
Satu Minggu kemudian...
Julian menatap Alexa dari balik kaca, wajah pucat sang istri terlihat begitu jelas. Tidak hanya itu, hal yang membuat Julian terluka adalah alat bantu pernapasan sang istri yang melekat di tubuh istrinya itu. Sudah satu minggu hidup Julian begitu kacau. Dokter mengatakan tidak bisa memastikan kapan Alexa bisa sadar. Namun meski demikian, Dokter mengatakan kandungan Alexa jauh lebih kuat. Di saat Alexa berjuang hidup, kandungan Alexa masih tetap bisa bertahan hidup. Jika mengingat itu semua, Julian tidak hentinya bersyukur. Setidaknya meski Alexa belum sadar, dia masih bisa mendengar detak jantung Istrinya.
"Kau di sini rupanya," Devan baru saja menjenguk Alexa, dia menatap Julian yang sejak tadi berdiri melihat Alexa dari balik kaca.
Julian melirik Devan sekilas kemudian dia kembali mengalihkan pandangannya. Raut wajah dingin dan tampak kacau begitu terlihat di wajah Julian. Pria arrogant yang terkenal angkuh itu terlihat lemah dan tidak berdaya saat sesuatu terjadi pada wanitanya.
"Kau tidak ingin masuk kedalam?" tanya Devan memulai percakapan.
"Aku akan menemui Alexa nanti," jawab Julian dingin.
Devan menganggukkan kepalanya. Dia mengerti karena di dalam ruang rawat Alexa ada Adel dan juga Vanya. Sesaat Devan melihat sahabatnya itu tampak begitu kacau. Dia menepuk bahu Julian seraya berkata. "Aku tahu apa yang kau alami ini sulit. Tapi aku yakin istrimu bukanlah wanita yang lemah. Apa yang sudah terjadi kau tidak bisa terus menyesal, paling tidak kau bisa melakukan cara untuk menebus semua kesalahanmu."
Julian membuang napas kasar. "Ya, aku akan menebus semuanya kesalahanku pada Alexa saat Alexa sudah sadar."
Devan kembali menganggukkan kepalanya. "Bersabarlah, dan jangan pernah menyerah meski nantinya proses untuk mendapatkan maaf dari Alexa pastilah sangat sulit."
"Aku tahu," jawab Julian dingin dengan raut wajah yang datar.
"Julian, sebenarnya, dulu saat aku melihat kau bersama dengan Vanya, aku merasa kau tidak begitu cocok dengannya. Vanya terlalu lemah lembut. Dia akan terluka jika memiliki suami sepertimu. Meski aku tahu Alexa juga terluka, tapi setidaknya aku melihat sosok Alexa yang jauh lebih tangguh dari Kakak perempuannya." Devan berkata dengan apa yang dia pikirkan.
"Aku hanya menganggap Vanya layaknya sebagai seorang adik. Sejak awal aku dan dia tidak saling mencintai."
"Jadi? Sekarang kau mengakui mencinta Alexa?" Devan tersenyum misterius mendengar perkataan Julian.
"Itu bukan urusanmu,"
__ADS_1
"Bukan urusanku?" ucap Devan yang menyunggingkan senyuman yang mengejek ke arah Julian. "Kau terlalu menutup hatimu Julian. Kau pikir aku mengenalmu baru satu atau dua tahun? Come on, aku mengenalmu sudah puluhan tahun. Kita tumbuh besar bersama. Aku sangat mengenal dirimu ketika kau mencintai seorang wanita. Kau pikir selama ini aku tidak memperhatikan caramu menatap Alexa?"
Julian membuang napas kasar, "Kau tidak tahu apa-apa. Banyak hal yang tidak kau mengerti, Devan."
Devan mengangkat bahunya tak acuh. "Julian Dominic! Jangan katakan kau masih memikirkan tentang Berlian, setelah apa yang sudah terjadi pada Alexa." Devan mendengus tak suka. "Kau memikirkan wanita yang sudah tidak ada lagi. Kalau kau masih tidak sanggup kau menyusul saja! Menyusahkan sekali! Jika aku menjadi Alexa, sudah dari dulu aku pasti akan meracunimu, agar kau bisa menyusul wanita itu!"
"Aku tidak pernah memikirkannya!" Jawab Julian tegas. "Saat itu aku hanya masih bersalah padanya."
