
"Aku di sini." Teriak suara perempuan membuat Julian, Kenzo dan Mateo mengalihkan pandangan mereka. Seketika raut wajah Julian berubah ketika menatap perempuan yang memakai selendang untuk menutupi wajahnya berjalan ke arah mereka.
"Siapa kau?" tanya Julian.
"Aku bisa mendonorkan darahku untuk adikku. Golongan darahku sama seperti adikku. Ambil darahku!" Jawab perempuan bercadar itu.
"Kau Vanya? Bagaimana bisa kau ada di sini?"
"Ya," kemudian perempuan itu membuka selendang yang menutupi wajahnya. "Aku akan menjelaskannya nanti terpenting kita harus segera mendonorkan darah untuk Alexa, bukan?"
"Mari kami akan periksa," ucap sang dokter pada Vanya.
Namun tiba-tiba di saat sang dokter akan membawa Vanya untuk melakukan pemeriksaan, seorang perawat berlari dengan wajah yang panik keluar dari ruang unit gawat darurat.
"Dokter, detak jantung Nyonya Alexa lost."
Perkataan perawat sukses membuat orang yang ada sana membeku dan terkejut. Wajah Julian berubah menjadi pucat. Kakinya terasa begitu lemah. Saat sang dokter berlari ke arah ruang unit gawat darurat, Julian langsung menyusulnya bersama dengan Vanya.
"Tuan maaf, anda tidak bisa masuk kedalam." ucap perawat itu mencegah Julian yang memaksa ingin masuk kedalam.
"Biarkan aku masuk!" Julian mendorong keras tubuh perawat itu, hingga membuatnya hampir tersungkur.
"Maaf Tuan, Tapi-"
Sang perawat tampak ragu. Namun, Julian terus menghunuskan tatapan begitu tajam dan penuh peringatan pada perawatnya hingga kemudian sang perawat menganggukkan kepalanya memberikan jawaban jika Julian boleh masuk kedalam ruang unit gawat darurat itu. Tanpa menunggu, Julian langsung berlari masuk kedalam.
Di ruangan sang dokter langsung mengambil tindakan untuk menyelamatkan Alexa. Julian menggelengkan kepalanya tegas. Bulir air matanya menetes kala mendengar bunyi monitor. Julian menjambak rambutnya keras, saat berkali-kali dokter menggunakan defibrillator namun detak jantung Alexa tidak kembali.
"Bangunlah Alexa, jangan tinggalkan aku." ucap Julian dengan air mata yang berlinang membasahi pipi kokohnya. Raut wajahnya tampak begitu kacau.
__ADS_1
Namun tiba-tiba sang dokter menggelengkan kepalanya dan melepas defibrillator di tangannya. Sontak wajah Julian langsung pucat.
"Tidak Alexa... Sadarlah. Aku tidak bisa hidup tanpamu.." Julian bersimpuh di lantai. Dia menutup telinganya, tidak mau mendengarkan bunyi mesin yang ada di ruangan itu. "Jangan tinggalkan aku, Alexa. Kau boleh menghukumku tapi tidak dengan meninggalkanku!" Teriaknya histeris. Julian meraung dia terus berteriak keras memanggil nama Alexa.
Hingga kemudian, langkah terakhir yang sang dokter ambil adalah tindakan CPR saat mesin defibrillator sudah tidak bisa lagi membantu. Dan berkali - kali dokter melakukan tindakan CPR, detak jantung Alexa tetap tidak kembali.
Julian menggelengkan kepalanya tegas. Air matanya tidak berhenti menetes membasahi pipi kokohnya. Bahkan para perawat pun tidak tega melihat keadaan Julian saat ini.
"Demi Tuhan Alexa, aku mencintaimu. Aku hanya mencintaimu. Bangunlah sayang.Aku tidak pernah bisa hidup di dunia ini, jika kau tidak ada. Jangan tinggalkan aku, Alexa..." Julian berteriak histeris. Dia menatap tubuh Alexa yang terbaring kaku.
Di detik selanjutnya, sang dokter tidak lagi melakukan tindakan CPR. Sang dokter menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban tidak bisa lagi berbuat apa-apa.
