Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Kau Harus Di Hukum


__ADS_3

"Devan, minta adikmu untuk jangan berani mengganggu milikku," tukas Julian dingin dengan tatapan tajamnya.


"Tunggu," Devan berusaha untuk mencerna ucapan Julian. Kemudian tatapannya teralih pada Mateo. "Mateo, jangan katakan padaku, jika kamu sudah menganggu Alexa?"


Mateo berdecak kesal. "Aku tidak tahu kalau Alexa adalah istri dari Julian. Lagi pula, bukannya Julian harusnya menikah dengan Vanya?"


Devan membuang napas kasar menatap dingin adiknya itu. "Kau masuklah, jangan mencari masalah di pestaku."


Mateo mendengus, dia langsung berjalan meninggalkan Julian, Alexa dan juga Devan yang masih berada di sana.


"Julian, maafkan adikku. Karena dia tidak tahu kau menikah dengan Aiexa." ujar Devan yang merasa tidak enak.


Tanpa menjawab Julian langsung memeluk pinggang Alexa, membawanya masuk menuju kedalam ballroom hotel. Devan pun berjalan mengikuti Julian dan Alexa yang lebih dulu masuk.


...***...


Suasana hening tercipta di dalam mobil. Ya, setelah pesta, baik Julian dan Alexa sama - saja tidak berbicara sepatah katapun.


"Julian," panggil Alexa.


"Ya," jawab Julian datar.


"Jadi tadi Mateo adalah adik dari Devan?" tanya Alexa hati - hati.


Julian membuang napas kasar. Dia langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan dan menatap Alexa dengan tatapan yang begitu dingin. "Apa ini sifat aslimu?"


"Sifat asliku?" kening Alexa berkerut, menatap Julian dengan tatapan yang tidak mengerti. "Apa maksudmu Julian?"


Julian tersenyum sinis. "Aku tidak menyangka, putri dari pengusaha Raymond Jhonson ternyata sangat rendah. Bagaimana


mungkin kau bisa menggoda seorang pria di saat kau sedang pergi bersama dengan suamimu sendiri?" tukasnya begitu sarkas.


Raut wajah Alexa berubah. Terlihat kilat kemarahannya begitu terlihat jelas. "Siapa yang kau maksud menggoda! Aku tidak pernah sedikitpun untuk menggoda siapapun! Kau bisa bertanya pada Mateo!"


"Kau pikir, aku tidak mengenal Mateo? Dia akan menyerah pada wanita yang mengabaikan dirinya! Jika dia terus menggangumu dan bahkan berani menyentuh tanganmu itu artinya kau yang sudah menggodanya!" Seru Julian. " Selama ini Vanya selalu mengabaikan Mateo jika dia berani menggodanya! Meski aku tidak pernah mencintai Vanya, tapi dia selalu menjaga nama baikku!"


Alexa menatap tajam Julian. Hatinya begitu panas ketika Julian membandingkan dirinya dengan Vanya.


"Ya! Kau benar! Kak Vanya memang jauh melebihiku! Dia memang lebih baik dariku! Dia bisa menjaga nama baikmu! Sedangkan aku tidak! Dan kau benar! Aku memang sudah menggoda Mateo! Sekarang, kau sudah tahu semuanya, bukan? Maka ceraikan aku Julian!"


Jawab Alexa dengan suara yang meninggi.

__ADS_1


"Katakan sekali lagi Alexa!" Geram Julian dengan tatapan tajamnya.


"Aku menggoda Mateo! Jadi, kau bisa menceraikan aku!"


"Kau telah melakukan kesalahan Alexa, jadi kau harus di hukum!" Kemudian Julian langsung melajukkan kembali mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Alexa menelan salivanya susah payah, mendengar ancaman dari Julian. Ia menggigit bibirnya kuat. Tidak, dia tidak mau mendapatkan siksaan dari pria itu lagi.


...***...


Dengan kasar Julian melempar tubuh Alexa ke kamar sesampainya mereka di rumah. Alexa mundur, dia memeluk dirinya sendiri menghindari sentuhan kasar dari Julian yang kalap.


Alexa menyatukan kedua tangannya memohon ampun pada Julian. Meminta agar Julian berhenti.


"Tidak! Jangan sekarang. Aku tidak mau. Aku mohon!" Alexa menggelengkan kepalanya berkali - kali. Air mata sudah keluar membasahi pipi mulusnya memohon pengampunan pada Julian. Saat melihat Julian memegang rantai kaki dan melangkah mendekat ke arahnya.