"Terserah aku pusing denganmu, Julian. Berbicara denganmu membuatku benar-benar sakit kepala! Ya sudah, aku harus kembali ke kantor lagi." Balas Devan yang semakin kesal berbicara dengan Julian. Selama ini Julian masih hidup dalam bayang - bayang Berlian, wanita yang sudah tidak lagi ada, sungguh Devan tidak mengerti dengan apa yang di pikirkan oleh Julian.
Julian mengangguk. Kemudian Devan berjalan meninggalkan Julian. Sedangkan Julian masih tidak bergeming dari tempatnya, hingga saat dia ingin melangkah pergi, tiba - tiba langkahnya terhenti saat ruang rawat Alexa terbuka.
"Julian..." Adel dan Vanya sama - sana menyapa Julian dengan senyum di wajah Julian.
Wajah dingin Julian hanya menatap Vanya dan Adel tanpa ekspresi.
"Julian, kami sudah selesai menjenguk Alexa. Sekarang kami ingin ke kantin dulu. Apa kau ingin menjaga Alexa? Jika tidak, aku akan meminta Kak Samudera untuk bergantian menjaga Alexa," ucap Vanya seraya menatap lekat Julian.
"Jaga baik-baik sepupuku, Julian." sambung Adel dengan mata yang menatap Julian dengan penuh peringatan.
Julian hanya mengangguk singkat. Kemudian Vanya menarik tangan Adel meninggalkan tempat itu. Tepat di saat Vanya dan Adel sudah pergi, Julian melangkah masuk kedalam ruang rawat Alexa.
...***...
Julian duduk di tepi ranjang, dia membawa tangannya mengusap lembut pipi Alexa. Sudah satu minggu ini Julian bagaikan mayat hidup. Semua pekerjaannya terbengkalai. Dia tidak lagi memikirkan apapun selain Alexa. Setiap malam, Julian mengajak Alexa berbicara, dia tidak pernah lelah untuk mengucapkan kata maaf pada sang istri. Dia tahu, untuk mendapatkan maaf dari istrinya tidaklah mudah. Namun, meski demikian Julian tidak akan pernah menyerah sedikitpun.
"Sayang..." Julian mengecup lembut kening Alexa. "Aku merindukanmu, cepatlah pulih. Sudah cukup satu minggu ini kau menyiksaku. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini." ucapnya lirih dengan raut wajah yang tampak bersalah.
__ADS_1
"Untuk apa kau ke sini?" suara bariton begitu tegas memasuki ruang rawat Alexa. Julian langsung beranjak dari tempat duduknya, dia mengalihkan pandangannya saat mendengar suara yang memasuki ruang rawat itu. Seketika Julian terdiam tatapannya menatap lekat mertuanya yang datang.
"Aku di sini karena menemui istriku." Julian menjawab dingin dan raut wajah datar.
"Aku sudah mengatakan padamu, jangan lagi temui putriku!" Raymond berseru dengan nada yang cukup tinggi. Kilat matanya kian menajam. Rahangnya mengetat. Kemarahan begitu terlihat jelas di matanya.
"Raymond, jangan seperti ini." Arabella mengelus lengan Raymond, menenangkan sang suami agar mengendalikan amarah yang ada di dalam dirinya.
"Diam Arabella! Kau jangan membelanya!" Tukas Raymond dingin dengan penuh peringatan.
"Aku bukan membelanya, sayang. Tapi ini ruang rawat putri kita. Setidaknya kau harus bisa mengendalikan amarahmu." Arabella menepuk pelan dada bidang sang suami. Dia tidak ingin Raymond harus meluapkan amarahnya di ruang rawat Alexa. Terlebih keadaan Alexa masih belum pulih.
Raymond membuang napas kasar. Dia berusaha meredakan amarah dalam dirinya. Hingga kemudian dia berucap tegas, "Pergilah, aku tidak ingin melihatmu di sini."
"Aku masih suami Alexa. Jadi aku berhak di sini untuk menjaga istriku." Julian menjawab dingin dengan wajah datarnya. Ya, meski di minta untuk pergi sekalipun, dia tidak akan pernah meninggalkan Alexa. Tidak peduli Ayah mertuanya yang memintanya sekalipun. Dia akan tetap berada di sini menjaga anak dan istrinya.
"Kau-"
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.