
Julian kini sedang menatap wajah Alexa yang terlihat begitu pucat bukan hanya itu, sudut bibir sang istri juga terluka. Membuat amarah di dalam dirinya tidak mampu tertahan.
Ya, dokter baru saja memeriksa kondisi istri dan kandungannya, beruntung kandungan Alexa baik - baik saja. Namun, meski demikian Julian tidak pernah berhenti menyalahkan dirinya. Apalagi, saat Julian melihat bekas tamparan di pipi Alexa membuatnya ingin menghabisi nyawa pria sialan itu dengan tangannya sendiri.
Julian pun kini sedang duduk di tepi ranjang. Dia membawa tangannya untuk menyentuh pipi sang istri dan mengecup dengan lembut seluruh wajah sang istri. Terutama bekas luka yang ada di sudut bibir Alexa. Hatinya begitu teriris melihat luka yang ada di wajah istrinya.
"Maaf, maaf. Aku datang terlambat." bisik Julian pelan, tepat di depan bibir Alexa.
Pelupuk mata Alexa bergerak. Saat merasakan sesuatu menyentuh wajahnya. Dan saat Alexa sudah membuka matanya, dia mengukir senyuman melihat Julian sudah berada di hadapannya.
"Kau sudah bangun, sayang?" tanya Julian sambil mengelus dengan lembut pipi Alexa.
Alexa pun menganggukkan kepalanya. "Julian, aku ingin bersandar di pelukanmu."
Julian tersenyum, lalu dia menarik pelan tangan Alexa, membawanya masuk kedalam dekapannya. Alexa pun langsung membenamkan wajahnya ke dada bidang Julian, menghirup aroma parfum yang sudah menjadi candu baginya.
"Apa kau ingin sesuatu?" Julian membawa tangannya mengusap lembut kepala Alexa.
"Tidak, Julian." Alexa menggelengkan kepalanya. "Begini saja, aku ingin berada di pelukanmu."
Julian menghembuskan nafas panjangnya. "Maafkan aku, Alexa. Andaikan saja aku bisa datang tepat waktu, hal seperti ini tidak pernah terjadi padamu."
"Julian," Alexa mendongakkan kepalanya dari dalam pelukan Julian dan menatap sang suami dengan lembut. "Aku tidak apa-apa, Julian. Sejak awal aku sudah yakin kau pasti bisa menemukanku dan menyelamatkan aku."
Julian mencium hidung Alexa. "Kau itu hidupku, Alexa. Tidak mungkin aku hanya diam saja jika kau menghilang. Dan percayalah, apapun yang terjadi padamu, aku akan pastikan aku akan mampu menyelamatkanmu."
Dan senyum di bibir Alexa pun terukir, mendengar apa yang di katakan oleh Julian, yaitu sebuah janji yang begitu hangat. Membuat dirinya merasa tenang dan merasa terlindungi. Namun, tiba - tiba sekelebat ingatan Alexa muncul tentang Adel. Wajah Alexa langsung menjadi pucat, saat mengingat keadaan sepupunya itu.
__ADS_1
"Julian, bagaimana dengan keadaan Adel? Dimana dia sekarang? Tidak terjadi sesuatu padanya, kan?" cerca Alexa panik dan cemas.
"Tenang, sayang." Julian menangkup kedua pipi Alexa dan mengecup bibir sang istri. "Jangan cemas. Adel baik - baik saja. Dia bersama dengan Devan saat ini."
Alexa pun mendesah lega. Ya, dia mengingat Devan membopong tubuh Adel. Hanya saja, pikirannya itu masih tidak berhenti mencemaskan keadaan sepupunya itu. Dan ada rasa bersalah di dalam dirinya karena tidak bisa menyelamatkan Adel. Jika saja tangannya tidak terikat, Alexa mungkin saja bisa menghentikan tindakan Kenan pada Adel.
"Ah, andaikan saja tanganku tidak terikat. Aku pasti bisa mencegah Kenan berbuat hal itu pada Adel dan bisa menyelamatkan Adel." Alexa bergumam dengan raut wajah yang penuh dengan penyesalan dan memasang ekspresi wajah yang tampak muram.
