Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Kekhawatiran Samudera


__ADS_3

Alexa sedang duduk di balkon kamar seraya menatap pemandangan dari balkon kamar Adel. Sesaat Alexa memejamkan matanya saat merasakan hembusan angin menyentuh kulit lehernya. Ya, sudah selama seminggu setelah pertengkaran terakhirnya dengan Julian, dia memilih untuk tinggal di rumah Adel dan tidak keluar rumah sedikitpun. Alexa pun sudah beberapa hari ini menonaktifkan ponselnya. Saat ini Alexa tidak ingin di ganggu oleh siapapun. Dia ingin menenangkan dirinya.


Kemudian Alexa teringat dengan Vanya, Kakaknya. Alexa khawatir jika Kakaknya sudah mencoba menghubungi dirinya.Namun, nomor ponselnya tidak aktif. Alexa pun langsung beranjak ke arah meja di dekat ranjang untuk mengaktifkan ponselnya. Setelah layar ponsel menyala, Alexa berharap Kakak perempuannya itu mengirimkan pesan padanya lagi.


Alexa menatap kesal ponselnya. Karena tidak mendapatkan pesan dari Saudara perempuannya itu, malah yang ia dapatkan beberapa pesan yang di kirim oleh Julian.


Suara dering ponsel terdengar. Alexa dengan cepat mengalihkan pandangannya ke layar. Namun, dia langsung membuang napas kasar ketika bukan nama Kak Vanya yang muncul di layar. melainkan nomor Samudera, Kakak laki - laki pertamanya yang tengah menghubunginya. Kini Alexa menggeser tombol merah untuk menerima panggilan sebelum meletakkan ke telinganya.


"Hallo, Kak?" jawab Alexa saat panggilannya terhubung.


"Alexa kau dimana? Kenapa ponselmu baru aktif? Kau baik-baik saja, kan?" tanya Samudera dari sebrang telepon.


."Aku di rumah, Kak. Apa Kak Samudera masih di negara R atau sudah pulang di negara A?" tanya Alexa mencoba mengalihkan pertanyaan dari Kakaknya.


"Masih di negara R. Minggu depan aku baru akan kembali ke negara M untuk mengunjungimu."


"Ah begitu, nanti kalau Kak Samudera sudah pulang, aku akan ke kantormu. Sudah lama aku tidak menemuimu di kantor, Ka."


"Ya, sekarang dimana Suamimu?" tanya Samudera dari sebrang telepon.


"Di kantor, Kak. Aku sedang tidak enak badan Julian bilang malam ini akan pulang terlambat, Kak. Mungkin banyak pekerjaan yang harus di selesaikan." jawab Alexa yang terpaksa berbohong.


"Kenapa dia harus ke kantor, kalau kau sedang tidak enak badan?" suara Samudera bertanya dengan nada yang begitu dingin. "Alexa, apa semua baik - baik saja? Kenapa aku terlalu sering mendengarmu sakit? Aku rasa kau pasti telah menyembunyikan sesuatu dariku?" lanjutnya penasaran.


"Aku juga harus mengerti kesibukan Julian seperti Mama yang selalu mengerti kesibukan Ayah. Jadi, Kak Samudera jangan mencemaskanku, percayalah Kak aku baik - baik saja?" jawab Alexa yang lagi - lagi terpaksa berbohong.


Hembusan napas kasar dari Samudera terdengar dari balik telepon. "Alexa, aku harap kau bisa jujur padaku? Apakah suamimu itu sudah berbuat kasar padamu? Kau harus mengatakannya padaku jika dia memang sudah melukaimu. Aku pasti tidak akan mengampuninya kalau dia benar-benar sudah melukaimu."


"Kakak percayalah, Julian tidak akan melukaiku. Jika Julian melukaiku, aku pasti akan mengadukanya padamu, Kak. Aku tahu, kau pasti akan membawaku pulang kerumah."


"Tapi ingat Alexa, jika suatu saat aku tahu ternyata Julian sudah melukaimu aku pastikan akan membuat dia menyesalinya."

__ADS_1


"Iya Kak."


"Setelah aku kembali dari negara R, aku akan berbicara dengan suamimu itu."


