
Kini Julian sedang menunggu di luar kamar, karena di dalam kamar, Novi sedang bersama dengan Alexa.
Laki-laki itu setidaknya sudah meminta pertolongan pada Novi.
Pintu kamar terbuka nampak Novi yang kini membungkukkan badannya pada Julian.
"Apa sudah selesai? Sekarang dimana Alexa, apa dia masih berada di dalam kamar mandi?" tanya Julian ingin tahu.
"Tidak Tuan. Nyonya Alexa sudah keluar dari kamar mandi. Tetapi Nyonya Alexa masih merasakan sakit perut. Saya juga sudah membuatkan teh hangat untuk Nyonya Alexa." jawab Novi.
Julian kemudian berjalan masuk kedalam kamar, dan melangkah mendekat ke arah Alexa yang sedang terbaring lemas di atas ranjang dengannya yang nampaknya masih merasakan kesakitan pada perutnya.
"Alexa, apa perutmu masih sakit?" tanya Julian.
"Masih, padahal ketika aku sedang datang bulan sakitnya tidak seperti ini," jawab Alexa yang mulai meringkuk sambil memegang ujung selimutnya.
"CK! Ada - ada saja!" Omel Julian.
Julian kemudian mengambil segelas teh hangat dan juga membantu Alexa untuk duduk agar lebih mudah untuk meminumnya.
Ditatapnya wajah Alexa yang terlihat sangat kesakitan bahkan sampai kedua kaki Alexa terasa bergetar. Ada timbul rasa khawatir di hati Julian melihat Alexa yang tak berdaya seperti ini.
"Alexa, minum teh hangat ini dan pelan - pelan saja." bujuk Julian.
Alexa menghembuskan nafasnya pelan, gadis itu kemudian mengerjapkan kedua matanya dan hanya meminum setengahnya saja dari teh hangat yang sudah di buatkan oleh Novi tadi.
"Aku tidak mau berbaring dulu, Julian." ucap Alexa yang menahan lengan Julian saat ingin membaringkan tubuh Alexa kembali.
"Kenapa?" tanya Julian bingung.
"Kalau aku berbaring rasanya malah lebih sakit, Julian,"
Helaan nafas terdengar dari bibir Julian, kemudian dia meminta Alexa untuk bersandar kepada-nya hingga gadis itu meletakkan kepalanya di pundak kiri Julian.
"Bagaimana kalau aku panggilkan Dokter Arsen untuk memeriksamu?" tawar Julian pada Alexa.
"Tidak, aku tidak papa." jawab Alexa cepat.
__ADS_1
Kedua mata Julian kini bergerak menatap tangan gadis itu, yang memeluk lengan Julian perlahan.
Julian merangkul pundak Alexa dan ia menarik selimutnya.
"Julian....."
"Tidurlah Alexa, memangnya kau mau apa lagi?" tanya Julian mengusap pucuk kepala Alexa.
Gadis itu terdiam, Julian menundukkan kepalanya dan menatap Alexa yang sudah mulai tertidur. Hingga Julian merasakan kedua tangan Alexa memeluknya dengan erat.
"Aku akan menjagamu, tidurlah...." gumam Julian.
Julian mengusap punggung kecil Alexa, dirinya juga memejamkan kedua matanya. Meskipun Julian tidak tertidur.
Beberapa jam berlalu dan hari sudah menjelang pagi, namun sejak semalam ia tidak merasakan jika Alexa benar - benar tertidur pulas, karena dia masih merasakan tubuh Alexa yang bergerak gelisah dan sesekali masih berdesis merasakan rasa sakit di perutnya.
"Berbaringlah, Alexa..." ujar Julian yang tahu kalau Alexa sedang tidak tidur saat ini.
Kemudian Alexa pun berbaring dan Julian hendak beranjak sebelum tangan Alexa menahannya. Laki - laki itu menoleh dan meraih tangan Alexa perlahan.
Alexa pun akhirnya mengangguk patuh. Bahkan kini wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya yang masih terlihat lemas. Dan jangankan hanya sekedar untuk berbicara, membuka mulutnya saja ia sedang malas.
Julian sendiri langsung melangkah keluar dari kamar Alexa dan meninggalkan Alexa sendiri di kamarnya.
...***...
Tak lama kemudian Alexa kini sedang di periksa oleh dokter seorang wanita yang berambut pirang.
