
"Si - siapa coba yang ingin kabur? A - Aku hanya sedang ingin pergi ke kamar mandi aja, kok." Adel menjawab dengan sedikit gelagapan dan dia dia pun langsung menutupi tubuhnya hingga di leher. Wajah Adel pun memerah. Ya, rasanya sangat menyakitkan saat terjatuh di samping itu dia juga merasa malu. Di detik itu juga, Adel ingin rasanya pergi sejauh mungkin agar tidak lagi bertemu dengan pria yang ada di hadapannya itu.
Dan Devan pun tersenyum penuh arti saat melihat Adel langsung menutupi tubuhnya. Ya, padahal di setiap tubuh wanita itu saja sudah dia lihat. Kenapa harus menutupinya lagi? Yah, Adel memanglah Adel. Si wanita yang keras kepala yang akan terus dia perjuangkan.
Kini Devan menyibakkan selimutnya, dan mulai melangkah mendekat ke arah Adel. Dan sontak saja itu membuat Adel sangat terkejut saat melihat tubuh polos dari Devan Anggara. Ya, pria yang sedang berjalan ke arahnya seakan tidak mempedulikan tubuhnya yang tidak memakai sehelai benangpun. Adel pun reflek langsung menutupi wajahnya dengan tangannya sendiri. Dia tidak berani menatap ke arah Devan.
"Akhh-" Adel pun langsung memekik terkejut saat Devan langsung membopong tubuhnya, kemudian langsung membaringkan dirinya di atas ranjang. Meskipun sebenarnya, Adel sangat ingin memberontak namun Adel tidak bisa melakukannya.
"Devan, kenapa membaringkan ku di atas ranjang! Aku ingin pulang!" Seru Adel dengan mata yang masih dia tutupi dengan tangannya.
Devan pun mengulum senyumannya, melihat wanita yang ada di hadapannya terlihat menggemaskan. Kini Devan pun langsung membaringkan tubuhnya di samping Adel. Dan dia menarik tangan Adel agar tidak menutup lagi matanya.
"Buka matamu." ucap Devan dengan senyuman di wajahnya.
"Tidak! Kau berpakaian lah! Dan jangan seperti itu!" Meski tangan Adel di tarik oleh Devan, tapi Adel masih menutup ke-dua matanya.
"Aku tidak mau berpakaian. Sedangkan kau saja belum memakai apapun." Devan menjawab dengan santai dan tanpa dosa.
"Devann!" Seru Adel saat mendengar perkataan dari pria yang sedang ada di hadapannya ini.
"Ya, sayang." Devan kemudian langsung menarik tangan Adel, hingga membuat tubuhnya kini berada di atas wanita itu. "Buka matamu, aku ingin melihat matamu, Adel."
Entah kenapa, bagai terhipnotis. Perlahan, Adel pun mulai membuka matanya. Sesaat mata Adel bertemu dengan mata Devan. Dan mereka menatap dalam satu sama lainnya. Ya, sebuah tatapan yang sangat sulit di artikan.
__ADS_1
"Me- menjauh lah dariku Devan!" Ucap Adel menelan salivanya yang susah payah. Dan dia pun hendak membuang wajahnya. Namun dengan cepat, Devan langsung menangkup kedua pipi Adel dan tidak membiarkan wanita itu berpaling darinya.
"Jadi, kamu masih memintaku untuk menjauh darimu. Setelah apa yang sudah terjadi di antara kita berdua tadi malam?" tanya Devan sambil tersenyum mengejek ke arah Adel.
"Ya, dan yang terjadi tadi malam itu hanya sebuah kesalahan." Adel pun berusaha untuk mengatur napasnya dan bersikap untuk tenang. "Lebih baik, kita anggap saja kejadian yang terjadi tadi malam sebagai one night stand dan tidak lebih dari itu. Oke?"
