Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Kemarahan Samudera


__ADS_3

Julian menatap Alexa yang terbaring lemah. Wajah pucat Istrinya benar - benar membuat hidupnya seolah ingin berhenti. Sebenarnya dokter mengatakan keadaan Alexa masih kritis. Kandungannya masih bisa di selamatkan, hanya saja sang dokter sudah mengatakan pada Julian, bahwa kandungan Alexa sangat lemah.


"Sayang..." Julian membawa tangannya mengelus lembut pipi putih Alexa. "Apa yang terjadi tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak mungkin tidak memilihmu, Alexa. Aku minta maaf karena tidak mengatakan yang sebenarnya padamu, maafkan aku..." Julian menyentuh tangan Alexa, dan mengecup punggung tangan istrinya.


Sesaat tatapan Julian teralih pada perut istrinya. Dia memejamkan matanya, jika mengingat kebodohannya. Hampir saja istri dan anaknya tidak selamat. Kini Julian membawa tangannya menyentuh perut Alexa. Ada gelenyar aneh dalam dirinya saat menyentuh perut istrinya. Dia tidak menyangka akan memilki anak dengan Alexa. Sungguh, kebahagiaan di dalam dirinya tidak lagi bisa tertutupi.


"Aku akan menebus semuanya. Maafkan aku, Alexa." Julian menundukkan kepalanya, dia terus menempelkan tangannya di perut sangat istri. Perlahan bulir air mata menetes di sudut matanya. Rasa takut Julian kehilangan Alexa, membuatnya tidak ingin pergi dari ruang rawat sang istri. Julian takut, jika Alexa meninggalkannya. Julian tidak pernah tahu bagaimana dia akan melanjutkan kehidupannya, jika Alexa benar - benar meninggalkannya. Di detik Julian kembali mendengar detak jantung Alexa, dia tidak hentinya bersyukur.


Kini Julian mendekatkan bibirnya ke telinga Alexa, dia mengecupi pipi wanita itu seraya berucap pelan. "Sejak kita menikah, aku selalu menyangkal aku mencintaimu. Aku pikir, aku tidak akan pernah bisa jatuh cinta pada wanita lain. Dua tahun lalu hidupku sudah mati. Tapi selama satu minggu kau pergi, itu benar - benar menyiksaku, Alexa. Sekarang cukup untuk menyiksaku. Aku tidak sanggup jika kau harus pergi lagi dariku. Aku akan menerima segala hukuman darimu. Tapi hanya satu yang aku inginkan jangan pernah meninggalkan aku, Alexa. Aku tidak bisa hidup tanpamu."


"Apa kau sudah selesai bicara? Jika sudah, sekarang kau ikut aku keluar?" suara bariton memasuki ruangan kamar rawat Alexa.


"Samudera," Julian mengalihkan pandangannya, dan sedikit terkejut melihat kedatangan Samudera.


Ketika ruangan ICU tertutup. Samudera langsung menarik kasar kerah baju Julian. "Sialan kau, Dominic! Jika terjadi sesuatu pada adikku, aku bersumpah akan menghabisimu dengan tanganku sendiri!" Samudera menggeram penuh dengan kemarahan, dia semakin kuat mencengkram kerah baju Julian. Kemudian Samudera pun menghajar pelipis Julian. Julian memilih diam, di tidak membalas pukulan dari Samudera. Karena Julian tahu ini memang kesalahannya.


"Bukan hanya kau yang takut terjadi sesuatu pada Alexa! Tapi aku juga takut kehilangan adikmu, Samudera!" Julian berteriak dengan keras. Tidak hanya Samudera penuh dengan kemarahan. Namun, Julian juga di penuhi dengan kemarahan.


"Dan bisa kau jelaskan ini Julian," Samudera langsung mengeluarkan kertas yang tercetak sebuah foto kemudian memberikannya pada Julian.


Julian menerima kertas itu. Seketika jantungnya berdegup dengan kencang. Wajahnya pucat ketakutan. Ya, foto itu adalah foto dirinya saat membopong Alexa yang saat itu mencoba bunuh diri dan akan membawanya ke rumah sakit dan saat dirinya mengurung Alexa di ruangan khusus. Entah darimana Samudera bisa mendapatkan hampir semua rekaman gambar CCTV di mansionnya itu. Karena Julian sangat yakin jika keamanan di mansionnya sudah terjaga dengan sangat ketat.