"Alexa, kau sedang hamil. Jika kau melawan pria kurang ajar itu, apa kau tidak memikirkan kandunganmu?" Julian menarik dagu Alexa dan menatap manik manik mata coklat sang istri.
"Aku akan berjuang, anak kita pastinya akan baik - baik saja, Julian. Dan aku juga tetap akan berjuang, agar pria kurang ajar itu tidak lagi bertindak kurang ajar pada sepupuku." Alexa menjawabnya dengan mata yang memerah. Bulir air matanya mulai menetes membasahi pipinya.
"Ssst. Jangan menangis, sayang." ucap Julian kemudian mengecupi pelupuk mata sang istri. "Percayalah aku akan selalu datang menyelamatkanmu. Mulai sekarang, aku ingin kau melupakan semuanya tentang pria kurang ajar itu."
Mendengar ucapan dari sang suami. Alexa pun mengangguk patuh. Kemudian dia kembali membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Ya, seperti biasa, jika Alexa akan merasa nyaman jika berada di dalam pelukan sang suaminya dan dia merasa terlindungi.
"Julian, siapa yang masih menghubungimu di tengah malam seperti ini?" tanya Alexa dengan nada suaranya yang pelan.
Julian menghembuskan nafas kasar. "Biarkan saja. Karena aku tidak ingin ada yang menganggu kebersamaan kita."
"Tapi Julian, kau jangan seperti itu. Siapa tau saja, itu telepon masuk yang penting. Lebih baik kau jawab dulu panggilan masuk itu." ucap Alexa dengan lembut.
Julian pun berdecak pelan dan dengan raut wajah kesalnya, dia mengambil ponselnya dan menatap ke layar. Sesaat Julian pun mengumpat di dalam hati ketikan melihat nomor Samudera yang tertera di layar ponselnya. Ingin rasanya dia menolak panggilan telepon dari Kakak iparnya itu. Tapi, jika dia menolak panggilan dari Samudera. Samudera pasti akan terus menghubunginya.
"Sayang, memangnya siapa yang menghubungimu?" tanya Alexa lagi.
"Kakakmu, Samudera." jawab Julian dengan nada dingin dan ekspresi wajah yang enggan untuk menjawab.
__ADS_1
"Kak Samudera? Benarkah?" ucap Alexa dengan nada yang begitu bahagia saat mendengar jawaban dari suaminya jika Kakaknya itu yang menghubunginya. "Jawablah Julian, pasti dia ingin menanyakan tentang keadaanku."
Mendengar ucapan dari sang istri, Julian kembali berdecak pelan dan dengan terpaksa Julian menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan telepon dari Kakak Iparnya itu.
"Ada apa?" ucap Julian dingin saat panggilan telepon itu terhubung.
"Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu? Lebih baik berikan ponselmu pada adikku. Aku tau, adikku pasti sedang berada di sampingmu. Jadi, kau jangan coba memberikan alasan." Samudera berucap begitu menusuk dari sebrang telepon.
"Kalau kamu tidak ingin berbicara denganku? Lalu kenapa kau meneleponku?!" Seru Julian dari sebrang telepon saat mendengar ucapan dari Kakak Iparnya itu.
"CK! Itu karena ponsel milik adikku tidak aktif! Jika saja ponsel milik adikku bisa di hubungi, mana mau aku menghubungi dirimu!"
Setelah kembali mendengar ucapan dari Kakak Iparnya itu, membuat Julian semakin mengumpat di dalam hati. Ya, andaikan saja Samudera bukanlah Kakak Iparnya sudah pasti dia akan memaki. Namun, bagaimana mana pun juga, Julian harus bisa mengendalikan emosinya. Terlebih, istrinya sekarang sedang menatap ke arah dirinya dengan penuh permohonan, mungkin saja, agar dirinya tidak berdebat dengan Samudera.
Julian kembali menghembuskan nafas kasar, dan tanpa lagi berkata, dia langsung menyerahkan ponselnya pada Alexa seraya berucap. "Sayang, Kakakmu ingin berbicara denganmu?"
***
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.