"Ah, one night stand yah?" Devan pun tersenyum penuh arti. "Mudah sekali kau mengatakan hal seperti itu. Seolah - olah kau itu sudah terbiasa melakukan one night stand dengan seorang lelaki. Padahal, aku sangatlah tahu, jika hanya aku satu - satunya lelaki yang pernah menyentuhmu, Adel."
Wajah Adel langsung memucat. Sial. Tenyata pria yang ada di hadapannya ini masih tidak berhenti juga untuk mengungkit kembali kejadian yang terjadi tadi malam. Ya, Adel merasa ingin segera pergi saja dari kamar itu. Tapi bagaimana bisa? Jika pria yang ada di hadapannya ini terus - menerus menghalangi dirinya.
Adel pun berusaha untuk sebisa mungkin menenangkan dirinya dan langsung menjawab dengan nada dingin, "Minggir, Devan. Aku ingin mandi."
Kemudian dia langsung mendorong dada bidang Devan. Namun, semuanya sia- sia karena tubuh Devan bagaikan besi yang sangat kokoh. Sedangkan tenaga Adel hanya bagaikan kapas untuk Devan.
"Adel, kenapa kau selalu mencoba untuk menutupi perasaanmu yang sebenarnya?" tanya Devan dengan menatap Adel begitu lekat.
Adel langsung mengigit bibir bawahnya, dan tidak lagi melanjutkan perkataannya saat Devan sudah meremas dengan kuat bagian dadanya.
"Devan, apa yang sebenarnya kau lakukan?" Adel berusaha untuk berontak. Namun, sentuhan dari Devan mampu melumpuhkannya.
"Kau lihat tadi? Tubuhmu itu merespon diriku. Kau itu sebenarnya menginginkanku. Hanya saja, kau itu tidak mau jujur dengan perasaanmu sendiri?" bisik Devan di telinga Adel, sambil tangannya masih meremas bagian dada milik Adel, membuat Adel menahan dengan mati - matian suara ******* yang ingin sekali dia keluarkan.
"Hentikan Devan." pinta Adel memohon. Ya, karena dia tidak sanggup untuk menahan dirinya akibat sentuhan Devan di bagian dadanya.
__ADS_1
"Adel, besok pagi aku akan menemui keluargamu dan kita akan memulai merencanakan tentang pernikahan kita. Karena aku sudah sangat ingin, jika di bulan ini kita menikah." ucap Devan, kemudian mengecup leher jenjang Adel dan berakhir mengecupi dada Adel.
"Memangnya siapa yang mau menikah di bulan ini. Kalau aku, aku tidak mau menikah denganmu!" Seru Adel, Kemudian dia mengigit bibir bawahnya. Dia berusaha sebisa mungkin untuk menahan suara ******* yang akan keluar dari bibirnya.
"Ah, apakah kau sungguh tidak ingin menikah denganku?" tanya Devan sambil menyunggingkan senyuman yang misterius. "Begini Adel? Tadi malam kita melakukannya tanpa memakai pengaman? Dan aku juga langsung membuangnya kedalam? Begini, apa kau nanti tidak takut hamil?"
Mendengar rentetan pertanyaan dari Devan. Ekspresi wajah Adel pun langsung berubah dan menjadi sangat terkejut, di tambah lagi kini wajahnya menjadi pucat.
"Kau itu pasti bohong, kan. Kau hanya ingin menakut - nakuti ku saja, kan?" seru Adel dengan tatapannya yang begitu tajam ke arahnya.
Devan pun mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Aku itu tidak mungkin membohongimu, Adel. Lagi pula, kejadian itu terjadi begitu saja. Mana sempat aku menyiapkan pengaman. Kau tahu, aku juga tidak pernah membawa seorang wanita pun kedalam kamarku, dan hanya dirimu saja yang aku izinkan masuk kedalam kamarku ini."
Adel langsung terdiam saat mendengar ucapan dari Devan dan entah kenapa hati Adel berubah menjadi hangat dan tatapannya yang tajam langsung berubah menjadi teduh.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.