"Bukankah kau yang menginginkan ini, sayang?


"Jangan sentuh aku!" Pekik Alexa menatap Julian kesal.


"Sekarang? Yang mau aku rantai kakimu dulu atau tanganmu, atau malah mulutmu juga yang aku bisukan dulu, Hem?"


Julian langsung terkekeh dan menggelengkan kepalanya. "Jadi? Kau sangat ingin ku siska seperti ini ya, sayang?" ucap Julian mengikat tali rantai di kedua kaki Alexa kemudian mengikat kedua tangan Alexa.


"Julian, aku bilang lepaskan!" Teriak Alexa menatap ke arah Julian dengan wajahnya yang memerah.


"Ingat , sayang. Jangan bergerak seperti itu lagi. Jika kau tidak ingin membuat kakimu terluka lagi."


Kemudian Julian langsung melangkah keluar dari dalam kamar, ia meninggalkan kamar Alexa yang kini sedang memaki dirinya.


Alexa terdiam dengan tangannya yang masih terikat. Air mata di kedua pelupuk Alexa mengalir dengan sendirinya.


"Julian hiks..... sebesar apa salahku padamu. Kenapa sikapmu selalu kasar padaku." lirih Alexa menangis kuat - kuat menundukkan kepalanya.


"Kapan aku bisa bebas," lirih Alexa meneteskan air matanya.


...***...


Alexa membuka matanya, saat sinar matahari menyilaukan matanya. Gadis itu membuka mata dan ternyata sudah pagi. Dan yang bisa di lakukan Alexa saat ini adalah meringkuk di atas ranjangnya dia tidak bisa bergerak karena kedua tangannya terikat. Dan kedua kakinya di rantai. Kini ia tidak jauh berbeda dengan seekor anjing Samoyed peliharaan milik Julian.


Pintu kamar terbuka perlahan, hingga menimbulkan suara. Alexa menoleh cepat saat tahu Novi yang masuk kedalam sana.

__ADS_1


"Tolong aku Novi..." pinta Alexa dengan isakan kecilnya, yang menatap Novi masuk kedalam kamarnya


"Astaga Nyonya Alexa. Kenapa bisa sampai seperti ini? Nyonya Alexa tidak apa-apa?" Novi melepaskan tali yang mengikat tangan Alexa.


"Sakit!" Ujar Alexa yang menunjukkan pergelangan tangannya yang kemerahan.


Novi mengangguk, ia juga membantu Alexa untuk duduk dan merapikan pakaiannya.


Novi mengusap air mata Alexa. Ia bahkan memeluknya dengan sang erat saat ini.


"Nyonya jangan menangis. Saya akan bantu buka borgol di kaki Nyonya Alexa....."


"Jangan Novi. Aku mohon jangan, yah. Nanti Julian akan semakin bertambah marah padaku." cicit Alexa menundukkan kepalanya.


Novi menatap pilu pada Alexa, tangan Novi menggenggam tangan Alexa hangat.


"Baiklah, Nyonya. Kalau begitu saya akan menyiapkan sarapan untuk Nyonya."


...***...


Julian menyandarkan punggungnya di kursi seraya memejamkan matanya lelah. Ya pikirannya kembali memikirkan setiap perlakuan kasar dirinya pada Alexa. Entah kenapa kejadian tadi malam menganggu pikirannya. Julian menyambar gelas sloki yang ada di hadapannya yang berisikan wine, lalu menegaknya hingga tandas.


Julian membuang napas kasar. Sejak menikah dengan Alexa, banyak hal yang mengusik pikirannya. Tiba - tiba tatapan Julian teralih pada lacinya yang tidak tertutup rapat. Kini dia membuka laci itu. Seketika Julian terdiam melihat sebuah bingkai foto yang terdapat di dalam laci. Dia pun langsung mengambil bingkai foto itu. Senyum di bibir Julian terukir melihat foto seorang wanita yang ada di sana.


"Aku sangat merindukanmu, Berlian." Julian mencium foto itu dan memberikan tatapan yang begitu lembut.


"Jadi, kau masih menyimpan foto Berlian di ruang kerjamu?" suara bariton menerobos masuk kedalam ruang kerja Julian. Sontak membuat Julian terkejut dan mengalihkan pandangannya ke sumber suara itu. Julian menatap pria yang ada di hadapannya dingin. "Ada apa kau kesini?"


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2