membuat Alexa ingin pergi kesana.


"Alexa," Julian melangkah masuk kedalam kamar, dia menatap istrinya yang baru saja selesai berias. Di tangannya dia memegang susu khusus untuk ibu hamil. Dia sengaja membawakan ini karena istrinya itu harus minum susu. "Alexa, minumlah susumu. Pagi ini kau belum minum susu," ujarnya seraya memberikan susu yang dia pegang pada Alexa.


Alexa pun tidak mengatakan sepatah katapun. Dia hanya menerima susu yang di berikan oleh Julian dan meminumnya perlahan. Saat susu yang Alexa minum sudah habis, dia langsung meletakkannya di atas meja dan menatap Julian seraya berucap. "Jam berapa kita berangkat? Aku tidak mau jika kita terlalu siang untuk berangkatnya."

__ADS_1


"Apa kau yakin, Alexa?" Julian menghembuskan nafas pelan. Dia tampak tidak setuju jika Alexa harus ikut dengannya ke perkebunan anggur. Yang Julian pikirkan keadaan istrinya yang saat ini tengah mengandung.


"Kenapa kau masih bertanya? Bukankah sudah aku katakan aku ingin ikut ke sana! Kalau kau masih terus melarangku, aku akan pergi sendiri!" Cebik Alexa kesal.


Julian mendekat. Dia membawa tangannya mengusap lembut pipi Alexa. "Baiklah kita kesana, tapi kau juga jangan lupa untuk membawa obat dan vitaminmu."


"Iya, aku tahu." jawab Alexa ketus.


Julian tersenyum, dia mengecup kening Alexa. Dan dia tidak memperdulikan sikap Alexa yang dingin padanya. Kini dia mengambil kunci mobilnya yang berada di atas meja dan merengkuh bahu Alexa membawa istrinya untuk meninggalkan kamar. Alexa pun melirik sekilas ke arah Julian yang merengkuh bahunya. Awalnya Alexa hendak menjauh, tapi entah kenapa Alexa mengurungkan niatnya dan memilih menurut.


***


Julian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah kota negara M. Cuaca pagi hari yang begitu cerah. Musim semi yang ada di penghujung dan sebentar lagi akan tergantikan oleh musim panas. Sesaat Julian melirik ke arah Alexa yang sudah sejak tadi melihat ke arah keluar jendela. Dia hendak mengajak Alexa berbicara, namun Julian akhirnya memilih diam dan kembali fokus mengemudikan mobilnya.


Kini mobil Julian mulai memasuki area parkir perkebunan anggur miliknya. Saat mobil Julian telah tiba, sejak tadi Alexa tersenyum bahagia. Tanpa menunggu Julian. Alexa lebih dulu turun dari mobil. Julian pun langsung menyusul Alexa turun dari mobil.


"Kau-" Alexa berusaha untuk mengingat pria yang ada di hadapannya yang tampak tak asing. Dia seperti pernah melihat pria itu.


"Dia Erlangga, pengurus perkebunan ku." sambung Julian seraya merengkuh bahu Alexa.


"Ah, begitu. Maaf Erlangga, karena aku baru tau namamu." ujar Alexa dengan senyuman di wajahnya.


"Tidak apa-apa, Nyonya." jawab Erlangga ramah.

__ADS_1


"Tuan, apa anda ingin langsung melihat pabrik?" tanya Erlangga pada Julian.


"Nanti aku akan kesana. Sekarang aku ingin menemani istriku berkeliling ke perkebunan." jawab Julian dingin dengan raut wajah yang datar.


Alexa melihat Julian sekilas. Dia tidak menyangka jika Julian akan menemani dirinya. Meski masih kesal pada Julian, tapi Alexa tidak akan pernah memperlihatkan dirinya yang kesal pada suaminya di hadapan banyak orang.


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi. Tuan, Nyonya." Erlangga menundukkan kepalanya, lalu pamit undur diri dari hadapan Julian dan Alexa.


"Aku tahu, kau pasti ingin berkeliling." Julian berbisik di telinga Alexa sambil memberikan kecupan di pipi sang istri.


Alexa hanya tersenyum tipis. Kemudian dia dan Julian melangkah masuk kedalam perkebunan. Sesaat Alexa memejamkan matanya saat merasakan hembusan angin menyentuh kulitnya dengan lembut. Alexa tersenyum melihat para petani tengah memetik buah anggur. Ini adalah pemandangan yang indah. Dulu saat Alexa berada di negara A, Arabella, ibunya sering membawanya berkeliling ke kota kecil yang ada di negara A. Itu kenapa Alexa sangat menyukai pemandangan alam. Bukan artinya Alexa tidak menyukai perkotaan, businees distric ataupun tempat shopping. Tentu saja shopping dan bisnis sudah menjadi bagian dari kehidupan Alexa. Hanya saja, jika Alexa sedang melihat pemandangan alam, hatinya jauh lebih tenang. Biasanya Alexa akan melihat pemandangan alam, jika dirinya tengah penat dengan banyaknya hal yang membebani pikirannya.


Para petani menyapa Julian dengan sopan saat melihat Julian membawa Alexa berkeliling ke perkebunan anggur. Julian hanya menjawab dengan anggukan singkat kepalanya. Sedangkan Alexa menjawab sapaan dengan senyuman yang tipis di wajahnya.


********


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2