
Di detik selanjutnya tatapan Samudera teralih pada sebuah pisau yang terletak di atas meja. Dengan sigap Samudera langsung mengambil pisau itu. Dan Julian bergerak cepat saat melihat Samudera mengambil sesuatu. Pria itu mengambil pistol dari tangan anak buahnya. Samudera kembali melawan Julian dengan menerjang pria itu dengan pisau yang ada di tangannya. Namun, tiba - tiba...
"Keluar dari sini sekarang," desis Samudera tajam seraya menekan keras pisau yang ada di tangannya ke leher Julian.
"Kalau begitu, aku juga akan tunjukkan bagaimana benda ini bekerja!" Jawabnya seraya menekan pistol tepat di jantung Samudera.
"Sudah Hentikan!" Teriak Alexa dengan keras.Air matanya mulai berlinang membasahi pipinya. Dia terisak. Sudah sejak tadi dia menahan. Tapi dia tidak bisa lagi menahannya, "Jika kalian tidak ada yang menghentikan perkelahian kalian lebih baik aku pergi dari sini!" Teriaknya.
Perkataan Alexa sukses membuat Samudera menjauhkan pisaunya. Begitu juga dengan Julian yang langsung menjatuhkan pistolnya. Saat Raymond hendak mencegah Alexa, kali ini Arabella yang langsung menghadang Raymond.
"Alexa...," Julian menatap istrinya dengan tatapan yang penuh dengan permohonan.
"Kita bicara di dalam." Alexa terisak pelan. Dia menatap wajah Julian yang berlumuran dengan darah.
"Alexa-"
"Samudera!" Arabella langsung menghunuskan tatapan tajam pada putranya agar tidak ikut campur. Dan Samudera pun. terpaksa diam, dia mengikuti permintaan Ibunya.
Kini Alexa melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar, bersama dengan Julian yang mengikutinya. Raut wajah Alexa tampak begitu muram. Iris mata coklatnya begitu menunjukkan kesedihan yang mendalam.
***
"Alexa dengarkan aku," Julian hendak melangkah mendekat ke arah Alexa, namun Alexa langsung melangkah mundur menghindar darinya.
"Jangan mendekat. Apalagi yang ingin kau katakan? Bukankah sudah jelas kau itu tidak bisa lepas dari bayang-bayang mantan kekasihmu itu?" ucap Alexa dengan nada yang sedikit bergetar. Menahan Isak tangisnya.
__ADS_1
"Tapi aku tidak bisa kehilanganmu! Dan berhentilah membahas tentang Berlian!" Balas Julian menegaskan. Kemudahan Julian menyentuh lengan Alexa, dia menatap istrinya dengan penuh harap.
"Bicaralah, apa yang ingin kau bicarakan aku akan mendengarkannya," Alexa menjauhkan tangannya, dia menatap Julian dengan mata yang memerah.
Julian membuang napas pelan. Dia terdiam sesaat. Hingga kemudian dia berkata, " Maaf," Julian menatap Alexa dengan tatapan yang penuh dengan permohonan.
Alexa menggelengkan kepalanya tegas. "Setelah kau mengatakan lebih memilih Berlian dan sudah memberikanku luka yang begitu mendalam, sekarang kau datang untuk meminta maaf? Kenapa kau hanya diam dan membiarkan aku terluka? Kenapa Julian?" serunya dengan isak tangisnya yang sedikit kencang. "Kau tahu apa yang kau perbuat hampir membunuh istri dan anakmu juga!" Teriaknya keras.
Julian memejamkan matanya sesaat. Dia mengepalkan tangannya kuat saat Alexa mengatakan hal itu. Karena apa yang dikatakan oleh istrinya adalah benar.
"Aku minta maaf, Ini semua memang salahku yang sudah tidak jujur padamu," Julian kembali memohon agar istrinya kembali memaafkannya.
Alexa menghapus air matanya dan berucap dengan serius, "Sekarang aku ingin bertanya padamu?"
Julian mengangguk lemah sebagai jawaban dia akan menuruti semua permintaan istrinya.
Julian terdiam sesaat. Hingga kemudian dia melangkah mendekat ke arah Alexa dan berkata, "Sebenarnya anak yang di kandung Berlian bukan anakku. Kemarin Ayahku sudah menunjukkan bukti perselingkuhan Berlian dengan saingan bisnisku. Dan di detik dimana aku mengetahui semuanya. Termasuk peselingkuhanya, semua rasa bersalahku pada Berlian sudah lenyap. Alexa percayalah, aku tidak mungkin memilih wanita di masa laluku dan meninggalkanmu. Aku mencintaimu, Alexa."
