
"Apa maksudmu, Alexa! Kita tidak akan pernah bisa berpisah!"
Suara Julian berseru dengan kilat mata yang begitu lekat pada Alexa. Kini Julian melangkah mendekat ke arah Alexa, namun dengan tegas Alexa langsung melangkah mundur. Dia tidak mau jika Julian mendekatinya.
"Kita akan tetap berpisah, aku lelah denganmu, Julian." Alexa berucap tegas dengan bulir air mata yang tidak henti menetes membasahi pipinya.
"Kau mengenalku Alexa. Berkali - kali aku mengatakan padamu aku tidak akan pernah melepasmu.Kau akan tetap selamanya menjadi milikku!" Jawab Julian menekankan dengan nada penuh paksaan. Ya, tidak peduli meski istrinya meminta untuk berpisah sekalipun karena selamanya Alexa akan tetap menjadi miliknya.
"Aku ingin kita tetap berpisah!Kau telah melukaiku Julian! Aku tidak mau bersama dengan pria yang tidak pernah mencintaiku!" Isak Alexa sesegukan.
"Aku minta maaf, sayang." Julian mendekatkan tubuhnya pada Alexa. Dia memeluk erat tubuh sang istri. Namun Alexa yang mendapatkan pelukan dari Julian dengan cepat dia memukul dada Julian. Meluapkan kekesalannya bersama dengan Isak tangisnya keras.
"Lepaskan aku! Jangan menyentuhku!" Alexa berontak. Tapi Julian langsung mengeratkan pelukannya.
"Alexa tenangkan dirimu," Julian berucap tegas. Meminta Alexa agar tidak berontak.
"Lepaskan aku sialan! Lepas!" Bentak Alexa keras bersamaan dengan air matanya yang tak kunjung mereda.
Hati Alexa begitu sakit dan sesak. Setiap kali dia melihat Julian hatinya akan semakin terluka. Meski Julian sudah menjelaskan padanya, tapi hati Alexa tidak bisa menerima itu. Dia tidak ingin bersama dengan pria yang tidak pernah mencintainya.
"Alexa kau sedang hamil! Jika kau berontak seperti ini, kau akan melukai anak kita!" Julian mengatakannya lagi dengan begitu tegas.
Perkataan Julian sukses membuat Alexa diam dan tidak lagi berontak saat Julian memeluknya. Tubuh Alexa terasa begitu lelah. Dia masih terus menangis hingga dia membiarkan kepalanya bersandar di dada bidang Julian.
__ADS_1
"Aku membencimu! Aku membencimu!" Isak Alexa yang mulai melemah.
"I know. Tapi aku mencintaimu." Julian mengeratkannya pelukannya. Dia beruntung Alexa sudah tidak lagi berontak. Kini Julian mengecup puncak kepala Alexa seraya melanjutkan. "Kau boleh menghukumku apapun. Tapi tidak dengan meninggalkanku, aku tidak bisa hidup tanpamu, Alexa. Ini bukan tentang kau hamil. Meskipun kau tidak hamil, aku tetap tidak bisa hidup tanpamu. Apa yang terjadi benar - benar salah paham. Aku minta maaf atas itu, aku akan menebus kesalahanku, sayang."
Alexa menggelengkan kepalanya tegas. Air matanya kembali berlinang membasahi pipinya. Meski dia bersandar di dada Julian hatinya tetap terluka. "Kau tidak pernah mencintaiku. Harusnya jika kau mencintaiku kau tidak akan membiarkan terluka kau tidak akan pernah menyiksaku."
"Alexa, jika aku tidak mencintaimu. Aku tidak akan pernah seperti orang yang tidak waras, ketika dokter mengatakan jantungmu lost. Aku hampir gila mendengar itu. Aku tidak pernah bisa hidup tanpamu, Alexa. Sejak kau masuk di kehidupanku, aku tidak lagi mencintai Berlian. Sekarang, semua sudah berlalu. Aku tidak sebodoh itu terus mengingat wanita yang ada di masa laluku dan meninggalkan wanita yang bersamaku di masa depan." Julian menangkup kedua pipi Alexa, dia menatap iris mata coklat Alexa yang begitu banyak kepedihan di sana. "Hukum aku sesukamu. Kau boleh melakukan apapun. Tapi tidak dengan meninggalkanku. Karena jika sampai kau meninggalkanku aku tidak peduli, berapa nyawa yang harus aku habisi agar kau tetap bersama denganku. Jika denganmu aku harus melawan keluargamu sekalipun, aku tidak akan mempedulikan itu. Bagiku terpenting, kau tetap berada di sisiku."
