
"Julian, apa hari ini kau akan pulang malam lagi?" Alexa bertanya sambil membantu Julian memasangkan dasinya.
Ya, pagi ini Alexa bangun lebih awal untuk menyiapkan kebutuhan sang suami. Padahal tadi malam dia tidur terlambat. Tapi sepertinya, alarm dirinya sendiri sudah membangunkannya. Beberapa hari ini, Alexa memang kadang bangun kesiangan, Namun, dia juga sering bangun lebih awal. Dan hal yang membuat Alexa sangat kesal adalah suaminya itu tidak pernah ingin membangunkannya jika dirinya masih tertidur dengan nyenyak.
"Pagi ini aku tidak ada meeting. Mungkin aku akan pulang kerumah lebih awal." ucap Julian, kemudian memberikan kecupan pada bibir istrinya. "Lalu, apa hari ini kau akan pergi keluar, mungkin pergi salon atau ke mall?" tanyanya.
"Tidak. Sepertinya aku tidak akan pergi ke luar. Aku hanya ingin istirahat di rumah saja." jawab Alexa dengan tatapan lembutnya.
"Bagus." Julian menarik dagu Alexa, mencium bibir sang istri dengan lembut. "Aku berangkat sekarang. Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu."
Alexa menganggukkan kepalanya dan berkata. "Iya, sayang."
Julian tersenyum, dia sedikit menundukkan tubuhnya dan mensejajarkan dengan perut Alexa, lalu memberikan kecupan di perut istrinya. "Daddy berangkat dulu ya, sayang. Kau jangan menyusahkan Mommy mu ya.."
Alexa mengulum senyumannya "Tenang saja, Daddy. Dia tidak akan pernah menyusahkan Mommynya." ucapnya menirukan suara anak kecil.
Julian bangkit, dia pun mencium dengan gemas hidung Alexa. Kemudian dia berjalan meninggalkan kamarnya. Sebenarnya, Alexa ingin mengantar Julian. Namun, Julian melarangnya. Suaminya itu meminta dirinya untuk tetap berada di dalam kamar.
Suara dering ponsel terdengar. Dan Alexa langsung mengalihkan pandangannya pada ponsel yang berdering itu. Kini, Alexa mengambil ponselnya yang berada di atas meja. Dan melihat ke layar ponselnya tertera nama Vanya, Kakak perempuannya. Seketika senyum di bibir Alexa terukir ketika nama Kakak perempuannya muncul di layar ponselnya. Dan tanpa menunggu lama lagi, Alexa langsung menekan tombol hijau untuk menerima panggilan, sebelum kemudian meletakkan di telinganya.
"Halo Kak Vanya?" ucap Alexa saat panggilannya terhubung.
"Alexa, kau sedang ada di mana? Apakah aku sudah menganggu mu?" tanya Vanya dari sebrang telepon.
"Aku di rumah, Kak. Tentu saja Kakak Vanya tidak mengganggu ku. Memangnya ada apa, Kak?" tanya balik Alexa dari sebrang telepon.
"Alexa, aku hanya ingin memberitahumu jika dokumen yang aku butuhkan untuk pindah ke negara L sudah selesai. Apa kau dan Adel bisa bertemu denganku sebelum aku berangkat ke negara L?" ucap Vanya. Ingin bertemu dengan adik dan sepupunya dari sebrang telepon.
Mendengar pertanyaan dari Vanya, Alexa langsung terdiam. Ada raut wajah kecewa saat mendengar hal itu. Jujur saja, Alexa tidak ingin berjauhan dengan Kakak perempuannya. Namun dia bisa apa? Alexa pun tidak mungkin menahan apa yang sudah di inginkan oleh saudara perempuannya itu. Dan hal yang bisa Alexa lakukan saat ini adalah menghargai serta mendukung apa yang sudah menjadi keinginan dari Kakak perempuannya itu.
"Alexa? Kenapa kau hanya diam saja?" tanya Vanya dari sebrang telepon saat adiknya itu hanya diam.
"Hmm. Maaf, Kak."
__ADS_1
"Apa ada yang sedang kau pikirkan?" tanyanya lagi dari sebrang telepon.
"Tidak. Tidak ada, Kak. Tadi Kak Vanya bilang ingin bertemu denganku dan juga Adel, kan?"
"Iya, apa kau dan Adel bisa?" tanyanya memastikan.
"Tentu saja sangat bisa, Kak. Aku pun nanti akan mengatakan pada Adel, kalau Kak Vanya ingin bertemu."
"Baiklah kalau begitu. Nanti aku akan mengirimkan pesan dimana kita akan bertemu, ya?"
"Siap, Kak."
