
"Ya, mereka sudah sampai di negara M pagi hari tadi." jawab Julian sambil mengelus dengan lembut pipi Alexa.
"Baiklah, kalau begitu kau tunggu di sini sebentar." Alexa berucap dengan nada gembira. Namun, saat Alexa hendak beranjak dari tempat duduknya, Julian langsung menahan tangan Alexa.
"Lebih baik kau habiskan dulu sarapanmu, sayang. Setelah itu kau boleh mengganti pakaianmu." jawab Julian mengingatkan Alexa.
Mendengar ucapan dari suaminya itu Alexa pun mendesah pelan. "Aku sudah kenyang, Julian. Aku pun sangat yakin, nanti saat kita mengunjungi rumah Paman dan Bibiku mereka juga akan menjamu kita dengan makanan yang banyak. Terutama Bibiku Liora, aku sangat mengenalnya dan aku yakin dia akan mengajakku untuk makan lagi."
Ya, Alexa sudah bisa menebak hal itu pasti akan terjadi. Karena Paman dan Bibinya itu akan selalu mengajaknya makan bersama. Apabila Alexa sudah merasa kekenyangan, takutnya saat sudah sampai di rumah Paman dan Bibinya itu dia akan menolak ajakan makan dari mereka.Tentu saja Alexa sulit menolak. Karena dia pasti tidak merasa enak dengan Paman dan Bibinya yang sudah seperti orang tuanya sendiri.
Sedangkan Julian pun sebenarnya merasa tidak setuju dengan apa yang Alexa katakan tadi. Namun, jika dia memaksa sang istri, Alexa pasti akan merajuk dan kesal padanya."Baiklah, tapi sebelum pergi kamu harus segera habiskan susumu."
"Iya,sayang." jawab Alexa sambil tersenyum senang dan mengambil gelas yang berisikan susu di hadapannya. Kemudian, Alexa langsung meminumnya secara perlahan hingga tandas.
"Lihat, aku sudah menghabiskan susunya. Dan sekarang aku ingin segera ganti baju." ucap Alexa, saat minuman susunya telah habis. Lalu dia kembali meletakkan gelas kosong tersebut di atas meja.
Julian tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kini Alexa beranjak berdiri, dia melangkah masuk kedalam walk in closetnya. Terlihat, Alexa tampak begitu bahagia saat mendengar kabar jika Paman dan Bibinya itu sudah datang.
Julian mengalihkan pandangannya saat mendengar suara dering ponselnya yang terletak di atas meja. Julian pun langsung mengambil dan menatap ke layar. Kening Julian pun mengerut saat melihat nomor Devan yang kini muncul di layar ponselnya. Sebenarnya, Julian ingin sedikit mengerjai sahabatnya itu dengan cara menolak panggilan telepon dari Devan. Tetapi, jika dia melakukan hal yang seperti itu pastinya Devan akan membuat ulah yang konyol. Tanpa menunggu, Julian pun langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan, sebelum kemudian meletakkan di telinganya.
"Ada apa?" jawab Julian dingin saat panggilannya terhubung.
"Sialan kau, Julian! Kenapa kau tidak segera mengabariku jika kedua orangtua Adel sudah tiba di kota ini." ucap Devan dengan nada suara yang kesal dari sebrang telepon.
Sedangkan Julian langsung menghembuskan nafas kasar saat mendengar ucapan dari Devan yang terdengar kesal kepadanya. Ya, dia memang sengaja tidak memberitahu pada Devan, karena dia ingin jika Devan sendirilah yang mendapatkan informasi.
"Memangnya kenapa jika aku tidak mengabarimu? Kau ini memiliki banyak anak buah, bukan? Lagi pula, aku juga sudah memberitahukan padamu jika dua hari lagi kedua orang tua Adel itu akan datang ke negara M?" jawab Julian memberikan alasan.
"Tetap saja, seharusnya kau itu harus memberitahuku. Karena paling tidak, aku akan membelikan sesuatu untuk mereka." balas Devan.
__ADS_1
Julian berdecak kesal. "Lebih baik, kau itu segera datang ke mansion Demian Jhonson."
"Tapi-"
Namun belum selesai Devan lmenyelesaikan ucapannya. Julian lebih dulu memutuskan panggilan teleponnya dan meletakkan kembali ponselnya.