"Iya Kak. Kau bisa berbicara kapanpun dengan Julian."


"Ya sudah. Aku harus kembali meeting. Nanti aku akan menghubungimu."


"Ya, Kak. See you."


Panggilan tertutup, Alexa melekatkan ponselnya ke tempat semula. Alexa tersenyum. Dia sudah tidak heran dengan sifat berlebihan Kakaknya itu. Padahal dia sudah bukan lagi anak kecil, tapi Samudera Kakaknya itu kerap bersikap overprotektif padanya. Meski rasa kesalnya tak kunjung hilang tapi setidaknya dia jauh lebih baik ketika dia berbicara dengan Kakaknya. Meskipun dirinya sudah berbohong pada Kakaknya tentang keadaan yang sebenarnya.


"Alexa?" Adel yang berdiri di ambang pintu, dia mendekat ke arah Alexa.


"Ya?" Alexa mengalihkan pandangannya menatap Adel yang sedang berdiri di sampingnya.


"Aku ingin mengajakmu turun, sejak tadi kau belum makan, Alexa." ujar Adel mengajak sepupunya itu.


"Aku tidak lapar." jawab Alexa yang menolak.


Senyum di bibir Alexa terukir saat mendengar perkataan konyol yang terlontar dari Adel. Hingga kemudian Alexa menjawab, "Ya, aku akan makan."


Adel pun tersenyum. Kemudian dengan riang dia bangkit berdiri, seraya mengulurkan tangannya membantu Alexa berdiri. Kini Adel memeluk lengan Alexa, membawanya keluar dari kamar menuju ke ruang makan.


Saat tiba di ruang makan. Adel langsung meminta pelayan memberikan menu makanan kesukaan Alexa. Karena selama satu Minggu ini Alexa hanya makan salad dan sandwich saja. Itupun karena Adel yang memaksa. Jika tidak, Alexa tidak ingin makan apapun.


"Alexa, makan yang banyak. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Nanti kalau terjadi sesuatu padamu, dan kau sedang bersama denganku bisa - bisa Kak Samudera dan Paman Raymond akan menyalahkanku." ujar Adel dengan helaan napas berat.


"Tidak akan terjadi sesuatu padaku. Kau tenang saja, Adel." jawab Alexa yang mulai menikmati makanannya perlahan. Meski sebenarnya dia benar-benar tidak ingin makan, tapi dia tetap memaksakan dirinya untuk makan.


"Nona Adel....." seorang pelayan berlari masuk kedalam ruang makan menghampiri Adel dengan begitu tergesa-gesa.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Adel dengan raut wajah yang bingung, saat sang pelayan menghampirinya.


"Nona, di depan ada orang yang memaksa untuk masuk. Para penjaga sudah menghalangi sesuai dengan permintaan anda, untuk tidak menerima tamu. Tapi pria itu menghajar para penjaga, Nona." ujar sang pelayan dengan raut wajah yang cemas.


"Pria?" kening Adel berkerut, menatap bingung sang pelayan. "Siapa yang datang? Apakah kau mengenalnya?"


"Maaf Nona, saya belum pernah melihat pria itu datang kesini. Tapi tadi pria itu sempat berteriak memanggil - manggil nama Nona Alexa," jawab sang pelayan. Sontak membuat Alexa terkejut.


"Namaku?" Alexa menatap serius sang pelayan.


"Benar Nona," jawab sang pelayan itu lagi.


"Alexa, apa kau ingin keluar untuk melihatnya?" tanya Adel hati - hati.


Alexa pun mengangguk, "Ya, aku akan melihat siapa yang datang dan sudah berani membuat keributan di mansionmu."


Kini Adel dan Alexa beranjak berdiri dari tempat duduk mereka, kemudian melangkah kaki mereka meninggalkan ruang makan menuju ke suara keributan yang sedang terjadi di luar. Sebelumnya, Adel memang sudah meminta pada para penjaga untuk tidak menerima tamu.


Namun tiba-tiba, saat Alexa dan Adel keluar, mereka terkejut melihat banyaknya para penjaga yang yang tergeletak di atas lantai. Tatapan mereka teralih pada sosok pria yang sedang melawan para penjaga.


"Astaga!" Seru Adel.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2