"Apa ini sakit perut pertama yang di alami oleh Nyonya Alexa?" tanya sang dokter.
Alexa kemudian menggelengkan kepalanya, saat seorang dokter wanita memeriksanya. Ya, dia adalah Bianca, istri dari dokter Arsen yang merupakan sama - sama dokter pribadi di mansion milik Julian.
"Ini baru pertama kali saya merasakan sakit perut yang seperti ini, dokter." jelasnya dengan lirih.
Dokter itu kemudian menganggukkan kepalanya. Sedangkan Julian masih terlihat panik melihat wajah Alexa yang sudah pucat dan terkadang merintih kesakitan.
"Bianca, Bagaimana keadaaan istriku sekarang? Apakah ini sejenis penyakit yang mematikan?" tanya Julian tiba - tiba karena merasa sangat khawatir dan cemas melihat kondisi Alexa.
__ADS_1
Bianca terkekeh pelan. "Tidak Tuan Julian, hal semacam ini sudah biasa terjadi bagi seorang perempuan ketika sedang mengalami datang bulan. Tetapi mungkin, kondisi Nyonya Alexa seperti ini karena sedang mengalami stress yang berlebihan, kelelahan dan memang sebagian perempuan pasti akan merasakan sakit perut yang sama, seperti yang di alami oleh Nyonya Alexa." jelas Bianca, sambil memberikan obat pada Alexa.
"Dan Tuan Julian tidak perlu khawatir, setelah Nyonya Alexa meminum obat ini, rasa sakitnya perlahan - lahan akan berkurang. Lebih baik Nyonya Alexa untuk lebih banyak istirahat dan pergunakan waktunya untuk tidur. Tetapi jika besok pagi Nyonya Alexa masih belum ada perubahan dan masih merasakan sakit di perutnya, saya akan periksa lebih lanjut lagi, Tuan." jelas dokter Bianca lagi.
"Baiklah," jawab Julian.
Kemudian Dokter Bianca pun pamit undur dari kamar Alexa dan Julian.
Perlahan Julian melangkah mendekat ke arah ranjang. Kemudian Julian duduk di samping Alexa dan tangannya dengan perlahan menarik selimut untuk menyelimuti sekujur tubuh Alexa, tatapan Julian menunjukkan betapa cemasnya saat ia melihat Alexa terbaring sakit lagi.
"Tidurlah..." ucap Julian sambil mengecup bibir Alexa dengan pelan dan lembut.
"Julian, apa hari ini ku tidak pergi ke kantor?" tanya Alexa sambil menatap Julian.
"Tidak," jawab Julian datar. "Aku tidak mungkin meninggalkanmu yang sedang sakit sendirian, Alexa." sambungnya.
"Benarkah? Tapi kamu jangan pergi yah," pinta Alexa agar Julian menemaninya.
Julian menganggukkan kepalanya "Baiklah, aku akan di sini untuk menemanimu, istriku." jawab Julian, dan akhirnya Julian pun berbaring di samping Alexa.
Beberapa jam kemudian, kedua mata Julian terbuka pelan, dia melihat ke arah samping dan melihat Alexa masih tertidur pulas. Dan menatap ke arah Alexa dan berkata, " Alexa, kenapa kau itu tidak pernah tidak membuatku khawatir? Aku seperti sedang mengasuh anak kecil saja?" Julian membawanya tangannya mengelus lembut pipi Alexa yang kini sudah tertidur. Tatapannya melembut. Dan kini Julian mulai mendekatkan bibirnya, dia kemudian mengecup kening Alexa. Sesaat Julian terdiam, wajah Alexa benar - benar seperti bayi ketika sedang tertidur seperti ini. Ya, Julian mengakui dalam keadaan apapun dia sangat menyukai wajah Alexa, istrinya. Bahkan, meski wajah Alexa kini sedang terlihat pucat, wanita itu tetap terlihat tampak layaknya seorang bayi yang sangat menggemaskan menurutnya.
"Alexa, aku sepertinya lebih suka melihatmu yang sedang memejamkan matamu seperti ini. Jika kau sudah membuka mata dan kembali sehat, kau pasti akan selalu mencari masalah." ucap Julian kemudian mencubit pelan pipi Alexa. Hingga kemudian, dia mencuri kecupan singkat di bibir ranum Alexa
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1