Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Penthouse


__ADS_3

Alexa mendengus tak suka, "Kau tenang saja. Nanti aku akan mengatakannya pada Ayah dan Kakakku. Mereka pasti tidak akan marah. Lagi pula, saat aku tinggal di negara R aku juga tinggal di penthouse milik keluargaku. Hanya sesekali aku tinggal di mansion jika aku sedang ingin saja."


"Kau yakin?" tanya Julian memastikan. "Sebaiknya kita tinggal di mansion saja. Nanti setelah rumah utama kita sudah selesai, kita bisa pindah."


"Julian, kita tidak lama tinggal di penthouse. Aku ingin tinggal di penthouse, Julian." jawab Alexa yang merajuk. Dia mengerutkan bibirnya kesal. Karena Julian tidak menuruti permintaannya.


Julian menarik nafas dalam, "Baiklah, aku akan meminta Kenzo untuk membawakan gambar penthouse yang terbaik. Kau bisa memilihnya."


"Terima kasih, Julian." Alexa langsung tersenyum setelah mendengar suaminya menuruti permintaannya. Tanpa sadar Alexa langsung memberikan kecupan di rahang suaminya. Mendapatkan ciuman tiba-tiba dari Alexa, Julian masih diam membatu. Dia begitu terkejut dengan tindakan Alexa tadi. Sadar akan tindakannya yang ceroboh tadi Alexa pun langsung mengalihkan pembicaraannya.


"Ekhm. Hari ini lebih baik kita melihat penthouse lebih dulu, nanti setelah melihat penthouse yang tepat baru kita melihat lokasi rumah yang akan di bangun."


Sedangkan Julian hanya tersenyum melihat tingkah Alexa yang berusaha untuk mengalihkan tindakannya tadi. "Kau ingin melihat penthouse lebih dulu?"


"Iya, aku ingin melihat penthouse lebih dulu," jawab Alexa.


"Alright. Kalau begitu kita mandi sekarang." Julian beranjak berdiri dan langsung membopong tubuh Alexa gaya bridal, sontak membuat Alexa terkejut saat Julian membopongnya.


"Julian, kalau kau ingin mandi kenapa harus menggedongku? Turunkan aku! Aku juga ingin bersiap - siap." Alexa mencebikkan bibirnya.


"Bersama lebih mempersingkat waktu, sayang." Julian menjawab dengan santai.


"Tapi aku belum memaafkanmu Julian! Dan aku juga sedang hamil, kau jangan macam-macam."


"I know, aku hanya ingin satu macam saja,sayang." jawab Julian sambil tersenyum penuh arti "Dan sebelumnya aku juga sudah berkonsultasi dengan dokter Arsen kau tidak perlu khawatir." lanjutnya, kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke arah kamar mandi. Sedangkan Alexa dia langsung mendengus kesal. Suaminya itu benar-benar selalu mencari kesempatan dalam kesempitan. Tidak ada pilihan lain, Alexa pun memilih untuk menurut dan mengaitkan tangannya di leher Julian.


***


Alexa mematut cermin dengan wajah yang kesal. Tubuhnya terasa begitu remuk. Berada di kamar mandi hampir satu jam tentu membuatnya kelelahan. Bagaimana tidak? Akibat percintaan panas mereka, membuat Alexa benar - benar lelah. Hal yang menyebalkan ketika Julian terus memintanya lagi dan lagi. Entah apa yang di pikirkan oleh suaminya itu. Mungkin hampir sebulan mereka tidak bertemu, membuatnya menjadi seperti orang yang sedang kelaparan.


Julian kini sedang berdiri di ambang pintu, menatap Alexa yang tengah berias. Seketika senyum di bibir Julian terukir melihat wajah sang istri yang terlihat cemberut. Kini Julian mendekat, dia langsung memeluk Alexa dari belakang seraya mengecup bahu sang istri. Alexa mendesah pelan. Tadinya dia sedikit terkejut, saat ada yang memeluknya dari belakang. Namun keterkejutannya sirna ketika dia melihat Julian yang memeluknya dari pantulan cermin.


"Jangan cemberut, aku tidak suka melihat wajahmu yang tertekuk," bisik Julian di telinga sang istri.


Alexa berbalik, dia menghadap Julian sembari mencebikkan bibirnya. "Kau menyebalkan!"


Julian tersenyum. Dia menarik dagu Alexa, mencium dan ******* lembut bibirnya. "Maaf, aku begitu merindukanmu."


Alexa mendengus kesal. "Apa kau sudah menghubungi, Kenzo?" tanyanya yang lebih memilih tidak membahas kejadian di kamar mandi. Jika dia kembali membahas, bisa jadi suaminya itu kembali menginginkannya lagi.


"Lihatlah ini," Julian memberikan ponselnya pada Alexa, menunjukkan beberapa gambar penthouse terbaik yang ada di kotanya, yang baru saja di kirimkan oleh Kenzo.


Alexa kemudian mengambil ponsel milik Julian, lalu dia mulai membuka gambar - gambar penthouse yang ada di ponsel milik Julian. Sesaat wajah Alexa tampak begitu serius melihat foto - foto itu. Hingga kemudian, senyum di bibir Alexa pun terukir ketika melihat salah satu penthouse yang sesuai di hatinya.

__ADS_1


"Aku mau yang ini, Julian." Alexa menunjuk salah satu gambar penthouse yang di desain dengan warna gold dan coklat muda yang bermotif daun membuat penthouse itu tampak indah dan berkelas.


"Kau suka yang ini?" tanya Julian memastikan.


"Iya, aku menyukainya." Julian langsung memeluk lengan Alexa. "Ayo kita pergi kesana, Julian. Aku sudah ingin melihatnya."


"Ya, kita berangkat sekarang." Julian mengecup bibir Alexa.


