Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Percakapan Alexa Dan Adel


__ADS_3

"Alexa, aku ingin bertanya padamu?" tanya Adel yang sedikit ragu untuk menanyakannya.


"Ya, memangnya kau ingin bertanya apa lagi?"


"Begini, apakah tadi malam kau bertengkar dengan Julian? Maaf. Karena aku, kau harus bertengkar dengan suamimu." Adel berucap dengan raut wajah yang bersalah. Dia duduk di samping Alexa yang tengah menikmati sarapan.


"Tidak apa-apa, Adel itu bukan salahmu jadi kau tidak perlu meminta maaf. Kau tau kan, Julian itu sangat mencintaiku. Jadi dia tidak mungkin marah lama padaku. Dia juga sudah memaafkan kesalahanku." ucap Alexa. "Sekarang aku mau tanya padamu, apa alasan kau mabuk tadi malam?"


Adel menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan. "Saat itu aku terlalu pusing ketika ibuku menanyakan tentang Devan. Kau tentu tahu, sudah sejak lama kedua orang tuaku itu sangat menginginkan aku untuk menikah. Padahal aku sudah bilang aku tidak akan menikah sebelum Kak Daniel, saudara kembarku menikah lebih dulu. Tapi itu juga tidak mungkin untuk ukuran seorang pria. Aku tau Kak Daniel tidak akan mungkin menikah di bawah usia dua puluh lima tahun. Ah, menjadi seorang wanita sangat menyebalkan."


Ya, memang sejak dulu Adel ingin menikah setelah Kakaknya Daniel sekaligus saudara kembarnya itu menikah terlebih dahulu. Dan tentu saja Adel tahu, Kakaknya itu tidak mungkin pernah memikirkan pernikahan di usianya yang masih terbilang sangat muda untuk ukuran seorang pria. Itu kenapa Adel membenci dirinya yang lahir sebagai seorang wanita. Dan satu hal lagi yang sangat menyebalkan adalah saat Devan berani datang kerumahnya dan bertemu dengan kedua orangtuanya. Mengingat hal itu membuat Adel mendapatkan rentetan pertanyaan dari kedua orangtuanya. Pasalnya, selama ini Adel tidak pernah dekat dengan pria manapun. Meskipun sudah berkali-kali Adel berusaha di jodohkan, tapi Adel tidak pernah menginginkan itu. Dia lebih memilih untuk menemukan sendiri cintanya dan bukan karena campur tangan dari kedua orang tuanya.


"Adel, dengarkan aku. Menurutku Paman Demian dan Bibi Liora hanya menginginkan yang terbaik untuk putrinya. Lagi pula, Paman Demian bukanlah orang yang bodoh. Aku yakin, Paman Demian juga sudah mencari terlebih dahulu siapa pria yang akan berniat menikah denganmu. Jika pada detik ini Paman Demian tidak melarangmu, berarti Kak Devan adalah pria yang tepat untuk bersanding denganmu," ujar Alexa kemudian meminum jus buahnya dan melanjutkan makannya. Namun, berbeda dengan Adel kini dia tidak nafsu makan apalagi saat melihat sepupunya itu terus makan tanpa jeda seperti seorang yang tidak pernah di berikan makanan.


"Sudahlah, kenapa kita harus membahas pria yang tidak waras itu lagi. Ganti topik saja. Aku tidak ingin tensi darahku naik hanya karena membahas pria tidak waras itu." ucap Adel kemudian menyandarkan punggungnya di kursi dia memejamkan matanya sesaat dan merasakan tubuhnya yang begitu lelah.


"Oh ya, Adel, aku itu hampir lupa bilang padamu. Tadi Kak Vanya menghubungiku dia bilang ingin bertemu dengan kita sebelum Kak Vanya berangkat ke negara L. Kau tau sendiri bukan, jika Kak Vanya sudah memutuskan untuk menetap di negara L?" Alexa berkata sambil menatap wajah Adel dengan serius.


