
"Lebih baik kau cukup jalani dulu,Adel!Jangan langsung menolak. Karena dulu Papah juga pernah berada di posisi Devan. Kamu tahu? Untuk mendapatkan ibumu tidaklah mudah. Itulah kenapa Papah sampai sekarang masih sangat mencintai Ibumu!" Ujar Demian dengan tegas.
Mendengar ucapan dari suaminya, Liora mengukir senyumannya. Dia membawa tangannya mengelus lengan Demian. Ya, setelah menikah dengan Demian, Liora memang memiliki kehidupan yang bahagia.
Begitu juga dengan Alexa saat mendengar ucapan dari Pamannya dia langsung memeluk erat lengan Julian. Tatapan Alexa begitu kagum pada Pamannya. Bagi Alexa, Pamannya itu mirip dengan Ayahnya, karena mereka begitu mencintai istri mereka. Dan jangan di tanyakan lagi sudah berapa kali mereka pergi berbulan madu. Alexa sendiripun tidak dapat mengingatnya. Karena mereka sudah sering sekali pergi berlibur sambil menikmati masa tuanya dengan penuh kebahagiaan.
"Jangan pernah samakan si pria aneh itu dengan dirimu, Papah! Karena dia tidak sehebat Papah!" Ucap Adel dengan nada suara yang ketus.
"Kalau begitu, cukup kau jalani saja. Dan jangan membantah perintah dari Papah lagi. Jika kau masih tidak suka, mungkin saja kalian memang tidak berjodoh. Papah hanya berpesan padamu, agar kau jangan pernah menolak seseorang yang memiliki hati yang bersungguh - sungguh padamu. Karena Papah tidak memerlukan seorang pria yang sebanding dengan keluarga kita. Hal yang paling Papah utamakan adalah hatinya. Lagi pula, keluarga Anggara juga cukup hebat." ucap Demian dengan suara yang pelan, tapi tersirat dengan ketegasan.
Adel menghembuskan nafas kasar. "Lebih baik aku ke kamar! Tubuhku masih sangat lelah!" Jawabnya seraya bangkit berdiri dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan.
Demian berdecak pelan melihat sikap anaknya dan berkata. "Anak itu benar-benar membuatku merasa pusing."
"Sayang, sabarlah..." Ucap Liora sambil menepuk dengan pelan dada bidang suaminya untuk menenangkan suaminya itu.
"Paman.... Bibi.... sepertinya aku dan Julian harus pamit. Alexa janji, nanti Alexa akan sering main ke rumah Bibi dan Paman." ujar Alexa dengan senyuman di wajahnya.
Demian tersenyum ke arah Julian dan berkata, "Julian, terima kasih atas undanganmu. Dan satu hal lagi aku sudah membaca dokumen kerja samamu dengan perusahaanku. Nanti, aku akan langsung menandatanganinya."
Julian pun mengangguk singkat. "Ya, aku juga sangat senang bisa bekerja sama dengan perusahaanmu, Tuan Demian."
"Alexa sayang, sering - seringlah main kerumah Bibi. Bibi pasti akan selalu merindukanmu." ujar Liora sambil memeluk erat Alexa.
"Iya Bibi. Alexa, pasti akan selalu main kesini." jawab Alexa dengan senyuman hangatnya.
"Julian, jaga keponakan cantikku dengan baik." ujar Demian mengingatkan Julian.
__ADS_1
"Tentu, karena aku akan selalu menjaganya seumur hidupku." jawab Julian.
Setelah berpamitan pada Paman dan Bibinya, Alexa dan Julian pun langsung meninggalkan ruang makan dan berjalan menuju ke arah tempat parkir mobilnya.
***
"Demian, sebenarnya apa yang membuatmu memberikan tantangan pada Devan?" tanya Liora saat Alexa dan Julian sudah pergi.
"Karena aku seperti melihat diriku di dalam diri Devan. Dia mengejar cinta putri kita, dan itu sama saat aku mengejar cintamu dulu, sayang." jawab Demian dengan senyuman di wajahnya.