"Julian," teriak Alexa kesal. Lagi- lagi dia lengah dan Julian mencari kesempatan untuk itu.


Julian hanya tersenyum, kemudian dia langsung mengambil kunci mobilnya yang terletak di atas meja, lalu merengkuh bahu Alexa meninggalkan kamar mereka menuju ke arah mobil.


***


Penthouse yang di pilih oleh Alexa letaknya tidak terlalu jauh dari mansion yang lama. Ya, hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit. Sebenarnya Julian keberatan jika Alexa memilih untuk penthouse. Dia tidak ingin mertuanya salah paham padanya. Karena untuk ukuran Alexa tinggal di penthouse terlalu kecil. Tapi Alexa terus memaksanya. Itu yang membuat Julian mau tidak mau harus menuruti permintaan istrinya. Padahal dia bisa membelikan mansion yang lebih mewah untuk sang istri, hanya saja Alexa lebih memilih untuk tinggal di penthouse.


Julian mulai melajukkan mobilnya, memasuki gedung Apartemen. Setelah memarkirkan mobilnya, Alexa dan Julian langsung turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam. Terlihat wajah Alexa yang tampak begitu bahagia. Kini Alexa dan Julian langsung masuk kedalam lift, menuju lantai yang paling atas dari gedung Apartemen.


Ting.


Pintu lift terbuka, Julian langsung merengkuh bahu Alexa, membawanya menuju ke penthouse. Saat tiba di depan pintu, Julian langsung menekan password dari penthouse itu. Kemudian melangkah masuk kedalam.


Seketika senyum di bibir Alexa terukir, menatap sekeliling penthouse ini. Sungguh,Alexa begitu menyukai tatanannya yang tampak begitu mewah.


Alexa mengangguk. "Iya, aku sangat Julian. Ini sangat bagus."


"Kalau begitu, kita lihat beberapa ruangan." Julian membawa Alexa mengelilingi ruangan yang ada di penthouse tersebut. Pertama, Julian membawa Alexa keruangan bersantai, setelah itu membawa ke ruangan perpustakaan dan terakhir ruang tamu.


"Apa kau ingin melihat kamar kita?" Julian membawa tangannya mengelus lembut pipi Alexa.


"Ya, Julian. Tentu aku ingin melihat kamar kita." jawab Alexa antusias.


Julian mengecup pipi Alexa, kemudian mereka berjalan menuju ke arah kamar yang berada di ujung sana. Kamar utama yang ukurannya jauh lebih besar dari pada kamar yang lainnya.


Saat Alexa masuk ke dalam kamar, dia kembali tersenyum. Kamar yang bernuansa gold kombinasi cream, membuat kamar ini tampak begitu indah.


"Julian, ini sangat bagus. Aku menyukainya." ucap Alexa.


Julian tersenyum. Dia langsung memeluk tubuh Alexa dan menjawab. "Aku juga ikutan senang, jika kau menyukainya."


"Kapan kita pindah, Julian?" tanya Alexa antusias.


"Besok. Nanti aku akan meminta pelayan untuk mengurus semuanya." Julian lagi - lagi mengecup bibir Alexa. "Apa kau sudah menentukan desain untuk rumah kita nanti?"

__ADS_1


"Sudah, aku sudah menentukannya. Sebelum kita melihat rumah, aku ingin melihat beberapa modelnya terlebih dulu." ujarnya dengan semangat.


"Ya," Julian memeluk pinggang Alexa, dia memberikan kecupan di kening istrinya itu. "Apa kau ingin menambahkan sesuatu di kamar baru kita?"


"Ada! Aku ingin menambahkan sesuatu di kamar ini." Alexa mendongakkan kepalanya dari dalam pelukan Julian. "Aku ingin menambahkan foto pernikahan kita yang berukuran besar berada di dinding. Dan aku ingin, kita memiliki lukisan."


"Lukisan? Kau ingin kita di lukis?" tanya Julian memastikan.


"Iya, sebenarnya aku sudah bisa sedikit melukis.Tapi aku tidak terlalu hebat. Jadi, aku ingin meminta adikku yang bernama Kaylan yang akan melukis kita. Kaylan sangat hebat melukis. Nanti aku akan menghubunginya. Kebetulan dia ada di negara M untuk membantu Kak Samudera di perusahaan."


Julian mengangguk, kemudian mengecup hidung Alexa. "Lakukan apa yang kau inginkan."


"Terima kasih, Julian." Alexa langsung memeluk tubuh sang suami.


"Jadi? Apa sekarang aku sudah memaafkanku." tanya Julian ingin tahu.


"Hanya sedikit. Dan belum sepenuhnya."


Kini Julian menangkup pipi Alexa."Baiklah, aku akan menunggumu dan aku juga akan selalu berusaha agar kau bisa memaafkan aku sepenuhnya." ucap Julian kemudian menjeda ucapannya. " Apa kau ingin mencoba ranjang baru kita?"


"Mencoba ranjang baru?" kening Alexa berkerut, menatap bingung ke arah Julian. "Apa maksudmu, Julian"


"You will know." Julian langsung membopong tubuh Alexa gaya bridal . Sontak, Alexa memekik terkejut saat Julian membopongnya.


"Julian, kenapa kau menggedongku?" Alexa mendengus kesal.


Julian hanya tersenyum penuh arti. Kemudian membaringkan tubuh Alexa ke ranjang. Raut wajah Alexa langsung berubah saat melihat Julian membaringkan tubuhnya ke arah ranjang. Tatapan Alexa menjadi waspada.


"Julian, kenapa kau membaringkanku di ranjang?" protes Alexa mengerutkan bibirnya.


"Aku menginginkannya lagi, sayang." bisik Julian di telinga Alexa sambil menggigit kecil.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2