"Sa- Samudera aku-"

__ADS_1


"Apa? Kau ingin menjelaskan apa?" ucap Samudera dengan tatapan yang begitu tajam.


"Samudera, maafkan aku." Julian menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Julian.


Samudera membuang napas kasar. "Jelaskan! Aku tidak ingin mendengar kata maaf darimu, sialan!"


Julian terdiam sesaat. Hingga kemudian dia menjawab pelan. "Aku tidak bermaksud untuk menyakiti Alexa. Percayalah Samudera. Saat itu, aku hanya ingin mendisiplinkan Alexa agar dia bisa patuh padaku dan tidak pernah membantah perintahku." ucap Julian memberikan alasan.


"Maksudmu mendisplinkan, dengan merantai tangan dan kaki adikku, begitu kan maksudmu? Kenapa kau tega sekali memperlakukan adikku seperti binatang, Julian! Kenapa?" Seru Samudera.


"Saat itu, aku hanya berpikir kalau itu hukuman yang pantas untuk Alexa."


"Kurang ajar! Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri Dominic!" Seru Samudera meninggikan suaranya. Kemudian Samudera kembali menghajar Julian. Kali ini tidak tinggal diam, Julian membalas pukulan dari Samudera. Sedangkan Kenzo dan Marvel, mereka berdiri di sana menatap kedua Tuan muda mereka yang saling berkelahi. Tidak ada satupun di antara mereka yang berani memisahkan Samudera dan Julian. Saat Samudera hendak memukul Julian, Vanya yang baru selesai dari kantin rumah sakit langsung menahan tangan Samudera.


"Vanya? Kau? Kenapa kau ada di sini?" tanya Samudera bingung.


"Aku akan menjelaskan nanti, yang terpenting Kak Samudera jangan pernah membuat keributan di rumah sakit, Kak."


"Tidak bisa, Vanya. Rasanya aku ingin sekali membunuh manusia ini karena sudah berani menyakiti Alexa."


"Bisakah kau tenang, Kak. Kita bisa membicarakan ini. Tidak dengan cara kalian saling berkelahi seperti itu." Vanya berusaha untuk menenangkan Kakaknya.


Samudera menggeram, dia ingin kembali menyerang Julian. Namun, dia memilih untuk meredakan amarah yang hendak meledak dalam dirinya. Dia tahu, dirinya itu sedang berada di rumah sakit. Dia tidak ingin membuat kegaduhan.

__ADS_1


"Aku pastikan akan membunuhmu, Dominic!" Desis Samudera dengan penuh ancaman.


Ya, sebelumnya Samudera mendapatkan informasi tentang kondisi adiknya, dari Marvel, asistennya. Saat itu, Samudera langsung menyuruh Marvel untuk membobol sistem keamanan di mansion milik Julian. Setelah Samudera mendapatkan telepon terakhir kali dari Alexa. Tak butuh waktu lama Asistennya itu pun sudah berhasil membobol keamanan di mansion milik Julian. Meskipun masih ada beberapa ruangan yang belum bisa di akses olehnya. Namun, itu sudah cukup di jadikan bukti bahwa selama ini, Julian sudah melukai adiknya.


Dan hal yang membuat Samudera sangat marah adalah ketika dia melihat rekaman CCTV di mansion milik Julian yang di kirimkan langsung oleh Marvel. Disana Samudera melihat bagaimana perlakuan kasar Julian kepada adiknya. Dan saat Julian melihat pergelangan tangan Alexa yang mengeluarkan darah begitu banyak. Sungguh, Samudera pun sama sekali tidak pernah menduga, jika Julian akan tega memperlakukan adiknya dengan begitu kasar seperti yang terlihat di rekaman CCTV itu.Jika membayangkan semuanya, rasanya Samudera ingin sekali melenyapkan pria sialan yang ada di hadapannya ini.


"Aku tidak akan pernah memaafkanmu, jika sampai terjadi sesuatu pada adikku." desis Samudera dengan tatapan tajam pada Julian.


Julian menghembuskan nafas kasar, dia memilih untuk tidak lagi menjawab. Karena, jika dia menjawab akan terjadi perkelahian kembali di antara mereka berdua.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2