
"Ya, aku sudah mengambil alih tanggung jawab Ayahku. Dan sejak aku hamil perusahaanku yang ada di negara R di kelola oleh Asistenku dan suamiku." balas Alexa. "
"Selamat untuk kehamilanmu, Alexa." ucap Shabrina dengan tulus. " Dan kau sungguh sangat beruntung, Alexa."
Kini mobil yang membawa Julian dan Alexa mulai memasuki lobby four season hotel. Shabrina pun berpamitan pada Alexa dan juga Julian. Lalu, dia turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam lobby hotel. Dan mobil yang membawa Julian dan Alexa pun langsung berjalan meninggalkan hotel.
***
Sedangkan Adel baru saja turun dari mobil dan langsung melangkah masuk kedalam rumah.Sesaat Adel melirik arlojinya kini sudah pukul sebelas malam. Dia mendesah pelan begitu banyak pekerjaan yang dia lakukan saat membantu temannya melangsungkan pesta pernikahan.
"Ah, aku lelah sekali..." Adel memijat dengan pelan tengkuk di lehernya. Satu hari ini dia sibuk membantu pernikahan sahabatnya dan itu benar - benar membuatnya kelelahan.
"Apa seorang Nona Johnson selalu pulang larut malam?" suara bariton dari arah belakang, sontak membuat Adel langsung memutar tubuhnya, dan menatap ke sumber suara itu.
Seketika raut wajah Adel pun berubah saat melihat sosok pria dengan setelan jas yang mahal berdiri di hadapannya. Sorot matanya begitu tajam, melihat pria itu.
"Untuk apa kau datang kesini, Anggara!" Suara Adel berseru. Ya, di hadapan Adel saat ini ada Devan Anggara. Pria itu berdiri tegak seraya memasukkan tangannya ke saku jas tangannya. Jika Adel menatapnya tajam, berbeda dengan Devan yang menatapnya dengan menggoda.
"Aku hanya ingin mampir ke rumahmu." Devan menjawab dengan santai. "Apa kau tidak ingin mengajak tamumu untuk masuk kedalam?"
Adel menghembus nafas kasar. "Tapi maaf, aku tidak menerima tamu pria di malam hari." tolak Adel
"Wow, sangat mengesankan. Terdengar kau adalah wanita kuno." Devan pun tersenyum misterius. "Paling tidak kau mengajakku masuk kedalam ruang tamumu untuk memberikan segelas teh hangat untukku."
"Sekali lagi aku minta maaf padamu, tapi aku tidak mempunyai teh, kopi, air putih atau apapun. Sekarang kau boleh pergi, sebelum aku meminta para penjagaku untuk mengusirmu."ucap Adel ketus.
Devan malah terkekeh mendengar amarah dari Adel. Bayangkan saja, wanita itu mengatakan tidak memiliki teh, air putih, kopi dan segala minuman yang lainnnya. Well, mungkin wanita yang ada di hadapannya ini tidak membutuhkan minuman.
"Kenapa kau tertawa? Memangnya ada yang lucu?"Adel menatap Devan yang sudah sejak tadi tertawa sekarang.
Devan mengangkat bahunya tak acuh. "Karena kau sangat menggemaskan. Itu yang membuatku tidak berhenti tertawa"
__ADS_1
Adel berdecak. Dia berusaha untuk meredakan kekesalan dalam dirinya."Sekarang, lebih baik kau pergi Devan!Aku ingin beristirahat dan jangan menggangguku."
"Alright," Devan mengangkat tangannya seolah menyerah. Kemudian dia mendekatkan dirinya pada Adel. "Tapi persiapkan dirimu, aku akan kembali datang menjemputmu. Mungkin untuk melamarmu." bisiknya di telinga Adel.
"Oh, ****!" Devan mengumpat kasar. Baru saja dia selesai membisikkan sesuatu ke telinga Adel, tapi wanita itu sudah menendang kakinya. "Apa kau tidak bisa lembut pada calon suamimu sendiri?" ucapnya kesal.
"Lebih baik, sebelum kau pulang, kau harus segera periksakan kejiwaanmu karena aku yakin, kejiwaanmu itu sudah terganggu!" Seru Adel dengan tatapannya yang begitu tajam.
Devan masih meringis kesakitan akibat tulang keringnya di tendang oleh Adel. Dia tidak menyangka tubuh mungil seperti Adel mampu menendang tulang keringnya dengan keras.
