
Dua hari berlalu kondisi Alexa kian membaik dan Alexa juga sudah meminta pulang pada Julian.
Kini Alexa kembali lagi dalam penjara Julian yang sudah di siapkan khusus untuknya. Kedua sorot mata Alexa mendongak, menatap rumah bak istana itu, Alexa menghela nafasnya berat.
"Huffftt.... Ya Tuhan, aku akhirnya kembali lagi ke sini." gumam Alexa dengan mimik wajahnya yang berubah menjadi melas.
"Ayo masuk," dengan dinginnya Julian menarik lengan Alexa dan mengajaknya masuk kedalam rumah.
Cengkraman tangan Julian sedikit kuat hingga membuat Alexa sedikit meringis sakit saat ini.
"Julian pelan," cicit Alexa. Tangannya menahan tangan Julian hingga laki - laki itu kini menoleh ke belakang dan ia pun tidak perduli.
Julian menarik Alexa, hanya sekali tarikan ia meraih pinggang kecilnya dan merangkulnya posesif.
"Diam di kamarmu dan jangan banyak bertingkah." desis Julian dan membuat Alexa menundukkan kepalanya sedih.
Julian membukakan pintu kamar Alexa. Laki - laki itu melepaskan cekalan tangannya dan beralih menatap tajam pada Alexa.
"Jangan pergi kemana - mana. Novi akan kembali untukmu.."
"Tapi Julian..."
"Menurutlah Alexa. Jika kau tidak ingin aku memasung kakimu!" Seru Julian. Laki - laki itu melepaskan dasi yang dia pakai dan berjalan ke arah Alexa.
"Istirahatlah Alexa. Jangan membantah. Dan malam ini kau tidur di kamarku!" Tukas Julian dingin.
"Kenapa aku harus tidur denganmu?" tanyanya yang tidak mengerti.
"Orang tuamu sedang dalam perjalanan ke negara M. Kenzo mengatakan mereka akan kesini. Aku tidak ingin mengambil resiko berurusan dengan Ayahmu ketika melihat kita tidur di kamar yang terpisah. Malam ini pelayan akan memindahkan semua barang-barangmu kedalam kamarku." jawab Alexa dengan raut wajah yang datar dan juga dingin.
Alexa membuang napas kasar. "Mungkin, kedua orang tuaku hanya berkunjung. Mereka tidak akan menginap di sini. Jadi, lebih baik kita tidak perlu satu kamar. Karena aku masih takut denganmu." tolak Alexa yang tidak ingin satu ranjang dengan pria yang menyebalkan itu.
__ADS_1
"Aku sedang tidak ingin berdebat. Suka atau tidak suka, kita itu harus tidur di kamar. Aku tidak ingin mendapatkan masalah di kemudian hari. Kau tentu sangat mengenal baik sifat Ayahmu itu Alexa." tukas Julian dengan penuh penekanan.
Alexa berdecak tidak suka. Ingin rasanya dia berontak, tapi dia tidak bisa melakukan itu. Pasalnya dia sangat mengenal sifat keras sang Ayah. Bahkan Alexa tidak bisa berpikir, jika sampai Ayahnya tahu dia dan Julian sudah membuat kesepakatan. Di tambah lagi jika Ayahnya mengetahui perilaku kasar Julian kepadanya. Alexa bersumpah Ayahnya pasti akan memberikan perhitungan pada Julian tapi bukan hanya Ayahnya tapi Samudera, Kakaknya pun pasti akan segera membunuhnya. Entahlah, apakah Alexa harus merasa senang atau tidak dengan kedatangan kedua orang tuanya itu.
"Julian!" Bentak Alexa yang sudah tidak bisa lagi berpikir harus menjelaskan seperti apa dengan pria yang ada di hadapannya ini. "Apa kau lupa dengan kesepakatan yang kau buat? Kau sendiri yang membuat kesepakatannya, Julian! Tapi kenapa berkali - kali kau selalu melanggarnya? Kenapa Julian? Bisa kau jelaskan padaku sebenarnya apa yang kau inginkan? Dan kenapa kau berubah kasar padaku?!"
