Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Terlihat Menggemaskan


__ADS_3

"Tapi Julian, aku tidak bisa mempercayakan sepupuku begitu saja pada orang lain. Terlebih dia dalam keadaan mabuk. Dan jika aku memberitahu Paman Demian itu sama saja aku membuat Adel dalam masalah," Alexa mendekat, merapatkan tubuhnya pada sang suami. "Aku dan anak kita baik - baik saja, sayang. Tidak ada yang perlu kau takutkan. Aku minta maaf karena sebelumnya tidak menurutimu."


Julian kembali menghembuskan nafas kasar. Dia terdiam saat Alexa memeluk tubuhnya. Hatinya mulai luluh saat mendengar permintaan maaf dari Alexa. Di detik selanjutnya, Julian membawa tangannya mengusap lembut kepala Alexa. Dia membalas pelukan sang istri dengan kuat.


"Oke. Tapi lain kali, kau tidak boleh keluar di tengah malam sendirian apalagi sampai mengendarai mobil sendirian. Aku tidak mau kau seperti itu lagi." Julian menangkup kedua pipi Alexa, dia memberikan kecupan yang lembut di bibir sang istri. "Aku khawatir padamu, Alexa. Dan aku takut terjadi sesuatu padamu."


Alexa tersenyum hangat mendengar perkataan Julian. Ya, suaminya itu sering sekali bertindak overprotektif.


"Baik, sayang. Aku minta maaf." ucap Alexa sambil menatap dengan lembut iris mata coklat milik Julian. "Dan aku berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi? Jadi? Kau sudah memaafkan aku kan?" ucapnya.


"Ya, aku memaafkanmu." ucap Julian, lalu membenamkan bibirnya ke bibir Alexa. "Sekarang kita tidur, ini sudah malam."


"Tapi tadi, bukankah kau ingin mandi." ucap Alexa mengingatkan suaminya.


"Aku tidak jadi mandi.Lagi pula tubuhku masih harum" balas Julian.


"Hm, Julian. Tunggu sebentar." ucap Alexa, sambil menahan lengan Julian.


"Apakah Adel akan baik - baik saja saat bersama dengan Kak Devan? Aku hanya takut, terjadi sesuatu pada sepupuku." ujar Alexa mengutarakan kecemasannya.

__ADS_1


"Kau tidak perlu takut dan mencemaskan Sepupumu. Aku tau, Devan tidak akan mungkin melakukan kesalahan karena dia bukanlah pria yang bodoh. Dia pasti akan melindungi sepupumu." jawab Julian.


Mendengar ucapan dari suaminya Alexa pun bernafas lega, "Ya sudah, sekarang aku tenang." ucapnya seraya memeluk lengan Julian. Julian kemudian mengecup kening Alexa, kemudian mereka melangkah menuju ke arah ranjang.


***


"Alexa, ternyata kuat juga ya untuk membopongku? Apakah tubuhku ini terlalu kurus jadi kau dengan mudahnya mengangkatku?" Adel masih merancau dengan mata yang sayu akibat mabuk berat dan Devan hanya diam saja dia masih membopong tubuh Adel hingga masuk kedalam rumahnya.


Kini Devan susah berada di depan kamarnya, dan masuk kedalam kamarnya. Lalu, dia membaringkan tubuh Adel diatas ranjang serta membantu wanita itu untuk melepaskan heelsnya. Devan pun kemudian duduk di tepi ranjang. Tatapannya tak lepas


menatap Adel yang sudah memejamkan matanya dan wanita itu sudah tidak lagi merancau karena sudah tertidur pulas.


"Kau sangat lucu saat mabuk tadi." ucap Devan, sambil membawa tangannya menyentuh bibir ranum Adel. Wanita itu memiliki wajah yang mungil dan cantik. Jika Alexa memiliki tubuh yang tinggi layaknya seorang model, berbeda dengan Adel yang memiliki tubuh yang mungil. Adel memilki tinggi yang sama seperti kebanyakan orang asia. Hanya saja, untuk wajah Adel dia tidak memiliki wajah asia. Karena Iris matanya yang berwarna silver dan rambutnya yang pirang membuat Wanita itu sangat cantik.


