
Alexa tersenyum. "Kalau begitu, ayo makan dulu."
"Suapi aku Novi. Aku tidak bisa. Kau lihat sendiri bukan tangan dan kakiku terikat begini..." ucap Alexa sambil menunjukkan kaki dan tangan yang masih terikat.
"Iya, biar saya yang menyuapi Nyonya." bujuknya dengan baik.
Novi menyuapi Alexa. Hanya tiga suapan saja Alexa sudah menolaknya lagi.
Alexa menatap seisi kamarnya itu dan ia menatap Novi yang kini menatapnya.
"Novi, apa kamu tahu tentang ruangan itu? Kenapa Julian sangat marah sekali hingga membuatku mendapatkan hukuman seperti ini." tanya Alexa ingin tahu.
"Saya juga kurang tahu, Nyonya. Selama ini saya hanya tahu, kalau hanya Tuan Kenzo yang di perbolehkan masuk kedalam ruangan itu untuk membersihkannya."
"Maksudmu, Kenzo, Sekertaris pribadi suamiku itu?"
"Benar Nyonya muda."
...***...
Julian berjalan ke arah kamar Alexa yang sedang di kurung. Kemudian Julian menutup pintu kamar itu dan ia menatap Alexa yang sedang tertidur pulas.
"Bangun Alexa." Julian menepuk pelan pipi gadis itu.
Bagaimanapun juga Julian tidak akan melakukan hal yang sangat - sangat kasar pada Alexa.
"Euggghh... MaMa." lirih Alexa.
"Alexa. Bangunlah jangan bercanda...." ucap Julian terkejut melihat Alexa yang masih memejamkan matanya.
Dengan panik, Julian kembali menepuk pelan pipi Alexa, tapi wanita itu tetap tidak sadar. Kemudian tangan Julian menyentuh kening Alexa ternyata gadis itu mengalami demam tinggi. Hingga kemudian Julian membuka borgol yang ada di kaki Alexa dan melepaskan dasi yang sudah mengikat tangan Alexa, dan Julian pun langsung membopong Alexa untuk pindah ke kamar utama mereka. Saat tiba di kamar, Julian pun meminta pelayan untuk memanggilkan dokter.
"Alexa, sadarlah..." Julian kembali berusaha membangunkan Alexa tapi wanita itu masih memejamkan matanya serta wajahnya yang semakin pucat
__ADS_1
Tidak lama kemudian Novi masuk bersama dengan sang dokter yang baru saja tiba. Julian langsung menyingkir saat dokter mulai memeriksa kondisi Alexa.
"Bagaimana keadaan istriku?" Julian bertanya dengan nada panik dan cemas saat dokter sudah memeriksa keadaan Alexa.
"Tuan Julian, Nyonya Alexa tidak apa-apa. Demamnya juga sudah mulai turun. Tapi, Nyonya Alexa juga memiliki luka di pergelangan kakinya. Saya harap, beberapa hari kedepan, Nyonya Alexa lebih banyak beristirahat untuk memulihkan kesehatannya." jawab sang dokter.
"Terima kasih, Dokter."
"Kalau begitu saya permisi." sang dokter menundukkan kepalanya, lalu pamit undur diri dari hadapan Julian.
Julian duduk di tepi ranjang, seraya menatap wajah pucat Alexa.
"Kau begitu keras kepala." ucap Julian dengan suara pelan. Dia hendak menyentuh wajah Alexa, namun dia langsung mengurungkan niatnya. "Jangan pernah berusaha melawanku. Karena sampai kapanpun kau tidak akan pernah menang. Kau dan Vanya sangat berbeda. Meski selama ini aku tidak pernah mencintai Vanya, tapi dia selalu menurutiku. Dia tidak pernah menentang perkataanku," lanjutnya dengan tatapan yang tak lepas menatap Alexa.
Kemudian Julian hendak beranjak dari tempat duduknya, namun tiba-tiba dia merasakan tangannya di tahan oleh sebuah tangan yang lembut. Kini Julian mengalihkan pandangannya, raut wajah datar dan dinginnya menunjukkan keterkejutan di iris mata tajamnya. Ya, dia menatap Alexa yang telah membuka matanya.
"Kau sudah sadar rupanya?" suara Julian terdengar begitu dingin.
