Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Telefon Dari Samudera


__ADS_3

Alexa mengulum senyumannya lalu mengaitkan tangannya di leher Julian. "Sudah, ini masih pagi dan jangan merayuku."


Julian terkekeh. Dia menarik dagu Alexa, mencium dan ******* dengan lembut bibir istrinya. "Kau memang akan tetap cantik meskipun tubuhmu naik 30kg pun tidak masalah, sayang."


Alexa mendengus tidak suka. "Kau tidak masalah, tapi aku yang masalah, Julian!" Jawab Alexa kesal.


Julian mencium gemas hidung Alexa."Selama kau hamil, aku tidak ingin kau kelelahan.Lebih baik kau di rumah saja. Biarkan asistenmu yang ada negara R yang mengurus semua pekerjaannya di perusahaannya."


"Aku pasti akan sangat bosan jika selalu ada di rumah." Alexa mendesah pelan. Raut wajahnya berubah menjadi muram.


"Kau bisa berbelanja mengajak Vanya ataupun Adel, sayang. Dan kau juga bisa ke kantorku untuk menemaniku saja tapi bukan untuk bekerja, atau kau bisa ikut kelas melukis." Julian menangkup kedua pipi istrinya. "Setelah kau melahirkan nanti dan anak kita sudah sedikit besar, kau bisa kembali bekerja untuk mengurus perusahaanmu yang ada di negara R itu."


Alexa membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya. Menghirup aroma parfum yang telah menjadi candunya. Sesaat Alexa memejamkan matanya merasakan nyaman dalam dekapan orang yang kita cintai adalah hal yang ternyaman. Dan saat ini Alexa membuktikannya sendiri. Jika dulu dia tidak akan pernah percaya akan hal itu, tapi sekarang berbeda. Alexa tidak hanya merasakan kenyamanan tapi juga kehangatan serta perasaan yang terlindungi.


Julian tersenyum saat Alexa memeluk erat tubuhnya. Dia pun membalas pelukan dari Alexa seraya memberikan kecupan di puncak kepala istrinya, "Kita sarapan sekarang, aku tidak ingin anakku terlambat makan." ajak Julian.


Alexa mendongakkan kepalanya, memincingkan matanya menatap Julian dengan dingin "Jadi, kau hanya memikirkan tentang anakmu saja? Ah, apa karena sebentar lagi kau akan memiliki anak, itu yang membuatmu lupa memilki istri?" protesnya.


Julian tertawa pelan mendengar perkataan konyol istrinya itu. Dia langsung mencubit pipi Alexa seraya berucap, "Kalau anakku makan, kau kan juga makan sayang. Tentu saja kau akan menjadi yang utama."


Alexa mencebikkan bibirnya dan berkata, "Sudahlah, aku sedang tidak ingin mendengar rayuanmu lagi. Aku ingin makan. Perutku sudah lapar."


"Ya, dan setelah selesai sarapan kita akan langsung pergi untuk periksa kandungan." Julian mengecup kening Alexa.


"Kita periksa kandungan sekarang?" kening Alexa berkerut menatap serius ke arah Julian.


Julian mengangguk kemudian merengkuh bahu istrinya, berjalan meninggalkan walk in closet menuju ke arah ruang makan.


***

__ADS_1


"Julian, apa tidak terlalu cepat jika kita periksa kandungan sekarang? Apa kita akan segera ke negara A?" tanya Alexa sambil menikmati pasta yang baru saja di hidangkan oleh pelayan.


"Aku harus memastikan kesehatanmu. Jika kau baik-baik saja, kita akan segera berangkat. Apa kau ingin menunggu hingga perutmu itu membesar baru kita berangkat?" Julian balik bertanya seraya menyesap kopi.


"Itu terlalu lama Julian. Tapi nanti, ketika usia kehamilanku sudah memasuki tujuh bulan aku ingin pergi untuk babymoon lagi." Alexa berkata dengan begitu antusias. Wajahnya tampak begitu bahagia. Pikirannya membayangkan dirinya yang sedang berlibur bersama dengan Julian.