"Ya sudah, aku tutup dulu, ya. Karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. See you..."
"See you.."
Panggil tertutup, dan Alexa meletakkan ponselnya di atas meja.Alexa pun menghela nafas panjang. Ya, dia akan kehilangan Kakaknya. Padahal, baru beberapa hari lalu juga, Alexa baru saja mendapatkan kabar dari Kakaknya, Kak Samudera. Kakak pertanyaan yang sedang melakukan perjalanan bisnis. Sedangkan kedua orang tuanya sudah kembali ke negara R, dan yang terakhir adik bungsunya itu sudah kembali ke negara Y. Terkadang, Alexa merindukan masa kecilnya. Dimana seluruh keluarganya berkumpul. Tapi dia tidak boleh egois. Alexa juga tidak ingin menghalangi Kakak dan adiknya.Lagi pula, jarak bukanlah hal yang besar. Dan tentu saja dirinya bisa berkumpul dengan Kakak dan adiknya lagi jika sedang hari libur.
"Alexa..." Teriak suara seorang perempuan begitu kencang. Hingga membuat Alexa yang sedang berada di kamar terkejut. Dan dengan cepat Alexa pun keluar dari kamar langsung untuk menghampiri sumber suara itu.
"Alexa! Apa kau itu sudah kehilangan akal sehatmu, Hah?! Kenapa kau mengijinkan Devan membawaku? Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk padaku?" cerca Adel menggunakan bahasa dari negara A yang membuat Alexa mengulum senyumannya. Ya, Adel dan Alexa memang sering berinteraksi menggunakan bahasa dari negara A. Terutama Adel, saat sedang marah dia lebih nyaman menggunakan bahasa dari negara A.
"Sepupuku, sayang. Tahukah kamu, kalau kau itu begitu beruntung." ucap Alexa memberitahu.
"Memangnya apa yang membuatku begitu beruntung?" tanyanya ingin tahu.
"Karena tadi, aku baru aja selesai membicarkanmu dengan Kak Vanya." Alexa pun menjawabnya dalam bahasa negara A.
Adel berdecak. "Tapi sayangannya aku tidak ingin bercanda! Dan jangan mencoba mengalihkan pembicaraanku! Sekarang aku tanya sekali lagi, kenapa kau membiarkanku bersama dengan Devan? Bagaimana kalau dia menculikku dan berniat jahat padaku? Atau mungkin saja kan dia bisa menjualku ke lelaki hidung belang?"
Yah, mendengar ocehan dari sepupunya itu, Alexa hanya bisa menghembuskan nafas kasar sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Makannya, kau itu jangan terlalu banyak menonton drama atau film. Lihatlah sekarang, yang ada di pikiranmu itu isinya halusinasi yang tidak jelas.
Saat mendengar ucapan dari Alexa. Adel pun mendengus kesal. "Kau ini, ternyata sepupu yang sangat menyebalkan sekali."
__ADS_1
"Adel?" Alexa menjeda ucapannya, kemudian menatap serius ke arah Adel.
"Ada apa?"
"Menurutku, kau jangan buru - buru untuk menolak Kak Devan. Tidak ada salahnya bukan, jika kalian berdua mengenal lebih dekat agar bisa memahami satu sama lainnya." ucapnya
"Dengar Alexa. Aku sedang tidak ingin membahas pria itu?!" Seru Adel dengan ketus.
"Tapi, Kak Devan adalah pria yang baik? Dia juga tampan dan hebat. Kenapa kau selalu menolaknya?"
"Sudahlah Alexa, aku sungguh tidak ingin membahas pria yang tidak waras itu. Kau jangan membuatku semakin kesal." ucap Adel dengan nada yang semakin kesal.
Alexa mengangkat bahunya tak acuh. "Ya sudah, kalau begitu bagaimana kalau kita sarapan. Karena di pagi hari sepertinya aku tidak ingin lagi mendengar suaramu yang sedang marah-marah."
"Apa hubungannya dengan aku yang marah - marah?" tanya Adel tidak mengerti.
"Karena di pagi hari ini kau sudah membuatku sakit kepala! Harusnya kau itu berterima kasih padaku, karena tadi malam aku sudah mau menyusulmu di Club malam! Apa kau tahu, kau itu sama saja sudah mengerjai wanita yang sedang hamil."
"CK! Kau ini sangat perhitungan sekali. Apa kau sudah lupa? Aku juga sering membantumu?" ucap Adel dengan nada kesal mendengar perkataan dari sepupunya itu.
Alexa kemudian mengulum senyumannya. Dan dia pun mengajak sepupunya untuk sarapan bersamanya dan berjalan menuju ke arah ruang makan.
*****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.