"Harum sekali." gumam Adel sambil memejamkan matanya. Dia mengendus - endus dada bidang Devan. Sedangkan Devan tersenyum saat mengetahui jika Adel ternyata sangat menyukai aroma parfum di tubuhnya dan Devan pun teringat akan perkataan Adel jika Adel mengingat pemilik dari parfum di tubuhnya, itu artinya Adel mengenali wangi dirinya yang sudah membekas di dalam pikiran Adel.


"Kenapa saat kau mabuk sangat menggemaskan sekali, hmm. Apakah ini caramu menggodaku?" ucap Devan, kemudian menarik dagu Adel dan dengan berani Devan langsung mencium bibir ranum milik Adel dan memanggutnya dengan lembut . Saat Devan mencium bibir Adel dia pun mulai merasakan saat Adel juga membalas ciumannya itu. Devan mulai terbuai karena bibir Adel yang terasa begitu lembut. Meskipun ada aroma alkohol sekalipun namun bibir milik Adel terasa sangat manis. Tidak hanya diam, kini lidah Devan sudah menyapu juga di dalam rongga mulut Adel.


"Akh-" desah Adel ketika merasakan ada yang mencium dirinya dengan begitu panas dan liar.

__ADS_1


Saat mendengar suara ******* dari Adel, Devan pun langsung melepaskan tautan bibirnya karena Devan tahu, dirinya itu sudah melampaui batas. Dia sama sekali tidak ingin mencari kesempatan pada wanita yang sedang mabuk. Meskipun dia sangat menginginkan Adel untuk menjadi miliknya, namun dia tidak akan sebodoh itu untuk memanfaatkan wanita yang sedang mabuk.


"Sialan apa yang sudah aku lakukan tadi! Aku membutuhkan air dingin." umpat Devan. Kemudian dia bangkit berdiri dan menjauh dari tubuh Adel. Sebelum pergi, Devan tidak lupa untuk menutupi tubuh Adel dengan selimut. Setelah itu, Devan langsung masuk kedalam kamar mandi. Ya, dia membutuhkan air dingin. Rasanya, dia tidak bisa menahan diri berada di samping Adel terlalu lama. Dia pun takut jika nantinya tidak bisa mengontrol hasratnya. Dengan mandi air dingin mungkin saja bisa menekan hasratnya untuk memilki Adel. Bukannya tidak ingin melakukannya tapi dia juga ingin melakukan hal itu jika Adel telah menerimanya. Bukannya ketika Adel sedang mabuk seperti saat ini.


***


Tak terasa sinar matahari sudah tinggi. Silaunya sampai menembus jendela, menyentuh wajah Alexa yang masih tertidur pulas di atas ranjang yang besar dan empuk otu. Perlahan Adel menggeliat dan mengerjapkan matanya beberapa kali dan menguap. Saat mata Adel sudah terbuka sempurna, dia sangat terkejut saat mendapati dirinya berada di sebuah kamar yang berbau maskulin. Adel kemudian memijat pelan pelipisnya, dia mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya sudah terjadi tadi malam. Dan kenapa dia bisa berakhir di kamar seperti ini? Namun, saat Adel berusaha kembali mengingat kejadian semalam, tiba - tiba saja raut wajahnya langsung berubah saat dia mengingat kembali kejadian semalam, jika dirinya mendatangi club malam sendirian dan berakhir mabuk dan dia juga masih mengingat jika dia sedang berdansa dengan dua orang pria. Dan terakhir, Adel juga masih mengingat jika Alexa, sepupunya itu menjemput dirinya.Meskipun Adel sedang mabuk tapi dia masih mengingat dengan jelas beberapa bagian yang terjadi tadi malam meskipun tidak seluruhnya.


Ceklek.


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2