Saat mendengar perkataan dari Alexa. Adel langsung membuka matanya. "Ya, Vanya juga pernah bilang padaku kalau dia akan pindah ke negara L. Entah apa yang di pikirkan oleh Kakakmu itu kenapa tiba-tiba saja dia ingin menetap ke negara L? Kau tahu, dia seperti sedang ingin menghindari seseorang tapi aku juga belum yakin akan hal itu karena aku juga belum bertanya dengannya?"


"Aku rasa kau harus menunggu sampai Kak Vanya sendiri yang mau menceritakannya padamu." Alexa menjawabnya dengan helaan nafas yang berat. Ya, bukannya tidak ingin menceritakan masalah Kakaknya pada Adel. Tapi Alexa ingin jika Kakaknya yang langsung menceritakan semuanya pada Adel termasuk alasannya kepindahannya dari negara M "Yang terpenting minggu depan kau harus menyempatkan waktumu untuk bertemu dengan Kak Vanya." Lanjut Alexa memberitahu.

__ADS_1


Adel mengangguk. "Baiklah, di mana kita akan bertemu dengannya?" tanyanya


"Nanti Kak Vanya yang akan mengirimkan pesan padaku tempat dimana kita akan bertemu dengannya." jawab Alexa lagi.


"Hm, Alexa..."


"Ada apalagi?"


"Hm, apa kau pernah merindukan tentang masa kecil kita? Maksudku, aku merasa kalau kita telah tumbuh dewasa dan kini saling berjauhan tidak seperti dulu. Padahal dulu, kau, aku, Vanya dan lainnya tumbuh besar bersama. Sekarang, saat kita sudah dewasa masing-masing memiliki sudut pandangnya sendiri. Seperti saat ini, aku memutuskan untuk menetap di negara M. Dan pada akhirnya kau juga harus menetap di negara M karena ikut dengan suamimu."


Mendengar ucapan dari Adel. Alexa hanya tersenyum. Sebelumnya, dia juga memikirkan hal yang sama seperti Adel. Ya, Alexa sangat merindukan masa kecilnya. Ternyata apa yang sedang di rasakan olehnya di rasakan juga oleh sepupunya itu.


Adel pun tersenyum. "Apa yang kau katakan itu benar, Alexa. Tapi kenapa kau baru sekarang mengatakan padaku jika kau bertemu dengan Kak Shabrina.Aku juga ingin sekali bertemu dengannya. Semenjak Kak Shabrina menikah aku sudah jarang bertemu dengannya. Apakah dia juga datang bersama suaminya?"


"Maafkan aku. Aku lupa memberitahumu tentang nya. Malam itu, aku tidak melihat suami Kak Shabrina karena dia bersama dengan temannya. Dan kau tau Adel, kau pasti akan sangat terkejut saat melihat penampilan Kak Shabrina sekarang ini."


"Memang kenapa dengan penampilan Kak Shabrina yang sekarang." tanya Adel ingin tahu.


"Sekarang kulit Kak Shabrina sedikit gelap dan dia juga memotong rambutnya menjadi pendek. Tapi dia tetap terlihat cantik seperti biasanya" jawab Alexa.


"Benarkah. Ah, aku jadi penasaran dengan penampilan Kak Shabrina yang sekarang." ucapnya.

__ADS_1


"Nanti kau pasti akan bertemu dengannya."


"Hm Alexa, apa aku tidak merasa Paman Raymond sama sekali terlihat tidak pernah menua. Kenapa Paman Raymond memiliki wajah yang sangat tampan dan memiliki tubuh yang masih sangat gagah yah? Apa kau tahu, banyak sekali dari teman - temanku yang ingin mengantri menjadi simpanan dari Ayahmu itu?" ucap Adel dengan tiba - tiba sambil terkekeh.


Alexa pun tertawa pelan mendengar ucapan dari Adel. "Kau tahu, Paman Demian juga masih sangat tampan. Mungkin saja, mereka tidak ingin menua."


"Kau benar, lebih tepatnya mereka itu menolak tua." balas Adel di juga ikut tertawa.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2