Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Undangan Makan Malam


__ADS_3

"Julian, tapi bagaimana bisa kau tidak memberitahuku lebih dulu?!" Seru Alexa dengan tatapan dingin pada suaminya.


"Maaf," Julian menarik dagu Alexa. Mencium dan ******* dengan lembut bibir sang istri. "Rencananya aku baru mengatakan padamu hari ini? Tapi Pamanmu sudah lebih dulu menghubungimu."


Alexa menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. "Jadi? Bulan depan kita tidak pergi ke negara A?" tanyanya dengan suara yang pelan dan raut wajah yang tampak kecewa.


"Maafkan aku." Julian mengelus dengan lembut pipi Alexa sambil mengecupnya di sana. "Aku berjanji setelah ini kita akan pergi berlibur."


Raut wajah Alexa tampak begitu muram mendengar perkataan dari Julian. Namun, dia pun tidak memiliki pilihan yang lain. Selain mengerti keadaan dari sang suami. Ya, Alexa pun mengerti jika Julian akan sangat sibuk dengan pekerjaannya. Dan tidak mudah untuk meninggalkan perusahaan yang sebelumnya mendapatkan masalah.


"Kau marah padaku?"Julian bertanya dengan tatapan yang lembut ke arah Alexa.


"Tidak Julian," Alexa memeluk erat tubuh Julian, dia membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Aku mengerti. Kau pasti sibuk."


"Terima kasih, kau sudah mengerti." Julian membawa tangannya mengusap dengan lembut rambut Alexa.


"Tapi kau berjanji, ya? Kita itu akan tetap pergi ke negara A?" Alexa mendongakkan kepalanya, menatap iris mata coklat Julian.


"Iya, sayang." Julian mendekatkan hidungnya, ke hidung Alexa dan menggeseknya dengan pelan. "Sekarang lebih baik, kau segera berpakaian. Kalau tidak, jangan salahkan aku jika aku akan menerjang mu."


"Eh, Alexa mengerjap. Dia langsung mengurai pelukannya dan menatap tubuhnya. Sial, benar saja ternyata Alexa masih memakai bathrobe. Tadi dia terburu - buru mengangkat telepon dari Pamannya, hingga melupakan untuk mengganti bajunya.


Sedangkan Julian sudah menyunggingkan senyuman yang misterius. Dia menarik tubuh Alexa untuk mendekat ke arahnya. "Aku rasa kau sengaja sedang menggodaku?" bisik Julian di telinga istrinya


"Julian! Siapa juga yang sedang menggodamu!" Alexa memukul lengan suaminya dengan keras.


Julian tertawa pelan melihat wajah kesalnya Alexa yang begitu menggemaskan. Kini dia menangkup kedua pipi Alexa, mencium dan ********** dengan lembut. "Kenapa kau selalu membuatku jatuh cinta padamu?" bisiknya tepat di depan bibir Alexa.


Pipi Alexa pun merona mendengar apa yang di katakan oleh Julian. Tidak biasanya jika sang suami mengatakan hal yang begitu manis padanya. Kini Alexa mengaitkan tangannya ke leher Julian, dia sedikit berjinjit. Tepat di saat Alexa sedang berjinjit, Julian langsung memeluk erat pinggang sang istri untuk mensejajarkan dengan tubuhnya.


"Kau juga selalu membuatku jatuh cinta. Sifatmu yang menyayangiku. Ketulusanmu. Dan apapun tentang dirimu, telah berhasil membuatku jatuh hati pada dirimu." bisik Alexa tepat di bibir Julian.


Julian tersenyum, dia langsung memagut dengan lembut bibir Alexa. Tidak hanya dia, Alexa pun menyambut dengan lembut bibir Julian. Alexa memejamkan matanya menikmati setiap pagutan yang di berikan oleh suaminya itu.

__ADS_1


"I love you." Alexa berbisik dengan tatapan yang begitu lembut pada Julian.


"I love you more," Julian kembali membenamkan bibirnya ke bibir Alexa.


"Apa sekarang kau sudah memaafkan aku?" tanya Julian saat pagutannya terlepas.


"Ya, dan jangan lagi mengulanginya! Aku tidak suka jika kau menutupi sesuatu dariku lagi, Julian." jawab Alexa.