"Tapi kau kan belum tahu dengan baik tentang sifatnya?" tanya Liora.
"Untuk hal itu, kau tidak perlu mencemaskannya, sayang. Karena aku juga akan mencari tahu tentang Devan Anggara."
Liora menghela nafas dalam. "Aku hanya takut, jika Putri kita itu masih tidak menyukai Devan Anggara. Dan itu sama saja membuat Devan membuang waktunya untuk hal yang tidak pasti."
Demian tersenyum. Dan membawa tangannya ke tangan Liora dan berkata, "Liora, tentunya kau masih ingat bukan? Berapa tahun aku harus menunggumu? Apa aku pernah mengeluh saat kau masih belum bisa membalas cintaku? Yang aku tahu, aku hanya akan selalu menunggumu sampai akhirnya kau menjadi milikku."
"Jangan berterima kasih, karena bagiku, menunggumu adalah hal yang paling terindah dan membahagiakan dalam hidupku. Dan pada akhirnya aku memilikimu di hidupku." jawab Demian dengan tatapan yang teduh pada sang istri.
***
"Julian..." panggil Alexa dengan raut wajah yang tampak serius.
"Ya," Julian membawa tangannya, mengelus dengan lembut pipi sang istri. "Ada apa, sayang?" tanyanya.
"Apa menurutmu, Kak Devan bisa membuat Sepupuku itu jatuh cinta padanya?" tanya Alexa.
__ADS_1
Julian mengangkat bahunya, "Aku juga masih belum tahu. Tapi sebagai seorang pria, harusnya dia bisa memperjuangkan apa yang sangat dia inginkan. Aku juga sangat mengenal Devan. Dan aku yakin, dia tidak akan mungkin mudah untuk menyerah."
"Aku harap juga demikian." ucap Alexa sambil menghela nafas dalam. "Dan aku mengakui keberanian Kak Devan. Kata - kata yang dia ucapkan juga membuatku kagum padanya. Ah, Kak Devan pun sepertinya sudah menyiapkan mental yang kuat untuk bertemu dengan Pamanku."
"Alexa, aku tidak ingin mendengar kau memuji pria lain." ucap Julian dingin dengan tatapan yang tidak suka saat istrinya memuji pria lain. Walaupun pria yang di puji oleh istrinya itu adalah sahabatnya sendiri.
Alexa terkekeh saat melihat perubahan ekspresi wajah dari Julian. Menurut Alexa melihat perubahan wajah dari Julian itu terlihat sangat menggemaskan. Ya, bagaimana tidak? Jika wajah Julian yang sedang cemburu itu tampak seperti anak kecil. Kini Alexa menangkup pipi Julian, dia mengecupi rahang Julian bertubi-tubi.
"Jangan memasang wajah cemberut seperti itu, sayang. Karena kau lah yang paling hebat.Ya, meskipun aku memuji pria lain,kau akan tetap selalu yang menjadi nomor satu." bisik Alexa di telinga Julian. Namun nyatanya Julian masih memasang wajah dingin dan tanpa ekspresi. Alexa menghela nafas dalam, melihat suaminya yang sedang cemburu itu benar-benar seperti anak kecil. Bahkan sikapnya itu melebihi anak kecil.
Kini Alexa bangkit, dan pindah ke pangkuan Julian. Julian hanya melingkarkan tangannya di pinggang istrinya saat istrinya itu tiba-tiba duduk di pangkuannya.
"Jangan marah lagi, sayang...." ucap Alexa sambil mendekatkan hidungnya ke hidung Julian, lalu menggeseknya pelan.
Julian menghembuskan nafas panjang, dan dia pun sedikit tersenyum melihat istrinya itu berusaha membujuknya. Julian kemudian menangkup pipi Alexa dan berkata, "Berjanjilah, jangan pernah memuji pria lain. Karena kau adalah milikku, Alexa."
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.