Julian tersenyum. "Aku akan membawamu kemanapun yang kau inginkan, sayang. Asalkan kesehatanmu baik - baik saja."


Suara dering ponsel terdengar membuat Alexa dan Julian langsung mengalihkan pandangannya pada ponsel yang tak kunjung berhenti itu. Alexa kemudian mengambil ponselnya, dan menatap ke layar. Seketika di bibir Alexa terukir melihat nomor yang muncul di layar ponselnya.


"Siapa yang menghubungimu, sayang?" tanya Julian melihat ponsel Alexa yang terus berdering.


"Kak Samudera," jawab Alexa dengan riang.


Julian menghembuskan nafas kasar ketika mendengar Samudera yang menghubungi istrinya.Mengingat sejak dulu hubungannya dengan Samudera tidak pernah baik. Begitupun jika ada undangan makan malam ketika dirinya harus berpapasan dengan Samudera, mereka hanya saling melayangkan tatapan dingin dan tidak bersahabat. Ya, sebenarnya tidak ada masalah di antara mereka. Hanya saja, Samudera selalu menganggap Julian bukan pria yang tepat untuk adiknya. Bukan hanya berlaku pada Alexa, tapi saat dulu Samudera masih bertunangan dengan Vanya pun, Samudera sudah tidak menyukai Julian. Itu kenapa mereka tidak pernah akur. Namun, meski demikian di antara keduanya tidak pernah saling menjatuhkan jika berada di hadapan publik.


"Julian, aku akan angkat telepon dari Kakakku dulu, ya?" ujar Alexa lagi dengan raut wajah yang begitu bahagia.


Kini Alexa menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan sebelum kemudian meletakkannya ke telinga Alexa.


"Hallo, Kakak?" sapa Alexa saat panggilannya terhubung.


"Alexa kau sedang dimana?" tanya Samudera dari sebrang telepon.


"Aku di rumah, Kak. Kakak di mana?" tanya Alexa balik.


"Aku di kantor. Bagaimana dengan kandunganmu? Apa semuanya baik - baik saja." Tanya Samudera dengan nada suara yang terdengar khawatir.


"Ya, semuanya baik-baik saja, Kak."

__ADS_1


Hembusan nafas kasar terdengar dari balik telepon. "Apa suamimu yang sialan itu masih melukaimu? Kau harus langsung mengatakannya padaku jika dia bertindak sesuka hatinya lagi. Karena kali ini aku tidak akan pernah mengampuninya jika dia kembali membuatmu terluka."


Alexa pun terkekeh mendengar ucapan dari Samudera. Sesaat dia melirik ke arah Julian yang sedang memasang wajah dingin datar dan tanpa ekspresi.


"Kakak, percayalah. Julian sudah tidak akan pernah melukaiku lagi. Tetapi jika suatu saat Julian kembali melukaiku, aku berjanji akan langsung mengadukanya padamu, Kak. Aku tahu, kau akan selalu membawaku pulang kerumah dan tidak ingin melihat adik kesayangannya ini menderita, kan?"


Perkataan dari Alexa sukses membuat tatapan Julian berubah menjadi tajam. Iris mata coklat gelapnya tampak menyeramkan. Raut ketegasan tampak begitu terlihat di sana. Sedangkan Alexa yang sedang mendapatkan tatapan tajam dari sang suami, dia tetap santai dan riang.


"Ya, kau memang harus segera mengatakannya padaku. Dengan begitu aku bisa langsung membawamu kembali pulang jika memang dia kembali melukaimu."


"Iya Kakak. Aku tahu." ucap Alexa.


"Ya sudah aku harus meeting. Nanti aku akan kembali untuk menghubungimu."


"Iya, Kak. See you. Aku juga merindukanmu."


Panggilan tertutup. Alexa pun kembali meletakkan ponselnya ke tempat semula.


"Alexa, tadi Kakakmu bilang apa?" Julian bertanya dengan nada dingin saat Alexa telah selesai menutup panggilannya.


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2