"Kau terlihat sangat seksi jika kau marah." ucap Devan yang sontak membuat Adel mendelik.
"Bicara denganmu sama saja seperti bicara dengan orang yang tidak waras!" Adel berbalik, dia langsung berjalan meninggalkan Devan yang masih tidak bergeming dari tempatnya.
Devan menyeringai saat melihat Adel pergi. Pria itu tampak begitu tenang dan terus menatap Adel yang mulai menghilang dari pandangannya."
"Adel Jhonson." Devan bergumam menyebut nama Adel. Kemudian dia berjalan menuju ke arah mobilnya. Sepanjang perjalanan dia selalu tersenyum mengingat ekspresi wajah marah Adel yang begitu menggemaskan di matanya.
***
"Ada apa?" tanya Adel seraya menatap sang pelayan.
"Nona, tadi tuan besar Demian menelepon. Beliau menanyakan keberadaan anda karena ponsel anda tidak aktif ," jawab sang pelayan.
Adel menghela nafas panjang. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. kemudian menatap ke layar. Benar saja, ponselnya tidak aktif. Hari ini dia begitu sibuk sampai dia lupa untuk mengisi daya ponselnya.
"Apa yang dikatakan oleh Ayahku?" tanya Adel lagi.
"Tuan besar dan Nyonya besar saat ini tengah melakukan perjalanan ke negara M. Mereka berpesan, kalau mereka sudah tiba di sini, Nona harus tinggal bersama dengan mereka." jawab sang pelayan yang sontak membuat Adel terkejut.
"What? Ayah dan Ibuku kesini? Bagaimana bisa?" Adel menatap tak percaya. Pasalnya kedua orang tuanya itu masih ada di negara L. Tapi sekarang, dia mendengar kedua orang tuanya sedang menuju ke negara M. Sudah sejak beberapa hari sebelumnya mereka seharusnya mengirim pesan pada Adel. Dan Adel mengingat, tidak ada satupun pesan dari kedua orang tuanya yang mengatakan jika orang tuanya akan datang ke negara M.
__ADS_1
"Nona, saya tidak tahu untuk itu, karena Tuan besar Demian hanya berpesan, jika mereka sudah tiba di negara M, anda harus tinggal bersama dengan mereka," jawab sang pelayan.
Adel berdecak tidak suka. "Apa Ayah akan datang bersama dengan Kak Daniel?" tanyanya dengan nada kesal.
"Sepertinya tidak Nona. Hanya Tuan besar dan Nyonya besar yang akan datang." jawab sang pelayan itu lagi.
Adel mengumpat di dalam hati. Sejak dulu dia memang malas jika harus tinggal bersama dengan kedua orang tuanya itu terlalu banyak mengatur hidupnya. Namun, setidaknya dia beruntung. Daniel, saudara kembarnya itu tidak ikut. Karena, jika sampai saudara kembarnya itu ikut, dirinya itu akan semakin pusing dengan aturan - aturan yang tidak waras yang di buat oleh saudara kembarnya. Termasuk cerewet jika dia pulang larut malam. Alasan Adel tinggal di negara M dan meninggalkan negara A, dia tidak suka dengan banyaknya aturan. Terkadang Adel sering pulang malam karena harus mengurus pekerjaannya. Dan jika kedua orangtuanya ada di sini, tentu saja dia akan kena marah. Astaga, ini sama saja masalah besar."
"Apa kau tahu, berapa lama orang tuaku akan menetap di negara M?" Adel kembali bertanya.
Sang pelayan menggaruk kepalanya tidak gatal saat mendengar pertanyaan dari Adel. "Saya tidak tahu, Nona. Karena Tuan besar Demian tidak mengatakan tentang hal itu juga."
Adel mengangguk singkat. "Besok aku takut bangun kesiangan, kau nanti bangunkan aku.Aku tidak ingin mendapatkan masalah, jika Ibuku tahu aku bangun terlambat."
Sang pelayan mengangguk patuh. "Baik, Nona."
Ya, Adel sangat tahu dirinya itu akan mendapatkan masalah besar jika bangun kesiangan. Sejak kecil Adel selalu di ajarkan untuk selalu tertib pada waktu. Walau terkadang sebenarnya Adel merasa bosan dengan aturan - aturan yang di ajarkan padanya.
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1