Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Manja Seperti Anak Kecil


__ADS_3

"Ya sudah, Kak. Aku harus pulang ke mansion. Aku di negara M tidak lama. Dan tiga hari lagi aku harus kembali ke negara Y " ujar Kaylan seraya menatap Alexa.


Alexa mendesah pelan, "Kenapa cepat sekali? Aku masih begitu merindukanmu?"


"Aku harus segera menyelesaikan kuliahku Kau tahu kan, Kak Samudera sudah memintaku untuk mengurusi perusahaan seperti terakhir saat kau keluar dari rumah sakit, aku tidak bisa lama bertemu denganmu karena Kak Samudera memintaku belajar tentang perusahaan." ujar Julian dengan nada dingin dan raut wajah yang datar.


Alexa mengerutkan bibirnya. Ya, dia dan adik bungsunya memang terpisah karena adiknya itu harus menyelesaikan kuliahnya. Jika dulu Alexa memilih untuk menyelesaikan pendidikannya di negara R. Berbeda dengan Samudera dan juga Kaylan yang memilih untuk menyelesaikan pendidikannya di negara Y. Sedangkan Vanya, Kakak perempuannya itu memilih untuk menyelesaikan pendidikannya di negara M.Itu kenapa meski Alexa memilki empat bersaudara tetapi mereka tidak memiliki pilihan yang sama dalam hal pendidikan. Dan Raymond, Ayahnya membebaskan mereka untuk memilih tempat kuliah yang mereka inginkan.


"Baiklah, hubungi aku jika kau sudah sampai di rumah," ujar Alexa mengingatkan.


Kaylan pun mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sebelum pulang, ada yang ingin aku tanyakan padamu, Kak?"


"Ya, kau ingin bertanya apa?"alis Alexa berkerut dia menatap balik Kaylan.


"Asistenmu mengatakan kalau kau ingin pergi ke negara A? Apa kau yakin? Bukannya kau sedang hamil?" Kaylan menatap lekat iris mata coklat Alexa, Kakak perempuannya itu.


"Iya, aku akan pergi babymoon ke negara A dan sepertinya aku tidak perlu bilang lagi pada Papah dan Mamah. Pasti mereka sudah tahu mengenai itu." Alexa menarik nafas dalam dan menghembuskan nafas perlahan. "Tapi kau itu tidak perlu mencemaskanku. Karena aku dan kandunganku itu baik - baik saja. Beberapa hari yang lalu aku dan Julian sudah periksa kandungan."


"Ya, Papah dan Mamah sudah mengetahuinya." jawab Kaylan. "Ya sudah, aku harus pulang sekarang. Kau jaga dirimu."


"Ya, kau juga harus ingat untuk selalu menghubungiku. Aku merindukanmu. Terima kasih sudah mau melukis Kakak, Kaylan." Alexa memeluk erat tubuh Kaylan. Dan Kaylan pun membalas pelukan dari Alexa.


Tak berselang lama Kaylan mengurai pelukannya. Tatapannya beralih pada Julian yang sedang berdiri di samping Alexa. "Jaga Kakakku," ucapnya menekankan.


Julian mengangguk singkat. "Sudah pasti. Karena Kakakmu itu adalah hidupku aku pasti akan menjaganya."


Kaylan terdiam sesaat. Kemudian dia mengecup kening Alexa dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Julian dan Alexa yang masih tidak bergeming dari tempatnya.

__ADS_1


"Padahal, aku masih sangat merindukannya." gumam Alexa dengan helaan nafas berat.


"Adikmu itu harus segera menyelesaikan pendidikannya." Julian merengkuh bahu sang istri. "Sekarang lebih baik kita masuk kedalam kamar.Kau harus mengganti pakaianmu."


Alexa pun mengangguk patuh.


***


Waktu kini menunjukkan pukul delapan malam. Alexa kini tengah duduk di sofa kamar sambil menonton film action kesukaannya. Sedangkan Julian duduk di samping Alexa dan dia tengah fokus pada iPad yang ada di tangannya.


"Julian, nanti ketika kita sampai di negara A. kita tidak perlu menginap di hotel. kita tinggal saja di rumah milik orang tuaku. Rumah itu kosong dan ada beberapa pelayan saja," ujar Alexa seraya menatap Julian yang sudah sejak tadi berkutat dengan iPad yang ada di tangannya.


