Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Sebuah Kenyataan


__ADS_3

Perlahan Alexa mulai membuka matanya dia sangat malas mendengar ocehan dari Julian yang sedari tadi seolah - olah mengkhawatirkan dirinya.


"Kau sudah sadar?" Ujar Julian dengan senyuman samar di wajahnya saat melihat Alexa.


Namun Alexa hanya diam dia tidak menjawab pertanyaan dari Julian.


"Alexa....." Julian memanggilnya dengan suara yang pelan.


"Aku ingin istirahat." Hanya itu jawaban dari Alexa. Dia memilih untuk membuang wajahnya, tidak menatap Julian.


Julian mendekat. Dia mengecup kening Alexa seraya berkata, "Aku akan segera menemuimu lagi. Sekarang, kau istirahatlah.."


Julian mengelus lembut pipi Alexa. Dia tidak mempedulikan Alexa yang membuang wajahnya tidak mau menatap dirinya. Kini Julian berjalan meninggalkan ruang rawat Alexa. Ya, dia tidak ingin memaksa. Julian membiarkan Alexa untuk beristirahat.


Bulir air mata jatuh saat melihat Julian sudah pergi. Mata Alexa memanas. Ingatannya kembali berputar mengingat kejadian dimana dirinya di perlakukan kasar oleh Julian.


...***...


"Kau di sini rupanya" ucap Devan yang baru datang ke rumah sakit dan melihat Julian yang sejak tadi duduk di depan ruang rawat Alexa.


"Mau apa kau kesini?!" Sentak Julian pada Devan yang berjalan mendekatinya.


"Apa yang sudah kau lakukan sehingga Alexa mencoba bunuh diri?" tanya Devan yang memulai percakapan.


Julian melirik Devan sekilas, dan tidak menjawab pertanyaan dari Devan. Kemudian dia mengalihkan pandangannya. Raut wajah dingin dan tampak kacau begitu terlihat di wajah Julian. Pria yang terkenal angkuh, nyatanya bongkahan es yang ada di dalam dirinya telah mencair, pria akan tetap terlihat lemah dan tidak berdaya saat sesuatu terjadi pada wanitanya.


"Kau tidak ingin masuk kedalam?" tanya Devan lagi.


"Aku akan menemui Alexa nanti," jawab Julian dingin.

__ADS_1


"Aku tahu, apa yang kau alami ini sulit. Tapi aku yakin istrimu bukan wanita yang lemah. Apa yang sudah terjadi, kau tidak bisa terus menyesal. Paling tidak kau bisa melakukan cara untuk menebus semua kesalahanmu." ucap Devan, dia tidak akan bertanya lebih lanjut tentang alasan Alexa ingin bunuh diri.


Julian membuang napas kasar, "Ya aku akan menebus semua kesalahanku,"


Devan kembali menganggukkan kepalanya "Bersabarlah, jangan menyerah meski nantinya penolakan yang akan kau dapatkan."


"I know," jawab Julian dingin dengan raut wajah yang datar.


"Ya sudah, aku akan menjenguk Alexa." ujar Devan. Dan Julian mengangguk. "Aku titip Alexa padamu, ada hal yang harus aku urus sebentar..."


"Pergilah, aku akan menjaga Alexa."


...***...


"Kenapa aku masih tetap hidup?" batin Alexa dengan air mata yang tidak henti membasahi pipinya. Mengingat semua kejadian yang menimpanya, membuat Alexa menyesali bahwa Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk tetap hidup.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Devan masuk kedalam ruang rawat Alexa dan mendekat ke arahnya lalu duduk di tepi ranjang menatap dalam iris mata cokelat Alexa.


"Apa yang sedang kau pikirkan, Alexa?" Devan kembali bertanya.


"Tidak ada, Kak. Aku tidak memikirkan apapun." Alexa terpaksa berbohong. Dia tidak ingin membahas masalah rumah tangganya pada orang lain.


"Alexa, apa Julian sudah menceritakan tentang Berlian padamu?" tanya Devan tiba-tiba.


"Kau juga mengenalnya?" raut wajah Alexa berubah menjadi terkejut. "Siapa wanita itu? Apa benar dia kekasih Julian?"


"Apa kau yakin ingin mendengarnya Alexa?" tanya Devan memastikan. Tersirat tatapannya mengkhawatirkan keadaan Alexa.