"Tidak! Jangan tinggalkan aku, Alexa...." Julian sudah kehilangan suaranya. Dia menatap nanar tubuh sang istri. "Aku mohon bangun, sayang. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Maafkan aku..."
"Tuan..." salah satu perawat menghampiri Julian yang bersimpuh di lantai dengan tangis yang tak kunjung mereda.
BIP.....
Raut wajah Julian berubah, saat mendengar suara detak jantung Alexa kembali. Kini hatinya lebih tenang. Dia tidak pernah mungkin bisa hidup tanpa Alexa.
"Terima kasih, Alexa." Julian berucap dengan suara yang pelan. Tatapannya terus menatap Alexa dengan matanya yang memerah. "Terima kasih kau tetap hidup, sayang."
Semua ketakutan Julian sedikit lenyap, saat mendengar detak jantung Alexa kembali. Dia tidak henti mengucapkan syukur, karena Tuhan masih memberikan kesempatan kepadanya untuk menebus kesalahannya. Tidak ada hal di dunia ini yang Julian inginkan selain Alexa. Setelah ini, dia berjanji akan memperbaiki semua kesalahan yang telah di perbuat pada Alexa.
...***...
Setelah melakukan tindakan operasi dan pendonoran darah kini Alexa sudah di pindahkan ke ruangan ICU, meski Alexa bisa selamat tapi sang dokter mengatakan keadaan Alexa masih kritis. Benturan di kepalanya cukup parah dan dari balik kaca pula Vanya dan Mateo hanya bisa menatap kondisi Alexa. Karena mereka masih melihat Julian yang berada di ruang ICU. Pria itu tidak mau pergi meninggalkan Alexa. Sejak tadi dia lebih memilih untuk menjaga Alexa.
"Vanya.." Mateo memanggil Vanya.
__ADS_1
"Ada apa, Mateo?" tanya Vanya
"Kenapa kau bisa tahu jika Alexa ada di rumah sakit?"
"Saat itu aku juga sedang berada di rumah sakit ini dan tidak sengaja melihatmu sedang membawa adikku yang berlumuran darah ke ruangan UGD. Awalnya aku ingin langsung menghampiri kalian dan menanyakan padamu apa yang terjadi dengan adikku hingga bisa terluka seperti itu. Tapi aku mengurungkan niatku. Aku takut jika anak buah Ayahku atau Kakakku akan mengetahui keberadaanku. Maka aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan sampai akhirnya aku mendengar jika adikku harus segera membutuhkan donor darah dan akhirnya aku pun memberanikan diri untuk menemui kalian. Aku pun sudah tidak peduli jika nantinya keluargaku mengetahui keberadaanku terpenting aku bisa menyelamatkan adikku."
Mateo pun menganggukkan kepalanya, dan
dan memahami situasi yang di rasakan oleh Vanya.
"Julian Dominic." wajah Mateo tanpa ekspresi, dia menatap Julian yang sedang menjaga Alexa. "Aku belum pernah melihat seorang Julian Dominic menangisi wanita. Aku mendengar dia pria yang sulit untuk mencintai seorang wanita. Terkahir saat aku melihat pria itu bersama denganmu, dia terlihat tidak memiliki perasaan yang besar padamu. Tetapi saat dengan Alexa dia berbeda."
"Itu artinya dia benar-benar sudah mencintai adikku." ucap Vanya dengan mengulum senyumannya.
Vanya kemudian terdiam saat melihat Julian tampak begitu mencintai Alexa. Hampir dua tahun dirinya bertunangan dengan Julian, tapi mereka tidak pernah melakukan kontak fisik seperti yang dilakukan Julian pada Alexa. Ya, Julian hanya pernah mencium pipinya di hadapan para media, tapi itu hanya berpura-pura, agar media percaya, mereka pasangan yang sempurna. Nyatanya Vanya mengakui, adiknya itu mampu meluluhkan pria yang sejak dulu sulit tersentuh itu.
"Hm, Vanya? Apakah kau tidak merasa aneh melihat mantan tunanganmu sekarang menjadi adik iparmu?"
"Tidak ada yang aneh. Mungkin takdir Julian adalah Alexa." Vanya menjawab dengan suara yang penuh keyakinan dalam dirinya.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.