"Kau adalah pria teregois yang pernah aku kenal! Kau egois! Kau selalu mengancamku! Aku membencimu, Julian!" Alexa kembali memukul Julian. Isak tangisnya semakin keras. "Aku mau berpisah denganmu! Aku tidak peduli lagi apa yang akan kau lakukan! Aku-"
Perkataan Alexa langsung terpotong saat Julian langsung membungkam mulut Alexa dengan bibirnya. Alexa terkejut, saat Julian mencium bibirnya, dengan cepat Alexa langsung kembali memberontak. Dia tidak ingin menyentuhnya. Namun Julian langsung menekan kepala Alexa. Pria itu membenturkan pelan tubuh Alexa kedinding. Dia tahu istrinya itu tengah hamil, meski dia mengunci pergerakan dari Alexa tapi memberi jarak untuk perut Alexa. Dia hanya mengunci tangan Alexa agar tidak lagi berontak.
Perlahan, semua perlawanan Alexa sia - sia, dia membiarkan Julian mencium bibirnya. Dia hanya diam dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Percuma, berontak sekalipun Alexa tetap tidak akan bisa melawan kekuatan dari sang suami.
"Aku mencintaimu, Alexa. Aku bisa gila kalau kau tidak ada di hidupku. Aku mohon, pulanglah. Aku tidak ingin keluargamu ikut campur dalam masalah rumah tangga kita. Kau bebas menghukumku. Tapi kita selesaikan di rumah. Apa kau ingin melihatku kembali berkelahi dengan Kakakmu itu?" Julian berucap dengan lembut saat pagutannya terlepas.
"Pulanglah, sayang. Tujuanku kesini hanya ingin menjemputmu dan tidak ingin berkelahi dengan Kakakmu." Julian menatap Alexa dengan penuh permohonan. Dia berharap jika istrinya tidak lagi melibatkan keluarganya. Bukan tidak ingin melawan, tapi Julian tidak ingin memperkeruh suasana. Bagaimana pun juga dia tetap harus menghargai keluarga dari istrinya.
Hingga tak berselang lama Alexa menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban dia menuruti perkataan Julian. Julian tersenyum. Dia menangkup kedua pipi Alexa, dan menghapus sisa air mata istrinya. Ya, Alexa memilih untuk pulang dan menyelesaikan masalahnya tanpa melibatkan keluarganya. Tangis Alexa pun pecah dalam pelukan Julian. Julian pun membalas pelukan Alexa dengan erat, mengecupi pipi istrinya itu berkali - kali. Sudut mata Julian mengeluarkan air mata.
"Kau jangan membohongiku lagi! Dan kau jangan menyiksaku lagi" Isak Alexa dalam pelukan Julian.
"Aku berjanji tidak akan pernah melakukan hal itu lagi." Julian menangkup kedua pipi Alexa, dia menghapus air mata sang istri
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan kamar Berlian! Apa yang akan kau lakukan?" Alexa bertanya dengan suara yang parau.
"Nanti aku akan membelikanmu rumah yang baru, dan di sana kau yang akan mendesain rumah kita. Masalah kamar itu, aku akan menyerahkannya padamu. Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan. Maafkan aku yang selalu melukaimu." ucap Julian dengan penuh penyesalan.
"Sungguh, kita akan pindah di rumah dengan desain yang aku inginkan?" Alexa balik bertanya.
Julian mengangguk. "Ya, kebetulan aku sudah melihat beberapa lokasi. Dan kau bisa mendesain rumah kita nanti."
Ya, pada akhirnya Julian kalah pada keegoisannya sendiri. Julian tidak bisa kehilangan Alexa. Dia memilih istrinya dan dia berjanji tidak akan pernah melukainya lagi.
Kini Julian menggenggam tangan Alexa erat. Membawanya meninggalkan kamar. Alexa hanya diam dan wajahnya sudah terlihat begitu lemah. Dia membiarkan Julian menggenggam tangannya. Meski hatinya masih terluka, tapi tubuhnya begitu lelah untuk kembali berontak. Sedangkan Julian dia tersenyum, karena Alexa menyetujuinya untuk menyelesaikan masalah rumah tangga mereka di rumah.
"Kau mau bawa kemana adikku!" Seru Samudera dengan tatapan tajam melihat Julian menggenggam tangan Alexa.
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.