"Aku sangat yakin Kak Devan. Aku mohon, ceritakan padaku. Aku ingin sekali tahu siapa wanita itu." ujar Alexa dengan tatapan penuh permohonan agar Devan menceritakan kepadanya.

__ADS_1


"Ya, kau benar. Dia memang kekasih Julian. Mereka sudah menjalin hubungan selama 4 tahun. Tapi sekarang dia sudah tidak ada?" jawab Devan dengan suara yang tenang.


"Tidak ada?" kening Alexa berkerut, menatap Devan bingung. "Apa maksudmu dia sudah tidak ada?"


"Berliana kecelakaan 2 tahun yang lalu tepat di saat Julian dan Vanya bertunangan. Akibat kecelakaan itu Berlian tidak bisa tertolong. Dia meninggal di tempat kejadian," jawab Devan sontak membuat Alexa terkejut.


"M- Meninggal? Dia meninggal saat Julian dan Kak Vanya bertunangan? Maksudmu Julian telah berselingkuh dari Kak Vanya?" seketika wajah Alexa berubah. Terlihat wajahnya yang tampak begitu terkejut. Dia benaknya muncul ribuan pertanyaan tentang sosok yang bernama Berlian. Berkali - kali Alexa menggelengkan kepalanya, meyakinkan apa yang dia dengar ini salah. Tapi tidak, dia tidak salah. Semuanya dia dengar begitu jelas.


"Julian tidak berselingkuh," Devan menjeda, dia menghembuskan nafas kasar dan melanjutkan perkataannya, "Julian lebih dulu menjalin hubungannya dengan Berlian. Tapi keluarga Julian tidak menyukai Berlian. Dan Julian terpaksa menerima perjodohan yang di atur oleh kedua orang tua kalian, karena memang sejak awal, Julian sudah di jodohkan dengan Vanya. Pertunangan Julian dengan Vanya terjadi karena kedua orang tuanya yang memaksa. Satu hari sebelum pertunangan, Julian mengatakan padaku dia berjanji pada Berlian perjodohannya hanya pura - pura. Tapi aku tahu, tidak mudah menjadi Berlian. Dia tidak mungkin menerima begitu saja kekasihnya harus menikah dengan wanita lain. Terkahir keterangan dari polisi yang aku dengar, jika Berlian kecelakaan karena dia mengendarai mobil melebihi kecepatan normal."


"Setelah Berlian pergi. Julian lebih tertutup. Dia hanya menghabiskan waktunya untuk bekerja, setiap kali ada undangan makan malam, dia hanya berpura-pura di hadapan media menjalin hubungan baik dengan Vanya. Tapi kenyataannya tidak. Dia tidak pernah mencintai Vanya. Aku pernah meminta Julian untuk belajar mencintai Vanya dan dia selalu mengatakan tidak akan pernah melupakan Berlian. Jujur, hingga detik ini alasan Vanya melarikan diri di hari pernikahannya dengan Julian, aku tidak pernah tahu. Tapi aku yakin, Vanya pasti memiliki alasan hingga membuatnya melarikan diri dari pernikahannya."


Alexa terdiam kala mendengar penuturan dari Devan. Seketika matanya mulai memanas. Entah kenapa air matanya hampir menetes. Namun dengan cepat Alexa menahan air matanya. Meski sebenarnya Alexa merasakan sebuah pisau yang tertancap di hatinya saat mendengar itu. Perih, sakit, dan menyakitkan.


"Jika Julian tidak menyukai perjodohan ini. Kenapa dia tidak menolak saat aku menggantikan Kak Vanya? Kenapa saat Kak Vanya pergi dia tidak melawan orang tuanya?" Alexa bertanya dengan raut wajah yang begitu serius. Suaranya begitu parau.


"Julian tidak bisa melakukan itu. Dia bisa saja melawan, tapi dia memikirkan perasaan ibunya. Itu kenapa sekarang, dia tidak memiliki hubungan yang baik dengan Ayahnya. Aku sendiri sangat terkejut saat kau menggantikan Kakak perempuanmu. Tapi mungkin kalian di takdirkan untuk bersama. Selain itu, aku juga melihat Julian yang mengagumimu. Sudah lama aku tidak pernah melihat Julian menatap wanita dengan cara yang berbeda. Aku bahkan sangat yakin, bahwa Julian sebenarnya sudah mencintaimu. Tapi karena rasa bersalahnya pada Berlian yang membuatnya untuk mengabaikan perasaannya sendiri," jawab Devan dengan tatapan yang begitu lekat pada Alexa.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2