"Mencintaiku?" Alexa menggelengkan kepalanya tegas."Tapi kenapa aku tidak pernah merasa kalau kau itu mencintaiku? Rasa bersalahmu pada Berlian membuatku semakin muak! Kau itu begitu mencintai Berlian!Bukan diriku! Kau hanya kecewa saat mengetahui ternyata Berlian sudah berselingkuh darimu! Tapi kenyataannya hanya Berlian yang ada di hatimu bukan aku!"
Air mata Alexa kembali menetes membasahi pipinya. Hatinya begitu sesak dan terluka. Ya, Alexa masih sangat yakin, jika yang Julian cintai itu hanya Berlian. Bukan dirinya. Dan Julian hanya sedang kecewa karena mengetahui jika ternyata Berlian sudah berselingkuh.
"Alexa, sungguh aku sudah tidak lagi mencintai Berlian. Kenapa kau tidak percaya padaku?" Julian nyaris frustasi dengan istrinya. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana lagi menjelaskannya pada Alexa yang masih tidak mempercayainya.
"Percaya?" Alexa tersenyum patah. Sebuah senyuman yang tidak lagi sempurna. "Bagian mana yang harus aku percaya padamu, Tuan Julian Dominic! Kau begitu banyak menutupi sesuatu dariku! Bukan hanya itu kau juga selalu menyiksaku. Ya, karena kau itu masih hidup dalam bayang - bayang Berlian!" Seru Alexa dengan Isak tangisnya
__ADS_1
"Aku minta maaf, Alexa." Julian berucap menurunkan nada suaranya. Raut wajahnya tampak merasa bersalah. "Apa sulit kau percaya kalau aku membutuhkanmu untuk selalu berada di sisiku? Aku memang bukan pria yang romantis yang bisa mengucapkan kata cinta dengan mudah. Tapi apa harus aku mengatakannya padamu setelah aku sudah menunjukkan kepedulianku dan kecemburuanku?"
Alexa terdiam. Ya, Alexa bahkan tidak menyangka jika Julian akan memohon padanya. Dia pikir, Julian tidak akan pernah melakukan hal itu. Namun tidak, Alexa yakin semua ini hanyalah sementara. Dia tidak ingin terjatuh untuk ketiga kalinya. Luka di hatinya saja masih terasa begitu menyakitkan.
"Kau itu peduli padaku karena aku hanya tanggung jawabmu. Membutuhkan dan tanggung jawab adalah dua kata yang berbeda."
Julian menggeram, ketika Alexa mengatakan hal itu. Kilat matanya begitu tajam dan penuh kemarahan begitu terlihat, "Bisakah kau mempercayaiku, Alexa!"
"Tidak, aku tidak bisa mempercayaimu!" Bentak Alexa keras. Napasnya memburu. Air matanya terus menetes. Julian mengumpat kasar. Dia mengepalkan tangannya begitu kuat. "Aku jatuh cinta padamu, Alexa! Jika aku tidak mencintaimu, aku tidak akan pernah cemburu! Jika aku tidak mencintaimu, aku tidak akan pernah memohon padamu untuk tidak menyiksaku atas kepergiannmu! Jika aku tidak mencintaimu aku tidak pernah berkelahi dengan Kakakmu untuk menjemputmu! Setelah kau berhasil masuk ke dalam hidupku, berhasil mengubah apa yang aku pikirkan, kenapa kau masih tidak percaya!" Teriaknya begitu menggelegar. "Aku tidak memperdulikan tentang Berlian. Demi Tuhan Alexa aku hanya mencintaimu." lanjutnya.
Alexa menggelengkan kepalanya tegas. Bulir air matanya terus membasahi pipinya. Kini dia berbalik dan berucap dengan nada yang bergetar, "Lebih baik kita akhiri saja Julian. Kau jalani saja kehidupanmu. Kita memang tidak pernah bisa bersama. Untuk anak ini, aku berjanji tidak akan pernah melarangmu untuk menemuinya. Kau berhak menemuinya karena bagaimanapun kau itu itu Ayah kandungnya."
Bagai tersambar petir Julian bungkam. Raut wajahnya langsung menegang saat mendengar perkataan Alexa. Iris mata coklatnya tajam terus menatap punggung Alexa.
"Apa maksudmu, Alexa? Sampai kapanpun kita tidak akan pernah berpisah!"
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.