"Iya, aku berjanji tidak akan lagi menutupi sesuatu darimu, sayang." ucap Julian. "Sekarang kau gantilah pakaianmu." lanjutnya


Alexa mengangguk dia pun berjinjit mengecup rahang Julian. Kini Alexa melangkah meninggalkan Julian, menuju ke arah walk in closetnya mengganti pakaiannya.


***


Siang harinya Alexa dan Julian pun sudah berada di kantor karena Kenzo menghubunginya jika harus meeting dengan Devan untuk membahas kerja sama yang beberapa hari yang lalu pembahasannya sempat tertunda.


"Selamat siang Tuan Julian... Nyonya Alexa...." Kenzo menyapa saat melihat Alexa dan Julian baru saja keluar dari lift.


"Siang Kenzo," jawab Alexa dengan senyuman samar di wajahnya.


"Kenzo, apa Devan sudah datang?" tanya Julian langsung.


"Ada apa?" kening Julian berkerut, menatap dingin ke arah Kenzo.


"Begini Tuan. Pembangunan hotel kita yang ada di negara P dan B sudah masuk dalam proses perancangan arsitek. Dan malam ini, pemilik perusahaan dari negara D yang akan bekerja sama dengan kita mengundang anda untuk di jamuan makan malam. Apa anda akan datang, Tuan? Beliau memberitahu saya baru saja tadi pagi," ujar Kenzo hati - hati.


Julian mengangguk. "Ya, aku akan datang."


"Baik Tuan." jawab Kenzo seraya menundukkan kepalanya.


Kini Julian menggenggam tangan Alexa, membawanya masuk kedalam ruang kerjanya, menemui Devan yang sudah menunggunya sejak tadi.


"Julian, kenapa kamu baru datang? Aku menunggumu hampir tiga jam!" Seru Devan kesal saat melihat Julian dan Alexa yang baru saja masuk.


"Salahkan saja dirimu kenapa memaksa untuk bertemu?" ucap Julian sambil duduk di hadapan Devan. Sedangkan Alexa, dia duduk di samping suaminya.

__ADS_1


"Maaf, membuatmu menunggu, Kak Devan." sambung Alexa yang merasa tidak enak.


Devan tersenyum. "Tidak apa-apa, Alexa. Aku hanya kesal pada suamimu itu.Tapi kalau kau yang terlambat aku tidak mungkin marah padamu."


Julian membuang napas kasar. "Bagaimana hasil pembuatan parfum bersama dengan Tuan Renier?" tanyanya langsung. Dia memang tidak suka berbasa-basi


"Semuanya berjalan lancar. Dan rencananya bulan depan untuk pembuatan parfum dengan aroma tradisional akan di mulai." ujar Devan memberitahu."Julian, apa malam ini kau juga akan datang di jamuan makan malam dari pengusaha asal negara D itu, bukan?"


Julian mengangguk. "Ya, aku akan datang dengan Alexa."


Devan berdecak kesal. "Sial, aku sudah putus dengan kekasihku yang terakhir. Dan sekarang aku bingung ingin membawa siapa!"


Julian mengangkat bahunya tak acuh. "Lebih baik, kau bawa saja wanitamu yang lain. Bukannya kau sendiri yang mengatakan tidak mungkin akan kehabisan wanita?" tukasnya menyindir.


"Sialan kau, Julian!" Devan mendengus tidak suka. Seketika raut wajahnya berubah. Saat sesuatu muncul dalam benaknya. Dengan cepat dia mengalihkan pandangannya menatap ke arah Alexa. "Alexa, apa nanti sepupumu yang berambut pirang itu akan datang ke jamuan makan malam nanti?" tanyanya yang tak sabar.


"Sepupuku yang berambut pirang?" kening Alexa berkerut menatap bingung ke arah Devan. "Maksudmu itu Adel?" tanyanya memastikan.


Devan menganggukkan kepalanya. "Ya, Adel. Dia sangat cantik dan juga menggemaskan. Aku dengar dia masih sendiri?"


"Jadi memang benar, kalau Kak Devan itu menyukai Adel?" tanya Alexa sambil mengulum senyumannya saat Devan memuji Adel.


"Iya. Tidak apa-apa, bukan? Karena Adel itu wanita cantik, dan dia pun masih sendiri, jadi tidak masalah jika aku itu menyukainya." ujar Devan.


Alexa terkekeh. "Tapi Adel itu tidak suka menjalin hubungan. Dia pernah mengatakan padaku akan menikah di usianya 30 tahun. Dia ingin fokus pada perusahaan dan bisnisnya."


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2