"Kau ingin kita tinggal di rumah keluargamu?" Julian bertanya memastikan.


"Iya, kita tinggal di rumah keluargaku saja " jawab Alexa sambil beranjak dari tempat duduknya dan dia memilih pindah untuk duduk dipangkuan Julian.


Julian sedikit terkejut saat Alexa tiba-tiba saja duduk di pangkuannya. Namun, keterkejutannya hanya sesaat dan tergantikan dengan senyuman yang terukir di wajahnya. Julian meletakkan iPad di tangannya ke atas meja lalu menarik tubuh sang istri untuk merapat ke tubuhnya.


Julian menarik dagu Alexa. Mencium dan ******* dengan lembut bibir Istrinya. "Maafkan aku, sayang.Tadi aku sedang membalas email yang masuk dari Kenzo."


"Apa aku sekarang menyebalkan?" tanya Alexa dengan bibir yang berkerut.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" alis Julian terangkat, menatap lekat mata cokelat sang istri.


"Aku sekarang seperti anak kecil. Aku sendiri tidak tahu kenapa. Tapi aku benar-benar sangat manja. Aku menyadari itu. Maafkan aku," Alexa memeluk leher Julian, dia menempelkan pipinya ke pipi sang suami.


"Tidak masalah, sayang. Aku juga senang bisa memanjakanmu." Julian mengecup pipi Alexa. "Lebih baik kita tidur sekarang. Kau sedang hamil dan tidak baik jika terlambat."

__ADS_1


"Aku mau tidur dalam pelukanmu. Kau tidak boleh pergi ke ruang kerjamu lagi." bibir Alexa tertekuk. Dia tahu, jika Julian sering meninggalkannya jika sudah terlelap. Pasalnya, beberapa kali ketika dia bangun tengah malam, dia tidak mendapati suaminya berada di sampingnya.


"Ya, aku tidak akan kemana-mana. Aku akan terus berada di sampingmu untuk memelukmu sepanjang malam." Julian mengecup bibir Alexa. Kemudian dia beranjak dari tempat duduknya seraya membopong tubuh Alexa gaya bridal. Dan Alexa tersenyum saat Julian menggedongnya. Kini Alexa membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya, meringkuk layaknya anak kecil.


***


Julian menatap berkas yang ada di hadapannya. Dia menghembuskan nafas kasar.Banyaknya dokumen yang harus dia periksa. Ya, meski Kenzo sudah memeriksanya namun Julian pun tidak bisa langsung untuk menandatangi itu. Biasanya, dia itu akan kembali memeriksa setiap points penting yang ada di berkas yang akan di tanda tangani.


Julian melonggarkan dasinya yang melingkarkan di lehernya. Lalu mengambil wine yang ada di hadapannya dan menyesapnya perlahan. Pagi ini, Julian lebih dulu memilih untuk berangkat kerja. Karena banyaknya pekerjaan yang harus dia selesaikan, membuat dirinya meninggalkan Alexa dengan notes yang dia letakkan di atas nakas.Seperti biasa, setelah ini dia akan mendapatkan masalah karena sudah meninggalkan Alexa hanya dengan sebuah notes. Tanpa menunggu istrinya itu untuk bangun. Tapi apa boleh buat, Julian juga tidak tega jika harus membangunkan istrinya yang sedang tertidur dengan begitu pulas.


Suara ketukan pintu terdengar, Julian mengalihkan pandangannya sebentar ke arah pintu. Kemudian menginterupsi untuk masuk.


"Tuan," Kenzo menyapa saat memasuki ruang kerja Julian.


"Ada apa?" tanya Julian dingin.


"Maaf Tuan. Saya sudah memeriksa jadwal anda minggu depan. Sepertinya anda itu harus menunda keberangkatan anda ke negara A. Mengingat perusahaan baru saja pulih dari krisis dan saat ini para pemegang saham meminta ingin bertemu dengan anda secara langsung. Paling tidak, tunggu hingga bulan depan saja, Tuan. Saya rasa, di bulan depan anda sudah memiliki waktu yang lebih banyak." ujar Kenzo memberitahu.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2