
"Aku tidak pernah menginginkan Berlian, Alexa! Aku sudah bilang padamu, kau salah paham! Dan jangan pernah kau berpikir aku akan membiarkanmu mengurus perceraian kita! Aku bersumpah akan membunuh pengacaramu, jika kau sampai berani melakukan itu!" Desis Julian dengan penuh ancaman.
"Coba saja! Aku tidak peduli lagi! Terserah, Julian! Aku lelah! Kau memintaku untuk mengerti, tidak akan ada wanita yang mengerti jika suaminya masih mengenang mantan kekasihnya, terlebih dia sudah meninggal!" Air mata Alexa terus berlinang. Dia memukul kasar dada bidang Julian.Meski sekuat tenaga, Julian tetap masih tidak bergeming. Nyatanya pukulan Alexa bagaikan kapas bagi Julian.
Julian menangkup kedua tangan Alexa dengan satu tangannya, lalu meletakkan tangannya ke atas kepala Alexa. Saat Alexa hendak berteriak. Julian langsung membungkam mulut Alexa dengan bibirnya. Dia ******* bibir istrinya dengan sedikit kasar. Tangis Alexa tumpah saat Julian mencium bibirnya. Dia ingin berontak tapi tubuhnya terasa begitu lelah. Terlebih tangannya kini di pegang erat oleh Julian.
"****, Alexa! Aku hanya mencintaimu! Percayalah padaku, aku memiliki alasan sendiri kenapa tetap menyimpan barang peninggalan milik Berlian."
"Omong kosong! Nyatanya kau masih belum lepas dari bayang-bayang, Berlian! Kau melukaiku, Julian! Kau menyakitiku!" Dengan mata yang memerah. Alexa menatap Julian dengan penuh kecewa. "Lebih baik aku pergi." lanjutnya.
"Jangan mencoba pergi dariku, Alexa."
"Jangan menghalangi langkahku Julian! Biarkan aku pergi!"
"Tidak! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengijinkanmu untuk keluar dari rumah ini!" Ucap Julian, kemudian dia langsung menarik tangan Alexa dan membawa Alexa masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya.
"Julian... Julian! Buka pintunya! Biarkan aku pergi, Julian!"
"Diamlah Alexa! Ini hukuman untukmu!Bukankah kau senang jika aku siksa!"
"Aku benci padamu Julian! Kau bukan manusia!" Teriak Alexa.
"Aku tidak peduli."
Beberapa menit kemudian Julian membuka pintu kamar mandi tanpa permisi.
"Mana kakimu!" Alexa langsung mendelik saat Julian mendekatinya dan membawa rantai yang panjang.
"Tidak mau! Jangan ikat kakiku lagi Julian!Aku mohon padamu, jangan. Hiks... hiks.." Alexa mulai terisak dengan kaki yang ia coba sembunyikan dari Julian.
"Aaaaaaaarrggghhh...!" Pekik Alexa. Saat Julian menarik kedua kakinya dan kini ia ikat kedua kaki Alexa dengan rantai yang sangat panjang.
Alexa menangis menatap Julian, saat ini. "Kau sangat jahat Julian!" Pekik Alexa menatap Julian.
Julian terdiam dan ia hanya menggangguk - anggukkan kepalanya.
"Ya, kau tahu itu." ujar Julian yang membuat Alexa menangis kuat saat ini.
Alexa menggelengkan kepalanya dan kakinya menendang - nendang berharap rantai itu bisa terlepas darinya saat ini.
Julian menatap Alexa dan tersenyum smirk mendekat ke arah Alexa.
__ADS_1
"Sekarang kau sudah berani padaku? Aku tidak akan mau menunggu lagi untuk terus membuatmu ketakutan, sayang." bisik Julian.
Julian langsung menarik dress berwarna kuning yang kini Alexa pakai. Hanya dengan satu tarikan dress kuning yang Alexa kenakan sudah terlepas dari tubuhnya dan kini hanya menyisakan pakaian dalam Alexa saja. Alexa sangat kebingungan dan ia sangat malu walaupun hanya Julian yang tahu seperti apa bentuk tubuh dari seorang Alexa.
"Aku ingin melihatmu menangis pagi ini, menangislah, merintih lah, karena itu terdengar menyenangkan di telingaku." ujar Julian. Kemudian menyalakan air shower dan membasahi tubuh Alexa.
"Apa kau sudah mulai kedinginan, sayang?" tanya Julian terkekeh.
"Aku membencimu!" Alexa mengatakan itu jelas di depan mata Julian.
"Aku tidak akan memberimu ruang untuk membenciku, Alexa." ucap Julian kemudian mengikat kedua tangan Alexa.
"Aku bukan seekor anjing Julian! Kenapa kau mengikatku seperti ini! Lepaskan aku Julian" Teriak Alexa.