"Istirahatlah..." Julian mengabaikan ucapan Alexa, dia kembali beranjak dari tempat duduknya. Namun, lagi dan lagi tangan Alexa menahan tangan Julian. Wanita itu tidak membiarkan Julian pergi dari sana.
"Kau butuh istirahat, Alexa. Berhenti berpikir lebih." tukas Julian mengingatkan dengan tatapan penuh peringatan.
"Kenapa kau membebaskanku? Kenapa kau tidak membiarkan aku terkurung di kamar itu saja? Bukankah kau masih ingin menghukumku?" tanya Alexa dengan tatapan yang begitu lekat pada Julian. "Apa sekarang kau sudah memaafkan aku dan perduli padaku?"
Julian menyingkirkan tangan Alexa yang menyentuh tangannya. "Perduli? Apa wajahku ini untuk menunjukkan kepedulian padamu? Kita menikah masih baru dalam hitungan hari. Aku tidak ingin di salahkan oleh Ayahmu jika sampai kau mati!" Jawabnya dingin. Ya, jujur Julian sendiri tidak tahu kenapa harus membantu Alexa. Harusnya dia membiarkan wanita itu di kurung saja di kamar itu dan tidak perlu membantunya. Tapi kenyataannya dia membantu wanita itu.
Alexa mendelik. "Kau pikir, aku begitu mudahnya mati hanya karena demam?" serunya tak terima.
"Mungkin, karena apapun bisa terjadi. Aku tidak ingin di salahkan oleh Ayahmu atas kematianmu." balasnya. Tidak ada alasan lain yang paling tepat hanya untuk mengatakan jika dirinya takut di salahkan oleh Ayahnya. Meski itu bukanlah alasan Julian membantu Alexa.
"Kenapa kau itu sangat menyebalkan sekali!" Alexa menggeram menahan amarahnya.
"Lebih baik kau beristirahat. Aku akan meminta pelayan untuk membantumu. Kakimu juga terluka. Jangan banyak bergerak. Selama beberapa minggu kedepan, pelayan akan membantumu. Dan ingat, jangan pernah lagi mendekat ke ruangan yang ada taman belakang itu! Ini peringatan pertama dan terakhirku Alexa! Aku harap kau selalu patuh dengan perintahku. Agar aku tidak menyakitimu lebih kasar lagi!" tukas Julian memberikan peringatan pada Alexa dan mengabaikan amarah Alexa.
__ADS_1
Tak berselang lama kemudian, tatapan Alexa pada teralih pada pelayan yang melangkah menghampirinya.
"Nyonya Alexa," sapa Novi dengan sopan.
"Ada apa kau kesini?" tanya Alexa sambil tersenyum lembut.
"Nyonya, saya di minta oleh Tuan Julian untuk selalu menjaga Nyonya. Hingga kesehatan Nyonya pulih," jawab Novi.
"Aku bisa sendiri. Aku tidak membutuhkan bantuanmu." balas Alexa yang keras kepala.
"Nyonya, saya mohon bantu saya. Jika anda tidak mau, Tuan Julian akan marah besar pada saya, Nyonya." balas Novi, sang pelayan. Dengan raut wajah yang mulai ketakutan.
Alexa berdecak. "Tuanmu itu seperti monster? Kenapa di mudah sekali marah? Sebenarnya apa yang dia makan setiap harinya? Apa dia juga memiliki kepribadian ganda? Sehingga sifat dan sikapnya bisa berubah drastis seperti kemarin. Kau tahu, kemarin aku sangat takut sekali melihatnya marah seperti itu, Novi?"
Novi masih menundukkan kepalanya, di tampak menahan senyuman di wajahnya saat Novi mendengar perkataan Alexa.
Alexa membuang napas kasar, Dia menatap kasihan pada Novi yang masih berdiri di hadapannya itu. "Fine! Kau bisa membantuku, Novi! Sekarang, lebih baik kau itu duduk. Apakah kau itu tidak lelah berdiri seperti itu?" jawabnya dengan nada yang masih kesal. Ya, tentu saja dia tidak tega, melihat pelayan yang mendapatkan murka besar dari pria yang menyebalkan itu.
"Terima kasih, Nyonya muda." jawab Novi sambil menundukkan kepalanya.
...*********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1