Julian bungkam terlihat wajahnya sedang menahan amarah yang hendak meledak. Namun, perkataan Alexa sukses membuat dirinya tidak mampu berkata-kata. Hanya sebuah tatapan dingin dan geraman tertahan yang dia bisa tunjukkan.
"Baik! Aku akan tidur di kamarmu! Tapi tidak untuk malam ini Julian." sambung Alexa lagi.
"Jangan membantahku atau aku akan patahkan lehermu!" Bentak Julian membuat Alexa kaget.
"Menyebalkan sekali! Ingin rasanya aku tembak kepalanya di detik ini juga!" Gerutu Alexa dalam hati dengan wajah kesalnya.
...***...
Julian duduk dengan merenung di hadapan laptop miliknya yang di biarkan menyala begitu saja. Setelah mengantarkan Alexa pulang dari rumah sakit, Julian kembali ke perusahaannya. Julian benar - benar tidak fokus dengan semua yang dia kerjakan.
Perkataan demi perkataan dari Alexa berputar di kepalanya dan sangat menganggu konsentrasinya.
Benarkah dirinya berlebihan?"
Benarkah dirinya sudah melewati batas?
Apa iya, dirinya sudah melupakan perjanjian yang dia buat sendiri?
Apa mungkin jika dirinya juga sudah melanggar kesepakatan yang sudah dia buat dengan Alexa?
"Ada apa denganku sebenarnya?" gumam Julian.
Julian rasa, apa yang sudah dia lakukan pada Alexa masih dalam batas wajar. Julian hanya ingin menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai seorang suami, terhadap Alexa yang jelas - jelas sudah kedua orang tuanya serahkan tanggung jawabnya pada Julian.
__ADS_1
"Mungkin kamu yang salah mengartikan semuanya Alexa?"
Julian yakin, apa yang dia lakukan itu sudah benar dan tidak melewati batas yang seperti Alexa katakan.
"Jangan bilang, kamu yang mengharapkan ingin kabur dariku, Alexa." gumam Julian lagi dengan senyuman sinis di bibirnya.
Julian kembali berusaha fokus dengan pekerjaannya dan mengabaikan semua perkataan yang tadi dia dengar keluar dari bibir Alexa. Julian merasa semuanya tidak terlalu penting untuk di pikirkan. Apalagi jika sampai membuat dirinya kehilangan fokus atas pekerjaannya. Tidak ada yang lebih penting selain bekerja. Selama ini Julian benar - benar menenggelamkan dirinya dari tumpukan pekerjaan yang tidak habisnya.
Berawal dari Perjodohannya dengan Vanya dan berakhir menikah dengan Alexa benar-benar mengusik ketenangan dan kenyamanan yang sudah Julian ciptakan selama ini. Menurutnya hidupnya yang sudah tertata rapi kembali berantakan hanya karena pernikahan paksa atas permintaan orang tuanya.
Andai saja saat itu Julian punya kesempatan dan alasan untuk menolak dan lari dari perjodohan itu. Mungkin saja Julian bisa lepas dan terhindar dari sosok Alexa. Yang saat ini telah sah menjadi istrinya.
"Ah sial!"
Bukannya fokus dengan pekerjaannya yang ada Julian malah semakin terbayang dengan wajah Alexa yang tidak bisa lepas dan terhindar dari sosok Alexa. Yang menunjukkan raut tegas di setiap perkataan yang terucap dari bibirnya.
Bagaimana raut wajah Alexa saat berucap padanya, benar - benar terbayang dengan jelas di matanya dan terpatri kuat di ingatannya.
"Aku rasa kamu yang sedikit berlebih Alexa!" Ucap Julian dengan sedikit menggeram. "Kamu terlalu ke kanak-kanakkan untuk menyikapi hal sepele semacam ini!"
"Aku hanya berniat melakukan tugasku sebagai orang yang bertanggung jawab atas dirimu itu saja!" Julian benar - benar tidak bisa menghapuskan perkataan Alexa .
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.