"Masih baik aku mengikat di tangan dan kakimu saja, bagaimana kalau aku ikat di lehermu, apa kau mau mencobanya, sayang?"
Alexa langsung menggeleng - gelengkan kepalanya kuat saat ini. Ia menolak dan tidak mau.
"Kalau begitu menurutlah...."
Laki - laki itu kemudian melangkah ke arah jendela dan membuka jendela kamar mandi, hingga udara dingin masuk kedalam sana. Julian kemudian melihat ke arah Alexa yang terlihat sedang kedinginan kali ini.
"Sangat menggemaskan," gumam Julian tersenyum melihat Alexa yang meringkuk duduk kedinginan di bawah guyuran air shower.
"Bagaimana, Alexa?" tanya Julian membungkukkan badannya dan tersenyum menatap mata berair itu.
Alexa mendongak dan ia menatap tajam ke arah Julian.
"Aku akan kabur dari kehidupanmu Dominic! Aku tidak sudi hidup dengan orang yang sepertimu!" Tangis Alexa.
Julian malah tertawa dan berujung mengacak gemas pucuk kepala Alexa saat ini.
"Coba saja. Maka aku akan memotong kedua kakimu! Dan aku menginginkan seorang anak darimu, agar kau semakin tidak bisa lepas dariku."
"Aku tidak mau!" Tolak Alexa tegas.
"Bodoh. Aku tidak peduli dengan tolakanmu. Semakin kau terus menolak, aku semakin ingin membuatmu hamil anakku dan itu cukup menarik bagiku." seru Julian.
Tubuh gemetar kedinginan karena air shower membuat kepala Alexa kian merasa sangat sakit dan lebih sakit dari biasanya. Dan sekujur tubuh Alexa kini terasa membeku saat ini. Alexa mencoba untuk mengulurkan tangannya yang masih terikat dengan rantai untuk memegang rantai yang mengikat kakinya. Dengan kondisi tubuhnya yang hanya di balut dengan pakaian dalam saja. Dia masih duduk meringkuk di bawah guyuran air shower
Di tambah dengan suara hujan di luar membuat Alexa terasa kesepian.
__ADS_1
Pintu kamar mandi yang ada di hadapannya kini terbuka dan nampak Julian yang berjalan ke arahnya.
"Apa kau sudah sangat kedinginan, sayang." tanya Julian sambil mematikan air shower yang sudah membuat Alexa kedinginan.
"Di...dingin." lirih Alexa.
Kemudian Julian langsung melepaskan rantai di tangan dan kaki Alexa. Laki - laki itu menarik lengan Alexa dan membantunya untuk duduk bersandar padanya.
Julian langsung mendekati Alexa, dia menatap gadis itu dengan seksama.
"Be... Berhenti melakukan ini semua, Julian! A..aku akan patuh padamu, tapi aku mohon berhentilah untuk menyiksaku," lirih Alexa.
Julian menggelengkan kepalanya. "Jangan memohon padaku, aku tidak suka mendengarnya." ujar Julian.
Julian menarik lengan Alexa, ia membungkus gadis itu dengan selimut putih tebal miliknya.
"Kau sangat jahat sekali Julian. Aku ini istrimu dan bukannya seekor anjing yang selalu kau ikat." ujar Alexa terisak.
Julian melepaskan selimut yang melilit tubuh istrinya itu, Julian menarik lengan Alexa dan ia memeluknya, ia menutup tubuh kecil itu dengan mantel hangat yang ia pakai saat ini.
Alexa pun dapat merasakan pacuan jantung laki - laki itu saat ini.
Alexa melingkarkan kedua tangannya di pinggang Julian saat ini, ia sangat kedinginan, dan hanya Julian yang benar - benar bisa menghangatkan tubuhnya saat ini.
"Maaf." ucap Julian. Ya, dia tahu dia telah melukai Alexa. "Tetaplah di sini Alexa. Dan jangan pernah kau pergi dariku." Julian menarik tubuh Alexa masuk kedalam dekapannya. Tangis Alexa pecah dalam pelukan Julian. Hatinya begitu sakit dan terluka dengan apa yang sudah dilakukan suaminya itu.
"Aku membencimu!" Alexa berusaha untuk berontak. Namun Julian semakin mengerti pelukannya.
"I know!" Julian mengecup puncak kepala Alexa. "Tapi aku mencintaimu. Dan aku mohon Alexa, jangan membuatku semakin marah dan berakhir menyakitimu lagi seperti ini!"
Alexa sudah tidak lagi berontak. Dia hanya terus menangis dalam dekapan Julian. Julian memejamkan matanya sesaat. Karena dia tidak bisa mengontrol emosinya dan kini berakhir menyakiti Alexa lebih dalam lagi.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.