"Sialan kau Julian!" Gerutu Devan saat Julian langsung mematikan panggilan teleponnya.
***
"Julian, aku sudah menyiapkan pakaian untukmu." ucap Alexa sambil mendekat, dan membawakan kaos yang berkerah berwarna hitam dan jeans untuk suaminya. "Gantilah pakaianmu, sayang." lanjutnya sambil memberikan pakaian yang telah dia siapkan untuk suaminya itu.
Julian pun tersenyum, lalu dia mengambil pakaian yang di berikan oleh Alexa dan berkata, "Terima kasih, sayang."
Alexa pun tersenyum, kemudian Julian pun langsung beranjak berdiri, lalu mengganti pakaiannya yang sudah di siapkan oleh istrinya. Dan tidak berselang lama, saat Julian sudah mengganti pakaiannya. Dia langsung mengajak Alexa untuk meninggalkan penthouse milik mereka.
***
Perjalanan dari penthouse menuju ke mansion milik Demian Jhonson tidaklah terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga puluh menit. Dan kini mobil Julian mulai memasuki kawasan perumahan yang mahal yang sangat terkenal di kotanya itu.
Saat mobil Julian sudah memasuki gerbang, para penjaga gerbang langsung menyambut kedatangan Julian dan Alexa. Julian pun lebih dulu turun dari mobil, dia membukakan pintu untuk Alexa sambil mengulurkan tangannya pada istrinya itu. Alexa tersenyum, dia menyambut uluran tangan dari Julian, lalu mengajaknya masuk kedalam rumah. Dan sebelum masuk, Alexa langsung memberikan kunci mobilnya pada para penjaga untuk memarkirkan mobilnya.
"Alexa, sayang...." Liora langsung menyambut kedatangan Alexa dan juga Julian. Dan dia pun langsung memeluk erat tubuh keponakannya itu. Dan Alexa pun langsung tersenyum dan membalas pelukan dari Bibinya itu.
"Kau semakin cantik sekali, sayang." ucap Liora dan mengurai pelukannya, kemudian dia mengecup kening Alexa. "Ternyata gadis kecil Bibi sekarang sudah tumbuh besar dan menjadi seorang wanita yang sangat cantik."
Alexa kembali tersenyum. "Bibi Liora juga sangat cantik. Bibi juga tidak kelihatan menua. Lihatlah, Bibi Liora bahkan tidak memiliki kerutan di wajah Bibi."
"Bibimu itu tidak akan memiliki kerutan, Alexa. Karena hampir setiap minggu, Bibimu selalu mendatangi klinik kecantikan dan dokter kulit hanya untuk memastikan dia tidak akan menua," sambung Demian dari arah belakang.
__ADS_1
Mendengar ucapan dari suaminya itu, Liora pun mendengus tidak suka. "Kau ini, kenapa harus memberitahu kepada Alexa tentang kebiasaanku!"
"Sayang, aku rasa Alexa juga harus tahu tentang kebiasaanmu itu." jawab Demian dengan santai.
"Paman...." Alexa langsung menghamburkan tubuhnya dan memeluk Demian dengan erat. Dan Demian pun membalas pelukan dari keponakannya itu.
"Paman aku sangat merindukanmu." ucap Alexa dari dalam pelukan Demian.
"Paman juga sangat merindukanmu, sayang." balas Demian mengurai pelukannya dan mengecup kening Alexa. "Apa yang di katakan Bibimu tadi memang benar, kau sekarang tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik."
Alexa tersenyum, "Paman juga sangat tampan. Lihat saja, Paman juga masih menjaga bentuk tubuh Paman seperti Ayahku. Dan Paman juga tidak memiliki perut yang buncit seperti Ayah temanku yang lain."
Mendengar ucapan dari keponakannya itu Demian tertawa pelan. "Ya, Paman harus menjaganya karena Paman tidak ingin kalah dari Ayahmu."
Alexa terkekeh geli. Ya, dia pun tidak lagi heran karena sejak dulu Pamannya itu tidak pernah mau kalah dari Ayahnya. Hingga setua ini, saat mereka berdua bertemu, mereka juga masih memperdebatkan hal kecil tentang penampilan mereka. Padahal mereka saling menyayangi. Meskipun Ayahnya itu memiliki sifat yang dingin. Tetapi aslinya dia begitu peduli.
*****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.